Senin, 17 Januari 2011

HATI YANG BERBEDA

Bacalah ini, bacalah di saat mulutmu lelah berkomat kamit. Kalimat ini tidak akan menguatkan kepedihanmu, apalagi membunuhmu.

Bacalah ini, dengan sisa kemampuan yang kau miliki, bacalah di saat inderamu telah lelah menyimpan masukan. Kalimat ini, tidak akan melumpuhkanmu, apalagi membunuhmu.

Kumohon, bacalah, sampai aku lelah memaksa takdir, sampai aku masih membanggakan harapanku sendiri.

Ada satu dentuman dalam udara yang menyelinap masuk ke auraku. Dialah suaramu ketika menyalahkan angin, juga teriakanmu ketika memarahi keadaan. Seperti analogi yang menyimbolkan sesuatu, maka aku menyimbolkanmu lewat kalimat ini. Bacalah ini, karena sebentar lagi kau akan mengenal siapa dirimu.

Hatiku, hatimu, hati yang berbeda, hati yang tak pernah sama.
Hatiku, hatimu, hati yang berbeda, hati yang berjarak.
hatiku, hatimu, hati yang berbeda, hati yang berbatas.
Hatiku, hatimu, hati yang berbeda, hati yang sudah matang.
Hatiku, hatimu, hati yang berbeda, hati yang selalu kuperjuangkan.

Hati kita selalu berbeda, selalu berbeda, tak akan pernah sama, maka dengan itulah aku menyerahkan hatiku untuk kau rasakan, hatiku yang berbeda ini akan membuat hatimu merasa berbeda pula.

Hatiku, hatimu, hati yang sudah ditakdirkan berbeda, dan penyatuan terindah adalah penyatuan perbedaan.

Sabtu, 15 Januari 2011

SI BULU

"Nyo...lapar, nyo.... minta inspirasi."
Begitulah dia menuliskan kalimat di wall akun facebookku.

Kalimat yang menyentakkan semua selaput jiwa hingga berbaur dengan atom-atomnya. Di saat lambung meminta nutrisi, di saat kebutuhan sudah tidak bisa ditoleransi, ketika indera manusia mulai mengalami disfungsi, ketika dedaunan semakin layu, ketika angin enggan bergerak, juga ketika harapan berubah menjadi keharusan.

Si Bulu yang malang, entah mengapa, dari mana, dengan apa, dan semua kebingungan yang menyertai pemahaman batin, terselubung pada mulanya, kini meletuskan nanah yang bersalah pada tuannya. Bisa ku bayangkan saat ini. Di tengah lambungnya yang mulai melilit, tenggorokan yang meretak, apa lagi yang bisa dilakukan?

Seribu doa dipanjatkan, dan ketika itu pula seribu jawaban turun, tanpa menerka lagi. Si bulu yang kelaparan, menulis sebatang cokelat di dahinya. Sebatang cokelat itu terlihat lezat, sebatang cokelat lezat itu fiksi, kenyataan yang bersembunyi.

Si Bulu sahabatku. Kau membuatku malu. Setiap hari aku merasakan kelaparan, dan pada setiap itu pula aku berhasil membunuhnya hanya dengan satu cara yang membuatku menjadi manusia ragawi saji. Aku berhasil mencukupkan kebutuhanku, menjaga tenggorokanku dari keretakan, mencegah lambung melilit, namun masih belum mampu menuliskan sebatang cokelat di dahiku.

Si Bulu, temanku, kau menamparku dengan tragis. Kelaparan yang kau rasakan ternyata kelaparan yang paling dahsyat. Kelaparanmu sangat memukul keadaan, mampu memanipulasi takdir, menghentakkanku ke bawah jurang, bahkan di saat lapar pun kau lebih tinggi dariku sobat.

"Inspirasi buat apa nyo...?" Balasku di wall nya.

Kau mendiamkan jawaban untuk melanjutkan pertanyaan, kau berusaha mendewasakanku untuk tidak meminta, namun mencari, itulah yang diinginkan jawaban, begitu katamu dengan bahasa partikel udara yang berhasil aku pahami. Aku masih terlalu dangkal, aku salah, membenarkan yang salah.

