Minggu, 01 Mei 2011

SURAT WASIAT

Saat kau membaca surat ini mungkin aku tengah di alam lain, menebar senyum pada malaikat, melihatmu membuka lembaran usang itu.

Dengarlah, dengarlah, kata-kata yang kau baca ini perwakilan suaraku, maka dengarlah! Aku menitipkan sebuah wasiat padamu.

Aku mewariskan kamar ini, kamar kecil, berisi oksigen penuh. Di lantainya ada tikar lusuh, ada lubang di mana-mana. Jangan beranjak dulu! Aku belum selesai.

Kamar ini untukmu, inilah warisan terakhirku, warisan pertamaku, satu-satunya warisanku. Di sinilah aku pertama kali mengenal dunia, aku kecewa karena dunia yang aku harapkan sebenarnya tidak ada, tapi tidak apa-apa. Mengapa kamar ini menjadi penting untuk aku wariskan? Penting bagiku, dan penting bagimu untuk mementingkannya. Sejarah kamar ini biasa-biasa saja, tak layak dimasukkan dalam museum, apalagi dijadikan sebuah peninggalan bersejarah. Sejarah itu bukan untuk umum, sejarah itu dirimu, mengapa kau bisa ada di sini dan membaca suratku.

Oh iya, aku menemukan banyak ideologi-ideologi, buang saja itu, aku ingin kau menginjaknya hingga ia rata dengan tanah, biarkan ke"rata"annya menembus lantaiku. Kau, kuberi nama tanpa nama, agar tidak ada yang memanggilmu. Aku benci kau dipanggil, aku benci kau disapa, mereka hanya ingin mengagungkan namamu, ingin menyebarluaskan namamu, ingin mendengungkan namamu, bukan dirimu, aku tak ingin mereka mencintai namamu saja.

Baiklah, aku hanya memiliki sedikit daya waktu menulis surat wasiat ini. Dengan bangga aku mewariskan kamar ini untukmu, untuk dirimu, warisan tanpa namaku, untuk dirimu keturunan tanpa namaku, untuk dirimu, entah tanpa tanda tanya. Tak semua entah patut dipertanyakan, kadang kita membiarkannya bias untuk membuatnya jelas, jelas bahwa ia bukan untuk sebuah misi identifikasi.

Kamar ini memiliki rahasia besar. Kau tahu apa rahasia itu?

Di kamar inilah,kita pertama kali bertemu. Iya, pertemuan yang berbeda, beda dunia, beda hasrat. Aku di sini di tempat yang kau yakini, dan kau di dalam kamar warisanku. Kita tak pernah bertemu sebelumnya. Aku senang kau pulang dengan mimpi yang kini bewujud, begitu jelas, kau me"nyata" kan mimpimu, nak. Hapuslah nama Gandi di dirimu, aku tak ingin memanggilmu Gandi lagi, aku ingin kau hidup tanpa nama, karena mereka hanya mencintai namamu, biarkan tak ada yang memanggilmu, sebentar lagi Tuhan akan memanggilmu, itulah panggilan yang aku harapkan, dan kita betul-betul akan bertemu. Aku melahirkanmu sebelum kau sempat mengenaliku, nak. Selamat atas mimpi yang kau raih, aku senang kau telah pulang. Satu rahasia lagi, di kamar inilah, di atas tikar lusuh yang jadi alas dudukmu, aku mendengar tangisan pertamamu setelah keluar dari rahimku. Kau Gandi Firmansyah, sebuah nama tanpa nama. Inilah warisanku. Jadikanlah kamar ini tempat yang kau rindukan, meski rindu itu menahun, meski akan berlumut.

Selalu menyebutmu di ujung bibir, dan merasakanmu hingga batas perasaan.

Matar

(sekuel terakhir MATAR DAN GANDI)

9 komentar:

NIT NOT mengatakan...

biasanya saat membaca postingan mas fadhli membuatku brpikir keras, khusus yang ini dalam alenia terakhir nampak sebuah pengungkapan makna cerita...ada satu ciri khusus yang masih tersisa...pengungkapan bahasa yang digunakan betul2 bercirikan seorang sastrawan...ya...ya....bagus mas...

BLACKBOX mengatakan...

hahahaha...........thx mas, amin

Asriani Amir mengatakan...

siap menunggu sekuel2 berikutnya. Mmg tak slah, jiwamu sastrawan asli. Saya boleh iri. :p

auraman mengatakan...

sudah coba dibuatkan sebuah novel tidak mas ?? sangat bagus sepertinya kisah matar ini mas

Lozz Akbar mengatakan...

hai apa kabar dulur lawasku di Makasar???

brade Fadly.. seperti biasa saya cenut-cenut baca postingnya hehehe

zuLHam mengatakan...

menunggu novel perdana dari seorang Bloofer... Lanjutkan, brader!

Unik Hanifah Salsabiila mengatakan...

stujuuu...stujuuu...sama yg lain...kalo sampe' buku mas fadhli terbit,,saia akan puterin toko buku jgja buat ngebeli...ayo mass...kereeennn...^^

BLACKBOX mengatakan...

@AkbaR; wah. dulur blogger jember saya........makasih mas
@all: itu mimpi saya, tp terkendala karena gak punya laptop, hehehe, thx doa dan dukungannya, sedang saya usahakan

rinz mengatakan...

ahhhhhh... sayang banget sekuelnya berakhir! ga relaaaaaaaaaaa!!!!!

Chat Room Bloofers