Selasa, 16 April 2013

SEMANGKUK MOTIVASI OLEH STANISLAVSKY



(gambar diambil dari www.wikipedia.com)

Apakah benar semua hal memiliki alasan?

Seseorang pernah menyatakan bahwa aktor adalah pembohong ulung. Menurutnya, kejujuran hanya ada dalam realita dimana kita tak akan sanggup menyangkalnya. Waktu membawa kejujuran. Panggung sandiwara hanya sebuah kebohongan. Kejujuran seolah bersembunyi di belakang panggung, menunggu penonton bubar, kemudian menampakkan diri tanpa sempat mendapatkan tepuk tangan riuh. Seseorang itu masih bertahan bahkan terperangkap dalam paradigma "akting adalah berpura-pura".

Manusia dengan kehidupannya adalah rangkaian cerita yang selalu menarik. Bahkan dalam keadaan jenuh sekalipun, manusia cenderung membaginya. Hal yang layak dibagi adalah hal yang tidak layak didiamkan. Hal yang tak layak didiamkan adalah hal yang menarik. Manusia dengan segala ceritanya membaur dalam banyak kejadian. Putus cinta, sosialisasi buruk, keinginan yang belum tercapai, rintangan berat, perselisihan, dan semua hal-hal di dalamnya. Dari semua cerita itu, hanya Tuhan yang telah membacanya. Kita hanya terjebak dalam pertanyaan, ketidaktahuan, bahkan belum menyentuhnya sama sekali. Panggung mengambil peran dalam hal ini. Kisah-kisah yang belum sempat tersentuh oleh khalayak umum, perasaan terkecil yang mungkin hanya jadi konsumsi privasi akan menguak, memberontak, berbicara di atas panggung. Mengapa harus panggung? Sederhana saja. Manusia dengan segala kesibukannya tidak punya banyak ruang untuk melihat sekitarnya. Mengapa harus akting? Sangat sederhana. Masing-masing subyek tak akan pernah bisa menjadi subyek yang lain.

Di sebuah warung pinggir jalan, semangkuk mie instan dengan asapnya yang mengepul menampar penjelajahanku. Aku membuka buku yang baru saja aku pinjam dari perpustakaan sanggar.

"Semua gerak laku dalam panggung harus berdasarkan motivasi, bahkan dalam keadaan duduk diam." Constantin Stanislavsky adalah kiblat terpentingg dalam dunia teater. Dalam bukunya, kita diarahkan untuk berlaku di atas panggung dengan motivasi. Sederhananya bergearak dengan alasan. Artinya, segala sesuatunya harus memiliki alasan. Perlahan tapi pasti, pertanyaan besar muncul di kepalaku. Ketika teater adalah refleksi kecil dari kehidupn yang besar, apakah dalam realitanya, segala hal membutuhkan alasan?

Secara kasat mata, aku bisa saja membenarkannya. Realita adalah kenyataan. Ia pasti. Logisnya, hubungan sebab akibat. Segala sesuatu memiliki sebab hingga ia berakibat pada sesuatu juga. Bagaimana dengan cinta?

Dari semangkuk mie instan, aku beralih ke dunia sosial media. Tengah malam adalah waktu di mana di sana akan selalu marak oleh pujangga. Aku menghidangkan pertantayaan yang sama. Mengapa tengah malam adalah waktu yang tepat untuk menjadi pujangga? Orang - orang termasuk aku merasa nyaman berkicau dengan diksi - diksi, menulis syair, prosa pendek, dan hal-hal yang berbau sastra, kemudian membaginya, dan tengah malam selalu menjadi saat yang tepat. Aku mencoba mencari alasannya, demi membenarkan teori Stanislavsky ini. Setelah perenungan beberapa menit, aku sampai pada sebuah kesimpulan. Tengah malam adalah saat - saat dimana keheningan begitu mudah didapatkan. Lanjut, kata- kata indah akan mudah muncul di saat-saat hening. Pertanyaanku bercabang. Mengapa harus menulis puisi di tengah malam? Apa yang memotivasinya? Sembari menunggu, aku menyantap mie instanku. Semangkuk habis, dan pertanyaan itu pun terjawab. Ada keinginan untuk menonjolkan sisi elegan di tengah malam. Ada keinginan untuk menunjukkan sisi lain yang tak dikenal orang, mencari dan mencuri perhatian. Ada juga keinginan untuk menunjukkan sisi romantis diri. Karena banyak dari kita yang terjebak pada persepsi karya sastra sebagai sesuatu yang mesti romantis. Parahnya jika ada yang memilih motivasi ini, sedang mengikuti tren. Sisi positifnya, ia mengakui kehebatan sastra. Sisi negatifnya, sastra hanya sebatas tren. Aku memilih motivasi ketertarikan. Aku menulis karena aku suka. Sayangnya lagi, banyak dari kita menjadikan kalimat-kalimat gombal sebagai karya sastra. Miris.

Tengah malamku diliputi alasan-alasan yang belum pernah kujumpai. Sepeti halnya, mengapa tempat makan tengah malam ku ini tiba-tiba menjadi temoat tongkrongan favorit. Padahal dulunya, tempat ini dibatasi oleh seniman saja. Tentu saja, orang yang bergerak ke sini memiliki motivasi yang jelas. Tempat ini strategis. Di tempat ini menunya murah dan enak. Semua datang membawa alasan. Semua tiba dengan bekal motivasi.

Aku sering mendengar bahwa mencintai dengan tulus berarti mencintai tanpa alasan. Katanya, ketika kita mencintai seseorang dan kita tidak menemukan alasan mengapa kita mencintainya, artinya ada ketulusan yang kuat di dalamnya. Logikanya, tanpa alasan artinya kita siap berbagi, menerima semua yang ada dalam dirinya. Tanpa memerlukan penelitian, pernyataan ini cukup ilmiah. Bagaimana dengan Stanislavsky? Apakah ia mencintai seseorang dengan motivasi? Pertanyaan itu menggangguku.

