Rabu, 28 Agustus 2013

KEPADA GADIS YANG KUTEMUI DI ALAM TWITTER



Pernah aku membaca di buku buku sejarah
Tentang penemuan situs situs purbakala
Juga sering membaca di buku buku pelajaran sekolah
Tentang penemuan penemuan ilmiah
Isaac Newton menemukan hukum gravitasi
Albert Einstein menemukan hukum kekekalan energi
Dulu aku ingin seperti mereka
Menemukan penemuan penemuan penting untuk dunia
Maka aku belajar dengan giatnya
Hingga saatnya mimpiku berbuah
Aku menemukanmu

Tak ada landasan teori apapun
Alam twitter seperti laboratorium
Beruntunglah kau hidup di sana

Aku senang mengintip linimasa
Aku jadi tahu kau mahasiswi fakultas hukum
Ingin sekali aku bertanya
Tentang hukuman seseorang yang berani menyusupi hati
Aku tak berani mencuri
Aku sabar menunggu kau memberinya cuma cuma
Tenang aku orang yang tahu balas budi
Hati ku pun akan kuberikan cuma cuma
Kelak, saat penyair berhenti menulis
Dan semua sajak sirna
Kuharap namamu tetap ada
Sebagai sajak satu satunya

Sebulan berselang
Aku semakin tahu seluk belukmu
Aku bahkan tahu jam makan dan tidurmu
Aku juga tahu kau membenci malam minggu
Karena saat itu ada banyak yang mengucap rindu
Hingga lupa merasakannya
Ada pula yang mencaci bujangan
Seolah akan mati bila tak berpasangan

Aku pun tahu kau membenci tengah malam
Saat itu kau merasa sendirian
Tak punya sesuatu pun untuk dilakukan
Dijalankan, apalagi diselesaikan
Merasa kesepian
Padahal jika kau menanti hingga malam itu usai
Kau akan tahu ada yang menunggumu
Aku yang bernama pagi

Aku tahu kau membenci tengah malam
Karena saat itu kau tak bisa ke mana mana
Padahal jika kau mengintip isi kepalaku
Kau akan menemukan dirimu di sana
Entah bagaimana caranya kau membagi raga
Dan berangkat jam berapa

Suatu saat kau membagi sebuah pernyataan
“Jodoh di tangan Tuhan”
Lalu aku memohon kepada Tuhan
Agar membuka tanganNya
Barangkali ada wajahku di dalamnya
Lalu kau mencium tangan Tuhan dengan khidmat

Di alam twitter
Semua orang berhak menjadi pengagum rahasia
Tapi aku berbeda
Akulah pencinta rahasia
Setahun sudah aku menjadi rahasia
Setahun sudah pun kau menjadi rahasia
Aku adalah cinta yang rahasia
Kau adalah rahasia tercinta

Hinga suatu saat
Kau ada di kolom interaksiku
Dengan dua huruf besar yan begitu aku banggakan hingga saat ini: RT
Itu pun sudah cukup
Meski waktu tak akan pernah cukup
Menyempatkanku mengucap cinta kepadamu
Maaf, tak ada ucapan
Ini kan rahasia

Sehari setelahnya linimasa penuh
Dengan ucapan selamat menempuh hidup baru
Aku senang karena ada yang baru hidup di dalam kehidupanmu
Juga sedih karena aku tak mampu menjadi yang baru
Meski tak baru, sebenarnya aku hidup di kehidupanmu

Aku masih sosok yang lama
Lama menguntit
Lama kelamaan mencinta
Kelamaan mencinta
Selamanya mencinta

Waktu menyerah
Ia tak sanggup menghitung
Berapa denyut jantungku saat memikirkanmu


Selasa, 13 Agustus 2013

DOA SEBELUM MATI



Entah mengapa tiba tiba aku sangat ingin menulis
Aku tak tahu hendak menulis apa
Aku juga tak tahu harus menulis untuk siapa
Kadang keinginan muncul dengan sendirinya, tak berkawan, tak mencari lawan

