Kamis, 06 September 2012

SILUET SENJA

Aku melihat sebuah siluet di kala senja. Ia tipis, datar, dimakan senja yang hanya dijatahi waktu sedikit setiap harinya. Senja tak seperti pagi yang cerah. Tak seperti siang yang garang. Tak seperti malam yang punya bulan.

Bagiku senja seperti waktu, mungkin duduk menyaksikan matahari menghilang dari pandangan. Merenungi berjam-jam seharian, apakah ia bermanfaat atau hanya menyaksikan perjalanan waktu belaka.

Hari ini, semua terlihat sama. Hiruk-pikuk, tegur sapa, tanya jawab, memesan dan menerima. Senja mencukupkan ruang bagiku untuk duduk, tak perlu di tepi pantai, cukup di teras rumah yang biasa-biasa saja tanpa teh, susu, kopi, tanpa minuman lain. Membiarkan semuanya lewat, sedang diri ini hanya terpaku, cukuplah aliran darah, detak jantung dan hela nafas yang berbicara.

Senja mencukupkan waktu bagiku untuk melihat ke belakang sembari bersiap menanti perjalanan setelahnya. Mungkin lelap, mungkin lelah, mungkin akan insomnia, atau mungkin akan kembali sibuk. Tak apa.

Bukan jeda, karena sudah terlalu banyak jeda sepanjang hari ini. Jeda ke kamar mandi, jeda ke luar ruangan untuk batuk, jeda makan siang, jeda untuk mengecek jejarig sosial. Bagiku senja lebih tepat sebagai waktu tersendiri untuk menyibukkan diri menganga. Betapa peralihan yang sangat lembut ada pada senja.

Lalu mengapa kau menaruh siluetmu pada senja?

Tentu kau tak mau menjawab. Biarkan aku menjawabnya, meski itu belum tentu benar. Siluet yang selalu berwarna gelap adalah kesiapanmu menjamu malam. Kau merangkum secara keseluruhan perjalananmu sedari pagi. Lalu, siapkah kau menjamu malam dengan perjalananmu sedari pagi?

Malam tak pernah menuntut jamuan apa-apa. Hanya saja, misteri tak terduga akan terkuak di kala malam. Bagaimana kita menjadi pujangga seketika, melakukan pertemuan-pertemuan penting, menyanjung bulan dan bintang, menyebut "galau" sebagai kata yang sangat sastrawi, seolah-olah kesedihan adalah satu-satunya yang dimiliki kesusastraan.

Mungkin kita harus siap menjamu malam, agar ia tak berpikir dua kali mengungkap rahasia mengapa malam selalu menjadi milik kita yang setia memandangi langit, menjadikan langit sebagai tempat pertemuan rindu, menjadikan rindu semakin menggebu-gebu, dan menjadikan puisi begitu sibuk berdeklamasi saat itu.

Dan...

Siluet senja adalah keseluruhan waktumu sedari pagi yang begitu siap menyambut kedatangan malam. Membuat kejadian-kejadian tadi menjadi cerita beragam di waktu malam, untuk dibagi, untuk ditertawakan, untuk ditangisi, untuk dikatakan rahasia dengan pernyataan, "maaf ini rahasia", untuk menunggu doa-doa yang begitu kreatif diamini banyak orang.

Atau....

Untuk menunggu Tuhan begitu indah disebutkan.

Dedicated to Teh Bonit

6 komentar:

affanibnu mengatakan...

hal yang saya perhatikan adalah cukup banyak pemenggalan kalimat dengan tanda baca KOMA.. :)

menjadi menarik, tetap jika digunakan pada porsi yang cukup banyak sepertinya agak menjadi batu sandungan, menjadi kurang deskriptif.. :)

BLACKBOX mengatakan...

terima kasih atas masukannya. Tapi kalo boleh mengungkap, tanda koma adalah salah satu karakter dalam tulisan saya, khususnya blog ini. Tanda koma bagi saya menyimbolkan banyak hal, terutama ia menggandeng beberapa hal yang tidak bisa disamadengankan, namun patut diikutsertakan.

Soal deskriptif itu saya menampilkan deskripsi yang berbeda. Tapi dari sudut pandang pembaca seperti Anda saya sangat menghargai masukannya. Makasih banyak :-)

Arya Poetra mengatakan...

Penikmat, akan selalu tetap seperti itu. Tetap tidak bisa melangkahi kodratnya.
Masukan, kritikan, hanya pada kisaran hal-hal dasar yang sudah disepakati. Tapi, untuk menyinggung kreatifitas,karakteristik, hanya pencipta karya yang sangat memahami. ;)

BLACKBOX mengatakan...

hehehe, saya selalu menghargai masukan dan kritikan bahkan saya mengharapkan itu dari pembaca, hal yg sejujurnya jarang sy dapatkan. Tapi saya selalu membebaskan pembaca untuk membuat ruang interpretasi sendiri, meski saya punya alasan kuat tentang tanda baca, dan hal-hal lainnya, setidaknya masukan yg ada bisa jadi pertimbangan untuk kreativitas saya selanjutnya, terima kasih :-)

Bonit Notz mengatakan...

Subhanallah.. setiap kata sangat syarat makna,.. mengajak pada perenungan yang tidak sejenak..

suka pada bait.. #Senja mencukupkan waktu bagiku untuk melihat ke belakang sembari bersiap menanti perjalanan setelahnya. Mungkin lelap, mungkin, lelah, mungkin akan insomnia, atau mungkin akan kembali sibuk. Tak apa.

success fadh, membaca'a nyaris isi hati terkupas habis.. ^^

#Siluet senja adalah keseluruhan waktumu sedari pagi yang begitu siap menyambut kedatangan malam...

Noted.. >>> misteri tak terduga akan terkuak di kala malam. Bagaimana kita menjadi pujangga seketika..
----- bukan hanya malam,. tapi itu benar!!! setiap lekuk waktu melenggang disitulah sisi sastrawi, tiba2 menghampiri... #eaaaaaaaa... :D

100 Jempol untuk semua kata, Syukran Fadh'.. ^^
suka bangettt.. :D

BLACKBOX mengatakan...

alhamdulillah, mau bilang terima kasih tapi pasti dilarang, saya bilang apa ya? hahaha....yg jelas janji saya udah ditepati kan, teh. hehe

Chat Room Bloofers