Aku berusaha menghabiskan perkara cinta itu. Bagiku mustahil seseorang mencintai tanpa alasan. Semua butuh motivasi. Hal pertama yang sangat jelas adalah manusia pasti akan mencinta. Itulah mengapa kita lebih baik dari makhluk lain. Kedua, Tuhan telah menyiapkan jodoh. Artinya, cepat atau lambat, kita akan mencinta. Ketiga, selalu ada hal menarik dalam diri sesorang. Di antara semua hal menarik itu, selalu ada yang membuat kita memutuskan bahwa kita mencintainya. Cinta tanpa alasan hanyalah teori pujangga yang berkicau di tengah malam melalui sosial media. Aku sepertinya memilih ini: "Aku mencintaimu karena Tuhan mengizinkanku." Semua atas izin Tuhan bukan? Toh, Tuhan menciptakan manusia dengan alasan. Kita terlahir dengan sebuah alasan. Kita juga akan mati dengan sebuah alasan. Surga dan neraka ada dengan alasan. Bukti-bukti kekuasaan Tuhan pun terbukti. Tercatat dengan jelas di kitab suci. Ditemukan oleh manusia itu sendiri. Semua ciptaan Tuhan memiliki fungsi. Maka, Tuhan menciptakannya dengan motivasi yang jelas. Hanya saja pikiran dan batin kita yang membuatnya terlihat kabur, bahkan cenderung tidak ada.

Aku kembali. Di atas meja makanku ada semangkuk mie instan. Di dalamnya ada beribu, berjuta, bahkan tak terhitung motivasi. Hingga mangkuk ini kering aku terus berpikir dengan jutaan motivasi. Hal yang memotivasiku hidup adalah kematian. Setelah kematianku, akankah ada motivasi - motivasi lain?

Di warung Gedung kesenian Societeit de Harmonie Makassar

Terima kasih, Stanislavsky

Selasa, 05 Maret 2013

NAGINA



Namanya Nagina. Dia hidup dalam naskah dan beraktivitas di atas panggung. Siapa saja bisa menjadi Nagina. Tergantung kepekaan individu.

Kali ini, dengan segala maaf aku akan membuat sebuah pengakuan.
Perhatikan baik - baik.

Tak ada seorang pun di dunia ini yang berhak memilih menjadi laki-laki atau perempuan. Mengapa? Hanya Tuhan yang patut memastikan.
Aku, seorang manusia biasa, akan menuturkan sebuah persepsi. Laki-laki dan perempuan adalah sebuah contoh keseimbangan yang sempurna. Adam tak akan seimbang jika tak ada Hawa di dunia. Semua manusia adalah pemimpin untuk dirinya sendiri. Laki-laki akan dibebani tanggung jawab untuk memimpin. Mungkin bakat alami dari Tuhan untuk memimpin perempuan. Namun, sebuah ruang nyaman, rahim, adalah tempat pertama di mana semua manusia akan bersaksi bahwa 9 bulan waktu normal adalah sebuah wujud nyata dari rumah. Rahim menjadikan laki-laki lemah di dalamnya, dan perempuan sang pemilik rahim justru rela lemah untuk menguatkan kandungannya. Bahkan, perempuan sang pemilik rahim tak akan pernah peduli jenis kelamin yang menghuni rahimnya.

Kemudian kita lahir, tumbuh, belajar, alami. Di antara selangkangan, terletak 2 jenis yang sama untuk semua manusia. Pada saat itu, apakah kita sempat memilih? Jangan bertanya kepada Tuhan tentang kelamin.

Waktu mengantar kita. Dunia menawarkan rahim yang lebih besar. Lingkungan. Aku belum sempat memilih, bahkan tak pernah memilih hingga organ itu melekatkan "laki-laki" di atas namaku.

Tapi, lingkungan membunuhku. Takdir menjadi musuh besar naluri. Pertentangan antara keduanya membuatku harus memilih. Pilihan adalah takdir. Tuhan menakdirkan kita memilih. Karena Tuhan tidak egois. Memilih pun butuh daya. Logika dan perasaan. Kedua daya itu pun berseteru. Bagi mereka yang "bijak" logika dan perasaan adalah kombinasi yang sempurna. Keseimbangan yang sempurna. Namun, perasaan menghancurkan logikaku. Pertarungan pun dimenangkannya. Aku berhak memilih. Karena Tuhan tidak egois.

Naluri berjalan sempurna bersama waktu. Keduanya menghidupiku hingga perasaan itu menuju tingkat yang lebih kompleks, naluri.

Sejak saat itu, pertanyaan pertama muncul dalam benakku. Apakah kelamin satu-satunya tanda keegoisan Tuhan?

Seperti lazimnya pertarungan, yang menang akan mendapatkan hadiah. Ketika perasaanku menang, naluri pun mencuat, hidup dan tumbuh begitu kuat. Ia layak mendapat hadiah. Maka wilayah kekuasaan pun dilumat. Tak ada logika. Tak ada hukum pasti. Tak ada aturan. Naluri meraja. Logika musnah. Aku memutuskan menjadi wanita. Maka kini panggillah aku Nagina. Aku perempuan, bukan laki-laki. Aku kini perempuan yang dulunya laki-laki. Hidup adalah pilihan bukan? Tuhan tidak egois, kan?

Bertahun-tahun aku menikmati kelaminku, bentuk tubuhku, kehidupanku. Kini aku dihujat, dicaci, dicibir, dikucilkan, diklasifikasikan ke dalam kelompok jenis kelamin ketiga. Jenis kelamin ketiga? Bukannya Tuhan memastikan jenis kelamin hanya ada dua? Sekarang siapa yang tidak logis? Aku atau mereka?

Bertahun-tahun aku membuktikan bahwa yang mereka sebut "banci" lebih bekerja keras dibanding mereka yang begitu bangga disebut "laki-laki". Aku perempuan, bukan laki-laki.

Sekali lagi, aku perempuan bukan laki-laki.

