Jumat, 07 Januari 2011

MASIH RINDU PART I

Setiap hari kita berdiri di landasan masing-masing. Kau di sana dengannnya, juga aku di sini tanpa siapa-siapa. Tenanglah, aku sudah biasa sendiri. Keheningan sudah cukup ramai bagiku. Oh, iya, kemarin aku mendengar kabar buruk tentangmu. Lagi-lagi kelakuanmu di luar kendali. Aku masih belum mengerti, mengapa dia tidak mampu membimbingmu? Hanya dua kemungkinan, kau yang keras kepala, atau dia yang terlena dengan keberhasilannya.

Hai.....aku hanya menyapamu malam ini, malam yang masih terus sama, masih dengan rindu yang terjaga, asa yang sudah musnah, dan kasih sayang yang hanya bisa ada di kepala. Aku menyapamu lewat bulan yang tampak pucat, semoga dia lihai mengantarkan pesanku kepadamu.

Kamu sedang berjibaku dengan apa saja? Aku masih menyimpan semua ludahmu, di wajah ini, itulah ciuman terhebatmu. Ludah yang berlumut, masih terasa segar untukku. Aku tahu, kau masih mengabaikanku, sampai kapan pun aku tak mengharap lebih.

Kamu baik-baik, ya...! Jadilah diri sendiri, tapi menjadi diri sendiri bukan berarti mengabaikan penilaian orang lain.

Ada satu pernyataan lagi yang sudah cukup lama aku simpan. "Jika aku bisa memilih takdir, maka salah satu takdir yang aku pilih adalah dirimu."

HABIS

Ma......aku kehabisan kata-kata untuk menulis. Sebenarnya abjad-abjad itu masih ada di sini, tapi aku enggan menggunakannya, aku malu karena lagi-lagi aku hanya bisa merangkainya menjadi namamu. Kalimat-kalimat itu hanya memalukan bila kembali menceritakanmu.

Hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku malu sebagai anak yang hanya bisa menuliskan ibunya di buku catatan.

Rabu, 05 Januari 2011

CURHAT ARTIS

"Aku ini eksis bukan terkenal."

Jika artis idolamu menyatakan ini, apa yang ada dalam pikiranmu tentangnya?

"Aku hanya ingin ada sebagai manusia, juga terus ada sebagai manusia yang menyadari dirinya sebagai manusia, bukan orang yang menunggu pengakuan orang atas keberadaannya.

Ada dan terkenal itu jauh berbeda. Aku terus ada, di setiap penglihatan, pendengaran, atau perhatianmu tak berarti menyimpan keinginan kuat agar kau mengetahui apalagi memuja keberadaanku.

Jika aku terus berada dalam bayang-bayangmu, maka ketahuilah tak ada maksud agar aku menjadi bintang ataupun bahan kekagumanmu. Aku hanya ingin menunjukkan keberadaanku sebagai manusia pada diri sendiri juga kepada yang menciptakanku.

Saat ini, lewat susunan abjad ini, aku mengakui keberadaanku sendiri, entah masih sebagai manusia, pernah sebagai manusia, atau sebatas pengharapan sebagai manusia, aku masih terlalu miskin memahaminya.

Aku masih ada, kawan. Masih dengan hati yang sama, wajah yang setiap detiknya terus menua, namun masih dengan cita-cita yang sama, menjadi manusia seutuhnya.

Tak perlu menanyakan namaku, memanggilku lewat senyuman saja sudah cukup. Karena aku tidak ingin jadi bahan pembicaraanmu, pembicaraannya, juga pembicaraan mereka. Berentilah bertepuk tangan, cukup berikan senyuman, atau kalau belum tertahan juga, cukupkan dirimu dengan ingatan bahwa kau pernah mengetahui keberadaanku."

"CURHAT ARTIS"

Senin, 03 Januari 2011

AMBIGU

Pikirkan sesuatu tentang diam. Adakah suara lantang di dalamnya? Aku diam bukan karena tidak tahu, kawan. Aku diam, karena ketika aku bersuara, akan sangat menyakitkan bagimu. Tutur kataku akan melumpuhkan kepercayaan dirimu.

Begini caraku. Bila diam itu membahasakan ambiguitas, maka kau salah memaknai ambiguitas itu. Bagiku ambigu bukan bias, suatu yang masih samar, atau inkonsistensi. Ambigu itu kaya, kawan. Dia menyimpan banyak hal yang bisa kau pelajari satu-satu.

Aku masih ambigu pada hidup, hidup juga masih ambigu kepadaku. Semua itu karena aku masih belum bisa memahami makna tunggal yang mewakili pribadiku sendiri, juga menyatukan persepsi hidup yang sangat kompleks.

