Minggu, 21 Juli 2013

KUKIRA HUJAN



Ternyata puisi
Entah sejak kapan hujan melahirkan puisi
Setitik saja jatuh, jutaan puisi serempak menggaduh
Entah sejak kapan juga puisi seperti hujan
Sebaris saja tertuliskan indah, jutaan jiwa pun tergugah

Kukira hujan
Ternyata lagu
Entah sejak kapan hujan bernyanyi
Setitik saja ia membasahi, jutaan nada menari nari
Entah sejak kapan juga lagu seperti hujan
Senada saja ia dinyanyikan, jutaan jiwa gemetaran

Kukira hujan
Ternyata doa
Entah sejak kapan hujan berdoa
Setitik saja ia turun, jutaan hamba merapal kata
Kepada Tuhan yang hanya ada dalam doa
Kepada Tuhan yang teringat saat berdosa
Entah sejak kapan juga doa seperti hujan
Satu kata saja dipanjatkan, jutaan mata menjadi awan
Berair mata laksana hujan

Kukira hujan
Ternyata kampanye
Entah sejak kapan hujan berkampanye
Setitik saja ia jatuh, jutaan maksud mengikut
Entah sejak kapan juga kampanye seperti hujan
Satu janji saja disampaikan, jutaan tubuh kedinginan

Kukira hujan
Ternyata rindu
Entah sejak kapan hujan merindu
Setitik saja jatuh, jutaan kasih memilu
Entah sejak kapan juga rindu seperti hujan
Sedetik saja bergemuruh, jutaan pikiran tak mampu berteduh

Kukira hujan
Ternyata seorang wanita
Entah sejak kapan wanita itu menghujaniku
Sesaat saja ia kupandang, hati ini tak mampu lagi mengubah tujuan
Entah sejak kapan juga hujan seperti wanita itu
Sedikit saja ia menyentuh, kulitku menolak peluh

Kukira hujan
Karena ia bersajak telak tak mampu kutolak

Kukira hujan
Karena ia bernyanyi menidurkan sepi

Kukira hujan
Karena ia berdoa agar kemarau belum tiba

Kukira hujan
Karena ia berkampanye dan hatinya menjadi etalase

Kukira hujan
Karena ia rindu
Hadir di sela sela waktu
Di ruang yang asing bagi tubuh

Kukira hujan
Karena ia merindu
Apakah kepadaku?

Kukira hujan
Karena ia jatuh ke dasar hatiku

Kukira hujan
Ternyata dirimu

Camba, 7 Juli 2013
Fadhli Amir

Selasa, 09 Juli 2013

SAJAK KECIL TENTANG HUJAN DAN PUASA



Waktu kecil, bagiku hujan membuat puasa tidak menantang
Rasanya keteguhanku untuk menahan lapar dan haus itu seketika karam

Selangkah berikutnya
Hujan kembali rebah
Seolah ia tak tenang di atas kedudukannya
Sekali lagi, hujan membuat puasa tidak menantang
Rasanya keteguhanku untuk menahan hawa nafsu dipermudah
Karena aku tak bisa keluar rumah
Sementara "RUMAH" adalah tempat paling aman dari dosa, dan paling nyaman untuk pahala

Kukpikir hujan itu berkah
Kadang ia menjadi bencana

Kupikir hujan itu reda
Kadang ia menuliskan sejarah

Kupikir hujan itu kenangan
Kadang ia menuturkan kubangan

Kupikir hujan itu jiwa
Kadang ia air belaka

Kupikir hujan itu cahaya
Kadang ia gelap tak teraba

Kupikir hujan itu senja
Muncul menjelang berbuka puasa


Sekarang hari pertama, hujan turun lagi, tepat tigapuluh menit sebelum berbuka puasa.
Kulihat tanah yang tadinya kering pecah pecah, basah, terisi air layaknya mata air jiwa.
Bahkan hujan pun menyerukan, puasa itu menyegarkan

Jumat, 03 Mei 2013

Antara Kau dan Aku



Seperti dalam sebuah fiksi sedih, kau pergi.
Namun, tak seperti fiksi sedih, aku malah menyiapkan perjalanan di atas meja makan sembari belajar teori bahasa Indonesia.

Ada dua hidangan tersedia, nasi dan telur dadar. Kedua hidangan ini telah melebur menjadi satu. Kombinasi yang sempurna antara karbohidrat dan protein, antara makanan pokok dan lauk pauk. Sementara aku melahapnya, aku berpikir perihal kepergianmu, dan dua buah kalimat tunggal yang setara.

Aku makan nasi di meja makan. Aku makan telur dadar di meja makan. Pada dasarnya, kedua kalimat ini adalah kalimat tunggal. Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu pola kalimat. Ada subjek, ada predikat, ada objek. Kedua kalimat tadi mampu berdiri sendiri, sehingga menjadi kalimat yang setara. Kemudian ada kata penghubung "dan" yang membuatnya menjadi satu. Demi efisiensi, kedua kalimat itu digabungkan, meski masing-masing dapat berdiri sendiri. Maka,jadilah "aku makan nasi dan telur dadar di meja makan."

Dewasa ini, semua orang memiliki kesempatan menjadi pujangga. Tersedia begitu banyak kata yang diolah. Demi menuntut sebuah estetika, kata-kata itu diolah sedemikian rupa agar indah dibaca, dan renyah dikunyah. Dari kesemuanya, cinta menjadi topik utama.

Cinta, sebuah kata yang mendominasi kehidupan manusia. Semua hal yang baik didasarkan atas cinta. Lahirlah kalimat populer ini, "Semua karena cinta". Cinta hanya satu kata namun mampu menjabarkan beragam perkara.

Twitter. Sebuah jejaring sosial yang sangat populer. Setiap harinya begitu banyak yang membagi kalimat-kalimat cintanya. Seolah cinta cukup dalam 140 karakter, termasuk aku. Seseorang bahkan banyak orang pernah menulis ini di twitter : Aku merindukan kita.