Maka aku menulis
Tepat dini hari
Karena tak tahu ingin menulis apa
Maka aku berdoa
Karena tak tahu ingin menulis untuk siapa
Maka kupersembahkan untuk Tuhan

Tuhan
Jika setelah menulis ini aku tertidur lantas kau membangunkanku lewat malaikat maut
Sampaikanlah pada ibuku
Bahwa ada hal yang tak pernah aku impikan namun selalu aku banggakan
Menjadi anaknya

Tuhan
Jika setelah menulis ini mataku terpejam dan terbuka saat aku tak lagi di dunia
Jangan biarkan serangga hinggap di mata ibuku
Aku tak mau ia menangis dengan alasan apapun
Kecuali karenaMu

Tuhan
Jika setelah menulis ini aku harus berada di hadapanMu
Sampaikan pada ibuku
Ia telah mengalahkan waktu
Karena waktu tak sanggup mengakhirinya
Untuk tetap ada di dalam hatiku

Tuhan
Jika setelah menulis ini ajalku telah tiba
Beritahu ayahku
Aku tak sempat menulis sajak untuknya
Karena tak ada sajak apapun seindah namanya

Tuhan
Jika setelah menulis ini Kau memanggilku
Katakan pada saudaraku
Aku tak akan pernah sanggup membayar waktunya
Yang diluangkan untukku

Tuhan
Jika setelah menulis ini aku harus pulang
Serukan kepada orang orang yang mengasihiku
Tak ada kisah yang lebih indah dari kasih

Tuhan
Jika setelah menulis ini aku mati
Tolong bisikkan pada gadis yang kucintai
Bahwa hidupku adalah tanda aku mencintainya
Dan izinMu adalah alasan aku mencintainya

Tuhan
Jika setelah menulis ini rohku meninggalkan raga
Aku mohon, kabulkanlah doaku

Jumat, 26 Juli 2013

PADA SUATU HARI YANG TERLALU DINI MENJADI HARI



Kuusap keluh yang tinggal separuh
Mengunjungi rumah yang nyaris punah

Pada suatu hari yang terlalu dini menjadi hari
Malam kabur ketika pagi masih simpang siur

Pada suatu hari yang terlalu dini menjadi hari
Embun menyamar dalam gelap segar
Menyerang bulan yang tengah lapar
Terbersitlah niat yang sudah pudar

Pada suatu hari yang terlalu dini menjadi hari
Suara dengkur terbentur
Dengan tutur yang kian menyembur
Sayang ingin sebatas angin
Datang, lewat, kemudian pergi lagi

Pada suatu hari yang terlalu dini menjadi hari
Seseorang mengaku hamba sujud menyembah
Mengirimkan beribu keinginan
Sayang ingin sebatas angin
Terasa ada terlihat tak ada
Untung Tuhan bukan angin
Selalu ada meski terlihat tak ada

Pada suatu hari yang terlalu dini menjadi hari
Mataku bertaruh pada waktu
Siapa saja pemenangnya
Pagi akan segera tiba
Siapa saja yang kalah
Matahari pasti membakarnya

Pada suatu hari yang terlalu dini menjadi hari
Puisi juga lahir seperti biasanya
Entah siapa ibunya
Entah apa rahimnya
Apa dan siapapun
Tuhan mencintainya

Pada suatu hari yang terlalu dini menjadi hari
Tetiba aku ingin menjadi ayah
Tak peduli siapa ibunya
Tak peduli berapa anaknya
Asalkan Tuhan penghulunya

Pada suatu hari yang terlalu dini menjadi hari
Pikiran pandai menyelam
Pikiranmu pun menjadi lautan
Tak peduli seberapa dalamnya
Tak peduli sedingin apa rasanya
Kumohon padamu, biarkan aku tenggelam

Pada suatu hari yang terlalu dini menjadi hari
Mereka menyebutnya dini hari
Bukan malam lagi
Juga belum pagi
Ini hanya elegi
Gigih menagih janji

Pada suatu hari yang terlalu dini menjadi hari
Seseorang ingin menjadi penyelam
Pikiranmu jauh lebih dalam dari lautan terdalam
Biarlah Tuhan yang membuktikan
Mana yang lebih dalam
Pikiranmu atau perasaanku





