Kamis, 06 September 2012

SILUET SENJA

Aku melihat sebuah siluet di kala senja. Ia tipis, datar, dimakan senja yang hanya dijatahi waktu sedikit setiap harinya. Senja tak seperti pagi yang cerah. Tak seperti siang yang garang. Tak seperti malam yang punya bulan.

Bagiku senja seperti waktu, mungkin duduk menyaksikan matahari menghilang dari pandangan. Merenungi berjam-jam seharian, apakah ia bermanfaat atau hanya menyaksikan perjalanan waktu belaka.

Hari ini, semua terlihat sama. Hiruk-pikuk, tegur sapa, tanya jawab, memesan dan menerima. Senja mencukupkan ruang bagiku untuk duduk, tak perlu di tepi pantai, cukup di teras rumah yang biasa-biasa saja tanpa teh, susu, kopi, tanpa minuman lain. Membiarkan semuanya lewat, sedang diri ini hanya terpaku, cukuplah aliran darah, detak jantung dan hela nafas yang berbicara.

Senja mencukupkan waktu bagiku untuk melihat ke belakang sembari bersiap menanti perjalanan setelahnya. Mungkin lelap, mungkin lelah, mungkin akan insomnia, atau mungkin akan kembali sibuk. Tak apa.

Bukan jeda, karena sudah terlalu banyak jeda sepanjang hari ini. Jeda ke kamar mandi, jeda ke luar ruangan untuk batuk, jeda makan siang, jeda untuk mengecek jejarig sosial. Bagiku senja lebih tepat sebagai waktu tersendiri untuk menyibukkan diri menganga. Betapa peralihan yang sangat lembut ada pada senja.

Lalu mengapa kau menaruh siluetmu pada senja?

Tentu kau tak mau menjawab. Biarkan aku menjawabnya, meski itu belum tentu benar. Siluet yang selalu berwarna gelap adalah kesiapanmu menjamu malam. Kau merangkum secara keseluruhan perjalananmu sedari pagi. Lalu, siapkah kau menjamu malam dengan perjalananmu sedari pagi?

Malam tak pernah menuntut jamuan apa-apa. Hanya saja, misteri tak terduga akan terkuak di kala malam. Bagaimana kita menjadi pujangga seketika, melakukan pertemuan-pertemuan penting, menyanjung bulan dan bintang, menyebut "galau" sebagai kata yang sangat sastrawi, seolah-olah kesedihan adalah satu-satunya yang dimiliki kesusastraan.

Mungkin kita harus siap menjamu malam, agar ia tak berpikir dua kali mengungkap rahasia mengapa malam selalu menjadi milik kita yang setia memandangi langit, menjadikan langit sebagai tempat pertemuan rindu, menjadikan rindu semakin menggebu-gebu, dan menjadikan puisi begitu sibuk berdeklamasi saat itu.

Dan...

Siluet senja adalah keseluruhan waktumu sedari pagi yang begitu siap menyambut kedatangan malam. Membuat kejadian-kejadian tadi menjadi cerita beragam di waktu malam, untuk dibagi, untuk ditertawakan, untuk ditangisi, untuk dikatakan rahasia dengan pernyataan, "maaf ini rahasia", untuk menunggu doa-doa yang begitu kreatif diamini banyak orang.

Atau....

Untuk menunggu Tuhan begitu indah disebutkan.

Dedicated to Teh Bonit

Selasa, 28 Agustus 2012

PERKARA GADIS HUJAN


Mengapa hujan begitu menarik buatmu? Tanyaku padadamu. Atau bisa juga tanyaku pada hati, karena hatiku dan dirimu tak mudah kubedakan. Kemudian kau diam. Bagiku diam adalah jawaban yang paling tepat. Dengan begitu, ketertarikanmu pada hujan tidak ada dalam abjad, juga tak pantas untuk lisan.

Mengapa terperangkap oleh hujan selalu romantis bagimu? Tanyaku padamu. Atau bisa juga tanyaku pada beberapa memori, karena beberapa memoriku dan dirimu sulit kubedakan. Kemudian kau tersenyum. Bagiku senyuman adalah jawaban yang tepat. Dengan begitu raut ketertarikanmu pada hujan tidak dijumpai pada kesedihan.

