Aku jujur,aku berbohong. Aku berbohong, tapi aku jujur. Yang mana yang bisa dipercaya...? Kejujuran atau kebohongan?
Dalam kasus ini, kejujuran itu adalah kebohongannya, akan tetapi kebohongannya menjadi sebuah kejujuran besar. Ketika manusia mengakui sebuah kebohongannya, maka saat itulah dia telah menafsirkan sebuah kejujuran yang luar biasa. Kemudian maaf menjadi pahlawannya.
Setiap kebohongan selalu dibarengi oleh kejujuran hati. Setiap kata yang terucap dan berbau kebohongan, di saat itulah hati mengakuinya bahwa inilah sebuah kebohongan dan dia telah jujur pada sang empunya ruh.
Percayalah, aku sedang berbohong....! Aku mengurai semua kepalsuan agar terlihat asli di hadapanmu, kemudian senyawa-senyawaku bergulat, menumpuk ribuan titik di dalamnya, membentuk garis yang merumuskan satu teori, kebohongan adalah kejujuranku.
Aku telah banyak berbohong, mengumbar kata-kata salah, tak sejalan dengan persepsi batinku, merajut mimpi yang menurutku masih bias, bahasaku adalah bahasa kebohongan, tapi aku jujur tengah berbohong kepadamu.
Masih ambigu? Katakan ini pada orang-orang terdekat dan terjauhmu! Sebuah kejujuran bukan hanya melulu kepolosan, tapi semurni sebuah pengakuan, pengakuan tentang apapun yang sebenarnya, termasuk kebohongan.
Ketika kau membahasakan satu kata yang tak aku mengerti kemudian aku mengiyakan, setelahnya aku mengatakan padamu, "Aku berpura-pura mengerti perkataanmu", itulah kejujuranku.
Mendung sempat membohongiku ketika dia menampakkan kegelapan di pandanganku, saat itu aku menanti titik-titik air mengeroyok alam dan sekujur tubuhku, tapi kekecewaan aku telan baik-baik, karena hawanya pun tak terasa. Kemudian setelahnya, dia membahasakan dengan abstrak kepadaku, dia telah berbohong, tak ada hujan di mendung saat itu, itulah kejujurannya, dan aku salut pada pengakuannya.
Semua memiliki pertanda, namun alamat sebenarnya akan kau temukan ketika kau menjumpai kenyataan itu terparkir di halaman rumahmu untuk kau persilahkan masuk bertamu dan menyajikannya hidangan teristimewa.
Percayalah, aku berbohong kepadamu, karena hanya sebatas itulah kejujuranku.
Makassar, 25 Oktober 2010
Senin, 25 Oktober 2010
Minggu, 24 Oktober 2010
CATATAN MIMPI
Bukan perpisahan yang melemahkanku, tapi kenyataan yang harus membohongi asaku untuk kesekian kalinya. Catatan ini aku buka dengan pintu di mana namamu sudah menjadi kuncinya. Dulu, ketika asaku terhadapmu masih ada, sekarang ketika asaku terhadapmu masih terpampang, sekarang dan nanti, ketika asaku terhadapmu masih ada dan tak akan pernah aku ganggu gugat lagi.
Kemunafikan harus dilumat oleh persepsi batinku yang masih merasakan kau mempengaruhi hidupku, entah itu melemahkan atau justru menguatkan. Ada satu hal yang membuatku merasa lebih hidup, yakni ketika aku berhasil mentransfer semua kekayaan hatiku padamu, bahkan sampai kau menganggap itu masih terlalu miskin bagimu.
Catatan-catatan yang tak pernah aku habiskan. Tersimpan begitu rapi dalam buku yang kurangkai begitu lama. Aku tak membutuhkan waktu lama untuk mengatakan aku mencintaimu, karena sekarang, besok, atau sampai hari-hari setelahnya, keadaannya akan tetap sama.
Terlalu sempit bila menerjemahkanmu ke dalam bahasa yang bisa ku pahami, bagiku kau sangat luas, seluas keterbatasan pandanganku. Terbukti, sekarang aku tengah menertawai kesedihanku sendiri. Bukankah itu tidak penting bagimu?
Aku tak mau menyebutkan namamu. Bagiku, namamu terlalu mudah untuk disebutkan, dan aku tak mau mengumbar kemudahan itu, biarlah itu menjadi sarapan pagi ribuan kesulitan. Sekarang, kau sudah menunjukkan pelabuhanmu padaku, aku merestui itu.
