Selasa, 15 Februari 2011

KALIMAT

Aku tak mau menilaimu seperti membaca kalimat lepas. Hanya membaca rentetan katanya sampai titik menghentikan bibir kemudian otak menjabarkan makna. Kemarin, aku menentang konsepnya ketika dia meminta definisi dari setiap istilah lazim yang aku utarakan. Bukankah ketika mendengar kata lazim dan semua orang mengetahui itu sudah cukup? Namun dia terus mendesakku, memintaku membentuk redaksi kata baru untuk menjabarkan maksud dari maksud yang sudah sama-sama kita ketahui. Katanya, ini perlu untuk menekankan kita pada satu kalimat yang bisa dijadikan patokan.

Saat itu, aku menolak. Bukannya aku tak tahu, tapi hanya menyia-nyiakan waktu bagiku memaparkan kembali hal yang sudah kita pahami dengan bahasa yang diformalkan. Sekali lagi,aku tak mau mendefinisikanmu seperti membaca kalimat lepas. Karena, setelah titik itu kutemukan, maka pada saat itu kita akan berpisah dengan makna yang terlalu sempit, mungkin terlalu referensial.

Ku ulangi lagi, aku tak mau membentukmu dengan konsep semantik. Terlalu sederhana, kaku, bahkan kolot. Bukannya aku menentang konsep kesederhanaan hidup, namun sederhana dalam hal ini adalah kemiskinan makna, terlalu denotatif. Mana mungkin aku mengenalmu hanya dengan bentuk wajah yang terekam di benak, struktur tubuh yang terlukis di kanvas jiwa, atau sesosok raga yang hanya bisa dicerna indera. Kemudian intuisi terabaikan.

Sebenarnya, definisi itu perlu, mungkin untuk merangkum, menyamakan persepsi, membenarkan makna. Namun pada saat tertentu, definisi itu menyempitkan. Seperti saat ini, ketika dia memintaku ,mendefiniskanmu, meminta redaksi kata yang bisa diilimiahkan tentangmu. Hahahahaha......sampai kapan dia memintaku membatasi pandanganku terhadapmu, sementara masih banyak titik yang belum aku raih dalam dirimu, tak mungkin aku membatasi titik-titik itu dalam jumlah tertentu, nalarku masih ambigu.

Aku tegaskan padanya, aku tak mau merangkummu dalam satu denotasi. Inilah pandangan pragmatisku terhadapmu, pandangan yang belajar tentang tanda, simbol, isyarat, di mana ke semuanya itu mewakilkan konsep tentangmu.

Dan, terakhir, aku menyimpulkan ini padanya.

Aku tak mau membacamu seperti membaca kalimat lepas yang akan berpisah pada pertemuan tanda titik. Aku ingin menganalisamu sebagai deretan huruf yang membentuk kata, deretan kata yang membentuk frase, deretan frase yang membentuk klausa, dan deretan klausa yang membentuk kalimat. Setelah tanda titik membatasi kalimat, maka kau akan kurangkai lagi menjadi beberapa kalimat, membentukmu serapi mungkin menjadi satu paragraf, kemudian menyusunmu sebisa mungkin menjadi rangkaian cerita indah. Begitulah aku. Karena aku tak mau sebatas mengenalmu, mengenal berarti menghafal, sementara aku ingin memahamimu.

Untuk hidup yang memiliki banyak tanda, untuk peristiwa yang diawali gejala, juga untuk akhir yang selalu bermula. Maka, semoga kita kaya memaknai segalanya.

17 komentar:

Asriani Amir mengatakan...

wow.. Surprising.. Sepertinya gaya penuturannya tidak seperti biasa.. 'Ku sukanya deh'..

Terkdang saat mencoba mngglkn kebiasaan kita baru sadar ternyata ada 'kebiasaan' lain yg jga mnunggu unt dikunjungi..
Mantaf diks..

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

keren nih. prosa kayaknya

zico mengatakan...

nice postingan... kata kata yang mengalir, jujur,lugas.... ya,, ungkapkanlah apa yang menari-nari di pikiranmu. hingga orang lain bisa mengenalmu... kang fadhi..jujur aku suka dengan postingan terbaru ini. tulisannya khas... :)

zahra_cha mengatakan...

Hm nice posting kang..:) bahasanaya da semantik , klausa dan frase..hehe keren2...seperti biasa tulisannya filosofis yaw :D but i like it ;)

Zan Insurgent mengatakan...

sebuah kalimat telah tersusun....setelah itu ada kalimat lanjutan...kalimat pertanyaan...dan kalimat jawaban...dan seterusya

kalimat identik dengan kehidupan yang masih terus berjalan ada saat kita harus istirahat sejenak,ada saat kita haurs berhenti.


Happy blogging sob

etikush mengatakan...

bener2 tulisan sastrawan...
:)

sichandra mengatakan...

artikel yg bagus sob , lanjutkaan :D

hasbuloh mengatakan...

Titik membuat kalimat dalam sebuah paragraf mudah dimengerti dan dipahami.
Salut..Memandang sebuah keadaan dari sudut pandang yang berbeda. Nice Post.. ^^

chapunx23b mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
chapunx23b mengatakan...

Nice Posting...

Kapan - kapan ajari dunk cara penulisannya.. :)

NIT NOT mengatakan...

mmmh...intinya berada pada paragraf terakhir...kesimpulan....good...:)

MUHAMMAD RIDWAN mengatakan...

nice,
sellu suka postingmu...

BLACKBOX mengatakan...

Kak asri: hhahaha...makasih kak, saya juga suka gaya penuturan ta'.

BLACKBOX mengatakan...

@cerpenis: Hahaha.....terserah apa namanya, cuma sedikit memasukkan teori linguistik, saya sukapostingan lucu Anda
@zico: waduh, bisa aja kang, tulisan kang zico jg khas
@Zahra: mencoba memasukkan teori linguistik, ya...sesuai jurusan kuliah lah...

BLACKBOX mengatakan...

@zan:makasih, hppy blogging jg sob
@Etikush: hahaha....amin, makasih
@sichandra: iya sob, makasih
@Hasbuloh: makasih sob, saya jg suka blog Anda
@chapunk: hahaha....bisa aja nih, sy jg penegen diajari cara bikin puisi sama mas chapunk.
@NitNot: Hahaha...makasih sob
@Ridwan: makasih bang, sy jg pengagum tulisan abang

Awaluddin Jamal mengatakan...

membaca satu kali..
ulangi untuk kedua kali..
tiga kali..

kenapa saya tidak dapat2 maksudnya, kyknya terlalu bodoh ka' pahami tulisan sastra seperti ini.. he he.. :D

BLACKBOX mengatakan...

@Awaluddin: maaf mas klw gak ngerti, ksdx adalah keperluan untuk menganalisa, memahami dan meresapi, bukan hanya sekedar mengenal atau menghafal, begitulah cara kita memandang diri sendiri, orang lain, alam, situasi, dan hidup. kurang lebih seperti itu maksudnya

Chat Room Bloofers