Minggu, 11 November 2012

AYAH MAYA


Ayah……begitu besar kebencianku padanya. Baik ia berdiri sebagai sebuah kata yang bermakna ataupun makna itu sendiri. Sepanjang hidupku, ayah hanya berarti tunggal, gagal. Dialah ayah yang gagal, ayah yang membuatku kecewa, dan ayah yang membuatku menyimpan kebencian luar biasa padanya.

Menurutmu bagaimana bila seorang ayah yang seharusnya menjadi ayah bagiku lebih senang menjadi ayah bagi orang lain? Aku anaknya, bukan status keluarganya, dan aku benci sekedar status. Menurutmu seperti apa kau harus menanggung wajah seorang ibu yang begitu setia menahan kantuk semalaman, duduk di ruang tamu menatap pintu rumah dengan harapan yang begitu besar bahwa pintu itu sewaktu-waktu akan terbuka kemudian wajah suaminya muncul membawa kantongan beras. Detik demi detik ia lewati tanpa sedikitpun terkuras harapannya. Aku seorang anaknya hanya mampu menatap wajah lesu itu dari balik tirai kamar sebuah gubuk yang berdindingkan tripleks dan kayu-kayu lapuk. Apakah kau masih mampu menahan air mata dan masih menyimpan kebanggaan pada seorang ayah itu?

“Bu….tidur, sudah malam, ayah tidak mungkin pulang.” Sahutku sembari melangkah pelan ke arahnya. “Nak, seorang istri harus taat pada suaminya, aku ibu bagimu, tapi aku istri baginya, kamu tidur duluan, ya!” jawabnya dengan senyuman yang menurutku sangat pedih.
Kejadian itu terjadi setiap malam. Aku hanya melihat wajah ayahku sampai aku berumur 5 tahun, setelah itu, ia hanya “entah” bagiku, dan kabarnya pun menjadi tidak penting lagi. Yang membuatku sangat terpukul adalah penantian ibuku masih berlanjut sampai hari ini di setiap malam, sampai sekarang di setiap malam di mana ubannya semakin jelas, dan kabar si ayah itu semakin tak jelas. Persepsiku hanyalah satu, ia tengah sibuk menjadi ayah untuk anak lain, dan menikmati menjadi suami bagi istri lain. Sementara aku sudah merasa anak yatim, tapi bagi ibuku, ia sama sekali tak merasa menjadi seorang janda, padahal dalam aturan agama, ia sudah pantas menyandang itu. Sekarang, ia masih menunggu di ruang tamu, menatap penuh gairah ke pintu, dan aku tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun, hanya tangis yang bersembunyi.
Lagi…..saat ini….saat – saat di mana ia masih menunggu, kemudian aku masih terus menangis dan tersungkur. Kini ia telah tiada bersama penantiannya. Sekarang, aku betul-betul menghargai sebuah kesetiaan, kesetiaan seorang istri pada suaminya yang semakin tiada, dan ia pun harus tiada dalam penantiannya, aku kehilangan ibuku untuk selamanya. Kejadian pahit itu menempaku begitu keras dan membuat kebinalan luar biasa dalam kehidupanku.
Kehidupanku berlanjut, kesedihan itu kulumat habis, semoga saja bisa menjadi kekuatan, harapku.

Pagi yang tenang, sangat basah, bekas hujan semalam. Pagi yang menampung sisa hujan semalam sangat istimewa. Perawakannnya tak bisa dianalogikan, maka aku pun selalu duduk dari balik jendela rumah yang tak lagi berdinding tripleks dan kayu-kayu lapuk menyaksikannya dengan secangkir kopi Toraja asli.
Hari ini hari minggu, dan akhirnya aku bisa bernafas lega, lepas sejenak dari rutinitas. Hari-hari minggu sebelumnya aku harus menemani Diandra memuaskan hasrat kewanitaannya, belanja. Ada dua hal yang membuatku muak bersamanya di hari Minggu.