Minggu, 21 Juli 2013

KUKIRA HUJAN



Ternyata puisi
Entah sejak kapan hujan melahirkan puisi
Setitik saja jatuh, jutaan puisi serempak menggaduh
Entah sejak kapan juga puisi seperti hujan
Sebaris saja tertuliskan indah, jutaan jiwa pun tergugah

Kukira hujan
Ternyata lagu
Entah sejak kapan hujan bernyanyi
Setitik saja ia membasahi, jutaan nada menari nari
Entah sejak kapan juga lagu seperti hujan
Senada saja ia dinyanyikan, jutaan jiwa gemetaran

Kukira hujan
Ternyata doa
Entah sejak kapan hujan berdoa
Setitik saja ia turun, jutaan hamba merapal kata
Kepada Tuhan yang hanya ada dalam doa
Kepada Tuhan yang teringat saat berdosa
Entah sejak kapan juga doa seperti hujan
Satu kata saja dipanjatkan, jutaan mata menjadi awan
Berair mata laksana hujan

Kukira hujan
Ternyata kampanye
Entah sejak kapan hujan berkampanye
Setitik saja ia jatuh, jutaan maksud mengikut
Entah sejak kapan juga kampanye seperti hujan
Satu janji saja disampaikan, jutaan tubuh kedinginan

Kukira hujan
Ternyata rindu
Entah sejak kapan hujan merindu
Setitik saja jatuh, jutaan kasih memilu
Entah sejak kapan juga rindu seperti hujan
Sedetik saja bergemuruh, jutaan pikiran tak mampu berteduh

Kukira hujan
Ternyata seorang wanita
Entah sejak kapan wanita itu menghujaniku
Sesaat saja ia kupandang, hati ini tak mampu lagi mengubah tujuan
Entah sejak kapan juga hujan seperti wanita itu
Sedikit saja ia menyentuh, kulitku menolak peluh

Kukira hujan
Karena ia bersajak telak tak mampu kutolak

Kukira hujan
Karena ia bernyanyi menidurkan sepi

Kukira hujan
Karena ia berdoa agar kemarau belum tiba

Kukira hujan
Karena ia berkampanye dan hatinya menjadi etalase

Kukira hujan
Karena ia rindu
Hadir di sela sela waktu
Di ruang yang asing bagi tubuh

Kukira hujan
Karena ia merindu
Apakah kepadaku?

Kukira hujan
Karena ia jatuh ke dasar hatiku

Kukira hujan
Ternyata dirimu

Camba, 7 Juli 2013
Fadhli Amir

Selasa, 09 Juli 2013

SAJAK KECIL TENTANG HUJAN DAN PUASA



Waktu kecil, bagiku hujan membuat puasa tidak menantang
Rasanya keteguhanku untuk menahan lapar dan haus itu seketika karam

Selangkah berikutnya
Hujan kembali rebah
Seolah ia tak tenang di atas kedudukannya
Sekali lagi, hujan membuat puasa tidak menantang
Rasanya keteguhanku untuk menahan hawa nafsu dipermudah
Karena aku tak bisa keluar rumah
Sementara "RUMAH" adalah tempat paling aman dari dosa, dan paling nyaman untuk pahala

Kukpikir hujan itu berkah
Kadang ia menjadi bencana

Kupikir hujan itu reda
Kadang ia menuliskan sejarah

Kupikir hujan itu kenangan
Kadang ia menuturkan kubangan

Kupikir hujan itu jiwa
Kadang ia air belaka

Kupikir hujan itu cahaya
Kadang ia gelap tak teraba

Kupikir hujan itu senja
Muncul menjelang berbuka puasa


Sekarang hari pertama, hujan turun lagi, tepat tigapuluh menit sebelum berbuka puasa.
Kulihat tanah yang tadinya kering pecah pecah, basah, terisi air layaknya mata air jiwa.
Bahkan hujan pun menyerukan, puasa itu menyegarkan

Jumat, 03 Mei 2013

Antara Kau dan Aku



Seperti dalam sebuah fiksi sedih, kau pergi.
Namun, tak seperti fiksi sedih, aku malah menyiapkan perjalanan di atas meja makan sembari belajar teori bahasa Indonesia.