Mengapa dirimu dan hujan sulit kubedakan? Tanyaku padamu. Atau bisa juga tanyaku pada akselerasi, akselerasi dan dirimu sulit kubedakan. Kemudian kau tertawa. Bagiku tawa adalah jawaban yang tepat. Dengan begitu, dirimu dan hujan adalah kelucuan yang luar biasa.

Pertanyaanku habis, kemudian kau diam. Bagiku diam adalah jawaban. Tapi mengapa kau menjawab sementara pertanyaanku tiada? Rupanya, kau adalah jawaban pada apa yang belum sempat dipertanyakan tentang hujan, tentang kekhasan, tentang menyukai sesuatu, kemudian memaknainya, boleh lewat kisah.

Tentang Matar, kau berbeda. Meski satu makna, fungsimu tak sama. Matar menyegarkan, kau meneduhkan.

Namun, melalui Matar aku memaknai hujan sebagai surat-surat kehidupan, olehmu hujan adalah sesuatu yang layak menjadi teman. Olehmu, hujan tak selalu memberi bencana, bukan perihal romantisme, bukan juga keindahan, terbukti, hanya 3 jawaban pasti darinya, diam, senyum, dan tawa. Meski menyenangkan ketiganya lebih dari sekedar menyanjung keindahan.

Lalu untuk apa aku menuliskanmu?

Untuk menandai bahwa, sepeninggal Matar, masih ada hujan yang layak aku jadikan teman. Bahwa di antara titik hujan yang jatuh, entah oleh gravitasi, entah oleh kemauannya sendiri, entah demi apa Tuhan merencanakan itu, hujan bukan melulu basah.

Kemudian mereka bertanya: "Ketika hujan turun terus menerus, apa yang kau rasakan?"
Sudah kuperkirakan bahwa mereka merujuk pada bencana. Maka dengan bangga kujawab: "Hujan yang terus menerus, bagiku adalah kesegaran yang juga terus menerus jika itu Matar, dan keteduhan yang terus menerus, jika itu dirimu.

Kemudian mereka bertanya lagi: "Bukankah sesuatu yang berlebihan itu tidak baik?" Dengan sangat bangga aku menjawab: "Bagimu, namun aku terbiasa menabungnya, hingga ia selalu cukup pada saat kekeringan melanda."

Dedicated to Nick Salsabila a.k.a. A Rainy Girl

Rabu, 22 Agustus 2012

GRAVITASI


Gravitasi menuntutmu untuk selalu merapat dengan bumi. Mungkin kamu bisa membahasakannya dengan “membumi”. Ketika kau terjatuh dari jurang yang sangat curam maka kau akan terjatuh di bumi, di pelataran bumi, bukan di langit, bukan sempoyongan di awan, atau melayang di antara bumi dan langit. Gravitasi mengakrabkan kita dengan bumi.

Suatu hari aku lari-lari kecil di pagi yang segar. Olahraga sudah sangat jarang kulakukan, mungkin dengan menyediakan waktu di akhir pekan ini, berolahraga bisa menjadi pilihan yang tepat. Playlist di MP3 player sudah diatur dengan baik.

Aku mulai berlari, melangkahkan kaki dengan kecepatan yang lebih dari sekedar berjalan. Begitu aku membahasakan lari. Kita akan terus melangkah, harus melangkah, bahkan diam pun sebenarnya merupakan aktivitas melangkah, melangkah dari detik satu ke detik berikutnya, sementara itu akan ada aktivitas rutin yang mengiringi langkah manusia. Aktivitas rutin yang manusiawi tidak melangkah, mungkin statis, tapi ia akan selalu baru, karena apa? Karena waktu itu selalu dinamis.