Pelabuhan itu adalah tempat yang sering aku kunjungi. Dia yang akan mengantarkanmu sampai ke rumah. Tempat berpulang yang aku yakini hanya dia yang pantas menjadi tamu mu.
Catatan ini memang untukmu, untuk hari-hari yang semoga kau lupakan, dan bisa aku letakkan rapi di memoriku. Tak akan pernah aku sampaikan padamu, karena itu tidak ada faedahnya sama sekali untukmu, aku benci memberimu sesuatu yang tidak berguna.
Kau penting, kau kebutuhan, tapi aku sudah kenyang menyantap pemberian tak terbalasku. Itu yang aku harapkan, setidaknya aku telah belajar mencintaimu tanpa alasan, tanpa tujuan, tanpa penjelasan, hanya dengan izin Tuhan, sebatas itulah aku mencintaimu.
Berbahagialah dengan pelabuhan yang kau tuju. Sudah cukup manis pertemuan kita selama ini, aku mempunyai tempat yang jauh lebih luas daripada dunia untuk meluluhkanmu, dialah mimpi-mimpiku. Di sanalah kau tidak bisa menolakku, meski dengan semua dayamu. Kau hal yang sangat penting dalam hidupku, sekarang alurku berubah karenamu, dan aku berbahagia telah menemukan kepedihan ternikmat dalam jejakku bersamamu, hati yang tak pernah bisa aku taklukkan.
Makassar, 24 Oktober 2010
Kemunafikan harus dilumat oleh persepsi batinku yang masih merasakan kau mempengaruhi hidupku, entah itu melemahkan atau justru menguatkan. Ada satu hal yang membuatku merasa lebih hidup, yakni ketika aku berhasil mentransfer semua kekayaan hatiku padamu, bahkan sampai kau menganggap itu masih terlalu miskin bagimu.
Catatan-catatan yang tak pernah aku habiskan. Tersimpan begitu rapi dalam buku yang kurangkai begitu lama. Aku tak membutuhkan waktu lama untuk mengatakan aku mencintaimu, karena sekarang, besok, atau sampai hari-hari setelahnya, keadaannya akan tetap sama.
Terlalu sempit bila menerjemahkanmu ke dalam bahasa yang bisa ku pahami, bagiku kau sangat luas, seluas keterbatasan pandanganku. Terbukti, sekarang aku tengah menertawai kesedihanku sendiri. Bukankah itu tidak penting bagimu?
Aku tak mau menyebutkan namamu. Bagiku, namamu terlalu mudah untuk disebutkan, dan aku tak mau mengumbar kemudahan itu, biarlah itu menjadi sarapan pagi ribuan kesulitan. Sekarang, kau sudah menunjukkan pelabuhanmu padaku, aku merestui itu.
Pelabuhan itu adalah tempat yang sering aku kunjungi. Dia yang akan mengantarkanmu sampai ke rumah. Tempat berpulang yang aku yakini hanya dia yang pantas menjadi tamu mu.
Catatan ini memang untukmu, untuk hari-hari yang semoga kau lupakan, dan bisa aku letakkan rapi di memoriku. Tak akan pernah aku sampaikan padamu, karena itu tidak ada faedahnya sama sekali untukmu, aku benci memberimu sesuatu yang tidak berguna.
Kau penting, kau kebutuhan, tapi aku sudah kenyang menyantap pemberian tak terbalasku. Itu yang aku harapkan, setidaknya aku telah belajar mencintaimu tanpa alasan, tanpa tujuan, tanpa penjelasan, hanya dengan izin Tuhan, sebatas itulah aku mencintaimu.
Berbahagialah dengan pelabuhan yang kau tuju. Sudah cukup manis pertemuan kita selama ini, aku mempunyai tempat yang jauh lebih luas daripada dunia untuk meluluhkanmu, dialah mimpi-mimpiku. Di sanalah kau tidak bisa menolakku, meski dengan semua dayamu. Kau hal yang sangat penting dalam hidupku, sekarang alurku berubah karenamu, dan aku berbahagia telah menemukan kepedihan ternikmat dalam jejakku bersamamu, hati yang tak pernah bisa aku taklukkan.
