Selasa, 20 Juli 2010

OBSESI

Aku bermimpi, maka aku hidup. Itu yang selalu ku pegang dan ku bawa ke mana aku pergi, dan kapan pun waktu menunjukkan eksistensinya. Saat tertidur selalu ada pengharapan agar mempunyai mimpi baru, dan ketika terbangun selalu ada upaya agar mimpi itu tak sebatas khayalan.
Banyak penulis, orang bijak, dan motivator menyarankan agar tidak takut untuk bermimpi. I have dreams, I have obsessions. Banyak obsesi yang mengantri untuk diperhatikan dan diwujudkan. Kepala sudah semakin berat dan penuh menampung mereka. Bukan mereka yang menumpang, tapi aku yang mengasuhnya.
Memutuskan menghidupkan obsesi dalam kehidupan sudah menjadi keharusan manusia. Menghuni dunia tanpa sedikit pun asa seperti seorang gadis lugu, hidup dalam kamar, tanpa pintu dan jendela, dikuasai oleh konsep pemikiran yang kolot.
Lantas, apa salahnya kalau aku ingin jadi penulis, ingin jadi pengusaha, ingin jadi musisi, pemain film, dan profesi-profesi lainnya? Selama obsesi-obsesi itu tak merubah namaku dalam silsilah keluarga, dan mengganti kepribadianku dalam ruang jiwa, maka aku merasa halal mengasuh semua obsesi-obsesiku.
Saya berobsesi, maka saya mati. Aku akan mati karena obsesi, aku menjadi debu tak terhirup karena obsesi yang kupertahankan hanya sebatas imaji yang aku buat. Besok, ketika aku kembali terbangun, dan tak melakukan apa-apa, bisa saja obsesi itu berkhianat pada tuan rumah, membunuhku dengan tragis, dan betul-betul membuatku menjadi debu tak terhirup. Aku dan semua obsesiku, menantang arus, menyambung garis, dan membunuh lekukan.
Lewat laju obsesi yang semakin kencang, segelas teh manis menjadi kawan setia.
Makassar, 20 Juli 2010

Tidak ada komentar:

Chat Room Bloofers