Aku diam, karena takut menyakitkanmu. Aku khawatir, jika aku bersuara, aku hanya akan menawarkan jutaan atom yang belum mampu kau rangkai menjadi senyawa.

Pertemuan kita kali ini sangat berarti bagiku. Aku bisa menikmati ambiguitasmu yang payah bersembunyi. Mengapa kau malu menunjukkannya kepadaku? Aku tak butuh makna tunggalmu yang miskin, aku tak mau mendefinisikanmu dalam satu teori yang membutakan aku tentang kekayaan makna, itulah alasanku mengagungkan ambiguitas.

Aku diam,karena aku menikmati kebingunganmu. Aku bersyukur kau menjadi bingung, karena akhirnya kau bisa menaruh perhatian pada pertanyaan. Jawaban itu tidak selalu memuaskan, kawan. Tidak ada salahnya lebih menggantungkan diri pada pertanyaan, agar kau lihai mencari sesuatu, banyak suatu, yang lebih kaya.

Aku masih diam, karena aku tengah mendalami ambigu. Bila lisanku bercabang ribuan, maka pungutilah tiap serpihan ribuan itu untuk kau jadikan pertanyaan, sebagai alasanmu untuk menikmati hidup.

Jumat, 31 Desember 2010

TITIK TERPENTING WAKTU

Entah energi apa yang tersimpan dalam 1-1-2011 ini. Saya tidak merayakan kedatangannya seperti orang-orang lain. Tapi, ada kekuatan yang menggerakkan jari-jari saya untuk menulis, seolah menulis sesuatu di tanggal ini adalah momentum yang tidak bisa dilewatkan.

Apa makna di balik waktu? Apakah perjalanannya hanya penting pada titik tertentu? Kita merayakan pergantian tahun, sama saja merayakan perjalanan waktu pada titik itu. Tapi kenapa hanya pada titik itu? Kenapa hanya pada titik-titik tertentu lainnya? Kenapa perjalanan waktu, perpindahannya yang terus menerus dan tidak pernah mengalami akselerasi hanya menarik perhatian manusia pada titik-titik tertentu?

Pergantian tahun sama sekali tidak mengganti peranan waktu, juga tidak menghilangkan esensinya, apalagi menghentikan perjalanannya, kenapa mesti dirayakan?

Apakah pencapaian manusia itu bergantung pada titik-titik tertentu dari waktu itu? Ataukah waktu itu hanya penting pada titik-titik tertentu?

Jika betul seperti itu, berarti selama ini perjalanan waktu dari detik ke detik, menit, ke menit, jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, dan abad ke abad, sama sekali tidak ada artinya. Perjalanan waktu sehari-hari yang membentuk angka yang semakin besar sama sekali tidak ada artinya. "Bagaimana dengan kemarin ketika kau hanya tidur seharian, melupakan kewajiban, mengabaikan keharusan, apakah karena waktu pada titik itu tidak penting bagimu?"

"Toh, ada pencapaian yang menunggu kita di titik itu, titik yang membuat waktu istimewa dan patut untuk dirayakan."

Maka,kita menginginkan pencapaian, dan mengabaikan perjalanan menuju pencapaian itu. Seperti kita yang merayakan tahun baru, kemudian melupakan waktu-waktu yang selalu penting untuk dihargai jauh sebelumnya dan entah setelahnya.

Senin, 27 Desember 2010

KANVAS

Saat ini aku memiliki kanvas, kanvas tanpa kuas, tanpa cat, juga tanpa buah pikiran. Kanvas ini kubiarkan kosong, karena kanvas putih ini adalah lukisan terindahku untuk mengawali tahun yang baru lagi. Hampir di setiap penghujung tahun aku melukis banyak mimpi, banyak cita, banyak doa, banyak calon pencapaian, tapi semuanya belum bisa membutaku berubah.

Pergantian tahun hanyalah perjalanan biasa dari sang waktu. Hanya membubuhkan kesempatan bagi orang untuk kembali menata mimpi baru, atau memutihkan harapan lama yang sempat usang karena tak sempat terjamah. Kemudian, aku lebih menyukai menitihkan air mata di penghujung tahun, agar sekiranya, aku mengerti betul bahwa semua yang terlewati adalah kegagalanku, kegagalan karena aku masih merasa kurang hidup,kegagalan juga karena aku sudah puas dengan hidup,juga kegagalan karena aku sudah merasa lebih dari hidup.

Kanvas putih di hadapanku, membiarkannya kosong adalah pekerjaan terbaik saat ini. Agar tak ada beban di kemudian hari, agar tak ada tumpukan mimpi-mimpi yang tak mampu terbangun, agar masih ada harapan untuk kembali membiarkan putih tetap putih, dan kosong tetap kosong. Kosong bukan berati tidak berisi.