Makassar, 24 Oktober 2010
Kamis, 23 September 2010
SILUET
Sayat-sayat runyam terbunuh oleh pertahanan mimpi
Setelah sekian lama terbuai dalam khayalan, ternyata membuatnya tidak begitu rumit
Sebutir pasir sanggup dia genggam menuju tekstur terlembut dan bentuk terkecil
Atom-atom pun menyerah
Inilah siluet hidup. Hal yang dikesampingkan justru lebih melesat ke depan daripada raut wajahnya. Kemudian sayat-sayat runyam itu kembali menafsirkan visual-visual buta, kali ini matanya menjadi lebih peka, tidak manja akan cahaya. Karena baginya kini, gelap justru menerangkan langkahnya.
Kau yang selama ini memandang hidup dai sisi depan hanya mendapatkan sebagian, bahkan tidak ada. Sisi samping siluet sayat-sayat runyam ini membuatmu lebih nyaman mendera kepingan kenanganmu. Tak juga istimewa, namun lebih membuatmu gesit.
Sayat-sayat runyam kini menyiluetkan dirinya, tidak menggantungkan pada wajah, pada hati, pada teori, pada kenangan, pada hal-hal yang membuatnya berbeda. Berbeda tidak perlu berlebihan, berbeda adalah peka, menelusuri semua kebijakan titik.
Maka sampailah ia di ujung jalan di mana sayat-sayat runyam akan mengkahiri siluet hidupnya. Dia tidak mengajak siapa-siapa, hanya meminta izin untuk pergi duluan, kelak kami akan menyusul.
Dedicated to my beloved brother,Almarhum Kadri Amsyar, S.S
Setelah sekian lama terbuai dalam khayalan, ternyata membuatnya tidak begitu rumit
Sebutir pasir sanggup dia genggam menuju tekstur terlembut dan bentuk terkecil
Atom-atom pun menyerah
Inilah siluet hidup. Hal yang dikesampingkan justru lebih melesat ke depan daripada raut wajahnya. Kemudian sayat-sayat runyam itu kembali menafsirkan visual-visual buta, kali ini matanya menjadi lebih peka, tidak manja akan cahaya. Karena baginya kini, gelap justru menerangkan langkahnya.
Kau yang selama ini memandang hidup dai sisi depan hanya mendapatkan sebagian, bahkan tidak ada. Sisi samping siluet sayat-sayat runyam ini membuatmu lebih nyaman mendera kepingan kenanganmu. Tak juga istimewa, namun lebih membuatmu gesit.
Sayat-sayat runyam kini menyiluetkan dirinya, tidak menggantungkan pada wajah, pada hati, pada teori, pada kenangan, pada hal-hal yang membuatnya berbeda. Berbeda tidak perlu berlebihan, berbeda adalah peka, menelusuri semua kebijakan titik.
Maka sampailah ia di ujung jalan di mana sayat-sayat runyam akan mengkahiri siluet hidupnya. Dia tidak mengajak siapa-siapa, hanya meminta izin untuk pergi duluan, kelak kami akan menyusul.
Dedicated to my beloved brother,Almarhum Kadri Amsyar, S.S
Selasa, 31 Agustus 2010
KUCING VEGETARIAN
Ketika kucing menjadi vegetarian...
Harga ikan semakin mahal, apa mungkin kucing-kucing itu menjadi vegetarian?
Hal-hal naluriah, alamiah, dan kodratri, bisakah semua itu berubah seiring modernisasi, tuntutan zaman, atau kebutuhan pasar?
Jika kucing-kucing makan sayuran, rumput, dan tumbuhan lainnya, para petani memiliki musuh baru selain babi, kambing, kuda, sapi, dan hewan-hewan lain yang sering menggerecoki kebunnya.
Imajinasi liar ketika kucing berubah menjadi vegetarian..
BiSa saja, mungkin, entah? Hanya Tuhan yang punya kuasa. Manusia yang seringkali menyalahi kodratnya, mengapa hewan tidak melakukan itu? jika tidak, berarti sekali lagi, hewan jauh lebih baik daripada manusia dalam hal mensyukuri takdir dan anugerahNya
Harga ikan semakin mahal, apa mungkin kucing-kucing itu menjadi vegetarian?
Hal-hal naluriah, alamiah, dan kodratri, bisakah semua itu berubah seiring modernisasi, tuntutan zaman, atau kebutuhan pasar?