Terus dan terus aku menyerukan itu. Hingga aku baru mengingat bahwa aku sebenarnya melupakan sesuatu.

Dalam lazimnya pertarungan, pemenang akan mendapat hadiah dan yang kalah akan mendapat ganjaran. Naluriku menang. Logika ku kalah. Aku sibuk merayakan hadiah kemenangan naluri sampai lupa merenungi ganjaran kekalahanku. Adam kalah dalam pertarungan melawan setan di surga. Maka ia dikirim ke dunia. Tuhan marah, menjauhkan surga darinya untuk sebuah ujian di dunia. Setan menang. Apakah neraka adalah hadiah kemenangan untuk setan? Atau justru hadiah kemenangan naluriku atas pertarungan melawan logika adalah neraka yang aku pijak saat ini?

Kelamin. Apakah memilih kelamin serupa memilih surga dan neraka?

Tuhan tidak pernah egois. Tuhan itu sempurna. Paling sempurna. Selama ini aku lupa, bahwa memilih adalah bertanggungjawab. Itulah mengapa hidup membutuhkan kebijakan. Bahkan, dengan bijaknya kita tidak seenaknya memilih kelamin adalah sebuah plihan yang tepat. Karena Tuhan telah memberikan pilihan yang paling tepat pada kelamin manusia.

Sekarang, Nagina dan aku sama saja. Tak ada jenis kelamin ketiga. Naluri yang kubanggakan sebagai pemenang adalah bentuk keegoisan sempurna. Aku yang egois. Tentu Tuhan tidak.


Tulisan ini terinspirasi dari naskah monolog "Nagina" karya Nano Riantiarno yang pernah saya mainkan dalam Solo Project Actor Kala Teater "Monolog- Monolog Kelam" Desember 2012

Sabtu, 12 Januari 2013

SEREMONIAL RINDU




Berbahagialah bulan. Ia meminjam sebagian cahaya matahari. Mereka yang sedang merindu memujanya sambil menorehkan kalimat yang sangat sering dilafalkan sang perindu "Kita masih bisa melihat bulan yang sama".

Matahari kian perkasa, kemudian melemah kala senja. Sang perindu gemar mencintai kelemahannya. Matahari hanya dinanti bila hujan sudah terlalu sering tiba. Dalihnya, kedinginan, butuh kehangatan, butuh semangat. Yang tak punya mesin cuci dan tak ada laundry terdekat merindukan matahari demi pakaian yang tak kunjung kering.

Hujan konon romantis. Banyak yang tiba-tiba menyukai kopi, duduk di balik jendela, menyaksikan air langit turun sempurna. Seolah tega melihat bumi basah, mungkin sengsara. Bagi perindu, kalimat ini menjadi sangat familiar: "Ada kenangan di setiap titik air hujan".

Hujan jadi besar kepala. Ia terus-menerus hadir, entah bagi pengagumnya, atau rumah yang digenanginya juga menjadi pengagumnya? Entahlah. Di musim penghujan ini, orang-orang sibuk mengungsi, juga menguras air di rumahnya. Maka, mereka juga menguras kenangan, entah kenangan siapa.

Hujan semakin dihujat. Sang perindu tak bisa lagi menyaksikan senja kesayangannya. Lebatnya hujan menutupi. Bulan pun seakan lenyap. Akhirnya, sang perindu memasang bulan di langit-langit kamarnya. Agar setiap berbaring ia dapat melihat bulan, meski bukan bulan yang sama.

Rinduku padamu tak tergantung apapun. Rinduku bukan karena bulan, hujan, atau matahari terbenam.

Pada suatu saat, aku memikirkanmu. Aku memikirkan hal-hal tentangmu. Aku memikirkan hal-hal tentangmu di masa lalu. Di saat yang sama kau juga memikirkanku. Itulah sederhananya rindu. Di antara pikiran kita ada Tuhan menyaksikan, mempersatukan. Masihkah kita memerlukan bulan?

Rinduku padamu bukan karena hujan. Aku menyukai hujan. Visual yang dihasilkannya sangat menarik. Tapi jika ia marah, banjir di mana-mana. Apakah rinduku padamu marah, dan menggenangi rindu-rindu yang lain? Atau bila ia hujan yang menggenangi rumah-rumah, haruskah aku mengurasnya untuk menemukan kenangan kita? Bagaimana jika ia mengalir, menghanyutkan semua yang tak berdaya? Haruskah aku memohon kepada matahari untuk menambah keperkasaannya mengeringkan laut?

Rinduku padamu tidak ada di dalam larutnya orang-orang menyaksikan matahari terbenam. Aku menyukai senja. Sangat menyukainya. Jika rinduku padamu adalah senja, di mana matahari akan terbenam, ketika usai, apakah rinduku juga akan usai? Kemudian berubah menjadi gelapnya malam? Rindu kita kelam.

Rindu kita sesederhana saling memikirkan. Ada Tuhan di tengahnya, mempersatukan. Kemudian ada waktu setelahnya, dan Tuhan di atasnya mempertemukan. Kita.

Selasa, 08 Januari 2013

Zarah, Kapan Pulang? (Pandangan Pribadi Novel Dewi "Dee" Lestari "PARTIKEL")


Saya akan mengulas "Partikel" bukan supernova. Alasan yang sederhana adalah saya tahu soal "Partikel", satu-satunya serial SUPERNOVA yang pernah saya baca. Pertama-tama saya tidak meragukan kualitas seorang Dee dalam menulis. Bukan soal diksinya yang banyak dipuja orang, bukan juga soal cara dia membentuk karakter yang kuat, setting dan plot yang menarik, sampai rasa penasaran yang banyak dirayakan pembacanya. Kekaguman saya pada Dee adalah "kematangan".

Iya. Ironis sekali. Saya seorang penulis blog, mahasiswa sastra, yang baru mengenal sastra 4 tahun belakangan berbicara soal "kematangan". Terlebih lagi "kematangan" itu menjadi indikator utama kekaguman pada seorang penulis besar di Indonesia.

