Kamis, 23 Juni 2011

SEBUAH TANDA TANYA

Senang bisa kembali. Sudah terlalu jauh langkah ini berbicara, namun tak satu pun tinta yang tertera. Aku menyesal. Merngapa selama ini aku melupakan? Melupakan satu hal yang jenuh dilupakan.

Ini hanya awal, selalu itu yang memberikanku tenaga. Sebelum hari akhir itu berakhir, aku masih punya waktu. Tapi aku mencintaimu tak seperti waktu. Takdir bisa dikalahkan waktu. Masih seperti ini, masih terlalu sederhana untukmu. Kau tahu, jemariku kaku, bibirku melengket, tak ada satu makna pun yang tertorehkan. Aku telah pasif.

Untuk halaman yang selalu setia. Seperti rumah yang tak akan jenuh menunggu penghuninya untuk kembali, meski ia tidak tahu, mungkin saja penghuninya itu menginap di rumah temannya, atau mungkin dia masih terlelap di kantor setelah lembur.

Bagaimana bila sudah mati? Rumah itu menangis, tangisannya tak teraba suara. Tangisannya tak terdengar, hanya terasa. Pondasi yang mulai rapuh, atap yang bocor, dinding yang menipis, juga tanah yang sudah meretak.

Setelah, setelah itu membuatku lupa pada sebelum, sebelum aku melangkah dan menemukan setelah. Aku selalu bodoh menyelami fase, prosesku hanya rentetan dengan detik yang terlupa.

Bilangan, nalar, keinginan, kesemrawutan, perih, penantian, persembahan, topeng. Inilah nama-nama yang kukenali, diluarnya hanya kata-kata yang sangat keras memukulku.

Bila cinta tak teraba, atau hanya terlupa, selalu ada rumah yang membuatku rindu untuk kembali. Meski tak semanis dulu ketika aku menyapa, kali ini, pertemuan telah melahap kerinduan.

Seruput kehangatannya, keluarlah, ketika kau merasa harus keluar, tidurlah ketika kau merasa harus tertidur.

Bila tak bermakna, atau hanya deretan kata-kata palsu bertabir analogi mati, selangkah lagi kita akan terpisah, mungkin kau bukan takdirku.

5 komentar:

jengjuminten mengatakan...

kerennnnnnnnnnnnnnnn....

auraman mengatakan...

apanya yang kaku, masih seperti mas fadhli sebelumnya kok :D

MahdiahMaimunah mengatakan...

bagus....
kereen...

Edi Kurniawan mengatakan...

nice posting mas..
kenapa harus berpisah? apakah takdir yang membuat perpisahan atau perpisahan yang menetukan takdir? hehehe

Boy Andri mengatakan...

Keren abis mas puisinya. Salut :)

Chat Room Bloofers