Jika kucing-kucing makan sayuran, rumput, dan tumbuhan lainnya, para petani memiliki musuh baru selain babi, kambing, kuda, sapi, dan hewan-hewan lain yang sering menggerecoki kebunnya.
Imajinasi liar ketika kucing berubah menjadi vegetarian..
BiSa saja, mungkin, entah? Hanya Tuhan yang punya kuasa. Manusia yang seringkali menyalahi kodratnya, mengapa hewan tidak melakukan itu? jika tidak, berarti sekali lagi, hewan jauh lebih baik daripada manusia dalam hal mensyukuri takdir dan anugerahNya
Rabu, 25 Agustus 2010
Laron vs Kunang-Kunang
Jika ada kata serupa, maka analogi yang aku gambarkan adalah laron dan kunang-kunang.
Keduanya tak bisa lepas dari cahaya. Bedanya, laron hanya memburu cahaya, pergi ketika gelap mematikannya, sementara kunang-kunang, membawa cahayanya ke mana-mana.
Jika ada kata serupa, biarlah aku menjadi kunang-kunang.
Keduanya tak bisa lepas dari cahaya. Bedanya, laron hanya memburu cahaya, pergi ketika gelap mematikannya, sementara kunang-kunang, membawa cahayanya ke mana-mana.
Jika ada kata serupa, biarlah aku menjadi kunang-kunang.
Senin, 23 Agustus 2010
PULANG
Harus apa aku sekarang ini?
masih aku cari....
Sesaat setelah menyelesaikan hajatan, harus apa aku setelahnya?
Masih mencari............
Membuat perencanaan dan jadwal kegiatan
harus apa aku setelah menjalaninya...?
Pulang....
Pulang menjadi pekerjaan terakhir ketika tak ada lagi rencana kegiatan di kepala. Mungkin melepas lelah, rindu pada rumah, tuntutan tanggungjawab pada anak dan istri, sudah waktunya pulang, atau justru pulang itu ada dalam jadwal kegiatan kita...? Entah
Niat apapun yang melandasi sebuah kepulangan, hanya ada satu aksi yang ditimbulkannya, kembali ke posisi awal.
Dia: "Aku tak mau pulang."
Aku: "Kenapa?"
Dia: "Aku tak punya rumah."
Aku: "Pulang tidak mesti menuju rumah, dan pulang tak membutuhkan rumah."
Dia: "Lalu, bagaimana caranya aku pulang?"
Aku: "Hanya menuju ke tempat yang bisa membuatmu merasa di sinilah kau bermula."
Kemudian dia pulang setelah nafasnya terhenti.
Aku: "Semoga kepulanganmu menyenangkan."
Makassar, 23 Agustus 2010
Di sebuah warung kopi yang membuatku lupa bahwa aku akan pulang
masih aku cari....
Sesaat setelah menyelesaikan hajatan, harus apa aku setelahnya?
Masih mencari............
Membuat perencanaan dan jadwal kegiatan
harus apa aku setelah menjalaninya...?
Pulang....
Pulang menjadi pekerjaan terakhir ketika tak ada lagi rencana kegiatan di kepala. Mungkin melepas lelah, rindu pada rumah, tuntutan tanggungjawab pada anak dan istri, sudah waktunya pulang, atau justru pulang itu ada dalam jadwal kegiatan kita...? Entah
Niat apapun yang melandasi sebuah kepulangan, hanya ada satu aksi yang ditimbulkannya, kembali ke posisi awal.
Dia: "Aku tak mau pulang."
Aku: "Kenapa?"
Dia: "Aku tak punya rumah."
Aku: "Pulang tidak mesti menuju rumah, dan pulang tak membutuhkan rumah."
Dia: "Lalu, bagaimana caranya aku pulang?"
Aku: "Hanya menuju ke tempat yang bisa membuatmu merasa di sinilah kau bermula."
Kemudian dia pulang setelah nafasnya terhenti.
Aku: "Semoga kepulanganmu menyenangkan."
