Selasa, 08 Januari 2013

Zarah, Kapan Pulang? (Pandangan Pribadi Novel Dewi "Dee" Lestari "PARTIKEL")


Saya akan mengulas "Partikel" bukan supernova. Alasan yang sederhana adalah saya tahu soal "Partikel", satu-satunya serial SUPERNOVA yang pernah saya baca. Pertama-tama saya tidak meragukan kualitas seorang Dee dalam menulis. Bukan soal diksinya yang banyak dipuja orang, bukan juga soal cara dia membentuk karakter yang kuat, setting dan plot yang menarik, sampai rasa penasaran yang banyak dirayakan pembacanya. Kekaguman saya pada Dee adalah "kematangan".

Iya. Ironis sekali. Saya seorang penulis blog, mahasiswa sastra, yang baru mengenal sastra 4 tahun belakangan berbicara soal "kematangan". Terlebih lagi "kematangan" itu menjadi indikator utama kekaguman pada seorang penulis besar di Indonesia.

Sebulan yang lalu, saya mengikuti workshop penulisan cerpen bersama Aan Mansyur (@hurufkecil) seorang penyair kenamaan Makassar saat ini.

Beliau mengajarkan kami soal prosa. Buku terakhir Aan Mansyur adalah kumpulan cerita, dimana cerita itu dikemas dengan identitas penyairnya. Unik.

Tak bermaksud mengulas "KUKILA" nya Aan Mansyur, tapi ada hal yang bisa saya petik untuk mengulas karya besar Dewi Lestari ini. Aan Mansyur mengemas Kukila, kumpulan cerita atau prosa yang ia kemas dengan bahasa penyairnya. Gaya bertutur puisi pada prosa. Unik. Menarik.

Pada workshop itu, Aan Mansyur yg menjadi mentor mengatakan bahwa kebanyakan para penulis sekarang lebih memperhatikan "kata-kata indah" plot yang "menarik", dan ending yang "surprising". Kemudian mereka lupa hal-hal mendasar dari sebuah prosa. Misalnya fungsi paragraf sebagai perangkum satu ide utama, tanda baca, petunjuk aksi, ekspresi, dan perasaan sebelum dan setelah dialog, dan cara menyampaikan cerita. Soal hal-hal dasar itu plus penguasaan kosakata, Dee tak perlu diragukan.

Lanjut ia menjelaskan bahwa, setiap penulis dan yang ingin jadi penulis pasti memiliki ide cerita yang menarik. Dengan modal itu ditambah penguasaan "diksi yang indah" menurut mereka sudah cukup menghasilkan karya prosa yang bagus. Mereka melupakan satu hal. Kemasan.

Cerita akan menarik dibaca bila penulis mengemasnya dengan baik. Cerita yang baik, luar biasa akan terasa biasa-biasa saja, bahkan klise jika disampaikan dengan cara yang salah.

"PARTIKEL" satu-satunya serial "SUPERNOVA" yang pernah saya baca sampai saya menulis ini adalah bukti bahwa "kemasan" menentukan menarik tidaknya sebuah karya sastra, terkhusus prosa, lebih detailnya lagi novel, lebih luar biasanya lagi novel serial.

Cara bertutur Dewi Lestari sangat spesial di "PARTIKEL". Kadang dia bercerita dengan biasa, mendeskripsikan suasana dengan cara yang lazim. Namun, pada bagian cerita tertentu, seperti pertentangan batin yang sering didapatkan pada novel yang menceritakan perjalanan spiritual seperti "PARTIKEL" Dee menuturkan dengan sangat elegan. Tak jarang ia membiarkan kejadian pada bagian cerita sebelumnya begitu saja, kemudian direcall pada bagian cerita berikutnya. Menurut saya itu penting, untuk menyegarkan, membantu mengingat, dan tentunya bukan hanya alasan sederhana itu. Dee menyisipkan semiotika yang kuat di dalamnya.

Kejadian pertama, Zarah meninggalkan ibunya, tidak serumah dengan ibunya, ke Kalimantan, dan tinggal bertahun-tahun di sana. Dee membiarkan ini lumrah. Zarah sudah divonis sebagai Firas kedua di keluarganya. Zarah tetap bersikukuh mencari ayahnya, sosok yang ia idolakan. Dua ideologi yang berbeda diakhiri dengan sebuah perpisahan adalah hal lumrah. Selesai.

