Minggu, 11 November 2012

AYAH MAYA


Ayah……begitu besar kebencianku padanya. Baik ia berdiri sebagai sebuah kata yang bermakna ataupun makna itu sendiri. Sepanjang hidupku, ayah hanya berarti tunggal, gagal. Dialah ayah yang gagal, ayah yang membuatku kecewa, dan ayah yang membuatku menyimpan kebencian luar biasa padanya.

Menurutmu bagaimana bila seorang ayah yang seharusnya menjadi ayah bagiku lebih senang menjadi ayah bagi orang lain? Aku anaknya, bukan status keluarganya, dan aku benci sekedar status. Menurutmu seperti apa kau harus menanggung wajah seorang ibu yang begitu setia menahan kantuk semalaman, duduk di ruang tamu menatap pintu rumah dengan harapan yang begitu besar bahwa pintu itu sewaktu-waktu akan terbuka kemudian wajah suaminya muncul membawa kantongan beras. Detik demi detik ia lewati tanpa sedikitpun terkuras harapannya. Aku seorang anaknya hanya mampu menatap wajah lesu itu dari balik tirai kamar sebuah gubuk yang berdindingkan tripleks dan kayu-kayu lapuk. Apakah kau masih mampu menahan air mata dan masih menyimpan kebanggaan pada seorang ayah itu?

“Bu….tidur, sudah malam, ayah tidak mungkin pulang.” Sahutku sembari melangkah pelan ke arahnya. “Nak, seorang istri harus taat pada suaminya, aku ibu bagimu, tapi aku istri baginya, kamu tidur duluan, ya!” jawabnya dengan senyuman yang menurutku sangat pedih.
Kejadian itu terjadi setiap malam. Aku hanya melihat wajah ayahku sampai aku berumur 5 tahun, setelah itu, ia hanya “entah” bagiku, dan kabarnya pun menjadi tidak penting lagi. Yang membuatku sangat terpukul adalah penantian ibuku masih berlanjut sampai hari ini di setiap malam, sampai sekarang di setiap malam di mana ubannya semakin jelas, dan kabar si ayah itu semakin tak jelas. Persepsiku hanyalah satu, ia tengah sibuk menjadi ayah untuk anak lain, dan menikmati menjadi suami bagi istri lain. Sementara aku sudah merasa anak yatim, tapi bagi ibuku, ia sama sekali tak merasa menjadi seorang janda, padahal dalam aturan agama, ia sudah pantas menyandang itu. Sekarang, ia masih menunggu di ruang tamu, menatap penuh gairah ke pintu, dan aku tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun, hanya tangis yang bersembunyi.
Lagi…..saat ini….saat – saat di mana ia masih menunggu, kemudian aku masih terus menangis dan tersungkur. Kini ia telah tiada bersama penantiannya. Sekarang, aku betul-betul menghargai sebuah kesetiaan, kesetiaan seorang istri pada suaminya yang semakin tiada, dan ia pun harus tiada dalam penantiannya, aku kehilangan ibuku untuk selamanya. Kejadian pahit itu menempaku begitu keras dan membuat kebinalan luar biasa dalam kehidupanku.
Kehidupanku berlanjut, kesedihan itu kulumat habis, semoga saja bisa menjadi kekuatan, harapku.

Pagi yang tenang, sangat basah, bekas hujan semalam. Pagi yang menampung sisa hujan semalam sangat istimewa. Perawakannnya tak bisa dianalogikan, maka aku pun selalu duduk dari balik jendela rumah yang tak lagi berdinding tripleks dan kayu-kayu lapuk menyaksikannya dengan secangkir kopi Toraja asli.
Hari ini hari minggu, dan akhirnya aku bisa bernafas lega, lepas sejenak dari rutinitas. Hari-hari minggu sebelumnya aku harus menemani Diandra memuaskan hasrat kewanitaannya, belanja. Ada dua hal yang membuatku muak bersamanya di hari Minggu.

