Selasa, 05 Maret 2013

NAGINA



Namanya Nagina. Dia hidup dalam naskah dan beraktivitas di atas panggung. Siapa saja bisa menjadi Nagina. Tergantung kepekaan individu.

Kali ini, dengan segala maaf aku akan membuat sebuah pengakuan.
Perhatikan baik - baik.

Tak ada seorang pun di dunia ini yang berhak memilih menjadi laki-laki atau perempuan. Mengapa? Hanya Tuhan yang patut memastikan.
Aku, seorang manusia biasa, akan menuturkan sebuah persepsi. Laki-laki dan perempuan adalah sebuah contoh keseimbangan yang sempurna. Adam tak akan seimbang jika tak ada Hawa di dunia. Semua manusia adalah pemimpin untuk dirinya sendiri. Laki-laki akan dibebani tanggung jawab untuk memimpin. Mungkin bakat alami dari Tuhan untuk memimpin perempuan. Namun, sebuah ruang nyaman, rahim, adalah tempat pertama di mana semua manusia akan bersaksi bahwa 9 bulan waktu normal adalah sebuah wujud nyata dari rumah. Rahim menjadikan laki-laki lemah di dalamnya, dan perempuan sang pemilik rahim justru rela lemah untuk menguatkan kandungannya. Bahkan, perempuan sang pemilik rahim tak akan pernah peduli jenis kelamin yang menghuni rahimnya.

Kemudian kita lahir, tumbuh, belajar, alami. Di antara selangkangan, terletak 2 jenis yang sama untuk semua manusia. Pada saat itu, apakah kita sempat memilih? Jangan bertanya kepada Tuhan tentang kelamin.

Waktu mengantar kita. Dunia menawarkan rahim yang lebih besar. Lingkungan. Aku belum sempat memilih, bahkan tak pernah memilih hingga organ itu melekatkan "laki-laki" di atas namaku.

Tapi, lingkungan membunuhku. Takdir menjadi musuh besar naluri. Pertentangan antara keduanya membuatku harus memilih. Pilihan adalah takdir. Tuhan menakdirkan kita memilih. Karena Tuhan tidak egois. Memilih pun butuh daya. Logika dan perasaan. Kedua daya itu pun berseteru. Bagi mereka yang "bijak" logika dan perasaan adalah kombinasi yang sempurna. Keseimbangan yang sempurna. Namun, perasaan menghancurkan logikaku. Pertarungan pun dimenangkannya. Aku berhak memilih. Karena Tuhan tidak egois.

Naluri berjalan sempurna bersama waktu. Keduanya menghidupiku hingga perasaan itu menuju tingkat yang lebih kompleks, naluri.

Sejak saat itu, pertanyaan pertama muncul dalam benakku. Apakah kelamin satu-satunya tanda keegoisan Tuhan?

Seperti lazimnya pertarungan, yang menang akan mendapatkan hadiah. Ketika perasaanku menang, naluri pun mencuat, hidup dan tumbuh begitu kuat. Ia layak mendapat hadiah. Maka wilayah kekuasaan pun dilumat. Tak ada logika. Tak ada hukum pasti. Tak ada aturan. Naluri meraja. Logika musnah. Aku memutuskan menjadi wanita. Maka kini panggillah aku Nagina. Aku perempuan, bukan laki-laki. Aku kini perempuan yang dulunya laki-laki. Hidup adalah pilihan bukan? Tuhan tidak egois, kan?

Bertahun-tahun aku menikmati kelaminku, bentuk tubuhku, kehidupanku. Kini aku dihujat, dicaci, dicibir, dikucilkan, diklasifikasikan ke dalam kelompok jenis kelamin ketiga. Jenis kelamin ketiga? Bukannya Tuhan memastikan jenis kelamin hanya ada dua? Sekarang siapa yang tidak logis? Aku atau mereka?

Bertahun-tahun aku membuktikan bahwa yang mereka sebut "banci" lebih bekerja keras dibanding mereka yang begitu bangga disebut "laki-laki". Aku perempuan, bukan laki-laki.

Sekali lagi, aku perempuan bukan laki-laki.

Terus dan terus aku menyerukan itu. Hingga aku baru mengingat bahwa aku sebenarnya melupakan sesuatu.

Dalam lazimnya pertarungan, pemenang akan mendapat hadiah dan yang kalah akan mendapat ganjaran. Naluriku menang. Logika ku kalah. Aku sibuk merayakan hadiah kemenangan naluri sampai lupa merenungi ganjaran kekalahanku. Adam kalah dalam pertarungan melawan setan di surga. Maka ia dikirim ke dunia. Tuhan marah, menjauhkan surga darinya untuk sebuah ujian di dunia. Setan menang. Apakah neraka adalah hadiah kemenangan untuk setan? Atau justru hadiah kemenangan naluriku atas pertarungan melawan logika adalah neraka yang aku pijak saat ini?

Kelamin. Apakah memilih kelamin serupa memilih surga dan neraka?

Tuhan tidak pernah egois. Tuhan itu sempurna. Paling sempurna. Selama ini aku lupa, bahwa memilih adalah bertanggungjawab. Itulah mengapa hidup membutuhkan kebijakan. Bahkan, dengan bijaknya kita tidak seenaknya memilih kelamin adalah sebuah plihan yang tepat. Karena Tuhan telah memberikan pilihan yang paling tepat pada kelamin manusia.

Sekarang, Nagina dan aku sama saja. Tak ada jenis kelamin ketiga. Naluri yang kubanggakan sebagai pemenang adalah bentuk keegoisan sempurna. Aku yang egois. Tentu Tuhan tidak.


Tulisan ini terinspirasi dari naskah monolog "Nagina" karya Nano Riantiarno yang pernah saya mainkan dalam Solo Project Actor Kala Teater "Monolog- Monolog Kelam" Desember 2012

6 komentar:

dweedy ananta mengatakan...

Tuhan itu Maha Segalanya :)Tuhan Maha Egois seperti ia pun Maha Pengertian :) Mengingkari itu bagi saya sama saja mengecilkan keberadaan Tuhan :)
Bukankah semua terjadi atas kehendak-Nya? Bahkan perasaan dan naluri Ia yang mengendalikan :)

Dian Fernanda mengatakan...

Hmm, Bukankan Tuhan itu telah menciptakan dengan sebaik-baik bentuk, & Dia Maha Tau apa yg Terbaik Untuk Ummatnya

sabda awal mengatakan...

dan berubah menjadi ketidakjelasan adalah ditentukan diri sendiri, Tuha telah memberikan jalan, tinggal memilih

Lozz Akbar mengatakan...

Sepakat dengan komen mas diatas :)

Andreas Elva Widiatmoko mengatakan...

makasih infonya, ada cerita seru, ga nyesel deh kalo dah baca(blog saya juga dofollow auto aprove lho) main ke sini yuuk http://www.bukuhidupandre.blogspot.com

katakatadicta mengatakan...

Kadang manusia berusaha mencari pembenaran dari semua tindakannya di mata Tuhan, seperti anak yang berbohong memaksakan diri agar dapat dipercaya dengan berbohong kembali. Ya, manusia seperti itu, bersikeras membenarkan prilakunya (dan kadang kala menyalahkan Tuhan karena telah menciptakan mereka seperti itu)tanpa sadar kalau itu pun sebuah kesalahan. Tuhan tidak pernah jahat, Tuhan itu baik, hanya pola pikiran manusia lah yang selalu saja menyalahkan Tuhan :) Nice story, Kak! Terima kasih atas tulisannya. Terus berkarya Kak!

Chat Room Bloofers