Ada dua hidangan tersedia, nasi dan telur dadar. Kedua hidangan ini telah melebur menjadi satu. Kombinasi yang sempurna antara karbohidrat dan protein, antara makanan pokok dan lauk pauk. Sementara aku melahapnya, aku berpikir perihal kepergianmu, dan dua buah kalimat tunggal yang setara.

Aku makan nasi di meja makan. Aku makan telur dadar di meja makan. Pada dasarnya, kedua kalimat ini adalah kalimat tunggal. Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu pola kalimat. Ada subjek, ada predikat, ada objek. Kedua kalimat tadi mampu berdiri sendiri, sehingga menjadi kalimat yang setara. Kemudian ada kata penghubung "dan" yang membuatnya menjadi satu. Demi efisiensi, kedua kalimat itu digabungkan, meski masing-masing dapat berdiri sendiri. Maka,jadilah "aku makan nasi dan telur dadar di meja makan."

Dewasa ini, semua orang memiliki kesempatan menjadi pujangga. Tersedia begitu banyak kata yang diolah. Demi menuntut sebuah estetika, kata-kata itu diolah sedemikian rupa agar indah dibaca, dan renyah dikunyah. Dari kesemuanya, cinta menjadi topik utama.

Cinta, sebuah kata yang mendominasi kehidupan manusia. Semua hal yang baik didasarkan atas cinta. Lahirlah kalimat populer ini, "Semua karena cinta". Cinta hanya satu kata namun mampu menjabarkan beragam perkara.

Twitter. Sebuah jejaring sosial yang sangat populer. Setiap harinya begitu banyak yang membagi kalimat-kalimat cintanya. Seolah cinta cukup dalam 140 karakter, termasuk aku. Seseorang bahkan banyak orang pernah menulis ini di twitter : Aku merindukan kita.

Kita. Sebuah kata tunggal yang jika dijabarkan, tidak hanya terdiri dari satu orang saja. Kita adalah perpaduan antara kau dan aku, jika banyak ditambah mereka. Kita adalah sabuah "penyetaraan" mini. Jika dalam kalimat ada kalimat setara, maka dalam kata, mungkin kata "kita" ini adalah representasi dari "kesetaraan" itu. Lagi, demi efisiensi, kau dan aku disatukan dalam "kita".

Saat kau masih mencintaiku dan memilih bersamaku, kau selalu mengatakan ini padaku: "Satu hal yang selalu membuatku jatuh cinta padamu adalah kemampuanmu menyatukan aku dan dirimu menjadi kita." Lagi - lagi kita. Kita menjadi sebuah penyatuan ternikmat. Semenjak kita pacaran, hidup kita diliputi oleh "kita". Aku yang dulunya makan di restoran sendiri, kau juga makan di restoran sendiri, berubah menjadi kita makan di restorn bersama. Cinta menyatukan dua buah kalimat tunggal menjadi sebuah kalimat majemuk setara.

Apakah benar kita setara? Apakah kadar cintaku padamu setara dengan kadar cintamu padaku?

Dengan ini, aku ingin membuktikan betapa hubungan kita sebenarnya terangkum dalam teori kalimat ini.

Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua atau lebih pola kalimat. Hematnya, kalimat majemuk adalah gabungan dua atau lebih kalimat tunggal. Sebelum kita bertemu, aku adalah kalimat tunggal, kau juga, katamu (entah sebelumnya kau sudah majemuk bersama kalimat tunggal lain atau tidak). Karena aku memilih tak menghiraukan masa lalumu, maka aku menganggapmu sebagai kalimat tunggal saja. Baiklah. Kemudian Tuhan mempertemukan kita, dan jadilah dua kalimat tunggal tadi berbaur menjadi satu kalimat majemuk. Cinta membuat kita majemuk. Manusia lain pun begitu. Kehidupan yang mejemuk tak akan pernah bisa dihadapi dengan hal - hal berbau tunggal. Bahkan, orang yang mengaku mandiri pun tak akan pernah bisa berdiri dan mengakhiri hidupnya sebagai kalimat tunggal,kecuali Tuhan. Itulah mengapa kita hanya bisa menjadi hambanya. Itu pula sebabnya mengapa sendiri itu tidak abadi. Sunyi dan sendiri berbeda.