Jogging track di Taman Macan, kota Makassar. Kota besar harusnya banyak memiliki area seperti ini, karena sejujurnya kebisingan itu akan netral dengan area-area yang segar. Aku terus berlari dengan kecepatan kosntan, bukan hanya aku, ada banyak yang melakukan hal sama denganku. Ada juga ibu-ibu dan bapak-bapak lansia senam di pinggir area Taman Macan ini, instrukturnya terlihat begitu semangat memperagakan beberapa gerakan-gerakan senam yang diiringi music house.
Aku masih berlari, kali ini kecepatan lariku bertambah, aku melakukan percepatan. Sampai saat aku mulai lelah, aku hanya mampu berjalan mengitari jogging track sekali kemudian berhenti meneguk air putih yang sudah kubawa dari rumah. Nikmatnya. Aku baru saja tersadar, kaum kota yang diperbudak oleh kesibukan setiap harinya akan merasa senang menghirup udara segar yang bertebaran dari pohon-pohon yang rindang, jauh dari kebisingan hiruk pikuk, setidaknya untuk sekali seminggu. Sementara itu, kaum desa tidak demikian, mereka akan sangat menginginkan laju kendaraan yang padat, cafe-cafe, gedung-gedung yang tinggi, baliho-baliho yang berdiri di pinggir-pinggir jalan.

Ternyata manusia akan merasakan hal yang rutin itu sangatlah biasa, dan di waktu sengganggnya ia merindukan hal-hal yang istimewa, hal yang tidak pernah dijumpai di rutinitasnya. Kita adalah makhluk yang tidak pernah bersyukur, selalu menampung begitu banyak keinginan di kepala. Ketika musim kemarau datang, gersang, kering, tandus, panas, maka kita akan merindukan air hujan. Hujanlah…………hujanlah…….hujanlah sederas-derasnya. Kemudian Tuhan menjawab doa kita. Musim hujan pun datang, dingin, angin, basah. Kemudian kita kembali merinduka terik matahari. Tuhan bisa saja menjawab semua keinginan kita, tapi apakah semua manusia memiliki keinginan yang sama di waktu yang sama? Jika Tuhan memenuhi keinginan seseorang di suatu waktu, kemudian orang lain menginginkan berbeda, makan bumi akan kebingungan aksi apa yang harus ia tunjukkan, kita akan saling membunuh, kita akan saling memaki, kita akan saling tak percaya, penuh iri dengki, dendam, benci.

“Matar…..aku ingin terbang. Belikan aku sayap. Aku kan capek jalan.”
“Di dunia ini tak satu pun yang menjual sayap, nak. Kalau kamu mau terbang belajar yang giat, maka suatu saat kau akan tahu bagaimana caranya untuk terbang.”
Kemudian aku di 25 tahun yang lalu itu menjadi sangat bersemangat. Aku jadi rajin belajar, mengarjakan PR, mengulang kembali pelajaran di rumah, mengurangi waktu untuk main, dan nonton TV, demi satu keinginan, terbang, jauh dari bumi.
Sekarang aku sudah dewasa, aku sudah membaca begitu banyak buku. Ternyata aku tak bisa membuat sayap. Manusia hanya bisa terbang dengan pesawat atau alat bantu, tapi tak bisa sebebas burung-burung terbang, betul betul berada di ruang antara baumi dan langit, melayang, di tengah-tengah.

Aku tertawa kecil mengingat momen-momen itu. Saat ini, ketika aku beristirahat, duduk meneguk air, kemudian menengadah ke langit, aku mempertanyakan satu hal. Apakah manusia yang ingin terbang itu merasa jenuh dengan bumi? Tidakkah hukum gravitasi bekerja? Mengapa gravitasi tidak menarik manusia-manusia yang tengah terbang itu? Apakah bumi jenuh menampungnya, atau mereka itu terlalu berat, maka bumi mematikan energi gravitasinya?

Atau seperti ini? Mengapa bumi harus memiliki gaya gravitasi?

Suatu hari aku berjalan di tengah hutan mencari jalan menuju perkampungan terdekat, aku tersesat. Di tengah pencarianku segerombolan harimau datang dan mengejarku, aku berlari sekuat tenaga, berlari sekencang-kencangnya, sejauh-jauhnya, dan aku tak peduli rintangan apapun, termasuk jurang yang curam di depanku, aku terjatuh dan aku mati merapat ke bumi. Ketika awan yang memiliki gaya gravitasi, mungkin aku akan terjatuh di awan, bukankah itu lebih empuk?