Sebulan yang lalu, saya mengikuti workshop penulisan cerpen bersama Aan Mansyur (@hurufkecil) seorang penyair kenamaan Makassar saat ini.

Beliau mengajarkan kami soal prosa. Buku terakhir Aan Mansyur adalah kumpulan cerita, dimana cerita itu dikemas dengan identitas penyairnya. Unik.

Tak bermaksud mengulas "KUKILA" nya Aan Mansyur, tapi ada hal yang bisa saya petik untuk mengulas karya besar Dewi Lestari ini. Aan Mansyur mengemas Kukila, kumpulan cerita atau prosa yang ia kemas dengan bahasa penyairnya. Gaya bertutur puisi pada prosa. Unik. Menarik.

Pada workshop itu, Aan Mansyur yg menjadi mentor mengatakan bahwa kebanyakan para penulis sekarang lebih memperhatikan "kata-kata indah" plot yang "menarik", dan ending yang "surprising". Kemudian mereka lupa hal-hal mendasar dari sebuah prosa. Misalnya fungsi paragraf sebagai perangkum satu ide utama, tanda baca, petunjuk aksi, ekspresi, dan perasaan sebelum dan setelah dialog, dan cara menyampaikan cerita. Soal hal-hal dasar itu plus penguasaan kosakata, Dee tak perlu diragukan.

Lanjut ia menjelaskan bahwa, setiap penulis dan yang ingin jadi penulis pasti memiliki ide cerita yang menarik. Dengan modal itu ditambah penguasaan "diksi yang indah" menurut mereka sudah cukup menghasilkan karya prosa yang bagus. Mereka melupakan satu hal. Kemasan.

Cerita akan menarik dibaca bila penulis mengemasnya dengan baik. Cerita yang baik, luar biasa akan terasa biasa-biasa saja, bahkan klise jika disampaikan dengan cara yang salah.

"PARTIKEL" satu-satunya serial "SUPERNOVA" yang pernah saya baca sampai saya menulis ini adalah bukti bahwa "kemasan" menentukan menarik tidaknya sebuah karya sastra, terkhusus prosa, lebih detailnya lagi novel, lebih luar biasanya lagi novel serial.

Cara bertutur Dewi Lestari sangat spesial di "PARTIKEL". Kadang dia bercerita dengan biasa, mendeskripsikan suasana dengan cara yang lazim. Namun, pada bagian cerita tertentu, seperti pertentangan batin yang sering didapatkan pada novel yang menceritakan perjalanan spiritual seperti "PARTIKEL" Dee menuturkan dengan sangat elegan. Tak jarang ia membiarkan kejadian pada bagian cerita sebelumnya begitu saja, kemudian direcall pada bagian cerita berikutnya. Menurut saya itu penting, untuk menyegarkan, membantu mengingat, dan tentunya bukan hanya alasan sederhana itu. Dee menyisipkan semiotika yang kuat di dalamnya.

Kejadian pertama, Zarah meninggalkan ibunya, tidak serumah dengan ibunya, ke Kalimantan, dan tinggal bertahun-tahun di sana. Dee membiarkan ini lumrah. Zarah sudah divonis sebagai Firas kedua di keluarganya. Zarah tetap bersikukuh mencari ayahnya, sosok yang ia idolakan. Dua ideologi yang berbeda diakhiri dengan sebuah perpisahan adalah hal lumrah. Selesai.

Kejadian kedua. Tanjung Puting menjadi tempat pertemuan Zarah dan Sarah. Zarah yang merasa sudah biasa mendapatkan kejutan dalam hidupnya, kembali menemukan sesuatu yang baru. Hingga pada akhirnya waktu, kesempatan, dan keputusan membuat mereka berdua terpisah. Ironisnya pada posisi ini Zarah adalah seorang ibu dari Sarah yang merasakan kesedihan luar biasa tatkala harus berpisah dari Sarah. Pada situasi ini perpisahan terasa lumrah, dimana obsesi Zarah yang begitu besar menemukan ayahnya.

Nah, Dee merecall dua hal, perpisahan dan ibu. Perpisahan dengan ibunya tak membuat Zarah sedih, tapi perpisahan dengan Sarah membuat Zarah merasakan kepedihan ibunya yang merasa ditinggalkan olehnya.

Sepele, sangat sepele. Perpisahan hampir ditemui dalam semua novel, cerpen, puisi, dan karya sastra lain. Tapi, di "PARTIKEL" perpisahan itu menjadi sangat berbeda.

Lalu, di mana semiotiknya?

Pada dua peristiwa perpisahan di atas, menurut saya Dee, sengaja atau tidak sengaja menjadikan "perpisahan" sebagai sebuah elemen semiotika.

"Perpisahan" merupakan tanda dua orang, elemen, hal, yang tidak bisa bersama. Perpisahan bukan cuma secara fisik antara Zarah dan ayahnya, tapi juga perbedaan ideologi antara Zarah dengan ibu, umi, dan abahnya.

Selain itu, ada yang paling menarik. "Rumah" dan "pulang". Pada beberapa bagian, Dee bahkan sengaja menambahkan tanda kutip pada kata itu. Rumah sebagai tempat tinggal, dan pulang menuju tempat tinggal. Konsep tempat tinggal bukan sebuah bangunan yang melindungi dari panas dan hujan, atau sederhananya hunian, tapi dalam konteks tempat di mana seseorang merasa nyaman, memilikinya, dimilikinya, dan ketika keluar dan kembali, ia layak menyebut dirinya sudah "pulang". Bahkan, dengan liar saya menangkap bahwa Zarah hanya menginginkan rumah yang diisi Firas dan Hara. Ketika rumah itu ada dan bisa ia temukan, saat itulah dia pulang. Kedua kata ini seolah menjadi fokus Dee, menurut saya cukup mendominasi, dimana Dee selalu mengulangnya.