Kalimat majemuk pun dibagi menjadi empat bagian:

1. Kalimat majemuk setara.

Setelah kita sepakat menjalin hubungan, kita telah berdiri sebagai kalimat majemuk. Saat itu kita memilih menjadi kalimat majemuk setara. Kalimat majemuk setara dibagi lagi menjadi dua, kalimat majemuk setara sejalan dan kalimat majemuk setara berlawanan. Menurutku kita hidup dalam keduanya. Aku tiba pada sebuah pernyataan, bahwa cinta adalah penyatuan perbedaan. Hubungan kita berawal sebagai kalimat majemuk setara berlawanan. Ada banyak perbedaan di antara kita. Aku senang berjalan, sementara kau senang naik kendaraan. Aku senang menunggu, sementara kau tidak. Aku sering begadang, kau senang tidur. Aku sering terlambat, kau tepat waktu. Dari semua kebiasaan-kebiasaan kita, tak satupun yang berkawan. Kemudian kata pujangga, "atas nama cinta" kalimat majemuk setara berlawanan itu digubah menjadi kalimat majemuk setara sejalan dimana mereka dihubungkan oleh konjugsi dan. Pada saat yang bersamaan kita melakukan hal yang sama. Ternyata, dari semua perbedaan itu, kita memiliki kesamaan, senang duduk mendengarkan musik. Maka kegiatan itu sering kita lakukan bersama. Meski selera musik kita berbeda, kau suka pop ballad, aku suka brithpop. Kau suka RnB, aku suka jazz. Pada dasarnya kita adalah kalimat majemuk setara sejalan. Aku dan kau mendengarkan musik. Bukankah, cinta menyatukan perbedaan? Dan penyatuan terindah adalah penyatuan perbedaan. Untung saja Tuhan kita sama. Jika tidak, aku tidak tahu apakah saat itu kita masih menjadi kalimat majemuk setara sejalan atau berlawanan.

2. Kalimat majemuk rapatan.

Selain mendengarkan musik, kita juga sama - sama suka makan dan minum kopi. Itulah mengapa kita menjadi kalimat majemuk rapatan dalam waktu yang sama. Dalam sebuah kesempatan atau lebih, kita sering mendengarkan musik, makan, dan lanjut minum kopi bersama-sama. Di antara begitu banyak perbedaan yang kita miliki, masih ada beberapa kesamaan yang dilakukan bersama. Dengan ini kita menjadi rapat, jarak tak lagi memisahkan, tapi menyatukan. Saat salah satu di antara kita sedang di luar kota, kita masih bisa merapatkan diri. Jarak pun menyatukan kita dalam sebuah kaidah kalimat majemuk rapatan. Dalam waktu yang bersamaan kita sering janjian makan, mendengarkan musik, dan ngopi bersama-sama. Meski tempatnya berbeda. Ruang ada banyak. Tapi waktu membuat dua ruang menyatu. Esensi bersama bukan lagi perkara ruang, namun lebih kepada perkara waktu. Kita melakukan hal yang sama dalam waktu yang sama. Kita pun tak pernah membenci jarak. It's not long distance relationship, it's long time relationship.