Tahun ini aku akan menutup perjalanan dengan wajah kanvas yang kubiarkan memutih, aku hanya perlu sedikit senyuman untuk mengimbangi air mataku.

Aku bukan pemimpi, aku hanya seseorang yang menginginkan sesuatu. Bagiku mimpi dan keinginan berbeda, mimpi hanya mimpi yang berbatas pada alam bawah sadar saja, aku tak ingin mengkonotasikannya, maka keinginan adalah sebuah harapan dalam diri yang aku inginkan menjadi sebuah kenyataan, atau memilihnya sebagai takdir, jika aku bisa memilih takdir.

Kanvas yang putih kubiarkan tetap putih. Saat ini sebenarnya aku tengah melukis keinginan, keinginan untuk kosong, kosong selalu seimbang, tidak dominan pada satu arah, juga satu apapun itu. Maka aku melukis keinginanku untuk seimbang, semoga waktu mendatang, aku bisa menjadi manusia yang mampu memanusiakan diriku sendiri, kemudian seperti kanvas putih yang kosong, seimbang, berbicara tentang banyak hal, dan mampu menerima banyak warna.

Aku melukis keseimbangan yang belum bisa aku dapatkan, dan semoga bisa aku dapatkan. Semoga kalian yang berkeinginan mampu menyeimbangkan keinginan itu, terlebih aku yang nyata-nyata menginginkan keseimbangan itu.

Aku tak ingin bermuluk-muluk ria, mendaftar jutaan mimpi, kemudian mengabsennya satu-satu di waktu yang sudah aku rencanakan. Terkadang rencana membuatku tidak alami.

Baiklah, aku mengakhiri lukisanku, masih dengan kanvas yang kubiarkan putih, itulah citaku, itulah keinginanku yang semoga tidak akan berubah wujud menjadi mimpi.

Selasa, 21 Desember 2010

MATAR III

Aku menghabiskannya kali ini. Aku bermaksud mengakhiri kelancanganku menuliskan banyak aksara tentangmu. Matar, aku ingin rehat sejenak, rehat dari kebisingan otakku. Untuk hari ini saja, atau untuk sedetik setelah aku berhasil mengakhirinya.

Matar.....aku masih memelihara semua obsesiku, satu per satu obsesi itu sempat usang, namun aku bisa membuatnya kembali berkilau, tak juga terlalu berkilau, karena itu bisa membuatmu silau.

Matar....pertemuan kita selalu berati buatmu, tapi memalukan bagiku, memalukan karena aku tak mampu membuuahkan apa-apa untukmu. Aku tahu kau tak peduli itu. Seperlunya saja, tidak usah berlebihan, tapi kau selalu belebihan, Matar. Meskipun begitu, harus aku akui bahwa kali ini ada satu pengecualian. Ketika orang bijak mengatkan dengan kuantitas yang banyak, "Segala yang berlebihan itu tidak baik." Saat itu terjadi pengecualian untukmu. Semua hal berlebih yang kau berikan tidak pernah menyusahkanku.

Matar...haruskah aku mengumbar identitasmu di sini? Agar semua orang tahu betapa aku mencintaimu. Kecintaanku terhadapmu sebenarnya takdir, takdir yang aku inginkan, berbeda dengan kecintaanku pada yang lain, di mana aku menyamakan semuanya sebagai takdir yang mesti aku lakoni. Kau itu berbeda, Matar.

Matar.....aku tak pernah mengetahui apa yang terdampar di balik langit, juga yang tersirat di dalam kerumunan udara. Saat ini,aku hanya ingin menjadi atom-atom yang mampu mengkuadratkan diri membangunmu menjadi sebentuk yang utuh, kau utuh, seutuh cinta dan kecintaanku. Aku sengaja membedakannya, cinta itu pemberianmu, sementara kecintaan hanya keterbatasan rasa sebagai persembahan kecilku untukmu.

Matar.....aku menitihkan air mata yang tengah mendidih, mengelupaskan bentangan kulitku. Aku membiarkannya terasa pedih sampai bumi mengabaikannya. Sekarang yang menjadi bebanku bukan lagi perkara ketakutan, melainkan perhelatan dunia yang membuatku tidak hanya meninggalkanmu,tapi juga melupakanmu. Aku masih lemah, Matar, maka itulah yang aku pikirkan.

Matar...setidaknya sampai detik ini aku masih mencintaimu, semoga keyakinanku tetap terjaga sampai aku melupakan waktu, atau sampai aku melupakan sesuatu yang senantiasa mengindikasikan.

Matar....selamat, selamat karena kaum mu menjadi idola kaum ku. Matar....kau berbeda, kau tak pernah sama, kau dinamis.

Matar....kau hujan yang kugambarkan.
Matar....terima kasih telah melahirkanku.

Chat Room Bloofers