Kita. Sebuah kata tunggal yang jika dijabarkan, tidak hanya terdiri dari satu orang saja. Kita adalah perpaduan antara kau dan aku, jika banyak ditambah mereka. Kita adalah sabuah "penyetaraan" mini. Jika dalam kalimat ada kalimat setara, maka dalam kata, mungkin kata "kita" ini adalah representasi dari "kesetaraan" itu. Lagi, demi efisiensi, kau dan aku disatukan dalam "kita".

Saat kau masih mencintaiku dan memilih bersamaku, kau selalu mengatakan ini padaku: "Satu hal yang selalu membuatku jatuh cinta padamu adalah kemampuanmu menyatukan aku dan dirimu menjadi kita." Lagi - lagi kita. Kita menjadi sebuah penyatuan ternikmat. Semenjak kita pacaran, hidup kita diliputi oleh "kita". Aku yang dulunya makan di restoran sendiri, kau juga makan di restoran sendiri, berubah menjadi kita makan di restorn bersama. Cinta menyatukan dua buah kalimat tunggal menjadi sebuah kalimat majemuk setara.

Apakah benar kita setara? Apakah kadar cintaku padamu setara dengan kadar cintamu padaku?

Dengan ini, aku ingin membuktikan betapa hubungan kita sebenarnya terangkum dalam teori kalimat ini.

Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua atau lebih pola kalimat. Hematnya, kalimat majemuk adalah gabungan dua atau lebih kalimat tunggal. Sebelum kita bertemu, aku adalah kalimat tunggal, kau juga, katamu (entah sebelumnya kau sudah majemuk bersama kalimat tunggal lain atau tidak). Karena aku memilih tak menghiraukan masa lalumu, maka aku menganggapmu sebagai kalimat tunggal saja. Baiklah. Kemudian Tuhan mempertemukan kita, dan jadilah dua kalimat tunggal tadi berbaur menjadi satu kalimat majemuk. Cinta membuat kita majemuk. Manusia lain pun begitu. Kehidupan yang mejemuk tak akan pernah bisa dihadapi dengan hal - hal berbau tunggal. Bahkan, orang yang mengaku mandiri pun tak akan pernah bisa berdiri dan mengakhiri hidupnya sebagai kalimat tunggal,kecuali Tuhan. Itulah mengapa kita hanya bisa menjadi hambanya. Itu pula sebabnya mengapa sendiri itu tidak abadi. Sunyi dan sendiri berbeda.

Kalimat majemuk pun dibagi menjadi empat bagian:

1. Kalimat majemuk setara.

Setelah kita sepakat menjalin hubungan, kita telah berdiri sebagai kalimat majemuk. Saat itu kita memilih menjadi kalimat majemuk setara. Kalimat majemuk setara dibagi lagi menjadi dua, kalimat majemuk setara sejalan dan kalimat majemuk setara berlawanan. Menurutku kita hidup dalam keduanya. Aku tiba pada sebuah pernyataan, bahwa cinta adalah penyatuan perbedaan. Hubungan kita berawal sebagai kalimat majemuk setara berlawanan. Ada banyak perbedaan di antara kita. Aku senang berjalan, sementara kau senang naik kendaraan. Aku senang menunggu, sementara kau tidak. Aku sering begadang, kau senang tidur. Aku sering terlambat, kau tepat waktu. Dari semua kebiasaan-kebiasaan kita, tak satupun yang berkawan. Kemudian kata pujangga, "atas nama cinta" kalimat majemuk setara berlawanan itu digubah menjadi kalimat majemuk setara sejalan dimana mereka dihubungkan oleh konjugsi dan. Pada saat yang bersamaan kita melakukan hal yang sama. Ternyata, dari semua perbedaan itu, kita memiliki kesamaan, senang duduk mendengarkan musik. Maka kegiatan itu sering kita lakukan bersama. Meski selera musik kita berbeda, kau suka pop ballad, aku suka brithpop. Kau suka RnB, aku suka jazz. Pada dasarnya kita adalah kalimat majemuk setara sejalan. Aku dan kau mendengarkan musik. Bukankah, cinta menyatukan perbedaan? Dan penyatuan terindah adalah penyatuan perbedaan. Untung saja Tuhan kita sama. Jika tidak, aku tidak tahu apakah saat itu kita masih menjadi kalimat majemuk setara sejalan atau berlawanan.

2. Kalimat majemuk rapatan.

Selain mendengarkan musik, kita juga sama - sama suka makan dan minum kopi. Itulah mengapa kita menjadi kalimat majemuk rapatan dalam waktu yang sama. Dalam sebuah kesempatan atau lebih, kita sering mendengarkan musik, makan, dan lanjut minum kopi bersama-sama. Di antara begitu banyak perbedaan yang kita miliki, masih ada beberapa kesamaan yang dilakukan bersama. Dengan ini kita menjadi rapat, jarak tak lagi memisahkan, tapi menyatukan. Saat salah satu di antara kita sedang di luar kota, kita masih bisa merapatkan diri. Jarak pun menyatukan kita dalam sebuah kaidah kalimat majemuk rapatan. Dalam waktu yang bersamaan kita sering janjian makan, mendengarkan musik, dan ngopi bersama-sama. Meski tempatnya berbeda. Ruang ada banyak. Tapi waktu membuat dua ruang menyatu. Esensi bersama bukan lagi perkara ruang, namun lebih kepada perkara waktu. Kita melakukan hal yang sama dalam waktu yang sama. Kita pun tak pernah membenci jarak. It's not long distance relationship, it's long time relationship.