Pertama, itu menyita waktu istirahat privasiku, sementara setiap hari aku bisa menemuinya di kantor, tepat di meja sebelah meja kerjaku. Kedua, menemani wanita belanja itu sama saja menghitung ribuan jarum di tumpukan jerami, menyita banyak waktu untuk menjadi sia-sia. Ketiga, uang yang digunakan adalah uangku, dan alasan inilah alasan terkuat bagiku untuk merayakan hari kemerdekaan pribadiku.
Entah mengapa dibalik semua kebencianku padanya, aku masih setia pada rasa sayangku kepadanya, sehingga di sudut mana pun ada kebencian maka akan ada sudut di mana itu penuh dengan rasa cinta, karena hidup menuntut sebuah keseimbangan.

Pagi yang basah sisa hujan semalam seperti ikut merayakan kemerdekaanku, ini baru hari Minggu. Aku sebenarnya heran, tumben-tumbennya Silvika tidak memintaku menemaninya berbelanja hari ini, padahal setahuku itu sudah menjadi jadwal rutinnya setiap minggu. Meski berbahagia, aku masih sedikit mengerutkan dahi merayakan keherananku padanya yang hidup tak seperti biasanya. Hanya ada dua kemungkinan, dia sudah berubah atau justru terjadi sesuatu yang membuatnya tidak bisa keluar rumah. Akhirnya dia menelponku hanya mengabarkan kalo hari ini dia mau menemani ibunya check up.

“Maaf, ya, sayang, hari ini kita gak bisa hang out, aku mau nemenin mama check up.”
Aku tertawa mendengarnya meminta maaf, karena sebenarnya aku yang sangat bersyukur tidak mesti merasakan 3 efek negatif menemaninya belanja.
Seruput demi seruput kopi terasa begitu nikmat di hari kemerdekaan ini, masih bersama pagi istimewa yang basah sisa hujan semalam, memikirkan hal-hal yang tak sempat terpikirkan di waktu di mana semua yang tak penting terpikrikan harus dipikirkan. Terus seperti ini, rasanya setiap minggu wajarnya aku seperti ini, sampai aku dikagetkan oleh nada dering handphoneku. Diandra memanggil
“Halo sayang……” ujarku menyapa.
“Halo, sayang aku mau ngomong sesuatu, penting”
“Ya udah ngomong aja sekarang”.
“Gak bisa lewat telepon, kita mesti ketemuan sekarang, aku ke rumahmu ya!”
“O…o….oke!” Kalimatku terpatah-patah penuh tanda tanya.

Aku menyeruput kopiku menyisakan ampasnya saja, segera kemudian tergesa-gesa mandi dan bersiap-siap menyambut kedatangannya. Ia sangat benci dengan laki-laki yang tidak mandi pagi, aku benci menjadi kategori kebenciannya. Menajdi apa yang ia inginkan itu sudah otomatis, aku tak tahu alasannya dan tak berniat mencari alasannya.
Sejam kemudian dia datang dengan wajah yang tak biasa, penuh beban. Mungkin aku menyesal, harusnya membawanya keliling kota belanja sepuasnya ketimbang melihat beban di wajahnya. Ia duduk, menatapku datar-datar saja, aku bingung meresponnya bagaimana.
“Gandi……” Ia menghela nafas panjang
“Iya…sayang, kamu kenapa?”
“Kamu sayang sama aku gak?”

Pertanyaan itu muncul dan akhirnya aku sampai pada sebuah rahasia umum besar bahwa pertanyaan seperti itu adalah tanda kalau seorang wanita ingin meminta sesuatu, tapi kalau dia minta uang, sepertinya rasa sayangku belum sampai ke arah itu.
“Iya..aku gak perlu bilang itu berkali-kali, karena hasilnya akan tetap sama, aku bakalan tetap sayang sama kamu.”
“Kamu mau gak jadi seorang ayah?”
Dan kata yang sangat kubenci itu hadir, kali ini rasa sayangku padanya harus terabaikan. Aku diam, karena dia tahu mengapa aku diam.
“Aku tahu kamu gak mau, aku tahu kamu benci kata itu, tapi kalo kamu berada dalam keadaan harus menjadi ayah, apa kamu masih bisa nolak?” Dia menangis, deras, pedih, seperti wajah ibuku yang terlihat pedih di ruang tamu menatap pintu dengan penuh harapan.