Atau begini saja, bukan hanya bumi yang memiliki gaya gravitasi, tapi awan dan langit juga. Jadi di bumi ada 3 tombol. Tombol pertama untuk tombol mengaktifkan gaya gravitasi bumi, kedua untuk mengaktifkan gaya gravitasi awan, ketiga tombol untuk mengaktifkan gaya gravitasi langit. Ketiga jenis tombol itu ada di mana-mana, tersebar di seluruh penjuru bumi. Untuk mengantisipasi tabrakan keinginan manusia, maka manusia dibekali dengan alat yang ketika ia menekan salah satu tombol gravitasi hanya ia yang akan merasakan efeknya, jadi ketika ia menekan tombol, orang lain yang tak ingin beralih dari bumi tidak akan ikut berpijak di awan atau di langit.
Hahahaha…..ada-ada saja. Tapi dengan keberadaan tombol gravitasi itu, keinginan manusai untuk terbang juga masih ada, karena ruang di tengah masih kosong, dan ruang yang kosong itu tidak memiliki sesuatu yang padat untuk dipijak. Tapi apakah awan kuat menahan beban manusia? Apakah tekstur langit itu sekuat bumi? Apakah di awan ada aspal, ada rumput, ada tanah becek? Apakah di langit ada jogging track?

Gravitasi membuatku merapat dengan bumi, membumi, membuat kakiku sangat akrab dengannya, membuat rumput, padang ilalang, buah-buahan, sayur mayur, bunga-bunga akhirnya tumbuh di bumi, bukan di awan, bukan di langit. Kau tahu, Diandra, gravitasi pula yang mempertemukan kita, ia juga membuat kita terpisah. Tapi karena gravitasi pula kita masih sama-sama berada di bumi ini, maka sebelum kau mati, aku tak perlu khawatir kau berada di luar angkasa, berada di negeri antah berantah, atau berada di ruang hampa udara. Karena gravitasi, kakiku lekat ke bumi, dan energinya mengalir menuju kakimu yang lekat juga. Karena gravitasi kita mudah bertemu, juga mudah berpisah, namun tenanglah, kita berada di bumi yang sama.
Oh, iya, karena gravitasi maka bentuk bumi yang bulat mampu mempertahankan segala hal yang berdiri di atasnya, laut tidak tumpah, gunung tidak berguguran, manusia tak berjatuhan ke lubang hitam.

Ah, aku ingin pulang, aku berharap ketika pulang, gaya gravitasi masih berlaku, dan aku masih menemukan rumahku berdiri kokoh. Aku melangkah menuju rumah tanpa harus terbang, ada gravitasi yang membumikanku.

Untuk gravitasi
Apakah kau takut manusia meninggalkan bumi?
Apakah kau ingin manusia tetap di sini, agar bumi tetap ramai, tanpa harus hijrah ke planet Mars, toh bumi menyediakan semuanya, semua yang dibutuhkan dan diinginkan, hanya saja manusia melairkan keinginannya dan mengabaikan kebutuhannya.
Hari ini, aku menggunakanmu untuk berlari, untuk duduk, untuk merasakan tekstur tanah, untuk melihat bunga-bunga tumbuh tidak dalam posisi terbalik.
Terima kasih, gravitasi untuk semua kerja kerasmu yang tak pernah mati. Terima kasih Tuhan, kau menghadirkan gravitasi.
Surat itu pun kuakhiri, kusimpan dalam amplop merah, kemudian menguburkannya, ia juga perlu membumi. Kemudian aku kembali memasak. Hari ini mau makan apa, ya? Semoga tak ada satupun manusia yang berhasrat menyantap gravitasi.

Minggu, 12 Agustus 2012

PERIHAL KITA BERTEMU


Hampir semua mengatakan begini, "pertemuan adalah awal dari perpisahan", atau ini, "ada pertemuan pasti ada perpisahan".

Saat itu aku lupa, saat, situasi, kondisi udara, cuaca, dan pukul berapa. Satu hal yang aku ingat adalah kita bertemu, bertatap wajah. Beruntung aku lupa, karena aku tak ingin pertemuan itu menyempit oleh waktu dan suasana. Biarlah ia tak teringat, agar ia luas, dan kita bebas mengatakan kapan.

