Jumat, 08 Juni 2012

BUKAN SAJAK MALAM

Apa kabar tengah malam? Entah mengapa manusia menamaimu tengah malam, padahal bagiku kau bukan sebuah perjalanan waktu yang berawal, menengah, dan berakhir. Aku hanya tahu kau kadang indah dengan bulan dan bintang yang membuat manusia seketika berubah menjadi pujangga. Aku lebih suka menikmatimu, menemanimu, dan kau tidak pernah habis, bahkan saat pagi datang kembali. Harus bercerita apa aku kali ini? Kabarmu statis, lalu kenapa pula aku menanyakannya? Saat ini hujan turun, bagiku kabarmu tetap statis. Oh, iya, aku hanya ingin berbasa-basi seperti manusia lainnya. Kabar adalah sesuatu yang mesti ditanyakan saat berjumpa, entah ketika itu sudah sangat lama baru berjumpa, atau kemarin baru saja jalan-jalan keliling kota. Mungkin itu sebuah kewajiban, apakah harus kusimpulkan bahwa basa-basi telah menjadi sebuah kewajiban tanpa hukum yang nyata? Seperti adat, turun-temurun, tidak formal, namun ada, atau justru itulah nyata yang seseungguhnya? Serangga-serangga kecil ini menggangguku, aku bahkan mengabaikan kalau sesuatu yang menggangguku itu justru sumber kehidupannya, ia tidak memilih untuk menjadi pengganggu, hanya saja kita yang merasa terganggu, padahal akan ada masa di mana kita akan rindu untuk diganggu, entah oleh siapa, mungkin oleh serangga-serangga itu. Aku ingin menangis, tanpa sebab, air mata ini jarang keluar. Aku ingin sedih saat ini dan aku merasa sedih, bukan karena apa-apa, bukan karena cintaku padanya tak terbalas, bukan karena aku tak berhasil berada di puncak, bukan karena aku tidak merasa nyaman, aku hanya merasa sedih, aku tak harus sedih, tak harus menangis saat ini, hanya saja aku ingin, ingin sekali. Mungkin ini lebih baik daripada aku harus berpura-pura menangis. Halusinasi tingkat tinggi, ketika apa yang tidak nyata ini, aku yakin ini tak nyata, namun aku merasa ini nyata, sangat nyata. Kita bersua, hujan mengguyur, mengguyur apa saja, bahkan mengguyur apa yang tersembunyi di bawah tanah, di serat-serat, di partikel-partikel, sampai ke atom-atomnya. Apakah ini sajak? Tidak, ini hanya sebuah kejujuran, kejujuran atas apa yang sedang dirasakan, karena perasaan bisa berubah setiap detiknya, dan ketika aku menulis seuatu yang selalu berubah, bukankah aku tengah menulis sebuah kejujuran? Aku terlalu banyak mengaktifkan subjek, hingga lupa menjadi pasif, untuk diapakan saja, pasrah, aku pasif di hadapan Tuhan. Hei, malam, biarkan aku menyebutmu malam saja, itu sudah sangat indah, sedikit cahaya selalu indah. Bahkan tanpa bintang, tanpa bulan, tanpa pujangga dadakan, pujangga sebenarnya, sajak-sajak ilusi, diksi-diksi spektakuler, rima-rima rapi, tema-tema yang situasional, teks-teks yang selalu hidup, prosa-prosa yang menggema, hingga cerita-cerita yang luar biasa nikmat,, kau tetap malam yang kukenal, indah. Itulah mengapa kau statis bagiku, statis tidak selalu apatis, atau enggan berubah, tapi sebuah kesetiaan, atau jati diri, atau identitas, atau nama yang banyak membuat orang tidak bangga. Hei malam, kau tidak pernah berakhir, bahkan saat pagi datang kembali, merumuskan sebuah siklus waktu, siklus kehidupan, di mana manusia akan menunggu hasilnya, jadwal. Ketika di sini, saat ini kau memudar, matahari kembali perkasa di bola mataku, kau tetap ada, tidak di sini, di tempat lain, di ruang lain di mana banyak manusia menunggumu, untuk berpuisi, untuk menyatakan cintanya, untuk berkencan, untuk melamar kekasihnya, untuk makan, untuk berteriak, untuk bangun, untuk bekerja, istirahat, keluar rumah, berbicara, sendirian, kelayapan, mabuk, bersenda gurau, menonoton acara TV favoritnya, bersandiwara, menunggu hujan, bosan dengan kilau cahaya, atau sepertiku, menunggumu tanpa sebab, bersedih tanpa sebab, tak mampu mengurai alasan, semua hanya melahirkan pertanyaan, itulah kejujuran, karena dunia ini bukan tempat jawaban yang kita harapkan. Camba, 8 Juni 2012

13 komentar:

auraman mengatakan...

Sperti biasa sajakmu selalu membuat saya mengerutkan kening untuk mencoba menela'ah arti dari setiap bait tulisanmu sobat :D

BLACKBOX mengatakan...

itulah kejujuran....hehehehe, semoga ada pesan yang sampai

MUHAMMAD RIDWAN mengatakan...

seperti yang sudah sudah, selalu hanya penulisnya sendiri yang mengerti benar apa yang sedang di sampaikan... :

Phuji Astuty Lipi mengatakan...

hmmmm jiwamu selalu beda ketika menulis dek,...keep writing dah...
usulku,..biarkan pembaca menghela sedikit nafas donk...tulisanmu tak ada habis tanpa enter...tapi diksinya tetep top markotop dah^_^

BLACKBOX mengatakan...

@ridwan: makasih mas, akan saya cari bagaimana baikny
@uthy: makasih kak, akan saya perbaiki

Nick Salsabiila mengatakan...

Ah, fadhli...lama aku ndak sempat bewe...
Dan lagi2, saya selalu dibuat tertegun menyimak apa yg coba kamu urai dengan sederhana. Meski pada akhirnya menjadi sesuatu yang tdk sederhana buat saya. Termasuk tentang malam...hahahaha :P

epoolz mengatakan...

artikel yang sangat berbobot juga nih,,, mantap teman blognya keren,,,

Bonit Notz mengatakan...

fadh.. fadh... teteh suka ngelamun kalo baca tulisan fadh'... hmmm...

keren... ^_^

BLACKBOX mengatakan...

@teh bonit: artinya apa tuh teh?

rinz mengatakan...

hello, I'm back.
Nice to read your writing again :)

BLACKBOX mengatakan...

@rinz: iiya nih, lagi banyak kesibukan, pa kabar?

Mushdiqah elDrida mengatakan...

kak fadhli.... tiba-tiba saya ingin menemuimu, bertanya mengapa bisa kau sepandai ini mengolah kata, ahaaa so nice, so great :) SUKA

BLACKBOX mengatakan...

hehehehhe...ketemuan yuk

Chat Room Bloofers