Kejadian kedua. Tanjung Puting menjadi tempat pertemuan Zarah dan Sarah. Zarah yang merasa sudah biasa mendapatkan kejutan dalam hidupnya, kembali menemukan sesuatu yang baru. Hingga pada akhirnya waktu, kesempatan, dan keputusan membuat mereka berdua terpisah. Ironisnya pada posisi ini Zarah adalah seorang ibu dari Sarah yang merasakan kesedihan luar biasa tatkala harus berpisah dari Sarah. Pada situasi ini perpisahan terasa lumrah, dimana obsesi Zarah yang begitu besar menemukan ayahnya.

Nah, Dee merecall dua hal, perpisahan dan ibu. Perpisahan dengan ibunya tak membuat Zarah sedih, tapi perpisahan dengan Sarah membuat Zarah merasakan kepedihan ibunya yang merasa ditinggalkan olehnya.

Sepele, sangat sepele. Perpisahan hampir ditemui dalam semua novel, cerpen, puisi, dan karya sastra lain. Tapi, di "PARTIKEL" perpisahan itu menjadi sangat berbeda.

Lalu, di mana semiotiknya?

Pada dua peristiwa perpisahan di atas, menurut saya Dee, sengaja atau tidak sengaja menjadikan "perpisahan" sebagai sebuah elemen semiotika.

"Perpisahan" merupakan tanda dua orang, elemen, hal, yang tidak bisa bersama. Perpisahan bukan cuma secara fisik antara Zarah dan ayahnya, tapi juga perbedaan ideologi antara Zarah dengan ibu, umi, dan abahnya.

Selain itu, ada yang paling menarik. "Rumah" dan "pulang". Pada beberapa bagian, Dee bahkan sengaja menambahkan tanda kutip pada kata itu. Rumah sebagai tempat tinggal, dan pulang menuju tempat tinggal. Konsep tempat tinggal bukan sebuah bangunan yang melindungi dari panas dan hujan, atau sederhananya hunian, tapi dalam konteks tempat di mana seseorang merasa nyaman, memilikinya, dimilikinya, dan ketika keluar dan kembali, ia layak menyebut dirinya sudah "pulang". Bahkan, dengan liar saya menangkap bahwa Zarah hanya menginginkan rumah yang diisi Firas dan Hara. Ketika rumah itu ada dan bisa ia temukan, saat itulah dia pulang. Kedua kata ini seolah menjadi fokus Dee, menurut saya cukup mendominasi, dimana Dee selalu mengulangnya.

Dee menggambarkan Zarah bahkan tidak tahu di mana "rumah" dan harus "pulang" ke mana. Atau tepatnya, Zarah adalah pribadi yang tidak punya "rumah' dan tidak akan pernah "pulang".

PARTIKEL juga menyinggung dua hal yang sangat kontras, religius dan aninisme. Zarah hidup dalam lingkungan yang sangat beragama, kemudian ia dan ayahnya menjadi seperti "tak beragama". Jamur, shaman, UFO, crop cirlcle, Tuhan diragukan, versi bahwa "buah pengetahuan" (buah khuldi dalam ajaran Islam) adalah jamur, dan semuanya adalah persinggungan luar biasa. Tuhan yang diyakini ada bersinggungan dengan naluri ilmuwan.

Kemudian, Zarah berubah dari gadis yang baik secara personal menjadi pribadi yang mudah jatuh cinta pada pandangan pertama, melakukan free sex, menenggak alkohol, dan kebinalan lain.

Dee menyisipkan kisah percintaan pada novel yang sejatinya bukan novel roman, entah sebagai bumbu atau pelengkap stigma bahwa cinta adalah elemen wajib dalam sebuah karya sastra, apapun status, ukuran, dan identitasnya. Meski kekecewaan saya secara subyektif ada ketika Dee tidak menuturkan kisah percintaan seelegan tema cerita lain pada novel ini. Kesannya kisah percintaan Zarah dengan Storm yang akhirnya selingkuh dengan sahabat terbaiknya, Koso, Paul yang diam-diam menaruh cinta pada Zarah menjadi sedikit serupa FTV. Instan. Dipaksakan. Meski menurut saya Dee berhasil menutupinya dengan berbagai filosofi kehidupan yang ilmiah. Misalnya sperma dan sel telur yang menjadikan wanita pemilih, dan pria diharuskan mengencani banyak wanita agar tak rugi.