3.Kalimat majemuk bertingkat

Suatu saat, kau merubah segalanya. Maaf, bukan dirimu, tapi jenuh. Aku tak mau menyalahkanmu. Karena aku masih ingin berdiri sebagai kalimat majemuk bersamamu. Kita melakukan hal berlawanan pada waktu yang bersamaan. Sampailah kita pada kaidah kalimat majemuk bertingkat: dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur induk kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang terdapat pada induk kalimat. Di antara kita pasti ada yang menjadi induk dan anak kalimat. Saat aku datang ke rumahmu, kau tengah tertidur pulas. Saat aku menemuimu, kau tengah sibuk dengan cita - citamu. Saat aku mengajakmu makan malam, kau serius dengan hobi barumu, menyendiri. Kadang kau yang menjadi induk kalimat dan aku anak kalimatnya. Ketika kau meminta pertimbanganku memutuskan satu di antara dua pilihan, aku sedang berupaya membuat keputusan sendiri. Ketika kau memintaku menemanimu belanja, aku tengah membantu sahabatku menyelesaikan pekerjaannya. Ketika kau merayakan ulang tahunmu, aku tengah melayat di rumah kerabatku. Keadaan yang memaksa kita harus memilih menjadi induk atau anak kalimat. Sayang, antara induk dan anak kalimat itu, tak sekali pun pernah akur. Tak ada yang merawat, juga tak ada yang dirawat. Tak ada yang membesarkan, juga tak ada yang dibesarkan. Kita sebenarnya telah kembali menjadi kalimat tunggal. Ternyata bukan hanya tunggal yang tidak abadi, majemuk juga begitu. Kita berada pada kehidupan di mana semuanya situasional. Ada saat untuk berlari, ada saat untuk berhenti. Mungkin itulah makna keseimbangan. Sayangnya, kau berang.

4. Kalimat majemuk campuran.

Kehidupan kita tak lagi terdiri dari dua buah kalimat tunggal. Tuhan menciptakan banyak manusia. Semua manusia memiliki kesempatan menjadi kalimat. Semua ingin menjadi kalimat. Aku juga begitu. Hanya saja, aku ingin majemuk bersamamu. Sayangnya, bukan hanya aku yang ingin majemuk. Ada kalimat tunggal lain yang mencari kesempatan agar mampu menjadi kalimat majemuk bersamamu. Ketika aku datang ke rumahmu, kau sedang menyeduh kopi untuknya yang sedang menulis lagu untukmu. KIta berada pada kaidah kalimat majemuk campuran dimana ada tiga kalimat tunggal berbeda. Secara kasat mata, kita bertiga melakuka tiga aktivitas berbeda. Aku datang ke rumahmu, kau menyeduh kopi untuknya, ia menuliskan lagu untukmu. Hanya saja kalimat tak cukup dimaknai secara harfiah. Begitu juga cinta, tak akan indah jika ia hanya sebuah kata. Ada keterangan yang membuat kalimat itu berbeda. Aku datang ke rumahmu dengan harapan menemuimu. Harapanku berbuah, aku menemukanmu sedang menyeduh kopi. Sayangnya kopi itu bukan untuk ku, untukmu atau untuk kita, tapi untuknya. Ditambah lagi ia tengah menulis lagu untukmu. Jelas aku melakukan sebuah aktivitas untuk kita (bertemu). Kau dan dia melakukan dua aktivitas simbiosis mutualaisme. Kalian berhasil memaknai kemajemukan dengan cara yang baik. Hanya saja, aku merasa jadi korbannya.

Kopi tak lagi menjadi hal yang sama, bukan lagi untuk kita, tapi hanya untuknya. Kopi yang kau seduh saat bersamaku adalah kopi untuk "kita". Kopi itu dinikmati bersama. Kopi yang kau seduh untuknya bukan untuk "kita". Kau mengkhususkan untuknya. Bukankah kau jatuh cinta padaku karena aku mampu menyatukan aku dan dirimu menjadi kita? Aku telah melakukannya. Kita telah melakukannya. Kopi yang kau seduh untuknya jelas sebuah pengkhianatan pada "kita" yang dulunya sangat kau sakralkan. Jika memang harus ada dirinya, biarkanlah kalian berdua menjadi "kita" bukan "kalian" yang mempersembahkan dua hal berbeda ketika ada satu hal yang bisa dinikmati bersama.

Aku pulang sebagai kalimat tunggal. Baiklah, tak ada lagi "kita". Aku tak akan menuliskannya lagi. Sebelum hidangan makan malamku habis, aku ingin menuliskan ini untukmu.

"Di dunia ini ada kau dan aku. Bahkan kalimat pun menginginkan kita bersama."

Selamat makan malam. Semoga kau tengah melakukan hal sama di ruang yang berbeda.


Selasa, 16 April 2013

SEMANGKUK MOTIVASI OLEH STANISLAVSKY



(gambar diambil dari www.wikipedia.com)

Apakah benar semua hal memiliki alasan?

Seseorang pernah menyatakan bahwa aktor adalah pembohong ulung. Menurutnya, kejujuran hanya ada dalam realita dimana kita tak akan sanggup menyangkalnya. Waktu membawa kejujuran. Panggung sandiwara hanya sebuah kebohongan. Kejujuran seolah bersembunyi di belakang panggung, menunggu penonton bubar, kemudian menampakkan diri tanpa sempat mendapatkan tepuk tangan riuh. Seseorang itu masih bertahan bahkan terperangkap dalam paradigma "akting adalah berpura-pura".

Manusia dengan kehidupannya adalah rangkaian cerita yang selalu menarik. Bahkan dalam keadaan jenuh sekalipun, manusia cenderung membaginya. Hal yang layak dibagi adalah hal yang tidak layak didiamkan. Hal yang tak layak didiamkan adalah hal yang menarik. Manusia dengan segala ceritanya membaur dalam banyak kejadian. Putus cinta, sosialisasi buruk, keinginan yang belum tercapai, rintangan berat, perselisihan, dan semua hal-hal di dalamnya. Dari semua cerita itu, hanya Tuhan yang telah membacanya. Kita hanya terjebak dalam pertanyaan, ketidaktahuan, bahkan belum menyentuhnya sama sekali. Panggung mengambil peran dalam hal ini. Kisah-kisah yang belum sempat tersentuh oleh khalayak umum, perasaan terkecil yang mungkin hanya jadi konsumsi privasi akan menguak, memberontak, berbicara di atas panggung. Mengapa harus panggung? Sederhana saja. Manusia dengan segala kesibukannya tidak punya banyak ruang untuk melihat sekitarnya. Mengapa harus akting? Sangat sederhana. Masing-masing subyek tak akan pernah bisa menjadi subyek yang lain.