Lalu, ketika kita bebas menentukan kapan kita bertemu, harusnya kita bebas menentukan kapan kita berpisah. Atau kita bebas menentukan apakah kita ingin berpisah atau tidak. Tapi Tuhan Maha Tahu, ia tahu dengan sangat jelas dan paling dalam kapan kita bertemu. Dia bebas menentukan kapan kita berpisah, atau bebas menentukan apakah kita akan berpisah atau tidak.

Kematian, adalah perpisahan yang mutlak. Namun, terlepas dari itu, mari kita berbicara pertemuan tanpa kematian. Toh, tak ada yang bisa menjamin selepas mati, wajah kita tak lagi berhadapan.

Saat ini, aku tentu tidak lupa, pukul 01.40. Mereka menyebutnya dini hari, terlalu dini untuk berbentuk hari. Aku masih lupa kapan kita bertemu. Aku juga lupa berapa lama kita bersama-sama.
Ah, aku lupa, aku tidak tahu kau sudah mati atau belum.

Dengan begitu, tanpa perlu menguras pikiran, perihal kita bertemu itu biasa saja. Yang luar biasa adalah ketika kita tak berusaha mengingat kapan kita bertemu dan kapan kita (akan) berpisah.

Perihal kita bertemu bukan melulu soal waktu. Saat ini, aku ingin menawarkan padamu untuk mengingat apa yang kita lakukan selama bertemu.

Kecuali aku, yang masih menganggap ini sebagai pertemuan, karena aku masih mengingatmu

Sabtu, 11 Agustus 2012

RUMAH DAN IBU


Keluarlah.....
Keluarlah, cari kehidupanmu, cari yang lebih baik.

Tapi jangan lupa pulang ya! Karena di luar itu nikmat, tapi rumah masih tetap nyaman.

Keluarlah.....
Barangkali kau mau jadi kekasihnya, status yang kau incar sedari dulu

Tapi jangan lupa kembali ya! Karena status yang luar biasa adalah menjadi anaknya, ibumu

Kamis, 19 Juli 2012

THE LAW OF CREATION


“Hukum Kreasi” menyatakan bahwa semua kreasi manusia berawal dari dua proses, mental dan fisik

Lanjut ia menyatakan bahwa kreasi mental yang akan memulai kreasi fisik, semua terencana.

Maaf, aku mengagumi teori itu, dan aku mengakui kebenarannya, namun sialnya, aku benci merencanakanmu
Dini hari, ketika beberapa orang tertidur pulas, dan semua orang dalam rumahku pun begitu kecuali aku.

Sekian lamanya aku mengagumi teori ini untuk bertemu pada titik temu kau membuatku menghianatinya

Akan kuurai. Jika esok aku akan bangun, minum kopi dan membaca tulisan ini, sebenarnya sekarang aku tengah melakukannya, dan sebelumnya aku membayangkannya, aku merencanakannya.

Namun ada satu yang kau tak mampu membuatku menghianatinya, Tuhan merencanakan pertemuan kita. Eh, bukan pertemuan kita, momentum di mana pandanganku menangkapmu ketika kau tidak tahu aku tengah menatapmu, bahkan mungkin tak peduli aku memperhatikanmu, meski pada saat itu, kau di seberang jalan dan begitu banyak tubuh yang berlalu lalang. Tapi, di antara tubuh-tubuh yang berkeliaran itu, ada celah, di mana udara sangat lapang, dan mataku terasa lapang pula, aku mengintipmu di celah orang – orang yang terus berlalu lalang.

Ya…itu rencana Tuhan, dan aku sama sekali tidak pernah merencanakannya, atau dalam hal ini “Hukum Kreasi” itu tidak bekerja. Tak ada kreasi mental sebelum kreasi fisik ku bekerja, menatapmu, lewat celah orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku, di hadapanmu juga.
Saat itu aku tidak beranjak sama sekali, menikmati tatapanku yang tertuju padamu, meski kerap kali aku kesal, karena selalu ada orang yang menghalangi pandanganku, orang yang bergantian berlalu lalang.
Setelahnya, aku kembali berbahagia, ada celah di mana mataku menangkapmu, objek yang tertangkap indera penglihatanku.

