Minggu, 01 Mei 2011

THE END OF BLACKBOX

Bertanya, seperti tak pernah habis. Sudah tak ada posisi lagi, lokasi pun telah terkontaminasi, virusnya mematikan arah. Aku mati di sini, di entah yang selalu tiba. Apakah harus berhenti? semakin lama, abjadku hanya jadi lahapan zaman, sedikit rasa yang tersampaikan, banyak kekecewaan yang dilahirkan.

Aku harus berhenti, berhenti mengisi abjad dalam kolom-kolom jiwaku. Maaf teman, aku harus berterima kasih. Ini bukti aku mensyukuri kehadiranmu, meski itu samar, meski itu bias, meski itu hanya sebuah pertanyaan yang beranakcucu.

Terlalu banyak sokongan, tapi sarafku sudah lumpuh, tubuhku sudah mati, jiwaku masih hidup tapi entah berlabuh ke mana. Aku tak mungkin meminjam tubuhmu untuk berlari, sementara kau butuh kecepatan lebih untuk mengejar mimpimu.

Jika suatu saat aku berhenti, kau akan menjumpai kekosongan di halamanku. Jangan sisakan apapun di sana, biarkanlah kosOng itu melapangkan diri, agar terasa luas bila aku mengunjunginya kembali. Iya, aku akan berhenti, sebentar lagi, aku masih punya sedikit waktu untuk mencumbui pertemuan kita. Maaf, jika kenangan ini terlalu pahit, aku tak punya banyak gula untuk memaniskannya, rasa pahitnya sangat pekat hingga lidahku sendiri menyerah.

Selamat tinggal halaman-halaman tanpa syaratku. Kita akan bertemu lagi di waktu yang masih entah, di waktu yang masih dipertanyakan.

Sampai jumpa kawan, aku menutup halamanku, bukan untuk mencukupi, karena itu memang tak layak lagi diteruskan. Entah sampai kapan lagi, aku hanya ingin bersemedi, menunggu syair-syair rindu mengalun di daun telinga, memekikkan kejenuhan hingga pecah berkeping-keping.

Bukan sebuah kesalahan, namun aku merasa perlu meminta maaf. Bukan sebuah pemberian karena aku merasa butuh berterima kasih. Pertemuan kita luar biasa, perpisahan kita pun luar biasa, karena kita tidak tahu sampai kapan kita berpisah.

Aku menutup halaman ini untuk entah yang menggunduli semua pancaran ideku. Inilah diriku untuk dirimu yang terlalu kompleks, teman.

Di taman yang masih menunggu gugurnya dedaunan, kita berpisah, aku berhenti, teruskan nafasmu.

7 komentar:

Bonit Notz mengatakan...

hmmm... THE END semoga bukan akhir segala'a... dan semoga hanya praduga... tentangmu masih kumenunggu bait bait indah syarat makna... ^_^

Budiman As'ady mengatakan...

disini kami masih menunggu, semoga semangat akan kembali...

Qefy mengatakan...

Wow, lagi-lagi saya terperangaaaaaaaa ini tulisan bisa menjadi bahan inspirasi beberapa lembar bukuuuu. Kalau berakhir BlackBox lalu halaman selanjutnya yang akan di buka halaman apa? WhiteBox? Ah, ayoo kawan ada apa denganmu, halaman ini masi betah tinggal bersamamu.

Halaman ini menjadi indah ketika petikan abjadmu terurai penuh nuansa. Halaman ini akan selalu menjadi inspirasiku. Tetaplah bertahan dengan mengusung Judul "Batal!!!"

Satu lagi, jangan biarkan rasa kekecewaanmu memudarkan semangatmu menulis, melunturkan gairahmu menuangkan abjad, melucuti titah setia baris-barismu.

Salam hangat,
Qefy

rinz mengatakan...

ehhh... serius? maksudnya gimana? ini postingan terakhir, gitu??? jangan donk! ayooo, terus berkarya! saya menunggu, kami menunggu!

Unik Hanifah Salsabiila mengatakan...

begitu banyak isyarat tlah kau sampaikan mas...pada hati yang bersandar,,juga pada hati yang kau lalui begitu saja...
maka ketika kau ingin mengakhiri sebuah lembar dalam perjalananmu...aku selalu berharap...akan ada jejak lain yg kau ijinkan untuk kulalui..dan mampu menjadi inspirasi dalam lembaran kitabku...
meski terkadang lelah dan isyarat terhenti tanpa sadar...aku tahu kau pun membutuhkan jeda..maka berhentilah...bukan untuk diam..melainkan untuk sebuah perubahan...
salam bloofer...
Nick....^^

Hasan Cakep mengatakan...

pada entah mana akan berakhir, "maaf" dan "terima kasih" menjadi ambigu untuk menemukan letaknya: di awal atau akhir.

hidup itu bukan untuk dilelah-lelahkan. :)

zuLHam mengatakan...

blackbox-nya mo under-maintanance ya?

Chat Room Bloofers