Di sebuah warung pinggir jalan, semangkuk mie instan dengan asapnya yang mengepul menampar penjelajahanku. Aku membuka buku yang baru saja aku pinjam dari perpustakaan sanggar.

"Semua gerak laku dalam panggung harus berdasarkan motivasi, bahkan dalam keadaan duduk diam." Constantin Stanislavsky adalah kiblat terpentingg dalam dunia teater. Dalam bukunya, kita diarahkan untuk berlaku di atas panggung dengan motivasi. Sederhananya bergearak dengan alasan. Artinya, segala sesuatunya harus memiliki alasan. Perlahan tapi pasti, pertanyaan besar muncul di kepalaku. Ketika teater adalah refleksi kecil dari kehidupn yang besar, apakah dalam realitanya, segala hal membutuhkan alasan?

Secara kasat mata, aku bisa saja membenarkannya. Realita adalah kenyataan. Ia pasti. Logisnya, hubungan sebab akibat. Segala sesuatu memiliki sebab hingga ia berakibat pada sesuatu juga. Bagaimana dengan cinta?

Dari semangkuk mie instan, aku beralih ke dunia sosial media. Tengah malam adalah waktu di mana di sana akan selalu marak oleh pujangga. Aku menghidangkan pertantayaan yang sama. Mengapa tengah malam adalah waktu yang tepat untuk menjadi pujangga? Orang - orang termasuk aku merasa nyaman berkicau dengan diksi - diksi, menulis syair, prosa pendek, dan hal-hal yang berbau sastra, kemudian membaginya, dan tengah malam selalu menjadi saat yang tepat. Aku mencoba mencari alasannya, demi membenarkan teori Stanislavsky ini. Setelah perenungan beberapa menit, aku sampai pada sebuah kesimpulan. Tengah malam adalah saat - saat dimana keheningan begitu mudah didapatkan. Lanjut, kata- kata indah akan mudah muncul di saat-saat hening. Pertanyaanku bercabang. Mengapa harus menulis puisi di tengah malam? Apa yang memotivasinya? Sembari menunggu, aku menyantap mie instanku. Semangkuk habis, dan pertanyaan itu pun terjawab. Ada keinginan untuk menonjolkan sisi elegan di tengah malam. Ada keinginan untuk menunjukkan sisi lain yang tak dikenal orang, mencari dan mencuri perhatian. Ada juga keinginan untuk menunjukkan sisi romantis diri. Karena banyak dari kita yang terjebak pada persepsi karya sastra sebagai sesuatu yang mesti romantis. Parahnya jika ada yang memilih motivasi ini, sedang mengikuti tren. Sisi positifnya, ia mengakui kehebatan sastra. Sisi negatifnya, sastra hanya sebatas tren. Aku memilih motivasi ketertarikan. Aku menulis karena aku suka. Sayangnya lagi, banyak dari kita menjadikan kalimat-kalimat gombal sebagai karya sastra. Miris.

Tengah malamku diliputi alasan-alasan yang belum pernah kujumpai. Sepeti halnya, mengapa tempat makan tengah malam ku ini tiba-tiba menjadi temoat tongkrongan favorit. Padahal dulunya, tempat ini dibatasi oleh seniman saja. Tentu saja, orang yang bergerak ke sini memiliki motivasi yang jelas. Tempat ini strategis. Di tempat ini menunya murah dan enak. Semua datang membawa alasan. Semua tiba dengan bekal motivasi.

Aku sering mendengar bahwa mencintai dengan tulus berarti mencintai tanpa alasan. Katanya, ketika kita mencintai seseorang dan kita tidak menemukan alasan mengapa kita mencintainya, artinya ada ketulusan yang kuat di dalamnya. Logikanya, tanpa alasan artinya kita siap berbagi, menerima semua yang ada dalam dirinya. Tanpa memerlukan penelitian, pernyataan ini cukup ilmiah. Bagaimana dengan Stanislavsky? Apakah ia mencintai seseorang dengan motivasi? Pertanyaan itu menggangguku.

Aku berusaha menghabiskan perkara cinta itu. Bagiku mustahil seseorang mencintai tanpa alasan. Semua butuh motivasi. Hal pertama yang sangat jelas adalah manusia pasti akan mencinta. Itulah mengapa kita lebih baik dari makhluk lain. Kedua, Tuhan telah menyiapkan jodoh. Artinya, cepat atau lambat, kita akan mencinta. Ketiga, selalu ada hal menarik dalam diri sesorang. Di antara semua hal menarik itu, selalu ada yang membuat kita memutuskan bahwa kita mencintainya. Cinta tanpa alasan hanyalah teori pujangga yang berkicau di tengah malam melalui sosial media. Aku sepertinya memilih ini: "Aku mencintaimu karena Tuhan mengizinkanku." Semua atas izin Tuhan bukan? Toh, Tuhan menciptakan manusia dengan alasan. Kita terlahir dengan sebuah alasan. Kita juga akan mati dengan sebuah alasan. Surga dan neraka ada dengan alasan. Bukti-bukti kekuasaan Tuhan pun terbukti. Tercatat dengan jelas di kitab suci. Ditemukan oleh manusia itu sendiri. Semua ciptaan Tuhan memiliki fungsi. Maka, Tuhan menciptakannya dengan motivasi yang jelas. Hanya saja pikiran dan batin kita yang membuatnya terlihat kabur, bahkan cenderung tidak ada.

Aku kembali. Di atas meja makanku ada semangkuk mie instan. Di dalamnya ada beribu, berjuta, bahkan tak terhitung motivasi. Hingga mangkuk ini kering aku terus berpikir dengan jutaan motivasi. Hal yang memotivasiku hidup adalah kematian. Setelah kematianku, akankah ada motivasi - motivasi lain?