3.Kalimat majemuk bertingkat

Suatu saat, kau merubah segalanya. Maaf, bukan dirimu, tapi jenuh. Aku tak mau menyalahkanmu. Karena aku masih ingin berdiri sebagai kalimat majemuk bersamamu. Kita melakukan hal berlawanan pada waktu yang bersamaan. Sampailah kita pada kaidah kalimat majemuk bertingkat: dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur induk kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang terdapat pada induk kalimat. Di antara kita pasti ada yang menjadi induk dan anak kalimat. Saat aku datang ke rumahmu, kau tengah tertidur pulas. Saat aku menemuimu, kau tengah sibuk dengan cita - citamu. Saat aku mengajakmu makan malam, kau serius dengan hobi barumu, menyendiri. Kadang kau yang menjadi induk kalimat dan aku anak kalimatnya. Ketika kau meminta pertimbanganku memutuskan satu di antara dua pilihan, aku sedang berupaya membuat keputusan sendiri. Ketika kau memintaku menemanimu belanja, aku tengah membantu sahabatku menyelesaikan pekerjaannya. Ketika kau merayakan ulang tahunmu, aku tengah melayat di rumah kerabatku. Keadaan yang memaksa kita harus memilih menjadi induk atau anak kalimat. Sayang, antara induk dan anak kalimat itu, tak sekali pun pernah akur. Tak ada yang merawat, juga tak ada yang dirawat. Tak ada yang membesarkan, juga tak ada yang dibesarkan. Kita sebenarnya telah kembali menjadi kalimat tunggal. Ternyata bukan hanya tunggal yang tidak abadi, majemuk juga begitu. Kita berada pada kehidupan di mana semuanya situasional. Ada saat untuk berlari, ada saat untuk berhenti. Mungkin itulah makna keseimbangan. Sayangnya, kau berang.

4. Kalimat majemuk campuran.

Kehidupan kita tak lagi terdiri dari dua buah kalimat tunggal. Tuhan menciptakan banyak manusia. Semua manusia memiliki kesempatan menjadi kalimat. Semua ingin menjadi kalimat. Aku juga begitu. Hanya saja, aku ingin majemuk bersamamu. Sayangnya, bukan hanya aku yang ingin majemuk. Ada kalimat tunggal lain yang mencari kesempatan agar mampu menjadi kalimat majemuk bersamamu. Ketika aku datang ke rumahmu, kau sedang menyeduh kopi untuknya yang sedang menulis lagu untukmu. KIta berada pada kaidah kalimat majemuk campuran dimana ada tiga kalimat tunggal berbeda. Secara kasat mata, kita bertiga melakuka tiga aktivitas berbeda. Aku datang ke rumahmu, kau menyeduh kopi untuknya, ia menuliskan lagu untukmu. Hanya saja kalimat tak cukup dimaknai secara harfiah. Begitu juga cinta, tak akan indah jika ia hanya sebuah kata. Ada keterangan yang membuat kalimat itu berbeda. Aku datang ke rumahmu dengan harapan menemuimu. Harapanku berbuah, aku menemukanmu sedang menyeduh kopi. Sayangnya kopi itu bukan untuk ku, untukmu atau untuk kita, tapi untuknya. Ditambah lagi ia tengah menulis lagu untukmu. Jelas aku melakukan sebuah aktivitas untuk kita (bertemu). Kau dan dia melakukan dua aktivitas simbiosis mutualaisme. Kalian berhasil memaknai kemajemukan dengan cara yang baik. Hanya saja, aku merasa jadi korbannya.

Kopi tak lagi menjadi hal yang sama, bukan lagi untuk kita, tapi hanya untuknya. Kopi yang kau seduh saat bersamaku adalah kopi untuk "kita". Kopi itu dinikmati bersama. Kopi yang kau seduh untuknya bukan untuk "kita". Kau mengkhususkan untuknya. Bukankah kau jatuh cinta padaku karena aku mampu menyatukan aku dan dirimu menjadi kita? Aku telah melakukannya. Kita telah melakukannya. Kopi yang kau seduh untuknya jelas sebuah pengkhianatan pada "kita" yang dulunya sangat kau sakralkan. Jika memang harus ada dirinya, biarkanlah kalian berdua menjadi "kita" bukan "kalian" yang mempersembahkan dua hal berbeda ketika ada satu hal yang bisa dinikmati bersama.

Aku pulang sebagai kalimat tunggal. Baiklah, tak ada lagi "kita". Aku tak akan menuliskannya lagi. Sebelum hidangan makan malamku habis, aku ingin menuliskan ini untukmu.