Aku harus bagaimana? Aku dalam keadaan di mana aku tak bisa menolak, ini antara idealisme kebencianku dan harga diriku sebagai laki-laki. Sesulit bagaimanapun memendam kepedihan, masih jauh lebih sulit berada dalam dunia antara di mana pilihan itu keharusan, dan kepedihan juga kepastian. Aku diam, dan aku rasa dia pun tahu jawabanku. Pacarku, Diandra, pergi tanpa sehelai kata pun dari seorang laki-laki yang diharapkannya. Sama seperti ibuku yang pergi tanpa sedikitpun harapannya terpenuhi, wajah ayah yang kubenci itu. Sekarang apa bedanya aku dan ayahku? Aku tak kuasa menahan laju Diandra yang begitu kuat dengan kepergiannya, juga tak kuasa menahan diri sendiri yang begitu teguh pada pendirian bodohnya.

Pagi yang basah sisa hujan semalam tak istimewa lagi, hari Minggu tak merdeka lagi, aku yang merasa lebih baik dari ayah tak hebat lagi, aku kalah, aku gagal. Dan dia terus pergi.

Setahun kemudian, aku melewatinya dengan predikat yang sama seperti ayahku. Aku tak lagi memperdulikan kebencianku pada sosok ayah yang selalu dinantikan wanita luar biasa bertahun-tahun silam, yang aku tahu aku benci pada diriku sendiri.

Hari Minggu, hari yang sama, pagi yang basah sisa hujan semalam juga tidak istimewa lagi. Hari Minggu yang merdeka juga tak patut dirayakan lagi, aku berduka pada kenduri di hari Mingguku sendiri. Ia telah menikah dengan lelaki lain yang lebih bijak mengambil keputusan, tak memendam kebencian berlebih, tidak kalah pada idealisme bertamengkan egois, dan pastinya lebih pantas jadi ayah.

Saat ini, pagi ini, aku mengais memori penantian panjang ibuku, ke”entah”an ayahku, kebencian bodohku, dan aku menunggu telepon Diandra mengabarkan ini padaku, “Sayang maukah kau menikahi janda sepertiku dan menjadi ayah untuk anakmu ini? Namanya Maya, dan ia sudah kelas 5 SD.

Jumat, 12 Oktober 2012

PERKARA PERTANDA


Kau bertanya padaku tentang tanda. Aku buruk soal itu. Aku lemah. Aku bukan ahli semiotika. Aku bukan peramal. Aku hanya tahu kebenaran yang sederhana.

Seperti ketika kau bertanya padaku, apa tanda hujan. Aku tak menjawab. Aku takut salah. Jika mendung tanda hujan, mengapa suatu waktu aku menjumpai terik yang basah?

Kau cemberut. Bukannya berhenti bertanya, kau malah menghujaniku pertanyaan yang jauh lebih sulit. "Apa tanda kemarau?" Aku masih tak menjawab. Aku takut salah. Jika kering tanda kemarau, di musim apapun aku selalu segar walau hanya sekedar mengingatmu.

Wajahmu memerah, bukan rona malu. Kau berang. "Apa tanda kematian?" Tanyamu keras. "Kehidupan." Kau menganga. "Kalau begitu apa tanda kau mencintaiku?" Tanyamu semakin kesal. "Kehidupanku."

Aku hidup, maka aku akan mati. Perlukah pertanda lain? Aku hidup maka aku mencintaimu saat ini sampai tanda kematian itu lenyap dan tak hanya sekedar tanda.