Di warung Gedung kesenian Societeit de Harmonie Makassar

Terima kasih, Stanislavsky

Selasa, 05 Maret 2013

NAGINA



Namanya Nagina. Dia hidup dalam naskah dan beraktivitas di atas panggung. Siapa saja bisa menjadi Nagina. Tergantung kepekaan individu.

Kali ini, dengan segala maaf aku akan membuat sebuah pengakuan.
Perhatikan baik - baik.

Tak ada seorang pun di dunia ini yang berhak memilih menjadi laki-laki atau perempuan. Mengapa? Hanya Tuhan yang patut memastikan.
Aku, seorang manusia biasa, akan menuturkan sebuah persepsi. Laki-laki dan perempuan adalah sebuah contoh keseimbangan yang sempurna. Adam tak akan seimbang jika tak ada Hawa di dunia. Semua manusia adalah pemimpin untuk dirinya sendiri. Laki-laki akan dibebani tanggung jawab untuk memimpin. Mungkin bakat alami dari Tuhan untuk memimpin perempuan. Namun, sebuah ruang nyaman, rahim, adalah tempat pertama di mana semua manusia akan bersaksi bahwa 9 bulan waktu normal adalah sebuah wujud nyata dari rumah. Rahim menjadikan laki-laki lemah di dalamnya, dan perempuan sang pemilik rahim justru rela lemah untuk menguatkan kandungannya. Bahkan, perempuan sang pemilik rahim tak akan pernah peduli jenis kelamin yang menghuni rahimnya.

Kemudian kita lahir, tumbuh, belajar, alami. Di antara selangkangan, terletak 2 jenis yang sama untuk semua manusia. Pada saat itu, apakah kita sempat memilih? Jangan bertanya kepada Tuhan tentang kelamin.

Waktu mengantar kita. Dunia menawarkan rahim yang lebih besar. Lingkungan. Aku belum sempat memilih, bahkan tak pernah memilih hingga organ itu melekatkan "laki-laki" di atas namaku.

Tapi, lingkungan membunuhku. Takdir menjadi musuh besar naluri. Pertentangan antara keduanya membuatku harus memilih. Pilihan adalah takdir. Tuhan menakdirkan kita memilih. Karena Tuhan tidak egois. Memilih pun butuh daya. Logika dan perasaan. Kedua daya itu pun berseteru. Bagi mereka yang "bijak" logika dan perasaan adalah kombinasi yang sempurna. Keseimbangan yang sempurna. Namun, perasaan menghancurkan logikaku. Pertarungan pun dimenangkannya. Aku berhak memilih. Karena Tuhan tidak egois.

Naluri berjalan sempurna bersama waktu. Keduanya menghidupiku hingga perasaan itu menuju tingkat yang lebih kompleks, naluri.

Sejak saat itu, pertanyaan pertama muncul dalam benakku. Apakah kelamin satu-satunya tanda keegoisan Tuhan?

Seperti lazimnya pertarungan, yang menang akan mendapatkan hadiah. Ketika perasaanku menang, naluri pun mencuat, hidup dan tumbuh begitu kuat. Ia layak mendapat hadiah. Maka wilayah kekuasaan pun dilumat. Tak ada logika. Tak ada hukum pasti. Tak ada aturan. Naluri meraja. Logika musnah. Aku memutuskan menjadi wanita. Maka kini panggillah aku Nagina. Aku perempuan, bukan laki-laki. Aku kini perempuan yang dulunya laki-laki. Hidup adalah pilihan bukan? Tuhan tidak egois, kan?

Bertahun-tahun aku menikmati kelaminku, bentuk tubuhku, kehidupanku. Kini aku dihujat, dicaci, dicibir, dikucilkan, diklasifikasikan ke dalam kelompok jenis kelamin ketiga. Jenis kelamin ketiga? Bukannya Tuhan memastikan jenis kelamin hanya ada dua? Sekarang siapa yang tidak logis? Aku atau mereka?

Bertahun-tahun aku membuktikan bahwa yang mereka sebut "banci" lebih bekerja keras dibanding mereka yang begitu bangga disebut "laki-laki". Aku perempuan, bukan laki-laki.

Sekali lagi, aku perempuan bukan laki-laki.

Terus dan terus aku menyerukan itu. Hingga aku baru mengingat bahwa aku sebenarnya melupakan sesuatu.

Dalam lazimnya pertarungan, pemenang akan mendapat hadiah dan yang kalah akan mendapat ganjaran. Naluriku menang. Logika ku kalah. Aku sibuk merayakan hadiah kemenangan naluri sampai lupa merenungi ganjaran kekalahanku. Adam kalah dalam pertarungan melawan setan di surga. Maka ia dikirim ke dunia. Tuhan marah, menjauhkan surga darinya untuk sebuah ujian di dunia. Setan menang. Apakah neraka adalah hadiah kemenangan untuk setan? Atau justru hadiah kemenangan naluriku atas pertarungan melawan logika adalah neraka yang aku pijak saat ini?

Kelamin. Apakah memilih kelamin serupa memilih surga dan neraka?

Tuhan tidak pernah egois. Tuhan itu sempurna. Paling sempurna. Selama ini aku lupa, bahwa memilih adalah bertanggungjawab. Itulah mengapa hidup membutuhkan kebijakan. Bahkan, dengan bijaknya kita tidak seenaknya memilih kelamin adalah sebuah plihan yang tepat. Karena Tuhan telah memberikan pilihan yang paling tepat pada kelamin manusia.

Sekarang, Nagina dan aku sama saja. Tak ada jenis kelamin ketiga. Naluri yang kubanggakan sebagai pemenang adalah bentuk keegoisan sempurna. Aku yang egois. Tentu Tuhan tidak.


Tulisan ini terinspirasi dari naskah monolog "Nagina" karya Nano Riantiarno yang pernah saya mainkan dalam Solo Project Actor Kala Teater "Monolog- Monolog Kelam" Desember 2012

Sabtu, 12 Januari 2013

SEREMONIAL RINDU




Berbahagialah bulan. Ia meminjam sebagian cahaya matahari. Mereka yang sedang merindu memujanya sambil menorehkan kalimat yang sangat sering dilafalkan sang perindu "Kita masih bisa melihat bulan yang sama".