Dee menggambarkan Zarah bahkan tidak tahu di mana "rumah" dan harus "pulang" ke mana. Atau tepatnya, Zarah adalah pribadi yang tidak punya "rumah' dan tidak akan pernah "pulang".

PARTIKEL juga menyinggung dua hal yang sangat kontras, religius dan aninisme. Zarah hidup dalam lingkungan yang sangat beragama, kemudian ia dan ayahnya menjadi seperti "tak beragama". Jamur, shaman, UFO, crop cirlcle, Tuhan diragukan, versi bahwa "buah pengetahuan" (buah khuldi dalam ajaran Islam) adalah jamur, dan semuanya adalah persinggungan luar biasa. Tuhan yang diyakini ada bersinggungan dengan naluri ilmuwan.

Kemudian, Zarah berubah dari gadis yang baik secara personal menjadi pribadi yang mudah jatuh cinta pada pandangan pertama, melakukan free sex, menenggak alkohol, dan kebinalan lain.

Dee menyisipkan kisah percintaan pada novel yang sejatinya bukan novel roman, entah sebagai bumbu atau pelengkap stigma bahwa cinta adalah elemen wajib dalam sebuah karya sastra, apapun status, ukuran, dan identitasnya. Meski kekecewaan saya secara subyektif ada ketika Dee tidak menuturkan kisah percintaan seelegan tema cerita lain pada novel ini. Kesannya kisah percintaan Zarah dengan Storm yang akhirnya selingkuh dengan sahabat terbaiknya, Koso, Paul yang diam-diam menaruh cinta pada Zarah menjadi sedikit serupa FTV. Instan. Dipaksakan. Meski menurut saya Dee berhasil menutupinya dengan berbagai filosofi kehidupan yang ilmiah. Misalnya sperma dan sel telur yang menjadikan wanita pemilih, dan pria diharuskan mengencani banyak wanita agar tak rugi.

Lanjut, Dee membenturkan pembaca (utamanya saya) pada satu konsep yang sangat lekat, "Seluruh hidup Zarah cukup dalam satu ransel." Sungguh kesegaran yang luar biasa. Karakter Zarah yang terbiasa nomaden, dengan ranselnya mampu membawanya ke mana-mana membawa semua kehidupannya. Sayang, ada yang terlupa, Firas tak ada dalam ransel itu.

Kemunculan Bodhi dan Elektra di akhir novel adalah cara Dee yang cerdas menjadikan "PARTIKEL" ini adalah bagian dari serial "SUPERNOVA".

Jadi, apa yang sebenarnya Dee ingin sampaikan melalui "PARTIKEL" terlepas sebagai salah satu bagian dari serial "SUPERNOVA"?

Fungi? Orangutan? Alien?

Semua pembaca punya pilihan sendiri. Yang jelas saya meyakini Partikel adalah sebuah perjalanan spiritual, dan membaca sinopsis serial lain, "SUPERNOVA" adalah kisah perjalanan spiritual.

Berat. Perjalanan spiritual bukan hal yang mudah untuk dituliskan, apalagi bisa dicerna dengan baik. Namun, lagi-lagi, kemasan. Dee mengemas "PARTIKEL" ini dengan baik, sangat baik, bahkan luar biasa. Bayangkan bila dunia mikologi dan teman-temannya pada buku ini dipaparkan dengan gaya non fiksi. Ketertarikan mungkin hanya muncul pada pembaca yang memang menggandrungi ilmu pengetahuan. Tapi, dengan kemasan sastra yang sangat baik, mikologi bisa diterima oleh mereka yang mungkin sama sekali tidak tertarik pada mikologi.

Selanjutnya, bayangkan bila cerita tentang orangutan dikemas dengan cara yang tidak menarik. Apa pembaca yang apatis soal satwa bisa menangkap pesan moral yang agung dari orangutan?

Atau hal sederhana, perpisahan. Hampir setiap novel apalagi novel roman mengangkat peristiwa pahit ini. Bayangkan bila Dee menulis perpisahan begitu saja, tanpa semiotika yang menurut saya ada di dalamnya, tanpa perbandingan dengan orangutan, tanpa penjelasan perpisahan sejati menurut Dee dalam karakter Zarah? Bukankah itu akan menjadi biasa saja.

Dari sini saya mengamini nasehat Aan Mansyur bahwa cerita yang baik adalah cara penulis mengemasnya dengan baik.

Lantas, apakah saya secara gamblang mengatakan bahwa ide cerita Dee di novelnya ini biasa saja? Tidak. Di sinilah saya membantah konsep mengenai "kemasan" itu. Kemasan yang menarik mungkin akan menjanjikan tulisan yang bagus. Tapi kemasan yang baik harusnya mengemas isi yang bagus juga.

Partikel adalah sebuah novel tentang perjalanan spiritual Zarah mencari ayahnya, membuktikan "kebenaran" ayahnya, mencari ayahnya, "rumah" dan tempat ia "pulang".

Perjalanan itu didapat dari jamur, dari alien, dari hal-hal di luar logika, ajaran agama di mana Zarah mengalami sensai jamur yang dahsyat. Zarah kemudian sadar bahwa pertentangan yang hebat antara dia dan abahnya bukanlah kenangan terakhir, tapi ketika hatinya dan hati abahnya berusa untuk terakhir kalinya dengan bantuan keyakinan akan sebuah kekuatan jamur.

Ceramah pak Simon tentang fungi, stonehenge, celoteh Hawkeye tentang shaman, dan penelitian Firas tantang kerajaan fungi itu sendiri adalah bukti bahwa novel ini layak dinanti selama 8 tahun. Riset dan riset. Inilah hasilnya. Bukan sekedar hal ilmiah yang Dee sisipkan, tapi aplikasi dan nilai yang terkandung dalam ilmu pengetahuan itu sendiri.

Kemudian saya menangkap bahwa Dee sengaja atau tidak sengaja mengembalikan kita pada hal sederhana yang terlupa, "rumah" dan "pulang". Sudahkah kita memiliki "rumah"? Jika iya, kapan kita "pulang"? Atau apakah kita akan "pulang"?. Dan ya, saya menyimpulkan, bukankah perjalanan spiritual sebenarnya menuntun kita menuju "rumah" itu sendiri?