"Di dunia ini ada kau dan aku. Bahkan kalimat pun menginginkan kita bersama."

Selamat makan malam. Semoga kau tengah melakukan hal sama di ruang yang berbeda.


Selasa, 16 April 2013

SEMANGKUK MOTIVASI OLEH STANISLAVSKY



(gambar diambil dari www.wikipedia.com)

Apakah benar semua hal memiliki alasan?

Seseorang pernah menyatakan bahwa aktor adalah pembohong ulung. Menurutnya, kejujuran hanya ada dalam realita dimana kita tak akan sanggup menyangkalnya. Waktu membawa kejujuran. Panggung sandiwara hanya sebuah kebohongan. Kejujuran seolah bersembunyi di belakang panggung, menunggu penonton bubar, kemudian menampakkan diri tanpa sempat mendapatkan tepuk tangan riuh. Seseorang itu masih bertahan bahkan terperangkap dalam paradigma "akting adalah berpura-pura".

Manusia dengan kehidupannya adalah rangkaian cerita yang selalu menarik. Bahkan dalam keadaan jenuh sekalipun, manusia cenderung membaginya. Hal yang layak dibagi adalah hal yang tidak layak didiamkan. Hal yang tak layak didiamkan adalah hal yang menarik. Manusia dengan segala ceritanya membaur dalam banyak kejadian. Putus cinta, sosialisasi buruk, keinginan yang belum tercapai, rintangan berat, perselisihan, dan semua hal-hal di dalamnya. Dari semua cerita itu, hanya Tuhan yang telah membacanya. Kita hanya terjebak dalam pertanyaan, ketidaktahuan, bahkan belum menyentuhnya sama sekali. Panggung mengambil peran dalam hal ini. Kisah-kisah yang belum sempat tersentuh oleh khalayak umum, perasaan terkecil yang mungkin hanya jadi konsumsi privasi akan menguak, memberontak, berbicara di atas panggung. Mengapa harus panggung? Sederhana saja. Manusia dengan segala kesibukannya tidak punya banyak ruang untuk melihat sekitarnya. Mengapa harus akting? Sangat sederhana. Masing-masing subyek tak akan pernah bisa menjadi subyek yang lain.

Di sebuah warung pinggir jalan, semangkuk mie instan dengan asapnya yang mengepul menampar penjelajahanku. Aku membuka buku yang baru saja aku pinjam dari perpustakaan sanggar.

"Semua gerak laku dalam panggung harus berdasarkan motivasi, bahkan dalam keadaan duduk diam." Constantin Stanislavsky adalah kiblat terpentingg dalam dunia teater. Dalam bukunya, kita diarahkan untuk berlaku di atas panggung dengan motivasi. Sederhananya bergearak dengan alasan. Artinya, segala sesuatunya harus memiliki alasan. Perlahan tapi pasti, pertanyaan besar muncul di kepalaku. Ketika teater adalah refleksi kecil dari kehidupn yang besar, apakah dalam realitanya, segala hal membutuhkan alasan?

Secara kasat mata, aku bisa saja membenarkannya. Realita adalah kenyataan. Ia pasti. Logisnya, hubungan sebab akibat. Segala sesuatu memiliki sebab hingga ia berakibat pada sesuatu juga. Bagaimana dengan cinta?