Matahari kian perkasa, kemudian melemah kala senja. Sang perindu gemar mencintai kelemahannya. Matahari hanya dinanti bila hujan sudah terlalu sering tiba. Dalihnya, kedinginan, butuh kehangatan, butuh semangat. Yang tak punya mesin cuci dan tak ada laundry terdekat merindukan matahari demi pakaian yang tak kunjung kering.

Hujan konon romantis. Banyak yang tiba-tiba menyukai kopi, duduk di balik jendela, menyaksikan air langit turun sempurna. Seolah tega melihat bumi basah, mungkin sengsara. Bagi perindu, kalimat ini menjadi sangat familiar: "Ada kenangan di setiap titik air hujan".

Hujan jadi besar kepala. Ia terus-menerus hadir, entah bagi pengagumnya, atau rumah yang digenanginya juga menjadi pengagumnya? Entahlah. Di musim penghujan ini, orang-orang sibuk mengungsi, juga menguras air di rumahnya. Maka, mereka juga menguras kenangan, entah kenangan siapa.

Hujan semakin dihujat. Sang perindu tak bisa lagi menyaksikan senja kesayangannya. Lebatnya hujan menutupi. Bulan pun seakan lenyap. Akhirnya, sang perindu memasang bulan di langit-langit kamarnya. Agar setiap berbaring ia dapat melihat bulan, meski bukan bulan yang sama.

Rinduku padamu tak tergantung apapun. Rinduku bukan karena bulan, hujan, atau matahari terbenam.

Pada suatu saat, aku memikirkanmu. Aku memikirkan hal-hal tentangmu. Aku memikirkan hal-hal tentangmu di masa lalu. Di saat yang sama kau juga memikirkanku. Itulah sederhananya rindu. Di antara pikiran kita ada Tuhan menyaksikan, mempersatukan. Masihkah kita memerlukan bulan?

Rinduku padamu bukan karena hujan. Aku menyukai hujan. Visual yang dihasilkannya sangat menarik. Tapi jika ia marah, banjir di mana-mana. Apakah rinduku padamu marah, dan menggenangi rindu-rindu yang lain? Atau bila ia hujan yang menggenangi rumah-rumah, haruskah aku mengurasnya untuk menemukan kenangan kita? Bagaimana jika ia mengalir, menghanyutkan semua yang tak berdaya? Haruskah aku memohon kepada matahari untuk menambah keperkasaannya mengeringkan laut?

Rinduku padamu tidak ada di dalam larutnya orang-orang menyaksikan matahari terbenam. Aku menyukai senja. Sangat menyukainya. Jika rinduku padamu adalah senja, di mana matahari akan terbenam, ketika usai, apakah rinduku juga akan usai? Kemudian berubah menjadi gelapnya malam? Rindu kita kelam.

Rindu kita sesederhana saling memikirkan. Ada Tuhan di tengahnya, mempersatukan. Kemudian ada waktu setelahnya, dan Tuhan di atasnya mempertemukan. Kita.

Selasa, 08 Januari 2013

Zarah, Kapan Pulang? (Pandangan Pribadi Novel Dewi "Dee" Lestari "PARTIKEL")


Saya akan mengulas "Partikel" bukan supernova. Alasan yang sederhana adalah saya tahu soal "Partikel", satu-satunya serial SUPERNOVA yang pernah saya baca. Pertama-tama saya tidak meragukan kualitas seorang Dee dalam menulis. Bukan soal diksinya yang banyak dipuja orang, bukan juga soal cara dia membentuk karakter yang kuat, setting dan plot yang menarik, sampai rasa penasaran yang banyak dirayakan pembacanya. Kekaguman saya pada Dee adalah "kematangan".

Iya. Ironis sekali. Saya seorang penulis blog, mahasiswa sastra, yang baru mengenal sastra 4 tahun belakangan berbicara soal "kematangan". Terlebih lagi "kematangan" itu menjadi indikator utama kekaguman pada seorang penulis besar di Indonesia.

Sebulan yang lalu, saya mengikuti workshop penulisan cerpen bersama Aan Mansyur (@hurufkecil) seorang penyair kenamaan Makassar saat ini.

Beliau mengajarkan kami soal prosa. Buku terakhir Aan Mansyur adalah kumpulan cerita, dimana cerita itu dikemas dengan identitas penyairnya. Unik.

Tak bermaksud mengulas "KUKILA" nya Aan Mansyur, tapi ada hal yang bisa saya petik untuk mengulas karya besar Dewi Lestari ini. Aan Mansyur mengemas Kukila, kumpulan cerita atau prosa yang ia kemas dengan bahasa penyairnya. Gaya bertutur puisi pada prosa. Unik. Menarik.

Pada workshop itu, Aan Mansyur yg menjadi mentor mengatakan bahwa kebanyakan para penulis sekarang lebih memperhatikan "kata-kata indah" plot yang "menarik", dan ending yang "surprising". Kemudian mereka lupa hal-hal mendasar dari sebuah prosa. Misalnya fungsi paragraf sebagai perangkum satu ide utama, tanda baca, petunjuk aksi, ekspresi, dan perasaan sebelum dan setelah dialog, dan cara menyampaikan cerita. Soal hal-hal dasar itu plus penguasaan kosakata, Dee tak perlu diragukan.

Lanjut ia menjelaskan bahwa, setiap penulis dan yang ingin jadi penulis pasti memiliki ide cerita yang menarik. Dengan modal itu ditambah penguasaan "diksi yang indah" menurut mereka sudah cukup menghasilkan karya prosa yang bagus. Mereka melupakan satu hal. Kemasan.

Cerita akan menarik dibaca bila penulis mengemasnya dengan baik. Cerita yang baik, luar biasa akan terasa biasa-biasa saja, bahkan klise jika disampaikan dengan cara yang salah.