Kemudian aku memberanikan diri bertanya padamu. "Apa tanda kita akan bersatu?" Giliranmu kaku. Aku tak berang.

Hatiku berkata, apakah dengan kita masih hidup sampai saat ini bukan tanda kita akan bersatu? Pada saat yang bersamaan akan menjadi tanda kita akan berpisah.

Tanda bagiku hanya sebuah kemungkinan, kepastian hanya milik Tuhan. Kehidupan menyiratkan semua pertanda yang kita pertanyakan. Hingga pada saatnya semua tanda itu akan terjawab, juga kehidupan, akan lenyap.

Jumat, 28 September 2012

Unidentify Letter





Hey..kau tahu mengapa aku berpuisi?
Aku membebaskan kurungan abjad agar tak hanya berjejer berjumlah duapuluh enam

Hey, kau tahu mengapa aku berpuisi?
Aku membebaskan diriku agar tak berada dalam dunia yang nyata saja
Kini aku di udara, mungkin punah, karena aku tak menjumpai makhluk selain yang bersayap, sementara aku melayang karena gravitasi menolakku, bumi membenciku

Aku bersiul, mengeluarkan nada, bersimpuh tanpa gaya simpuh, menyimpul tali usang, aku berjumpa denganmu

Sudah duapuluh enam abjad berdiri, dan aku membuatnya acak-acakan, aku berpuisi, apakah aku hidup?

Sekali jumpa pudar meratap, tak ada memori, hanya ada detik berjauhan, menjauh, tak peduli

Bahkan ketika aku mencoba setia menunggunya, waktu selalu pergi, ia tak berindera, apalagi untuk merasa

Ibuku, ayahku, saudaraku, sahabatku, semuanya punah, tinggal aku, mungkin sebentar lagi, kita berpisah tanpa kenangan, tanpa masa lalu, masa depan untuk melupakan, itu di benakku

Aku lupa, jejak itu terhapus, mungkin terhapus, tapi ia ada, ia ada, ia tetap ada, hanya saja aku tak punya mata

Aku di udara, melayang tanpa sayap, berjumpa denganmu, berbisik di telingamu, merabamu, aku tidak ada dalam kerumunan, mereka di darat, ada juga di langit, aku di tengah, dan aku terlupakan, satu-satunya yang kuingat adalah diriku.

Dirimu? Aku tak mengingatmu, aku hanya mengenalmu, setelah ini tak ada lagi dirimu dalam otakku, aku sebentar lagi akan kehilangan otak

Bisakah aku bertanya sekali lagi? Jawablah!
Kau ternyata tak mempunyai lidah, kefasihanmu berbahasa tak mampu mengalahkan duapuluh enam abjad yang ku punya

Aku berbahasa? Setelah itu mati, karena sejarah tak ada di sini
Maka aku menuliskan ini, karena ini bukan memori, ini diriku, bukan perkara waktu, di dalamnya ada uraian keduapuluh enam abjad yang siap kau cerna, semoga bergizi

Untukmu wahai gravitasi

Apakah kau takut mereka meninggalkanmu? Mengapa kau menjerat mereka?
Kemudian ketika kau menolakku apakah mereka sudah cukup bagimu?

Kau tak perlu mematikan energimu untuk membuat mereka sepertiku, sebentar lagi kau hanya jadi yang terlupakan, karena Mars menunggu penghuni, ia hunian yang lengkap

Sebentar lagi semua akan cukup, tak perlu berlebih untuk mengkahiri, seperti abjad yang tak pernah berhenti, ia hanya cukup berjumlah duapuluhenam, namun tahukah kau berapa kata, berapa kalimat, berapa alinea telah terbentuk? Semua akan berhenti

Bukan pada waktunya, buka pada saatnya, tapi pada izinNya

Tulisan ini dibuat di Makassar, 30 April 2012

Rabu, 26 September 2012

SUDAHLAH


"Semua sudah aku lakukan." Katanya pelan.
Aku hanya bisa diam. Saat ini, bibirku sedang memusuhi abjad.