Aku sudah lama membuatnya berteriak, telingaku tertutup, menangkis suaranya. Aku sudah lama membiarkannya menunggu, menunggu saat sapa di mana aku menjadi hangat baginya. Dia sedang lapar, Tuhan.

Si Bulu.......manusia yang tak mampu kudefinisikan, manusia yang saat ini membuatku malu memikirkan. Kalau saja aku bisa melahap inspirasi hingga aku merasa puas, maka aku tidak merasa serendah ini. Aku masih gagal menjadi manusia.

"Aku lapar, dan aku membutuhkan inspirasi untuk membuatku kenyang, agar aku bisa mencari jawaban, bukan meminta, itulah keinginan jawaban padamu."

Terima kasih untuk Heru Purwanto a.k.a. Hileud Blue

Salam gila, nyo!

Kamis, 13 Januari 2011

MATAR PUN BERAKHIR

Dia kembali setelah berhenti melangkah. Sikapnya masih mendiamkan paham. Dia kembali setelah belum sempat pergi.

Sorot matanya melingkar, melenyapkan sudut yang hanya bisa menjadi tempat beristirahat. Sebatang rumput liar diselipkan di telinganya. Kala itu embun masih menaburkan diri di ujung dahan, menyegarkan pandangan, suka duka berpisah.

Matar yang kering, tanpa tetesan sedikit pun, melayangkan pandangannya pada keheningan yang begitu leluasa merogoh habis kantong lisannya.

Pagi yang telah tiba menggantikan malam, malam yang kejam, kejam, sangat kejam, bahkan terlampau kejam. Malam yang membuatnya merasa gagal menjadi seorang manusia, cita-cita tertingginya.

Dia kembali sebelum sempat beranjak dari landasannya. Tumpukan koran masih merapat di kedudukannya. Pagi tanpa keramaian, di dalam kamar yang hanya mampu memuat dirinya, bersama sedikit udara. Matar yang kering terhempas di dalam khayalannya sendiri. Saat ini, dia tengah menyesali pengharapannya, juga menyalahkan kewajibannya.

"Mengapa aku harus melahirkannya, mengapa juga aku berani meminta kehadirannya?"
Tuturnya lemah. Terdengar jelas nafas yang terengah.

Matar yang kering, dia merasa gagal menjadi manusia. Matar lelah bertahan. Kali ini, masanya dianggap sebagai sisa kesempatan terakhir untuk merenungi, dan mencari alasan tentang mengapa.

Matar yang kering menitihkan air mata mendidih, mengelupas kulit-kulit lusuhnya. Di wajahnya tersimpan seribu kekecewaan, jumlah yang hanya bisa ditaksir, sementara taksiran mata dan pikiran hanya sebatas ketidaktahuan.

Selembar foto anaknya kini berada di genggamannya. Di angkatnya foto itu, disejajarkannya tepat di hadapan bola matanya yang semakin lemah.

"Kau anakku, atau justru musuhku? Kau impianku atau justru keenggananku. Mengapa aku gagal mengajarkanmu tentang kehidupan? Mengapa aku gagal membuatmu menjadi manusia? Hingga membuatku gagal pula menjadi manusia. Mengapa rahimku harus sia-sia? Mengapa semua nutrisi yang aku hibahkan padamu harus menjadi penyesalan terhebat? Mengapa aku harus menjadi ibumu?"

Matar yang terus mengering, malu menadahkan tangannya pada Tuhan, malu berdoa, bahkan masih merasa malu menundukkan kepalanya. Pagi terus berjalan, tetes-tetes embun di ujung dahan kini mulai memudar, jelas dilihatnya dari balik jendela kamarnya.

Dari arah itu pula dia melihat seorang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah dengan sepeda tua. Sang anak melingkarkan tangannya di perut ibunya. Sang ibu dengan senyum merekah terus menggoyah roda. Sementara itu, Matar hanya bisa menampilkan air matanya yang sudah mengendap.

"Mengapa aku tidak bisa seperti mereka? Mengapa...? Mengapa saat ini, aku hanya bisa mengatakan mengapa?" Tuturnya semakin lemah. Foto di hadapnnya terhempas oleh udara yang menyusup lewat jendela. Bola mata Matar mengabaikan perjalanan foto itu di udara. Dia sudah kecewa.

