Senin, 10 Februari 2014

Sajak Pagi

Aku ingin bangun lebih awal
Sebab aku lelah meninggalkan pagi
Sesekali aku ingin dijemput atau menjemput matahari

Maka, di suatu pagi aku memaksa diri mengabaikan kantuk
Menuju balkon lalu duduk
Menyeruput kopi lalu membiarkan gelas sendirian

Sungguh menyenangkan menyaksikan matahari masih duduk
Lalu seorang ayah bersama anaknya menghampiri sampah dan membakarnya

Saat itu, nyala api tak secerah matahari pagi
Tetapi nyali hujan tak securah air mata

Makassar, Desember 2013
Fadhli Amir

Sabtu, 08 Februari 2014

Seorang Ika Mekar Di Salihara

Duhai Ika Fitriana, pertama kali membaca tulisanmu, seperti kau titisan Joko Pinurbo. Entahlah, itu penilaianku. Sebenarnya semua pribadi menarik, saya percaya itu. Tetapi di dalam pribadimu ada yang lebih dari sekadar menarik, mungkin bisa dikatakan menjerat. Saya sering menulis sesuatu, entah itu surat atau puisi untuk seseorang yang saya anggap berpengaruh untuk kehidupan saya, atau orang-orang yang punya keunikan dan daya tarik tersendiri. Beberapa di antaranya adalah orang-orang yang istimewa. Sulit menempatkanmu di posisi mana. Untuk pertama kalinya pun, saya kehilangan kata-kata manis menggambarkan seseorang, mungkin sudah dijarah semua olehmu.

Suatu saat, saya bertemu dengan sebuah puisi yang begitu lembut, singkat, padat, namun lengang. Puisi itu terasa sangat bergizi dan lapang dalam waktu yang bersamaan. Izinkan saya mengutip puisimu di sini:

Ada bunga mekar di Salihara

Sebuah bunga mekar di Salihara
Berlari-lari gembira
Binaran matanya
Mana bisa bahagia bersembunyi selamanya?

Ia, bunga yang kita kenal kemarin
Yang melayu di antara pekak telinga
Yang menyusut
Mengeriut
Tanpa nyali

Sebuah bunga mekar di Salihara
Dan kita tahu dari binaran matanya
Mana bisa bahagia tersembunyi selamanya?


Puisi ini membangunkan kesenangan menulis lagu yang sudah tidur bertahun-tahun. Terima kasih untuk itu, untuk puisi yang indah, lirik untuk laguku yang setiap kali menyanyikannya, aku merasa bangga.

Ada satu hal yang menarik di balik lahirnya puisi ini. Di Salihara, diskusi "Perempuan Pencipta Narasi" itu justru tidak menarik bagimu. Matamu yang menjelajah ke mana-mana justru melahirkan beberapa puisi pendek, salah satunya puisi yang begitu aku sayangi itu. Mohon izin menyanyangi puisimu. Tuhan, mohon izin menyayangi hambaMu Ika Fitriana ini.

Saya membicarakan banyak hal denganmu. Setelah membaca ini, kumohon padamu, bacalah puisi kesayanganku itu, dengarlah lagunya. Bila doaku dikabulkan, kata bunga di lagu dan puisi itu akan berubah lalu berbuah menjadi namamu.

Selamat datang di kehidupanku.
Bersemangatlah.

Kamis, 06 Februari 2014

Untuk Raisa Andriana (@raisa6690)

Kepada Yang Cukup
Raisa Andriana
Di
Mata dan Hatiku

Dari begitu besarnya kerumunan penggemar, sangat sulit bagiku terlihat menonjol, atau bahkan terlihat sebagai satu-satunya orang yang melihatmu bernyanyi dengan binaran mata yang berlari melampaui waktu. Sebab itulah, aku menulis surat ini.

Setelah itu, Raisa, percayalah tak banyak yang menjadi penggemarmu ketika kau masih orang biasa, namamu belum menggema. Aku salah satunya, mungkin satu-satunya, kuharap satu-satunya. Aku telah menjadi penggemarmu sebelum jutaan orang mengenalmu melalui beberapa video yang kau unggah di Youtube. Itulah takdir yang kusyukuri.

Aku tak memasang potretmu di dinding kamar, di desktop background. Aku juga baru sekali menyaksikan kau bernyanyi secara langsung, hanya duduk manis, memeluk lutut, tanpa teriakan histeris. Namun ketahuliah, aku mendengarkan lagu-lagumu sembari mengingatmu sebanyak waktu tak mampu menghitungnya.