"Semua sudah aku lakukan." Katanya perlahan keras.
Aku lagi-lagi hanya bisa diam. Saat ini, bibirku semakin memusuhi abjad.

"Semua sudah aku lakukan." Katanya dengan keras.
Diamku juga mengeras. Bibirku seperti melaknat abjad.

"Apa kau tidak mengerti? Semua sudah aku lakukan. Semua sudah aku lakukan. Apa lagi?" Ia berteriak.
Telingaku bergetar.

"Ya, aku tahu." Seketika bibirku berdamai dengan abjad, meski terpaksa.
"Itu saja? Aku tahu, kau tahu. Semua orang juga tahu kau tahu aku sudah melakukan semuanya. Kau tak pernah mengerti. Bicara saja jarang, apalagi mengerti. Belum lagi memahami." Dia marah, mengelilingi ruangan sembari melemparkan sobekan-sobekan kertas yang sedari tadi menghuni kepalan tangannya.

"Aku bekerja siang dan malam, untuknya, untuknya. Aku bahkan tidak hobi lagi tidur. Tidur bagiku menjadi sebuah pantangan." Ia melunak dan duduk di sampingku.
"Kemudian, aku juga berdoa siang dan malam, meski aku tahu, Tuhan tak akan menjawab doaku begitu saja." Dia memanas.
"Lalu aku menunggu, menunggu, terus menunggu, aku menunggu sampai aku tak tahu lagi apa yang aku tunggu." Ia menangis.

Perlahan aku merasakan kepalanya bersandar di pundakku. Bajuku basah oleh keringat dan air matanya.

"Ibuku mati, dia sudah mati." Raut wajahnya datar saja, air mata terus mengalir.
"Padahal, sekian lama aku bekerja, berdoa untuknya, dan ia mati begitu saja, tanpa pamit kepadaku, tanpa menitipkan pesan apapun."

"Bicaraah, aku mohon." Pintanya sungguh sedih.

"Dia pamit padamu, kau hanya tidak tahu. sebelum ia mati, ia memanggilmu, tapi kau sibuk bekerja, setelah itu kau sibuk berdoa. Katamu bekerja dan berdoa adalah privasi, butuh ketenangan. Maka dia membiarkanmu. Sudahlah. Inilah kehidupan, sudahlah. Kau akan baik-baik saja. Nikmati kesedihanmu dengan cara terbaik, tidak berlarut-larut." Kataku diiringi senyumnya

-Flash Fiction-

Inspired by" Coldplay - Fix You"

Selasa, 18 September 2012

PULANGLAH DIANDRA



Debu menjadi suci ketika air tak ada. Aku bisa saja jadi apa saja, asal Tuhan mau, asal kau siap, asal dia tiada. Aku akan ada saat dia tak ada, begitu mudahnya kau membuat fatwa. Kemudian, tak ada yang tahu. Tuhan enggan menyebar rahasia, ia bahkan enggan menyebut kalau itu rahasia. Sementara kau menyimpan rahasia, katamu aku tak berhak tahu soal rahasia itu? Itukah rahasia? Aku tahu, sudah tahu. Kau memberitahu. Itukah rahasia?

Isyarat lalu berbicara ketika lugas takut bersuara. Aku bisa saja jadi apa saja, asal Tuhan mau, asal kau siap, asal dia tiada. Aku akan berguna saat dia tak ada, begitu mudahnya kau mengatur kadar. Kemudian, mata memicing, kening mengkerut, wajah menjadi asing, kau pergi.

Alibi mempesona ketika jujur melemah. Aku bisa saja jadi apa saja, asal Tuhan mau, asal kau siap, asal dia tiada. Aku akan mempesona saat dia tak ada, begitu mudahnya kau membaca kharisma. Kemudian, kakiku lumpuh, tak sanggup mengejarmu. Maka kubiarkan batinku yang menyusulmu. Dengan begitu, ia akan menemukanmu sampai ke ruang rahasia apapun kau bersembunyi.