Karakter? Dee membentuk karakter yang kaya. Setiap karakter hidup. Bahkan Firas yang muncul sesaat terasa hidup dan ada sampai akhir.

Saya merindukan karya sastra yang tidak hanya berbicara tentang cinta, kehidupan dari sisi filosofisnya, persahabatan. Dan rindu saya terbayar dengan kehadiran "PARTIKEL" yang menawarkan gagasan baru, pengetahuan baru, dan skema yang jarang dicoba penulis lain. Terlebih lagi "SUPERNOVA" merupakan ide Dee yang sangat fantastis.

Maka, dengan berani saya mengatakan bahwa Dee adalah penulis cerdas, fokus pada tema yang selalu berbeda, dan pengetahuan sastra yang sangat mumpuni.

Namun, ada 2 kekecewaan saya pada novel ini. Pertama, Dee bagi saya melupakan bahwa Zarah tidak meninggalkan keluarganya, tapi mencari ayahnya. Tujuan utama itu kemudian luntur tatkala Zarah menikmati kehidupannya sebagai fotografer wildlife dan kekasih Storm yang sangat dipujanya. Sosok Firas seolah mati dan tak pernah ada selama itu. Barulah ketika bertemu Simon, Firas kembali hadir dalam diri Zarah seutuhnya. Ini sangat kontras dengan pernyataan Zarah ke Simon bahwa ia sama sekali tidak tertarik pada alien, ia hanya ingin mencari ayahnya.

Kedua, saya kecewa kenapa diberi hidayah kenikmatan sastra pada usia di mana saya hanya bisa menjumpai "PARTIKEL"? Meski semua seri sebelumnya dicetak ulang, saya tetap merasa telat menikmati "SUPERNOVA"

Sekian, ulasan subyektif saya.

Terima kasih.

Minggu, 16 Desember 2012

MATAR SEASON II (PART 1)


Selain dirimu, kepada siapa lagi aku harus menaruh cinta? Selain dirimu, wanita mana lagi yang akan kuhadiahi kasih sayang? Sementara Tuhan menakdirkan jodoh bagiku, wanita yang akan mendampingi, sekaligus menjauhkanku darimu. Sebelum tenggorokanku kering, kau sudah jauh hari menyiapkan air. Sebelum perutku keroncongan, kau sudah jauh hari menyiapkan makanan. Sebelum aku mati, kau sudah jauh hari menyimpan air mata. Persiapanmu seperti mengetahui masa depanku. Nalurimu adalah peramal jitu.

Kebersamaan kita adalah pertemuan yang tak pernah aku harapkan. Dulu, ketika aku masih sebentuk sel, aku belum dikaruniai kemampuan berharap. Tetapi, aku mendapatimu dengan tubuh dan jiwa yang memberiku semua harapan yang aku butuhkan, untuk masa depan, untuk waktu yang belum aku ketahui. Tuhan menjadikanku tubuh dan jiwa yang dikaruniai dirimu, itulah harapan juga pengharapan. Kemudian Tuhan tak perlu memperkenalkanku denganmu. Perkenalan tidak pernah terjadi. Aku diberi kemampuan untuk langsung merasakanmu, kemudian begitu saja mengenalmu, tiba-tiba, tak kurasa awal mula, dan tak ingin kurasa semua itu berakhir. Apa semua manusia seperti itu? Entahlah. Aku tak pernah bertanya kepada mereka, kalaupun iya, mereka tak akan bisa menjawab. Semua pertanyaan itu seperti tak memiliki jawaban, atau justru tanda tanya itulah jawaban, bahwa sesungguhnya pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban adalah pertanyaan yang sudah terjawab dengan satu tanda tanya besar.

Kau bertaruh pada waktu. Nyatanya memang waktu akan selalu menang. Tapi sayangnya, kau tak pernah menyerah. Meski waktu terus menyakitimu, di mana aku menjadi yang teraniaya bagimu, kau menangis, sungguh itu kepedihan bagimu, dan saat itu, aku hanya mampu terpaku.

Waktu menampung semua keluh kesah, kemudian dengan santainya membuangnya satu per satu di setiap detiknya. Lahirlah sebuah kalimat “biar waktu yang menjawab semuanya”. Jika waktu adalah jawaban yang pasti, jawaban terbaik, mengapa tak kutemukan satu detik pun yang menjawab pertantanyaan ini, “Kapan aku berhenti mencintaimu, dan kapan kau berhenti mencintaiku?” Bahkan jika waktu telah usai, ia akan mati sebelum mampu memberiku jawaban.

Selain dirimu, kepada siapa lagi aku harus menaruh cinta? Selain dirimu, wanita mana lagi yang akan kuhadiahi kasih sayang? Sementara Tuhan menakdirkan jodoh bagiku, wanita yang akan mendampingi, sekaligus menjauhkanku darimu.
Bicaralah, agar aku tenang.

Kembali, waktu bukanlah penjawab fasih seperti kata mereka. Sampai detik ini aku belum menemukan jawaban, mengapa aku harus mencintainya? Mengapa Tuhan tak membiarkanku memilih? Seandainya saja ada pilihan atas siapa yang dicinta, maka aku ingin menempatkanmu sebagai satu-satunya. Sayangnya, kodrat manusia sebagai makhluk sekaligus hamba Tuhan harus mengakui takdir. Jodoh memaksaku mencintainya. Jodoh adalah takdir yang tidak bisa aku pilih.

Minggu, 11 November 2012

AYAH MAYA


Ayah……begitu besar kebencianku padanya. Baik ia berdiri sebagai sebuah kata yang bermakna ataupun makna itu sendiri. Sepanjang hidupku, ayah hanya berarti tunggal, gagal. Dialah ayah yang gagal, ayah yang membuatku kecewa, dan ayah yang membuatku menyimpan kebencian luar biasa padanya.