"Aku ibu yang tidak perlu kau akui. Aku juga ibu yang tidak pantas kau banggakan. Aku menyesali semua pemberianku kepadamu. Bukan karena aku menyalahkanmu, tapi karena aku merasa tidak pantas menjadi seorang ibu selayaknya, maka aku lebih bangga bila kau menyebut diriku sebagai ibu yang kejam."

"Seharusnya, saat ini kau berada di sampingku, merengek memintaku membuatkanmu pisang goreng cokelat kesukaanmu. Seharusnya, saat ini aku tengah mengelus dahimu, membaacakan dongeng tentang seorang ibu yang membuatmu sangat bangga memilikinya."

"Kau pergi setelah aku gagal. Dan aku kembali setelah aku belum sempat ke mana-mana. Aku akan mati, sebentar lagi. Aku ingin tak ada nisan di kuburanku, aku ingin kau lupa berziarah. Jangan membanggakanku, nak! Jangan menangisiku, nak! Aku ini hanya tumpukan sampah yang menyumbat pengairan."

"Anakku, izinkan aku memangilmu "anakku". Sebenarnya ini kesalahan bagiku, tapi aku ingin mengakhiri masaku dengan melakukan sebuah kesalahan lagi, kesalahan yang mungkin kau harapkan. Berbahagialah di sana bersama ibu yang aku titipkan untuk ayahmu. Ibu yang semoga bisa membuatmu melupakan Matar, aku."

Air mata yang mengendap itu meletus menjadi cairan kesedihan yang tak terhingga. Matar yang sudah hampir berbaur dengan tanah itu lesu, merapatkan sekujur tubuhnya di lantai. Meninggalkan pagi yang belum pergi. Matar yang malang meninggalkan kesalahannya, mencukupkan kemalangannya, mengakhiri hidupnya dengan sebotol racun yang sudah meresap di lambungnya, setelah dengan sangat menyesal mempersembahakn air susu yang tercemar virus HIV pada anaknya.

Kini anaknya terjangkit AIDS, terbaring lemah bersama ayah dan ibu tirinya, namun masih merindukan sosok Matar, ibu yang tak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun.

Hikmah :

1. Berikan yang terbaik untuk orang terkasih.
2. Penyesalan bukan perenungan terbaik.
3. Pengorbanan adalah pertanggungjawaban terindah dalam kehidupan.
4. Seberapa kejam kehidupan membuatmu benci, sorang ibu tetaplah ibu.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah Di BlogCamp

SUMPAH AKSARA

Kami, aksara-aksara yang ternoda bersumpah

Akan selalu memutihkan seruan, menampik semua kebohongan tanda, dan menyatukan titik yang terpisah, agar tidak ada lagi ketimpangan padanya.

Kami, aksara-aksara ternoda bersumpah

Senantiasa berbaju bahasa, menutupi ketelanjangan tiada, mengindahkan batas-batas serupa, dan merapikan pandangan suara, agar tidak ada lagi kesalahan padanya.

Kami, aksara-aksara yang ternoda bersumpah

Tetap setia di ujung pena, mengukir sejarah jiwa, meniupkan cinta di pembaringan udara, melucuti kepuasan demi kebutuhan dan keharusan, agar tidak ada lagi kejayaan padanya.

Kami, aksara-aksara yang teroda bersumpah

Takkan henti mendiamkan lidah, membutakan mata, dan menutup rapat telinga, agar tidak ada lagi indera yang sia-sia padanya.

Kami, aksara-aksara yang ternoda bersumpah

Mendiami tempat yang bercerita, merawat pergerakan masa, dan menutup kisah dengan semua kemenangan makna, agar tidak ada lagi penyesalan padanya.

Kami, aksara-aksara yang ternoda bersumpah

Akan mengakhiri sumpah, menyalami jamah firasat, merangkul sudut dengan erat, agar tidak ada lagi air mata yang berdarah.

DENGAN SUMPAH INI, KAMI MENYATAKAN DIRI SEBAGAI AKSARA YANG TERNODA. TELAH TERNODA OLEH KEBODOHAN JIWA, KEKALAHAN RAGA, DAN KETIDAKSEPAKATAN MEREKA MENYIMPAN, MENYUSUN, JUGA MENERKA PRIBADI DUNIA.