Aku belum juga beranjak, sampai saat aku terlalu menikmatinya, tubuh orang-orang yang berlalu lalang itu hanya kulit transparan, dan aku jelas melihatmu dari sini. Kau pun tak beranjak.
Waktu itu aku menebak kau sedang menunggu. Aku menebak dengan sangat yakin, raut wajahmu, gerak kepalamu yang menoleh kanan kiri, sesekali menatap jam tangan, kemudian menoleh kiri dan kanan, kemudian melihat jam tangan lagi, dengan mimik risau. Aku benci menunggu, sebenarnya. Namun aku senang melihatmu menunggu. Aku benci kau risau menunggu, namun aku takut ada yang menjemputmu, dan kulit-kulit transparan tadi kembali menjadi tulang berbalut daging yang tebal.

Kemudian kau semakin risau, aneh, aku semakin girang. Kemudian gerak menoleh kiri dan kanan dan jam tangan menjadi sangat cepat peralihannya. Sayang, wajahmu sudah tertangkap dengan baik, seperti fokus kamera DSLR tercanggih. Saat ini, mataku adalah kamera canggih itu, dan aku fotografer yang sangat beruntung, lalu kau model yang tak sadar, mungkinkah kau beruntung sepertiku? Aku harap iya, saat itu.

Malam semakin larut, kau lelah, kemudian duduk di bangku taman yang tak berada di taman, di tepi jalan, kau semakin lelah, kau menunduk, tapi sayang, wajahmu sudah kutangkap, aku bahkan fasih menjelaskan detail wajahmu. Jika saat itu ada kuis dadakan yang meminta aku menjelaskan detail wajah seseorang yang baru pertama kali kulihat, akulah pemenangnya. Bentuk oval, kulit putih, rambut sebahu, hidung mancung, bibir tipis, tahi lalat di dagu kanan bawah, lesung pipi kecil, itu wajahmu. Itu secara detailnya. Jika pembawa acara kuis itu memintaku menjelaskanmu secara garis besar, aku hanya punya satu kata, cantik.

Malam kian larut, jalanan sepi, hanya dua tiga tubuh yang menghalangi pandanganku saat itu, kau seperti ingin menyerah, aku yang risau kali ini, risau kau betul-betul menyerah dan pergi.
Kali ini, jalanan sangat sepi, meninggalkan kita berdua, mungkinkah jalanan ini mengaplikasikan “Hukum Kreasi” tadi? Ia mengimajinasikan jalanan kosong dan hanya kita berdua di tepi jalan yang berbeda, kemudian waktu yang tepat, ia melakukan kreasi fisiknya. Oh, tidak, ini jelas kreasi Tuhan.

Malam kini betul-betul hening, dan aku masih belum beranjak, berdiri. Kau tidak sadar juga sedari tadi aku berdiri di sini. Apakah di pandanganmu ada tubuh yang menghalangi pandanganmu kepadaku? Ku rasa tidak.
Kemudian malam semakin hening, kau pergi, kau menyerah, yang kau tunggu tidak datang. Siapapun ia, aku kesal padanya karena telah membuatmu kesal menunggu tanpa hasil. Di saat yang bersamaan pula aku ingin berterima kasih padanya karena tidak datang, sehingga aku bisa menatapmu sampai selarut ini. Dia orang menyebalkan yang sangat baik, untukku.

Hei, aku sadar, baru saja sadar, kau pergi. Jika saat ini jalanan kembali ramai oleh tubuh-tubuh yang berlalu lalang, aku tak kesal, karena ia sama sekali tidak menghalangi pandanganku lagi, tak ada dirimu lagi. Namamu siapa? Kau sudah punya pacar, atau sudah menikah? Kau mau ke mana? Akan kuantarkan kau ke mana saja kau mau.

Pertanyaan-pertanyaa itu sudah tidak berguna lagi.
Saat ini, aku memikirkan pikiran penemu “Hukum Kreasi”. Kreasi manusia berasal dari dua proses, kreasi mental dan kreasi fisik, di mana kreasi fisik akan ada jika didahului kreasi mental.