"PARTIKEL" satu-satunya serial "SUPERNOVA" yang pernah saya baca sampai saya menulis ini adalah bukti bahwa "kemasan" menentukan menarik tidaknya sebuah karya sastra, terkhusus prosa, lebih detailnya lagi novel, lebih luar biasanya lagi novel serial.

Cara bertutur Dewi Lestari sangat spesial di "PARTIKEL". Kadang dia bercerita dengan biasa, mendeskripsikan suasana dengan cara yang lazim. Namun, pada bagian cerita tertentu, seperti pertentangan batin yang sering didapatkan pada novel yang menceritakan perjalanan spiritual seperti "PARTIKEL" Dee menuturkan dengan sangat elegan. Tak jarang ia membiarkan kejadian pada bagian cerita sebelumnya begitu saja, kemudian direcall pada bagian cerita berikutnya. Menurut saya itu penting, untuk menyegarkan, membantu mengingat, dan tentunya bukan hanya alasan sederhana itu. Dee menyisipkan semiotika yang kuat di dalamnya.

Kejadian pertama, Zarah meninggalkan ibunya, tidak serumah dengan ibunya, ke Kalimantan, dan tinggal bertahun-tahun di sana. Dee membiarkan ini lumrah. Zarah sudah divonis sebagai Firas kedua di keluarganya. Zarah tetap bersikukuh mencari ayahnya, sosok yang ia idolakan. Dua ideologi yang berbeda diakhiri dengan sebuah perpisahan adalah hal lumrah. Selesai.

Kejadian kedua. Tanjung Puting menjadi tempat pertemuan Zarah dan Sarah. Zarah yang merasa sudah biasa mendapatkan kejutan dalam hidupnya, kembali menemukan sesuatu yang baru. Hingga pada akhirnya waktu, kesempatan, dan keputusan membuat mereka berdua terpisah. Ironisnya pada posisi ini Zarah adalah seorang ibu dari Sarah yang merasakan kesedihan luar biasa tatkala harus berpisah dari Sarah. Pada situasi ini perpisahan terasa lumrah, dimana obsesi Zarah yang begitu besar menemukan ayahnya.

Nah, Dee merecall dua hal, perpisahan dan ibu. Perpisahan dengan ibunya tak membuat Zarah sedih, tapi perpisahan dengan Sarah membuat Zarah merasakan kepedihan ibunya yang merasa ditinggalkan olehnya.

Sepele, sangat sepele. Perpisahan hampir ditemui dalam semua novel, cerpen, puisi, dan karya sastra lain. Tapi, di "PARTIKEL" perpisahan itu menjadi sangat berbeda.

Lalu, di mana semiotiknya?

Pada dua peristiwa perpisahan di atas, menurut saya Dee, sengaja atau tidak sengaja menjadikan "perpisahan" sebagai sebuah elemen semiotika.

"Perpisahan" merupakan tanda dua orang, elemen, hal, yang tidak bisa bersama. Perpisahan bukan cuma secara fisik antara Zarah dan ayahnya, tapi juga perbedaan ideologi antara Zarah dengan ibu, umi, dan abahnya.

Selain itu, ada yang paling menarik. "Rumah" dan "pulang". Pada beberapa bagian, Dee bahkan sengaja menambahkan tanda kutip pada kata itu. Rumah sebagai tempat tinggal, dan pulang menuju tempat tinggal. Konsep tempat tinggal bukan sebuah bangunan yang melindungi dari panas dan hujan, atau sederhananya hunian, tapi dalam konteks tempat di mana seseorang merasa nyaman, memilikinya, dimilikinya, dan ketika keluar dan kembali, ia layak menyebut dirinya sudah "pulang". Bahkan, dengan liar saya menangkap bahwa Zarah hanya menginginkan rumah yang diisi Firas dan Hara. Ketika rumah itu ada dan bisa ia temukan, saat itulah dia pulang. Kedua kata ini seolah menjadi fokus Dee, menurut saya cukup mendominasi, dimana Dee selalu mengulangnya.

Dee menggambarkan Zarah bahkan tidak tahu di mana "rumah" dan harus "pulang" ke mana. Atau tepatnya, Zarah adalah pribadi yang tidak punya "rumah' dan tidak akan pernah "pulang".

PARTIKEL juga menyinggung dua hal yang sangat kontras, religius dan aninisme. Zarah hidup dalam lingkungan yang sangat beragama, kemudian ia dan ayahnya menjadi seperti "tak beragama". Jamur, shaman, UFO, crop cirlcle, Tuhan diragukan, versi bahwa "buah pengetahuan" (buah khuldi dalam ajaran Islam) adalah jamur, dan semuanya adalah persinggungan luar biasa. Tuhan yang diyakini ada bersinggungan dengan naluri ilmuwan.

Kemudian, Zarah berubah dari gadis yang baik secara personal menjadi pribadi yang mudah jatuh cinta pada pandangan pertama, melakukan free sex, menenggak alkohol, dan kebinalan lain.

Dee menyisipkan kisah percintaan pada novel yang sejatinya bukan novel roman, entah sebagai bumbu atau pelengkap stigma bahwa cinta adalah elemen wajib dalam sebuah karya sastra, apapun status, ukuran, dan identitasnya. Meski kekecewaan saya secara subyektif ada ketika Dee tidak menuturkan kisah percintaan seelegan tema cerita lain pada novel ini. Kesannya kisah percintaan Zarah dengan Storm yang akhirnya selingkuh dengan sahabat terbaiknya, Koso, Paul yang diam-diam menaruh cinta pada Zarah menjadi sedikit serupa FTV. Instan. Dipaksakan. Meski menurut saya Dee berhasil menutupinya dengan berbagai filosofi kehidupan yang ilmiah. Misalnya sperma dan sel telur yang menjadikan wanita pemilih, dan pria diharuskan mengencani banyak wanita agar tak rugi.