Nyeri berkembang biak, ketika nyaman sudah punah. Aku bisa saja jadi apa saja, asal Tuhan mau, asal kau siap, asal dia tiada. Aku adalah pundak yang memikul apa saja, begitu mudahnya kau beranalogi. Kemudian, nyeri terus bertambah, menjalar dengan bebasnya. Sampai saat ini mereka masih bertahan, mungkin mereka sudah jadi bangsa maju, bangsa nyeri yang maju.

Di kulitku masih ada sidik jarimu, ketika itu satu-satunya peninggalanmu. Ku jaga itu meski nyeri semakin keji mencoba membunuhku pelan-pelan. Aku bisa saja jadi apa saja, asal Tuhan mau, asal kau siap, asal dia tiada. Aku pasti tekstur lembut saat dia tak ada, begitu mudahnya kau memastikan hal yang masih mungkin. Kemudian, sidik jarimu lekat, meski nyeri terus menyerang, akan terus melekat. Bahkan angin sekencang apapun meniupnya, akan terus kulekatkan. Dengan begitu, aku merasa kau menyentuhku untuk pertama kalinya.

Rambutku beruban. Aku sudah tua, tentu ketika tak lagi muda. Aku bisa saja jadi apa saja, asal Tuhan mau, asal kau siap, asal dia tiada. Aku menua saat kau tak ada, begitulah aku membaca diri. Aku memang menua saat kau tak ada, bahkan lebih cepat dari perkiraanku, dari pengalaman mereka yang telah menua lebih dulu.

Aku adalah rumah, ketika kau gelandangan. Aku bisa saja jadi apa saja asal Tuhan mau, tapi aku hanya ingin jadi rumah bagimu. Rumah di mana setiap senja kau melangkah dengan sangat bersemangat menuju ku. Pulanglah.....

Rabu, 12 September 2012

Dari Mata Jatuh Ke Tanah


Bagaimana ketika kau harus pergi, dan tak ada lagi raut wajah yang bisa kusentuh?
Sementara saat ini aku tak punya cukup waktu untuk memuaskan diri menyentuh raut wajahmu.

Pertanyaan ini besar. Selalu besar. Selalu membuatku merinding bila aku mendengungkannya dalam pikiran, dalam waktu yang memungkinkanku memikirkan apa saja.

Bagaimana jika Tuhan menakdirkan kau pergi lebih dulu, dan aku tak sempat mengucapkan salam perpisahan padamu?
Sementara saat ini aku tak punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri menyambut kepergianmu?

Haruskah kesedihan kusembunyikan lewat isyarat, lewat tanda, lewat istilah, lewat syair, lewat diksi yang tak lazim? Padahal kesedihan yang nikmat adalah kesedihan yang gamblang.

Bagaimana ketika kau betul-betul pergi, dan tak ada lagi kaki yang bisa kucium dengan air mata?
Sementara saat ini aku tak memanfaatkan waktu untuk mengenal tekstur kulit kakimu, tebal atau tipis, halus atau kasar?

Kakimu adalah rumah bagi langkah-langkah yang penuh dengan darah, peluh, melupakan tujuan pribadi, mengubur kepuasan diri.

Bagaimana jika Tuhan tak mempertemukan kita sebelum kau benar-benar pergi, dan tak ada lagi raga yang bisa aku banggakan sebagai satu-satunya raga yang aku abadikan dalam berentah-entah cerita?
Sementara saat ini, aku masih belum sempat menyentuh tanah yang basah, di mana airnya berasal dari matamu sejak pertama kali aku melihat dunia.

Atau...

Bagaimana jika saat aku menuliskan ini, kau telah pergi, dan pertanyaan-pertanyaan ini tak berguna lagi?
Sementara saat ini, aku masih belum bisa menjawab itu sendiri.