Jika aku membuat kreasi mental untuk mendatangimu, menuju tepi jalan di mana kau sedang menunggu, mungkin saja kreasi fisikku akan bekerja, berjalan, menerobos celah orang-orang yang berlalu lalang, ke dekatmu, maka pertanyaan-pertanyaan tadi akan berguna, saat itu, bukan saat ini.
Camba, 11 Juli 2012

Selasa, 10 Juli 2012

ASAS KEHARUSAN DAN KEINGINAN


Dunia berubah,hanya aku dan dia, akankah aku mencintainya? Atau lebih tepatnya haruskah aku mencintainya? Atau nomina apakah tuntutan atau keinginan?

Tuhan tetap ada, peraturan berubah, aku harus menuruti keinginan, dan mengabaikan keharusan. Aku meninggalkannya, seorang diri, oh tidak, masih ada aku, hanya saja di belahan bumi lain. Dunia berubah, semuanya datar, tak ada gundukan, teksturnya pun samar, aku ingin bertahan, dan pada saat yang sama aku harus jenuh, tuntuan dan keinginan.

Kali ini aku telah sampai di belahan bumi lain, aku tak tahu dia tepatnya di mana, atau mungkin saja dia sudah mati. Aku lelah, penat menelusuri datar, hambar tanpa hambatan, jenuh tanpa kesemrawutan, gundukan, duduklah aku, atau lebih tepatnya melantai, tak ada gundukan.

Aku kemudian memikirkan, perkara ingin dan harus terlalu dini untuk dibedakan. Tuhan membuat peraturan untukku, untuknya juga. Aku harus menuruti keinginanku, dan mengabaikah apa yang harus dan semestinya. Jauh ku kembali pada akar, pada tempat sebelum aku memikirkan ini. Pastinya, hanya dia wanita di dunia ini, aku harus bertahan, jauh dalam hatiku tak sedikitpun terbersit untuk mencintainya, sementara asas keharusan menuntut, dialah satu-satunya, logika menyerang, aturan mengekang.

Satu jam, aku membuat kesimpulan tetap menaati aturan Tuhan, menuruti keinginan, dan aku tak ingin mencintainya, selesai.

Kemudian aku kembali berjalan, berjalan ke mana saja, di bumi datar ini tak perlu melibatkan arah, ketika sudah sampai di tepi dan tak ada lagi lantai, saatnyalah aku mati.

Aku lelah, kembali melantai, selama sejam memikirkan perkara keinginan dan keharusan, kemudian menarik sebuah kesimpulan, aku harus mencintainya, aku tak punya pilihan, dan aturan Tuhan hanyalah ujian, saatnya aku melewatinya. Aku kembali, mencarinya, namun saat ini, di bumi datar ini arah sama sekali tak terlibat, ke mana? Harus ke mana? Ingin ke mana?

Kugunakan sejam lagi memikirkan ini, perkara yang teramat pelik. Tuhan bilang aku harus menuruti keinginanku, dan dunia bilang aku harus mencintainya, aku bilang aku tidak ingin mencintainya, maka aku kembali di tengah.

Dari sini, segala sudut bisa dipandang, meski aku tak menemukan sudut, setidaknya titik-titik yang aku buat sendiri akan menjadi sudut, ketika mataku memicing, dan aku menyempitkan pandangan, ada sudut yang tak terjamah, di sanalah aku rehat memikirkan dan menarik kesimpulan.

"Aku ingin menjalani keharusan, aku tak memilih, maka aku ingin harus mencintainya"

Ini bukan keharusan, ini keinginan, ketika aku merasa ingin untuk harus mencintainya, mungkin saja dia salah satu takdirku.

Dunia berubah, Tuhan membuat peraturan baru. Adam mencintai Hawa bukan karena Hawa lah satu-satunya wanita di dunia kala itu, jika saja Tuhan menciptakan wanita lain selain Hawa, mungkin saja aku, dia, dan manusia sebelum dunia ini berubah tak akan pernah ada.

Aku kembali, ia tak ada, Tuhan bilang ia sudah mati. Oh, aku seorang diri, tidak, aku kehilangan dia. Tuhan bilang usiaku 50.000 tahun lagi. Lantas aku bilang pada Tuhan, "Jika kau berencana menciptakan wanita satu lagi, ciptakanlah dia, karena saat ini aku sangat ingin mencintainya."

Chat Room Bloofers