Ada 3 bagian yang aku suka darimu:

1.Suara
Semua penggemarmu menyukainya. Aku tak berani mengatakan bahwa aku yang paling menyukainya. Sebab semua orang akan mengaku seperti itu. Cukuplah suaramu itu angin dan telingaku sehelai daun yang akan gugur. Terima kasih telah membumikanku.

2.Mata
Entah berapa orang yang menyukai matamu. Berapa binar yang merekah kala menatap matamu. Aku tak tahu berada di angka berapa untuk urusan itu. Tak seperti nelayan yang butuh jala dan umpan, cukuplah sepasang matamu terbuka entah menatap siapa, aku pasti terjerat dengan sukarela dan pasrah.

3.Aku
Menjadi aku adalah peran yang menyenangkan. Menjadi aku adalah menjalani hidup sebagai seseorang yang menyukaimu. Bukankah itu menyenangkan, Raisa? Andai aku bagian penting dalam hidupmu, dan aku senang berandai-andai.

Sebenarnya kekagumanku tidak cukup dengan surat ini. Aku ingin memberimu lebih, 085796702457 nomor teleponku. Teleponlah aku, bernyanyilah untukku. Oh iya, ketika semua cermin dan kamera di dunia ini rusak, punah selama-lamanya, datanglah padaku, tataplah mataku, lalu bersyukurlah betapa indah dirimu di salam sana.

Apa? Kau juga kagum kepadaku? Ingin beradu? Sekadar informasi, aku lahir dua hari sebelum kau dilahirkan. Itu artinya aku punya waktu 2 hari lebih banyak mengagumimu.

Bersemangatlah,


Fadhli Amir
@Botsun

Sabtu, 18 Januari 2014

Tiga Lagu Coldplay Untukmu

1. What If
Bagaimana jika kau kutemukan di mataku yang tiba-tiba buta?
Bagaimana jika kau kutemukan di kakiku yang mendadak lumpuh?
Bagaimana jika kau kutemukan di dadaku yang seketika sesak?

Jika mataku buta, aku akan meminjam mata waktu, dengan begitu aku mampu melihatmu kapan saja.
Jika kakiku lumpuh, aku akan meminjam kaki langit, agar kau karam bersama cemerlang senja.
Jika dadaku sesak, aku akan meminjam dada jalan. Sesibuk apapun manusia berhamburan, untukmu aku selalu lengang.

2. Swallowed in the Sea

Aku ingin menjadi laut. Sebab laut adalah muara segala sungai, juga air matamu.
Aku ingin menjadi laut. Sebab aku tak mampu berenang, dan kau selalu layak dikenang.
Aku ingin menjadi laut. Sebab matamu selalu air, dan hatiku melulu sehelai kain.
Lalu tiba-tiba aku ingin jadi ikan. Sebab matamu menjelma nelayan, dan aku ingin kaujadikan harapan.

3. Fix You
Dengarlah lagu ini. Nadanya adalah rumpun semua keluh peluhmu ketika menjajaki nyata. Jangan bertanya pada nyata, cukup hakimi dirimu sendiri yang menjadikan aku sebatas kenangan. Aku pun akan menghakimi diriku sendiri yang menjadikan dirimu seluas masa depan. Dengarlah lagu ini, lalu bacalah pesan ini:

Sungguh menyenangkan menyaksikan matahari masih duduk
Sementara engkau berlutut mencium tangan Tuhan.
Semoga kau ingat kalimat ini: “Jodoh di tangan Tuhan”.
Setiap kali mendengar kalimat itu didengungkan angin, juga bibirmu, juga semua dirimu, aku selalu berdoa,sudikah kiranya Tuhan membuka tangannya? Mungkin kau akan menemukanku di sana, lalu kau mencium tangan Tuhan begitu khidmat.

Selasa, 14 Januari 2014

Kekuatan Lengan Ibu

kata ayah siang terlalu tangguh
ia sangat terang
dan matahari tepat di atas kepalaku
memayungiku dari teduh
yang bersembunyi di langit ke tujuh

tapi siang tak setangguh lengan ibu
yang mampu membawaku ke mana-mana
tanpa sempat mengusap peluh
tanpa sempat mangucap keluh

kata ayah malam terlalu tangguh
ia sangat gelap
dan dingin berkumpul di sekujur tubuhku
memayungkiku dari hangat
yang bersembunyi di kaki jagat

tapi malam tak setangguh lengan ibu
yang mampu merangkul jiwa ragaku
tanpa sempat memeluk dirinya
tanpa sempat mengerutkan dahinya

kata ayah dunia terlalu luas
tapi dunia tak seluas lengan ibu
yang mampu menampung cinta
lalu merambatkannya ke dalam aku
Makassar, Oktober 2013