Pertama, itu menyita waktu istirahat privasiku, sementara setiap hari aku bisa menemuinya di kantor, tepat di meja sebelah meja kerjaku. Kedua, menemani wanita belanja itu sama saja menghitung ribuan jarum di tumpukan jerami, menyita banyak waktu untuk menjadi sia-sia. Ketiga, uang yang digunakan adalah uangku, dan alasan inilah alasan terkuat bagiku untuk merayakan hari kemerdekaan pribadiku.
Entah mengapa dibalik semua kebencianku padanya, aku masih setia pada rasa sayangku kepadanya, sehingga di sudut mana pun ada kebencian maka akan ada sudut di mana itu penuh dengan rasa cinta, karena hidup menuntut sebuah keseimbangan.

Pagi yang basah sisa hujan semalam seperti ikut merayakan kemerdekaanku, ini baru hari Minggu. Aku sebenarnya heran, tumben-tumbennya Silvika tidak memintaku menemaninya berbelanja hari ini, padahal setahuku itu sudah menjadi jadwal rutinnya setiap minggu. Meski berbahagia, aku masih sedikit mengerutkan dahi merayakan keherananku padanya yang hidup tak seperti biasanya. Hanya ada dua kemungkinan, dia sudah berubah atau justru terjadi sesuatu yang membuatnya tidak bisa keluar rumah. Akhirnya dia menelponku hanya mengabarkan kalo hari ini dia mau menemani ibunya check up.

“Maaf, ya, sayang, hari ini kita gak bisa hang out, aku mau nemenin mama check up.”
Aku tertawa mendengarnya meminta maaf, karena sebenarnya aku yang sangat bersyukur tidak mesti merasakan 3 efek negatif menemaninya belanja.
Seruput demi seruput kopi terasa begitu nikmat di hari kemerdekaan ini, masih bersama pagi istimewa yang basah sisa hujan semalam, memikirkan hal-hal yang tak sempat terpikirkan di waktu di mana semua yang tak penting terpikrikan harus dipikirkan. Terus seperti ini, rasanya setiap minggu wajarnya aku seperti ini, sampai aku dikagetkan oleh nada dering handphoneku. Diandra memanggil
“Halo sayang……” ujarku menyapa.
“Halo, sayang aku mau ngomong sesuatu, penting”
“Ya udah ngomong aja sekarang”.
“Gak bisa lewat telepon, kita mesti ketemuan sekarang, aku ke rumahmu ya!”
“O…o….oke!” Kalimatku terpatah-patah penuh tanda tanya.

Aku menyeruput kopiku menyisakan ampasnya saja, segera kemudian tergesa-gesa mandi dan bersiap-siap menyambut kedatangannya. Ia sangat benci dengan laki-laki yang tidak mandi pagi, aku benci menjadi kategori kebenciannya. Menajdi apa yang ia inginkan itu sudah otomatis, aku tak tahu alasannya dan tak berniat mencari alasannya.
Sejam kemudian dia datang dengan wajah yang tak biasa, penuh beban. Mungkin aku menyesal, harusnya membawanya keliling kota belanja sepuasnya ketimbang melihat beban di wajahnya. Ia duduk, menatapku datar-datar saja, aku bingung meresponnya bagaimana.
“Gandi……” Ia menghela nafas panjang
“Iya…sayang, kamu kenapa?”
“Kamu sayang sama aku gak?”

Pertanyaan itu muncul dan akhirnya aku sampai pada sebuah rahasia umum besar bahwa pertanyaan seperti itu adalah tanda kalau seorang wanita ingin meminta sesuatu, tapi kalau dia minta uang, sepertinya rasa sayangku belum sampai ke arah itu.
“Iya..aku gak perlu bilang itu berkali-kali, karena hasilnya akan tetap sama, aku bakalan tetap sayang sama kamu.”
“Kamu mau gak jadi seorang ayah?”
Dan kata yang sangat kubenci itu hadir, kali ini rasa sayangku padanya harus terabaikan. Aku diam, karena dia tahu mengapa aku diam.
“Aku tahu kamu gak mau, aku tahu kamu benci kata itu, tapi kalo kamu berada dalam keadaan harus menjadi ayah, apa kamu masih bisa nolak?” Dia menangis, deras, pedih, seperti wajah ibuku yang terlihat pedih di ruang tamu menatap pintu dengan penuh harapan.