Lanjut, Dee membenturkan pembaca (utamanya saya) pada satu konsep yang sangat lekat, "Seluruh hidup Zarah cukup dalam satu ransel." Sungguh kesegaran yang luar biasa. Karakter Zarah yang terbiasa nomaden, dengan ranselnya mampu membawanya ke mana-mana membawa semua kehidupannya. Sayang, ada yang terlupa, Firas tak ada dalam ransel itu.

Kemunculan Bodhi dan Elektra di akhir novel adalah cara Dee yang cerdas menjadikan "PARTIKEL" ini adalah bagian dari serial "SUPERNOVA".

Jadi, apa yang sebenarnya Dee ingin sampaikan melalui "PARTIKEL" terlepas sebagai salah satu bagian dari serial "SUPERNOVA"?

Fungi? Orangutan? Alien?

Semua pembaca punya pilihan sendiri. Yang jelas saya meyakini Partikel adalah sebuah perjalanan spiritual, dan membaca sinopsis serial lain, "SUPERNOVA" adalah kisah perjalanan spiritual.

Berat. Perjalanan spiritual bukan hal yang mudah untuk dituliskan, apalagi bisa dicerna dengan baik. Namun, lagi-lagi, kemasan. Dee mengemas "PARTIKEL" ini dengan baik, sangat baik, bahkan luar biasa. Bayangkan bila dunia mikologi dan teman-temannya pada buku ini dipaparkan dengan gaya non fiksi. Ketertarikan mungkin hanya muncul pada pembaca yang memang menggandrungi ilmu pengetahuan. Tapi, dengan kemasan sastra yang sangat baik, mikologi bisa diterima oleh mereka yang mungkin sama sekali tidak tertarik pada mikologi.

Selanjutnya, bayangkan bila cerita tentang orangutan dikemas dengan cara yang tidak menarik. Apa pembaca yang apatis soal satwa bisa menangkap pesan moral yang agung dari orangutan?

Atau hal sederhana, perpisahan. Hampir setiap novel apalagi novel roman mengangkat peristiwa pahit ini. Bayangkan bila Dee menulis perpisahan begitu saja, tanpa semiotika yang menurut saya ada di dalamnya, tanpa perbandingan dengan orangutan, tanpa penjelasan perpisahan sejati menurut Dee dalam karakter Zarah? Bukankah itu akan menjadi biasa saja.

Dari sini saya mengamini nasehat Aan Mansyur bahwa cerita yang baik adalah cara penulis mengemasnya dengan baik.

Lantas, apakah saya secara gamblang mengatakan bahwa ide cerita Dee di novelnya ini biasa saja? Tidak. Di sinilah saya membantah konsep mengenai "kemasan" itu. Kemasan yang menarik mungkin akan menjanjikan tulisan yang bagus. Tapi kemasan yang baik harusnya mengemas isi yang bagus juga.

Partikel adalah sebuah novel tentang perjalanan spiritual Zarah mencari ayahnya, membuktikan "kebenaran" ayahnya, mencari ayahnya, "rumah" dan tempat ia "pulang".

Perjalanan itu didapat dari jamur, dari alien, dari hal-hal di luar logika, ajaran agama di mana Zarah mengalami sensai jamur yang dahsyat. Zarah kemudian sadar bahwa pertentangan yang hebat antara dia dan abahnya bukanlah kenangan terakhir, tapi ketika hatinya dan hati abahnya berusa untuk terakhir kalinya dengan bantuan keyakinan akan sebuah kekuatan jamur.

Ceramah pak Simon tentang fungi, stonehenge, celoteh Hawkeye tentang shaman, dan penelitian Firas tantang kerajaan fungi itu sendiri adalah bukti bahwa novel ini layak dinanti selama 8 tahun. Riset dan riset. Inilah hasilnya. Bukan sekedar hal ilmiah yang Dee sisipkan, tapi aplikasi dan nilai yang terkandung dalam ilmu pengetahuan itu sendiri.