Mungkin semua ini tak butuh jawaban, sama ketika pertanyaan ini muncul di pikiranmu:

"Mengapa kau menukar air matamu demi senyum yang tak pernah tahu bahwa ia ada karena air matamu sendiri?"

Suatu saat nanti, aku akan pulang dan menyaksikan matamu basah. Dan saat itulah aku akan semakin yakin perihal kau menyembunyikan air matamu sendiri. Kau hanya tak ingin aku malu jika tahu bahwa selama ini aku hidup karena tanah, di mana ia basah karena air yang berasal dari matamu.


Kamis, 06 September 2012

SILUET SENJA

Aku melihat sebuah siluet di kala senja. Ia tipis, datar, dimakan senja yang hanya dijatahi waktu sedikit setiap harinya. Senja tak seperti pagi yang cerah. Tak seperti siang yang garang. Tak seperti malam yang punya bulan.

Bagiku senja seperti waktu, mungkin duduk menyaksikan matahari menghilang dari pandangan. Merenungi berjam-jam seharian, apakah ia bermanfaat atau hanya menyaksikan perjalanan waktu belaka.

Hari ini, semua terlihat sama. Hiruk-pikuk, tegur sapa, tanya jawab, memesan dan menerima. Senja mencukupkan ruang bagiku untuk duduk, tak perlu di tepi pantai, cukup di teras rumah yang biasa-biasa saja tanpa teh, susu, kopi, tanpa minuman lain. Membiarkan semuanya lewat, sedang diri ini hanya terpaku, cukuplah aliran darah, detak jantung dan hela nafas yang berbicara.

Senja mencukupkan waktu bagiku untuk melihat ke belakang sembari bersiap menanti perjalanan setelahnya. Mungkin lelap, mungkin lelah, mungkin akan insomnia, atau mungkin akan kembali sibuk. Tak apa.

Bukan jeda, karena sudah terlalu banyak jeda sepanjang hari ini. Jeda ke kamar mandi, jeda ke luar ruangan untuk batuk, jeda makan siang, jeda untuk mengecek jejarig sosial. Bagiku senja lebih tepat sebagai waktu tersendiri untuk menyibukkan diri menganga. Betapa peralihan yang sangat lembut ada pada senja.

Lalu mengapa kau menaruh siluetmu pada senja?

Tentu kau tak mau menjawab. Biarkan aku menjawabnya, meski itu belum tentu benar. Siluet yang selalu berwarna gelap adalah kesiapanmu menjamu malam. Kau merangkum secara keseluruhan perjalananmu sedari pagi. Lalu, siapkah kau menjamu malam dengan perjalananmu sedari pagi?

Malam tak pernah menuntut jamuan apa-apa. Hanya saja, misteri tak terduga akan terkuak di kala malam. Bagaimana kita menjadi pujangga seketika, melakukan pertemuan-pertemuan penting, menyanjung bulan dan bintang, menyebut "galau" sebagai kata yang sangat sastrawi, seolah-olah kesedihan adalah satu-satunya yang dimiliki kesusastraan.

Mungkin kita harus siap menjamu malam, agar ia tak berpikir dua kali mengungkap rahasia mengapa malam selalu menjadi milik kita yang setia memandangi langit, menjadikan langit sebagai tempat pertemuan rindu, menjadikan rindu semakin menggebu-gebu, dan menjadikan puisi begitu sibuk berdeklamasi saat itu.

Dan...

Siluet senja adalah keseluruhan waktumu sedari pagi yang begitu siap menyambut kedatangan malam. Membuat kejadian-kejadian tadi menjadi cerita beragam di waktu malam, untuk dibagi, untuk ditertawakan, untuk ditangisi, untuk dikatakan rahasia dengan pernyataan, "maaf ini rahasia", untuk menunggu doa-doa yang begitu kreatif diamini banyak orang.

Atau....

Untuk menunggu Tuhan begitu indah disebutkan.

Dedicated to Teh Bonit

Chat Room Bloofers