Menurutmu bagaimana bila seorang ayah yang seharusnya menjadi ayah bagiku lebih senang menjadi ayah bagi orang lain? Aku anaknya, bukan status keluarganya, dan aku benci sekedar status. Menurutmu seperti apa kau harus menanggung wajah seorang ibu yang begitu setia menahan kantuk semalaman, duduk di ruang tamu menatap pintu rumah dengan harapan yang begitu besar bahwa pintu itu sewaktu-waktu akan terbuka kemudian wajah suaminya muncul membawa kantongan beras. Detik demi detik ia lewati tanpa sedikitpun terkuras harapannya. Aku seorang anaknya hanya mampu menatap wajah lesu itu dari balik tirai kamar sebuah gubuk yang berdindingkan tripleks dan kayu-kayu lapuk. Apakah kau masih mampu menahan air mata dan masih menyimpan kebanggaan pada seorang ayah itu?

“Bu….tidur, sudah malam, ayah tidak mungkin pulang.” Sahutku sembari melangkah pelan ke arahnya. “Nak, seorang istri harus taat pada suaminya, aku ibu bagimu, tapi aku istri baginya, kamu tidur duluan, ya!” jawabnya dengan senyuman yang menurutku sangat pedih.
Kejadian itu terjadi setiap malam. Aku hanya melihat wajah ayahku sampai aku berumur 5 tahun, setelah itu, ia hanya “entah” bagiku, dan kabarnya pun menjadi tidak penting lagi. Yang membuatku sangat terpukul adalah penantian ibuku masih berlanjut sampai hari ini di setiap malam, sampai sekarang di setiap malam di mana ubannya semakin jelas, dan kabar si ayah itu semakin tak jelas. Persepsiku hanyalah satu, ia tengah sibuk menjadi ayah untuk anak lain, dan menikmati menjadi suami bagi istri lain. Sementara aku sudah merasa anak yatim, tapi bagi ibuku, ia sama sekali tak merasa menjadi seorang janda, padahal dalam aturan agama, ia sudah pantas menyandang itu. Sekarang, ia masih menunggu di ruang tamu, menatap penuh gairah ke pintu, dan aku tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun, hanya tangis yang bersembunyi.
Lagi…..saat ini….saat – saat di mana ia masih menunggu, kemudian aku masih terus menangis dan tersungkur. Kini ia telah tiada bersama penantiannya. Sekarang, aku betul-betul menghargai sebuah kesetiaan, kesetiaan seorang istri pada suaminya yang semakin tiada, dan ia pun harus tiada dalam penantiannya, aku kehilangan ibuku untuk selamanya. Kejadian pahit itu menempaku begitu keras dan membuat kebinalan luar biasa dalam kehidupanku.
Kehidupanku berlanjut, kesedihan itu kulumat habis, semoga saja bisa menjadi kekuatan, harapku.

Pagi yang tenang, sangat basah, bekas hujan semalam. Pagi yang menampung sisa hujan semalam sangat istimewa. Perawakannnya tak bisa dianalogikan, maka aku pun selalu duduk dari balik jendela rumah yang tak lagi berdinding tripleks dan kayu-kayu lapuk menyaksikannya dengan secangkir kopi Toraja asli.
Hari ini hari minggu, dan akhirnya aku bisa bernafas lega, lepas sejenak dari rutinitas. Hari-hari minggu sebelumnya aku harus menemani Diandra memuaskan hasrat kewanitaannya, belanja. Ada dua hal yang membuatku muak bersamanya di hari Minggu.

Pertama, itu menyita waktu istirahat privasiku, sementara setiap hari aku bisa menemuinya di kantor, tepat di meja sebelah meja kerjaku. Kedua, menemani wanita belanja itu sama saja menghitung ribuan jarum di tumpukan jerami, menyita banyak waktu untuk menjadi sia-sia. Ketiga, uang yang digunakan adalah uangku, dan alasan inilah alasan terkuat bagiku untuk merayakan hari kemerdekaan pribadiku.
Entah mengapa dibalik semua kebencianku padanya, aku masih setia pada rasa sayangku kepadanya, sehingga di sudut mana pun ada kebencian maka akan ada sudut di mana itu penuh dengan rasa cinta, karena hidup menuntut sebuah keseimbangan.

Pagi yang basah sisa hujan semalam seperti ikut merayakan kemerdekaanku, ini baru hari Minggu. Aku sebenarnya heran, tumben-tumbennya Silvika tidak memintaku menemaninya berbelanja hari ini, padahal setahuku itu sudah menjadi jadwal rutinnya setiap minggu. Meski berbahagia, aku masih sedikit mengerutkan dahi merayakan keherananku padanya yang hidup tak seperti biasanya. Hanya ada dua kemungkinan, dia sudah berubah atau justru terjadi sesuatu yang membuatnya tidak bisa keluar rumah. Akhirnya dia menelponku hanya mengabarkan kalo hari ini dia mau menemani ibunya check up.

“Maaf, ya, sayang, hari ini kita gak bisa hang out, aku mau nemenin mama check up.”
Aku tertawa mendengarnya meminta maaf, karena sebenarnya aku yang sangat bersyukur tidak mesti merasakan 3 efek negatif menemaninya belanja.
Seruput demi seruput kopi terasa begitu nikmat di hari kemerdekaan ini, masih bersama pagi istimewa yang basah sisa hujan semalam, memikirkan hal-hal yang tak sempat terpikirkan di waktu di mana semua yang tak penting terpikrikan harus dipikirkan. Terus seperti ini, rasanya setiap minggu wajarnya aku seperti ini, sampai aku dikagetkan oleh nada dering handphoneku. Diandra memanggil
“Halo sayang……” ujarku menyapa.
“Halo, sayang aku mau ngomong sesuatu, penting”
“Ya udah ngomong aja sekarang”.
“Gak bisa lewat telepon, kita mesti ketemuan sekarang, aku ke rumahmu ya!”
“O…o….oke!” Kalimatku terpatah-patah penuh tanda tanya.