Lanjut, Dee membenturkan pembaca (utamanya saya) pada satu konsep yang sangat lekat, "Seluruh hidup Zarah cukup dalam satu ransel." Sungguh kesegaran yang luar biasa. Karakter Zarah yang terbiasa nomaden, dengan ranselnya mampu membawanya ke mana-mana membawa semua kehidupannya. Sayang, ada yang terlupa, Firas tak ada dalam ransel itu.

Kemunculan Bodhi dan Elektra di akhir novel adalah cara Dee yang cerdas menjadikan "PARTIKEL" ini adalah bagian dari serial "SUPERNOVA".

Jadi, apa yang sebenarnya Dee ingin sampaikan melalui "PARTIKEL" terlepas sebagai salah satu bagian dari serial "SUPERNOVA"?

Fungi? Orangutan? Alien?

Semua pembaca punya pilihan sendiri. Yang jelas saya meyakini Partikel adalah sebuah perjalanan spiritual, dan membaca sinopsis serial lain, "SUPERNOVA" adalah kisah perjalanan spiritual.

Berat. Perjalanan spiritual bukan hal yang mudah untuk dituliskan, apalagi bisa dicerna dengan baik. Namun, lagi-lagi, kemasan. Dee mengemas "PARTIKEL" ini dengan baik, sangat baik, bahkan luar biasa. Bayangkan bila dunia mikologi dan teman-temannya pada buku ini dipaparkan dengan gaya non fiksi. Ketertarikan mungkin hanya muncul pada pembaca yang memang menggandrungi ilmu pengetahuan. Tapi, dengan kemasan sastra yang sangat baik, mikologi bisa diterima oleh mereka yang mungkin sama sekali tidak tertarik pada mikologi.

Selanjutnya, bayangkan bila cerita tentang orangutan dikemas dengan cara yang tidak menarik. Apa pembaca yang apatis soal satwa bisa menangkap pesan moral yang agung dari orangutan?

Atau hal sederhana, perpisahan. Hampir setiap novel apalagi novel roman mengangkat peristiwa pahit ini. Bayangkan bila Dee menulis perpisahan begitu saja, tanpa semiotika yang menurut saya ada di dalamnya, tanpa perbandingan dengan orangutan, tanpa penjelasan perpisahan sejati menurut Dee dalam karakter Zarah? Bukankah itu akan menjadi biasa saja.

Dari sini saya mengamini nasehat Aan Mansyur bahwa cerita yang baik adalah cara penulis mengemasnya dengan baik.

Lantas, apakah saya secara gamblang mengatakan bahwa ide cerita Dee di novelnya ini biasa saja? Tidak. Di sinilah saya membantah konsep mengenai "kemasan" itu. Kemasan yang menarik mungkin akan menjanjikan tulisan yang bagus. Tapi kemasan yang baik harusnya mengemas isi yang bagus juga.

Partikel adalah sebuah novel tentang perjalanan spiritual Zarah mencari ayahnya, membuktikan "kebenaran" ayahnya, mencari ayahnya, "rumah" dan tempat ia "pulang".

Perjalanan itu didapat dari jamur, dari alien, dari hal-hal di luar logika, ajaran agama di mana Zarah mengalami sensai jamur yang dahsyat. Zarah kemudian sadar bahwa pertentangan yang hebat antara dia dan abahnya bukanlah kenangan terakhir, tapi ketika hatinya dan hati abahnya berusa untuk terakhir kalinya dengan bantuan keyakinan akan sebuah kekuatan jamur.

Ceramah pak Simon tentang fungi, stonehenge, celoteh Hawkeye tentang shaman, dan penelitian Firas tantang kerajaan fungi itu sendiri adalah bukti bahwa novel ini layak dinanti selama 8 tahun. Riset dan riset. Inilah hasilnya. Bukan sekedar hal ilmiah yang Dee sisipkan, tapi aplikasi dan nilai yang terkandung dalam ilmu pengetahuan itu sendiri.

Kemudian saya menangkap bahwa Dee sengaja atau tidak sengaja mengembalikan kita pada hal sederhana yang terlupa, "rumah" dan "pulang". Sudahkah kita memiliki "rumah"? Jika iya, kapan kita "pulang"? Atau apakah kita akan "pulang"?. Dan ya, saya menyimpulkan, bukankah perjalanan spiritual sebenarnya menuntun kita menuju "rumah" itu sendiri?

Karakter? Dee membentuk karakter yang kaya. Setiap karakter hidup. Bahkan Firas yang muncul sesaat terasa hidup dan ada sampai akhir.

Saya merindukan karya sastra yang tidak hanya berbicara tentang cinta, kehidupan dari sisi filosofisnya, persahabatan. Dan rindu saya terbayar dengan kehadiran "PARTIKEL" yang menawarkan gagasan baru, pengetahuan baru, dan skema yang jarang dicoba penulis lain. Terlebih lagi "SUPERNOVA" merupakan ide Dee yang sangat fantastis.

Maka, dengan berani saya mengatakan bahwa Dee adalah penulis cerdas, fokus pada tema yang selalu berbeda, dan pengetahuan sastra yang sangat mumpuni.

Namun, ada 2 kekecewaan saya pada novel ini. Pertama, Dee bagi saya melupakan bahwa Zarah tidak meninggalkan keluarganya, tapi mencari ayahnya. Tujuan utama itu kemudian luntur tatkala Zarah menikmati kehidupannya sebagai fotografer wildlife dan kekasih Storm yang sangat dipujanya. Sosok Firas seolah mati dan tak pernah ada selama itu. Barulah ketika bertemu Simon, Firas kembali hadir dalam diri Zarah seutuhnya. Ini sangat kontras dengan pernyataan Zarah ke Simon bahwa ia sama sekali tidak tertarik pada alien, ia hanya ingin mencari ayahnya.

Kedua, saya kecewa kenapa diberi hidayah kenikmatan sastra pada usia di mana saya hanya bisa menjumpai "PARTIKEL"? Meski semua seri sebelumnya dicetak ulang, saya tetap merasa telat menikmati "SUPERNOVA"

Sekian, ulasan subyektif saya.

Terima kasih.

Chat Room Bloofers