Aku harus bagaimana? Aku dalam keadaan di mana aku tak bisa menolak, ini antara idealisme kebencianku dan harga diriku sebagai laki-laki. Sesulit bagaimanapun memendam kepedihan, masih jauh lebih sulit berada dalam dunia antara di mana pilihan itu keharusan, dan kepedihan juga kepastian. Aku diam, dan aku rasa dia pun tahu jawabanku. Pacarku, Diandra, pergi tanpa sehelai kata pun dari seorang laki-laki yang diharapkannya. Sama seperti ibuku yang pergi tanpa sedikitpun harapannya terpenuhi, wajah ayah yang kubenci itu. Sekarang apa bedanya aku dan ayahku? Aku tak kuasa menahan laju Diandra yang begitu kuat dengan kepergiannya, juga tak kuasa menahan diri sendiri yang begitu teguh pada pendirian bodohnya.

Pagi yang basah sisa hujan semalam tak istimewa lagi, hari Minggu tak merdeka lagi, aku yang merasa lebih baik dari ayah tak hebat lagi, aku kalah, aku gagal. Dan dia terus pergi.

Setahun kemudian, aku melewatinya dengan predikat yang sama seperti ayahku. Aku tak lagi memperdulikan kebencianku pada sosok ayah yang selalu dinantikan wanita luar biasa bertahun-tahun silam, yang aku tahu aku benci pada diriku sendiri.

Hari Minggu, hari yang sama, pagi yang basah sisa hujan semalam juga tidak istimewa lagi. Hari Minggu yang merdeka juga tak patut dirayakan lagi, aku berduka pada kenduri di hari Mingguku sendiri. Ia telah menikah dengan lelaki lain yang lebih bijak mengambil keputusan, tak memendam kebencian berlebih, tidak kalah pada idealisme bertamengkan egois, dan pastinya lebih pantas jadi ayah.

Saat ini, pagi ini, aku mengais memori penantian panjang ibuku, ke”entah”an ayahku, kebencian bodohku, dan aku menunggu telepon Diandra mengabarkan ini padaku, “Sayang maukah kau menikahi janda sepertiku dan menjadi ayah untuk anakmu ini? Namanya Maya, dan ia sudah kelas 5 SD.

6 komentar:

Bonit Notz mengatakan...

tumben buat Cerpen?? :D

Suka banget Fadh'.. feel sama suasana ceritanya dapet banget, ada gubuk, tripeks2.. itu benar2 dekat sama kita,.. hihiii.. teteh bukan pakar cerpen, tapi iniii.. cetar membahana badai.. :D

Cerita ttg Ayah yg gagal jarang dipublikasikan, makin keren ketika setiap kata itu syarat makna,.. hmmm.. to be continued donk.. :D

tambahin karakter yg lebih kuat kali yaa.. ^_^ #efeksotoy

thx yaa..

Niken Kusumowardhani mengatakan...

Setuju dengan teh Bonit... keren banget.
Dapet dalam mengungkapkan kebencian terhadap sosok ayah.

muhammad ridwan mengatakan...

membuat aku....
Kangen....
:)

BLACKBOX mengatakan...

wah. makasih masukannya teh. Nyoba2 nulis cerpen. hehehe

BLACKBOX mengatakan...

wah makasih ya

auraman mengatakan...

Blogwalking aah ke master penyihir cerpen dan tulisan-tulisan orang-orang hebat, cerpennya dibukukan saja mas :)

Chat Room Bloofers