Rabu, 26 September 2012

SUDAHLAH


"Semua sudah aku lakukan." Katanya pelan.
Aku hanya bisa diam. Saat ini, bibirku sedang memusuhi abjad.

"Semua sudah aku lakukan." Katanya perlahan keras.
Aku lagi-lagi hanya bisa diam. Saat ini, bibirku semakin memusuhi abjad.

"Semua sudah aku lakukan." Katanya dengan keras.
Diamku juga mengeras. Bibirku seperti melaknat abjad.

"Apa kau tidak mengerti? Semua sudah aku lakukan. Semua sudah aku lakukan. Apa lagi?" Ia berteriak.
Telingaku bergetar.

"Ya, aku tahu." Seketika bibirku berdamai dengan abjad, meski terpaksa.
"Itu saja? Aku tahu, kau tahu. Semua orang juga tahu kau tahu aku sudah melakukan semuanya. Kau tak pernah mengerti. Bicara saja jarang, apalagi mengerti. Belum lagi memahami." Dia marah, mengelilingi ruangan sembari melemparkan sobekan-sobekan kertas yang sedari tadi menghuni kepalan tangannya.

"Aku bekerja siang dan malam, untuknya, untuknya. Aku bahkan tidak hobi lagi tidur. Tidur bagiku menjadi sebuah pantangan." Ia melunak dan duduk di sampingku.
"Kemudian, aku juga berdoa siang dan malam, meski aku tahu, Tuhan tak akan menjawab doaku begitu saja." Dia memanas.
"Lalu aku menunggu, menunggu, terus menunggu, aku menunggu sampai aku tak tahu lagi apa yang aku tunggu." Ia menangis.

Perlahan aku merasakan kepalanya bersandar di pundakku. Bajuku basah oleh keringat dan air matanya.

"Ibuku mati, dia sudah mati." Raut wajahnya datar saja, air mata terus mengalir.
"Padahal, sekian lama aku bekerja, berdoa untuknya, dan ia mati begitu saja, tanpa pamit kepadaku, tanpa menitipkan pesan apapun."

"Bicaraah, aku mohon." Pintanya sungguh sedih.

"Dia pamit padamu, kau hanya tidak tahu. sebelum ia mati, ia memanggilmu, tapi kau sibuk bekerja, setelah itu kau sibuk berdoa. Katamu bekerja dan berdoa adalah privasi, butuh ketenangan. Maka dia membiarkanmu. Sudahlah. Inilah kehidupan, sudahlah. Kau akan baik-baik saja. Nikmati kesedihanmu dengan cara terbaik, tidak berlarut-larut." Kataku diiringi senyumnya

-Flash Fiction-

Inspired by" Coldplay - Fix You"

6 komentar:

Irma Devi Santika mengatakan...

Wow!
Entah, setelah baca ini jadi merinding. Apalagi waktu petikan kalimat: "Dia pamit padamu, kau hanya tidak tahu. sebelum ia mati, ia memanggilmu, tapi kau sibuk bekerja, setelah itu kau sibuk berdoa. Katamu bekerja dan berdoa adalah privasi, butuh ketenangan. Maka dia membiarkanmu.
Jadi ingat ibu. Sedih, tak ingin kisahnya setragis itu.

"Lights will guide you home. And ignite your bones. And I will try to fix you"

BLACKBOX mengatakan...

Sudah menduga dirimu ada di kotak komentar. "I'll try ti fix you" makasih mbak.

Andro Bhaskara mengatakan...

"Nikmati kesedihan dengan cara terbaik" mengambil pelajaran lagi tentang bagaimana bersikap terhadap orang yang kita cintai.. makasih brad... :)

Insan Robbani mengatakan...

aku tetap mengapresiasi karya emas ini
walau sejujurnya rasa dan otakku belum mampu menjangkau
makna yag tersirat didalam tulisan ini..

Seorang fadhli selalu punya taste sendiri
dan komitmentnya yg selalu kuhargai

chy' mengatakan...

drama hidup tentang mati. fix you bisa se-dramatis itu yah ?

Eva Liana mengatakan...

Miris yang mengiris hati.

Chat Room Bloofers