Makassar, 23 Agustus 2010
Di sebuah warung kopi yang membuatku lupa bahwa aku akan pulang
Senin, 09 Agustus 2010
Dear My Memory
Dear ,
My memory
Terkadang aku merasa hidup ketika memejamkan mata. Merespon setiap ikatan yang masuk berebutan dalam ruang memoriku. Seperti saat ini, di dalam kamar yang kusinggahi kala penat. Terhimpun beribu peluh dalam bentuk cerita-cerita. Dia bertutur seperti dongeng penyambut lelap. Merangkum semua ingatan memang mengasyikkan, walau itu menyalahi idealisme berbagi. Hal-hal absurd menjadi sebuah kelaziman nalar dan terpukau olehnya. Saat ini, jemari hanya mampu menyolok kedua bola mata agar terjaga dalam situasi terpejam. Mungkin hangat, sehangat tungku raksasa di tengah kutub. Kemudian, hari-hari baru menempatkanku juga dalam dunia baru, orang-orang baru, aktivitas baru, yang membuatku merasa jadi orang baru, bahkan lebih parahnya lagi terkesan asing, dan aku menikmati keasinganku. Suatu saat jika aku kembali membuka halaman-halaman lampau, maka aku merasa jadi orang tersisih, tanpa identitas, dan tanpa pribadi. Hanya raga yang berdiri di tengah lingkaran, jiwa entah berwisata ke mana.
Untuk ikatan-ikatan itu, aku harus meminta maaf karena merenggangkannya, karena aku merasa sesak, hingga ke lambung dan persendianku. Aku tak bisa bergerak, bahkan melangkah setapak di depanku. Ikatan-ikatan lama sudah usang, bukan dilahap masa, namun termamah oleh dinamisme pribadi. Sebuah perkembangan bukan bermaksud melupakan, hanya memberikan wadah lebih untuk visual baru.
Aku tidak perlu menanyakan apakah aku salah atau menyalahimu? Karena yang kujalani bukan sebuah kebenaran yang bertentangan dengan kesalahan, namun niat yang sudah kubangun jauh sebelum aku mengenalmu. Sekali lagi, aku tak di sampingmu, namun aku begitu fasih menyebut namamu, bukan menghafalmu, namun cukup memahamimu. Catatan-catatan ini untuk ikatan lama yang sementara kurenggangkan. Suatu saat aku akan kembali padamu meminta kau mengikatku seperti dulu.
Makassar, 9 Agustus 2010
My memory
Terkadang aku merasa hidup ketika memejamkan mata. Merespon setiap ikatan yang masuk berebutan dalam ruang memoriku. Seperti saat ini, di dalam kamar yang kusinggahi kala penat. Terhimpun beribu peluh dalam bentuk cerita-cerita. Dia bertutur seperti dongeng penyambut lelap. Merangkum semua ingatan memang mengasyikkan, walau itu menyalahi idealisme berbagi. Hal-hal absurd menjadi sebuah kelaziman nalar dan terpukau olehnya. Saat ini, jemari hanya mampu menyolok kedua bola mata agar terjaga dalam situasi terpejam. Mungkin hangat, sehangat tungku raksasa di tengah kutub. Kemudian, hari-hari baru menempatkanku juga dalam dunia baru, orang-orang baru, aktivitas baru, yang membuatku merasa jadi orang baru, bahkan lebih parahnya lagi terkesan asing, dan aku menikmati keasinganku. Suatu saat jika aku kembali membuka halaman-halaman lampau, maka aku merasa jadi orang tersisih, tanpa identitas, dan tanpa pribadi. Hanya raga yang berdiri di tengah lingkaran, jiwa entah berwisata ke mana.
Untuk ikatan-ikatan itu, aku harus meminta maaf karena merenggangkannya, karena aku merasa sesak, hingga ke lambung dan persendianku. Aku tak bisa bergerak, bahkan melangkah setapak di depanku. Ikatan-ikatan lama sudah usang, bukan dilahap masa, namun termamah oleh dinamisme pribadi. Sebuah perkembangan bukan bermaksud melupakan, hanya memberikan wadah lebih untuk visual baru.
Aku tidak perlu menanyakan apakah aku salah atau menyalahimu? Karena yang kujalani bukan sebuah kebenaran yang bertentangan dengan kesalahan, namun niat yang sudah kubangun jauh sebelum aku mengenalmu. Sekali lagi, aku tak di sampingmu, namun aku begitu fasih menyebut namamu, bukan menghafalmu, namun cukup memahamimu. Catatan-catatan ini untuk ikatan lama yang sementara kurenggangkan. Suatu saat aku akan kembali padamu meminta kau mengikatku seperti dulu.
Makassar, 9 Agustus 2010
Langganan:
Postingan (Atom)