Kemudian saya menangkap bahwa Dee sengaja atau tidak sengaja mengembalikan kita pada hal sederhana yang terlupa, "rumah" dan "pulang". Sudahkah kita memiliki "rumah"? Jika iya, kapan kita "pulang"? Atau apakah kita akan "pulang"?. Dan ya, saya menyimpulkan, bukankah perjalanan spiritual sebenarnya menuntun kita menuju "rumah" itu sendiri?

Karakter? Dee membentuk karakter yang kaya. Setiap karakter hidup. Bahkan Firas yang muncul sesaat terasa hidup dan ada sampai akhir.

Saya merindukan karya sastra yang tidak hanya berbicara tentang cinta, kehidupan dari sisi filosofisnya, persahabatan. Dan rindu saya terbayar dengan kehadiran "PARTIKEL" yang menawarkan gagasan baru, pengetahuan baru, dan skema yang jarang dicoba penulis lain. Terlebih lagi "SUPERNOVA" merupakan ide Dee yang sangat fantastis.

Maka, dengan berani saya mengatakan bahwa Dee adalah penulis cerdas, fokus pada tema yang selalu berbeda, dan pengetahuan sastra yang sangat mumpuni.

Namun, ada 2 kekecewaan saya pada novel ini. Pertama, Dee bagi saya melupakan bahwa Zarah tidak meninggalkan keluarganya, tapi mencari ayahnya. Tujuan utama itu kemudian luntur tatkala Zarah menikmati kehidupannya sebagai fotografer wildlife dan kekasih Storm yang sangat dipujanya. Sosok Firas seolah mati dan tak pernah ada selama itu. Barulah ketika bertemu Simon, Firas kembali hadir dalam diri Zarah seutuhnya. Ini sangat kontras dengan pernyataan Zarah ke Simon bahwa ia sama sekali tidak tertarik pada alien, ia hanya ingin mencari ayahnya.

Kedua, saya kecewa kenapa diberi hidayah kenikmatan sastra pada usia di mana saya hanya bisa menjumpai "PARTIKEL"? Meski semua seri sebelumnya dicetak ulang, saya tetap merasa telat menikmati "SUPERNOVA"

Sekian, ulasan subyektif saya.

Terima kasih.

5 komentar:

Accilong (Asriani Amir) mengatakan...

wkwkkwkwkk... sya turut berduka cita untuk ending postingannya yah. :P

overall, ekspektasi saya pad supernova belum juga luntur. makin penasaran dengan gelombang dan intelegensia embun pagi. satu yang sya sadari setelah mampir dimari, novel sastra mmg paling tepat bila direview org sastra. ah, tidak. ini bukan review. ini harusnya bedah buku.

saya tunggu sampe 3 bulan kedepan unt seri supernovanya. :P

Aprie Janti mengatakan...

saya belum membaca seri Supernova. tapi belum merasa telat menikmati sastra. :)

melissa nath mengatakan...

you know what saya bahkan bookmark tulisan kamu, ternyata menulis itu terkadang kompleks, kadang sayaa bikin paragraf suka2 hati saya saya lupa ide pokok kdang malah ada di paragraf ke berapa. tentang partikel saya belum baca, tapi supernova memang karya yang luar biasa, sastra yang manis, terobosan, thanks buat postnya!

Arif Abdurahman mengatakan...

Ah sama saya juga merasa telat baru ngikutin seri Supernova ini di 2013 kemarin.
Salut buat hasil riset sang penulis, paling suka sama konsep teknologi non-fisik dan beragam keenviromentalisan yg disajikan di Partikel ini. Untuk orang awam kaya saya, gaya bahasa dan cara penyajiannya sungguh nyastra lah.
Pokoknya Teh Dee ini sukses jadi penulis favorit saya.

Zakiyah Derajat mengatakan...

Review yang sangat indah! Beberapa hal tak pernah terpikirkan oleh saya, yang menikmati tebak-menebak apa yang coba Dee utarakan dalam serial Supernovanya. You should read them all, then let me know whether you're guessing the next stories (Gelombang & Intelegensi Embun Pagi) or not. Eh, Gelombang bentar lagi keluar deng.

Makasih ya, tulisannya. Sungguh memperluas khasanah analisis.. :D

Chat Room Bloofers