Selasa, 17 Desember 2013

Katamu, Waktu Punya Bangku

katamu, waktu punya bangku
di tepi dermaga
yang tengah berdoa menghadap air
rupanya rapal doa telah basah
lalu menuju mekar teratai

katamu, waktu punya bangku
di atas mekar teratai
yang tengah berdoa
rupanya doa telah rampung
lalu menuju lapang langit

katamu, waktu punya bangku
di tengah lapang langit
rupanya rapal doa telah meluas
lalu menuju biji bulan

katamu, waktu punya bangku
di dalam biji bulan
rupanya rapal doa telah mati
lalu menuju atap mata kita

katamu, waktu punya bangku
di atap mata kita
rupanya, doa tak terlihat
lalu menuju tepi masa depan

katamu, waktu punya bangku
di tepi masa depan
rupanya bangku itu telah, tengah, dan terus menunggu
hingga doa kita tiba

Camba, 2013

Rabu, 11 Desember 2013

Penyair Pemalu

Ia seorang penyair.
Hidup dan matinya adalah kata-kata:
Kata-kata yang nyata. Saat lahir ia menagis, meneriakkan kata.
Masa kecilnya diliputi kesenangan bermain layang-layang.
Saat sebuah layangan putus, ia meneriakkan “Ayo!”
yang juga sebuah kata. Masa remajanya diserang kata-kata.
Ketika pertama kali jatuh cinta kepada gadis di samping bangkunya.
Lalu ia menulis surat cinta. Surat berisi kata-kata.
Dan ia semakin dewasa dengan kata-kata. Ia paham menggunakan kata yang tepat
untuk pernyataan yang akurat . Lalu uban tumbuh di kepalanya.
Hitam rambutnya dibersihkan masa tua,
dan ia semakin bijak menggunakan kata.
Bibirnya bergetar seperlunya. Ia juga paham mengatakan cinta.
Entah cinta sebagai kata benda, kata sifat, atau justru kata kerja.
Jelasnya, cinta hanya kata di bibir tuanya.

Ia seorang pemalu.
Hidup dan matinya adalah malu-malu:
Malu-malu mengungkap kata.
Kala ia lahir, ia berteriak, namun ia bayi yang pemalu,
hanya mampu menangis dan masih malu tertawa.
Masa kecilnya diliputi tawa. Ia menyeberangi jembatan tua menuju sekolah.
Setiap hari, ia balapan lari bersama temannya, lalu sampai ke sekolah
dengan seragam basah. Peluh bersandar di setiap serat kain bajunya.
Tetapi ia seorang pemalu. Ia malu kepada matahari yang mengeringkan kerongkongannya,
juga malu pada matahari yang membuatnya terus berkeringat.
Ia malu mengungkap keluh saat diserang milyaran peluh.
Maka ia menaruh rasa malunya di ujung tiang bendera. Memberi hormat saat upacara.
Ia terus menjadi seorang pemalu.
Ibunya miskin, ayahnya tiada. Adiknya kelaparan. Ia malu, terus malu-malu pada negaranya.

Ia seorang penyair pemalu.
Hidup dan matinya adalah kata-kata yang malu-malu:
Sejak lahir hingga menjelang matinya ia terus menulis puisi.
Membacakannya di hadapan Tuhan.
Ternyata Tuhan menyukai puisi-puisinya.
Di antara semua puisinya, Tuhan begitu mencintai salah satunya.
Bacalah itu di pusaranya, ada sebuah nama “Abdul” di sana.
Ia seorang hamba Tuhan, pemalu pula. Setiap hari hanya mampu beribadah,
dan mengirimkan permintaan juga keluh kesah, hingga seluruh yang ia punya,
melalui doa-doa yang juga adalah kata-kata.

Ia seorang penyair, tetapi malu-malu.
Ia malu menunjukkan kemaluannya di tempat umum
Kecuali di toilet umum.
Ia malu menampakkan wajahnya di hadapan Tuhan
Sebab wajahnya terlampau buruk, dan Tuhan tak menyukai hal-hal buruk.
Ia malu keluar rumah. Sebab rumahnya pelindung sempurna,
dan dunia luar senang mencerca.
Ia malu mengatakan “Aku mencintaimu” kepada gadis pujaannya.
Maka ia menulis sajak cinta untuk kekasihnya.
Sayangnya, gadis itu tak bisa membaca.

Makassar, 2013

Fadhli Amir

Chat Room Bloofers