Selasa, 11 Januari 2011

SELAMAT ULANG TAHUN, AYAH (UNFINISHED SENTENCE)

Jam dinding menunjukkan waktu 15 menit lagi jam 00.00. Aku masih saja bingung ingin mengatakan apa, juga memberikan apa untuknya.

Sesaat kemudian aku telah sadar bahwa waktuku tinggal 10 menit lagi untuk memikirkan ini. Aku ingin mengatakan hal yang tak biasa, karena dia adalah sosok yang luar biasa bagiku.

Aku mencoba membuka semua kosakataku, tapi entah mengapa kalimat-kalimat pamungkasku mengendap dan enggan mencair.

Tinggal 5 menit lagi, dan aku masih gagal menyiapkan apa-apa. Aku sudah menggelengkan kepala.

Berikutnya aku sudah sampai pada batas waktunya, 00.01. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka menampakkan sesosok luar biasa itu, dia kemudia berujar dengan senyuman khasnya,

"Niatmu utnuk memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadaku adalah kado terindah yang pernah saya terima."

Aku malu sekaligus bangga menjadi anaknya.

Unformed Message

Dia mau ke mana?

Tok...tok...tok.....

Ada apa?
Dia bingung

Mereka tidak peduli

Menurut kami, dia itu subyektif

Dia sudah di tengah jalan

Mereka mawas diri

Menurut kami, dia itu mulai setengah obyektif

Dia sudah sampai

Mereka menyerah

Menurut kami, dia itulah jalan kita


??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

pertanyaan itu bukan tanda kebodohan, tapi simbolis keingintahuan.

Aku kemudian muncul memecah udara menjadi kepingan tak terlihat.

Absurd, kaya, dan selalu maniak akan pertanda.

Aku menyulitkan kemudahan agar tidak memandang remeh apapun dan siapapun.

Aku memudahkan kesulitan agar tidak membebani diri dengan kekhawatiran yang masih bisa siusahakan

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Command and request is different

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Selipkan jeda di setiap aktivitas lahiriah maupun batiniah.

.

(the end)

Minggu, 09 Januari 2011

MASIH RINDU PART II

Aku ini sebuah selokan. Penuh dengan air hitam, sisa-sisa pembuangan, korban keserakahan, juga penderitaan yang berlebihan. Apa kabar kau di atas sana? Masihkah kau bergejolak seperti dulu? Aku sudah lama tidak memantau dirimu. Mungkin saja kau sudah berubah. Tapi mungkin saja air-air hitam yang aku larutkan ini masih dari pembuanganmu.

Hahahahahaha......tidak apa-apa, aku justru merindukan itu. Mungkin suatu saat nanti, ketika kemungkinan sudah habis terjual, aku hanya mampu membeli ketidakmungkinan. itulah yang akan membuatku hidup.

Aku ini selokan. Memadatkan diri dengan endapan air-air hitam, terkuras habis ketika hujan mengguyur, kemudian terpisah dari reruntuhan sisa-sia pembuangan. Aku siap menuju samudera.

Masih aku simpan dengan hangat ludahmu di sini. Belum terjamah buangan yang lain. Aku rapikan bersama senyawa khusus. Aku membangunnya bertahun-tahun, hujan badai pun akan aku lawan demi menjaga ludahmu. Ludah yang masih segar.

Saat ini, aku tak peduli, seberapa kejam orang mencelamu, juga seberapa kuat dia mempertahankanmu. Aku hanya peduli pada ludahmu, ludah yang sangat gurih itu.

Kapan kau akan meludahiku lagi? Aku merindukan itu, masih merindukan itu, dan semoga takdir manggariskanku selalu merindukan itu.

Baiklah, aku selokan di depan rumahmu, menampung semua pembuanganmu, kemudian mengalirkannya ke samudera, di sanalah tempat teraman. Suatu saat, jika kau berkunjung di sana, akan tertulis separuh dari air samudera itu sebuah kalimat,

"AKU SELURUHNYA, BERSAMA SEMUA LUDAHMU AKAN MENGUAP MENJADI AWAN YANG SELALU SETIA MENAUNGIMU"

Chat Room Bloofers