Dari semangkuk mie instan, aku beralih ke dunia sosial media. Tengah malam adalah waktu di mana di sana akan selalu marak oleh pujangga. Aku menghidangkan pertantayaan yang sama. Mengapa tengah malam adalah waktu yang tepat untuk menjadi pujangga? Orang - orang termasuk aku merasa nyaman berkicau dengan diksi - diksi, menulis syair, prosa pendek, dan hal-hal yang berbau sastra, kemudian membaginya, dan tengah malam selalu menjadi saat yang tepat. Aku mencoba mencari alasannya, demi membenarkan teori Stanislavsky ini. Setelah perenungan beberapa menit, aku sampai pada sebuah kesimpulan. Tengah malam adalah saat - saat dimana keheningan begitu mudah didapatkan. Lanjut, kata- kata indah akan mudah muncul di saat-saat hening. Pertanyaanku bercabang. Mengapa harus menulis puisi di tengah malam? Apa yang memotivasinya? Sembari menunggu, aku menyantap mie instanku. Semangkuk habis, dan pertanyaan itu pun terjawab. Ada keinginan untuk menonjolkan sisi elegan di tengah malam. Ada keinginan untuk menunjukkan sisi lain yang tak dikenal orang, mencari dan mencuri perhatian. Ada juga keinginan untuk menunjukkan sisi romantis diri. Karena banyak dari kita yang terjebak pada persepsi karya sastra sebagai sesuatu yang mesti romantis. Parahnya jika ada yang memilih motivasi ini, sedang mengikuti tren. Sisi positifnya, ia mengakui kehebatan sastra. Sisi negatifnya, sastra hanya sebatas tren. Aku memilih motivasi ketertarikan. Aku menulis karena aku suka. Sayangnya lagi, banyak dari kita menjadikan kalimat-kalimat gombal sebagai karya sastra. Miris.

Tengah malamku diliputi alasan-alasan yang belum pernah kujumpai. Sepeti halnya, mengapa tempat makan tengah malam ku ini tiba-tiba menjadi temoat tongkrongan favorit. Padahal dulunya, tempat ini dibatasi oleh seniman saja. Tentu saja, orang yang bergerak ke sini memiliki motivasi yang jelas. Tempat ini strategis. Di tempat ini menunya murah dan enak. Semua datang membawa alasan. Semua tiba dengan bekal motivasi.

Aku sering mendengar bahwa mencintai dengan tulus berarti mencintai tanpa alasan. Katanya, ketika kita mencintai seseorang dan kita tidak menemukan alasan mengapa kita mencintainya, artinya ada ketulusan yang kuat di dalamnya. Logikanya, tanpa alasan artinya kita siap berbagi, menerima semua yang ada dalam dirinya. Tanpa memerlukan penelitian, pernyataan ini cukup ilmiah. Bagaimana dengan Stanislavsky? Apakah ia mencintai seseorang dengan motivasi? Pertanyaan itu menggangguku.

Aku berusaha menghabiskan perkara cinta itu. Bagiku mustahil seseorang mencintai tanpa alasan. Semua butuh motivasi. Hal pertama yang sangat jelas adalah manusia pasti akan mencinta. Itulah mengapa kita lebih baik dari makhluk lain. Kedua, Tuhan telah menyiapkan jodoh. Artinya, cepat atau lambat, kita akan mencinta. Ketiga, selalu ada hal menarik dalam diri sesorang. Di antara semua hal menarik itu, selalu ada yang membuat kita memutuskan bahwa kita mencintainya. Cinta tanpa alasan hanyalah teori pujangga yang berkicau di tengah malam melalui sosial media. Aku sepertinya memilih ini: "Aku mencintaimu karena Tuhan mengizinkanku." Semua atas izin Tuhan bukan? Toh, Tuhan menciptakan manusia dengan alasan. Kita terlahir dengan sebuah alasan. Kita juga akan mati dengan sebuah alasan. Surga dan neraka ada dengan alasan. Bukti-bukti kekuasaan Tuhan pun terbukti. Tercatat dengan jelas di kitab suci. Ditemukan oleh manusia itu sendiri. Semua ciptaan Tuhan memiliki fungsi. Maka, Tuhan menciptakannya dengan motivasi yang jelas. Hanya saja pikiran dan batin kita yang membuatnya terlihat kabur, bahkan cenderung tidak ada.

Aku kembali. Di atas meja makanku ada semangkuk mie instan. Di dalamnya ada beribu, berjuta, bahkan tak terhitung motivasi. Hingga mangkuk ini kering aku terus berpikir dengan jutaan motivasi. Hal yang memotivasiku hidup adalah kematian. Setelah kematianku, akankah ada motivasi - motivasi lain?

Di warung Gedung kesenian Societeit de Harmonie Makassar

Terima kasih, Stanislavsky

Chat Room Bloofers