Aku menyeruput kopiku menyisakan ampasnya saja, segera kemudian tergesa-gesa mandi dan bersiap-siap menyambut kedatangannya. Ia sangat benci dengan laki-laki yang tidak mandi pagi, aku benci menjadi kategori kebenciannya. Menajdi apa yang ia inginkan itu sudah otomatis, aku tak tahu alasannya dan tak berniat mencari alasannya.
Sejam kemudian dia datang dengan wajah yang tak biasa, penuh beban. Mungkin aku menyesal, harusnya membawanya keliling kota belanja sepuasnya ketimbang melihat beban di wajahnya. Ia duduk, menatapku datar-datar saja, aku bingung meresponnya bagaimana.
“Gandi……” Ia menghela nafas panjang
“Iya…sayang, kamu kenapa?”
“Kamu sayang sama aku gak?”

Pertanyaan itu muncul dan akhirnya aku sampai pada sebuah rahasia umum besar bahwa pertanyaan seperti itu adalah tanda kalau seorang wanita ingin meminta sesuatu, tapi kalau dia minta uang, sepertinya rasa sayangku belum sampai ke arah itu.
“Iya..aku gak perlu bilang itu berkali-kali, karena hasilnya akan tetap sama, aku bakalan tetap sayang sama kamu.”
“Kamu mau gak jadi seorang ayah?”
Dan kata yang sangat kubenci itu hadir, kali ini rasa sayangku padanya harus terabaikan. Aku diam, karena dia tahu mengapa aku diam.
“Aku tahu kamu gak mau, aku tahu kamu benci kata itu, tapi kalo kamu berada dalam keadaan harus menjadi ayah, apa kamu masih bisa nolak?” Dia menangis, deras, pedih, seperti wajah ibuku yang terlihat pedih di ruang tamu menatap pintu dengan penuh harapan.

Aku harus bagaimana? Aku dalam keadaan di mana aku tak bisa menolak, ini antara idealisme kebencianku dan harga diriku sebagai laki-laki. Sesulit bagaimanapun memendam kepedihan, masih jauh lebih sulit berada dalam dunia antara di mana pilihan itu keharusan, dan kepedihan juga kepastian. Aku diam, dan aku rasa dia pun tahu jawabanku. Pacarku, Diandra, pergi tanpa sehelai kata pun dari seorang laki-laki yang diharapkannya. Sama seperti ibuku yang pergi tanpa sedikitpun harapannya terpenuhi, wajah ayah yang kubenci itu. Sekarang apa bedanya aku dan ayahku? Aku tak kuasa menahan laju Diandra yang begitu kuat dengan kepergiannya, juga tak kuasa menahan diri sendiri yang begitu teguh pada pendirian bodohnya.

Pagi yang basah sisa hujan semalam tak istimewa lagi, hari Minggu tak merdeka lagi, aku yang merasa lebih baik dari ayah tak hebat lagi, aku kalah, aku gagal. Dan dia terus pergi.

Setahun kemudian, aku melewatinya dengan predikat yang sama seperti ayahku. Aku tak lagi memperdulikan kebencianku pada sosok ayah yang selalu dinantikan wanita luar biasa bertahun-tahun silam, yang aku tahu aku benci pada diriku sendiri.

Hari Minggu, hari yang sama, pagi yang basah sisa hujan semalam juga tidak istimewa lagi. Hari Minggu yang merdeka juga tak patut dirayakan lagi, aku berduka pada kenduri di hari Mingguku sendiri. Ia telah menikah dengan lelaki lain yang lebih bijak mengambil keputusan, tak memendam kebencian berlebih, tidak kalah pada idealisme bertamengkan egois, dan pastinya lebih pantas jadi ayah.

Saat ini, pagi ini, aku mengais memori penantian panjang ibuku, ke”entah”an ayahku, kebencian bodohku, dan aku menunggu telepon Diandra mengabarkan ini padaku, “Sayang maukah kau menikahi janda sepertiku dan menjadi ayah untuk anakmu ini? Namanya Maya, dan ia sudah kelas 5 SD.

Jumat, 12 Oktober 2012

PERKARA PERTANDA


Kau bertanya padaku tentang tanda. Aku buruk soal itu. Aku lemah. Aku bukan ahli semiotika. Aku bukan peramal. Aku hanya tahu kebenaran yang sederhana.

Seperti ketika kau bertanya padaku, apa tanda hujan. Aku tak menjawab. Aku takut salah. Jika mendung tanda hujan, mengapa suatu waktu aku menjumpai terik yang basah?

Kau cemberut. Bukannya berhenti bertanya, kau malah menghujaniku pertanyaan yang jauh lebih sulit. "Apa tanda kemarau?" Aku masih tak menjawab. Aku takut salah. Jika kering tanda kemarau, di musim apapun aku selalu segar walau hanya sekedar mengingatmu.

Wajahmu memerah, bukan rona malu. Kau berang. "Apa tanda kematian?" Tanyamu keras. "Kehidupan." Kau menganga. "Kalau begitu apa tanda kau mencintaiku?" Tanyamu semakin kesal. "Kehidupanku."

Aku hidup, maka aku akan mati. Perlukah pertanda lain? Aku hidup maka aku mencintaimu saat ini sampai tanda kematian itu lenyap dan tak hanya sekedar tanda.

Kemudian aku memberanikan diri bertanya padamu. "Apa tanda kita akan bersatu?" Giliranmu kaku. Aku tak berang.

Hatiku berkata, apakah dengan kita masih hidup sampai saat ini bukan tanda kita akan bersatu? Pada saat yang bersamaan akan menjadi tanda kita akan berpisah.

Tanda bagiku hanya sebuah kemungkinan, kepastian hanya milik Tuhan. Kehidupan menyiratkan semua pertanda yang kita pertanyakan. Hingga pada saatnya semua tanda itu akan terjawab, juga kehidupan, akan lenyap.

Chat Room Bloofers