Selamat.........selamat apa saja. Yang penting dirimu selamat. Sudah lama, masih belum lama. Sudah basi, masih cukup segar. Sudah binal, masih cukup ramah. Sudah diam, masih cukup ribut. Sudah garang, masih cukup tenang. Sudah keluar, masih bersembunyi. Sudah menyerah, masih berjuang. Sudah sampai mana? Masih di awal, bahkan ke luar jalur. Sudah makan? masih kenyang. Sudahlah..............................
Sudah karam, masih mengapung, sudah nyata, masih abstrak, sudahlah....lanjutkan!
baiklah....
Sudah geram? masih sabar, sudah kabur? masih bertahan. Sudah menarik? masih datar. Datar itu sulit untuk diindahkan,tapi terlalu indah untuk sekedar didatarkan. Sudah apalagi?
Masih banyak sudah, masih banyak "masih". Untuk apa menyudahi kalau masih memiliki "masih"? Itu memaksakan kehendak batin, jangan sampai konflik megah itu terjadi, konflik antara raga dan jiwamu.
Sudah berakhir, masih ada waktu. Tinggal sedetik, sedetik itu pun waktu. Ketika raga memutuskan bahwa semuanya sudah, telah, mungkin berkahir, batin justru memberontak bahwa masih, masih bisa, masih mampu, masih, masih belum selesai, ini bukan akhir, vakum bukan berhenti selesai.
Sudah menemukanku? masih mencari, karena kau akan terus mencari sampai menemukan apa yang kau ingin temukan. Ini hanya tulisan semrawut, tulisan sederhana antara sudah dan masih. Ketika lidahmu mengatakan sudah, semoga kata batin masih berujar "masih". Masih ada waktu, masih bia berdiri, masih mengalami proses, semuanya masih, jadi tidak ada alasan untuk mengkahiri.
Sudah pasti? Masih sebatas kemungkinan. Bukan sebuah ketidakpastian atau kesesatan, tapi semua masih mungkin untuk berubah, untuk mengawali kembali, untuk merajut kembali, menyambung ikatan yang putus, melayarkan diri setelah menepi, merogoh setelah menyipannya, mengurai setelah menyusunnya, menggali kembali setelah memendamnya, meliuk-liuk di air, seperti ikan yang menerjang mata kail di permukaan, menyisakan tanda koma untuk sebuah kemungkinan bahwa masih akan berlanjut.
Sudah lelah? Masih akan berlanjut, hanya butuh rehat sejenak.
Senin, 28 Februari 2011
Kamis, 24 Februari 2011
SIMBIOSIS (WE ARE THE FANS)
A : Dia
F : Saya
A :Mungkin kita harus bersua
F :Wah...saya merasa terhormat mendapat undangan dari abang
Semoga saya sempat dan tidak malu ketemu abang
A :Harusnya saya yang malu
F :Bagaimana bisa, bang? saya ini penggemar abang
A :Saya juga menggemari Anda
F :Hahahaha...saya tidak punya sesuatu untuk dikagumi.
A :Mari kita saling mengagumi. Batu saja menarik,apalagi manusia
Oh ya.....? Kita menarik? sama-sama menarik seperti dua kutub magnet saja. Manusia itu unik, semua kalangan, semua jenis, dan semua manusia. Mereka saling mencukupkan, kelengkapan itulah bekal rahasia Tuhan yang kita abaikan. Semusim berdiri di bawah pohon besar belum tentu melelahkan andai saja di pohon itu banyak buah, andai saja pohon itu ditanamnya sendiri, andai saja pohon itulah obsesi keduniaannya.
Semua berhak menginginkan, semua berhak membutuhkan. Tidak ada yang awam, semuanya sama,tidak ada raja dan rakyat, semua mencari kehidupan. Bila aku mengagumimu, aku bahkan tidak tahu bahwa Tuhan merencanakan suatu saat nanti kau akan mengagumiku pula.
Simbiosis yang belum aku ketahui. Kitalah penggemar satu sama lain, andai saja kita memandang manusia tidak dari wajahnya, mungkin pertama dari punggungnya kemudian berlanjut ke kakinya, terakhir di kepalanya. Siapa tahu akan ada kejutan melebihi ekspektasi subyektifitas kita.
"Semua manusia menarik. Jangankan manusia, batu saja menarik", begitu katanya.
Terinspirasi dari chatting bersama bang Asdar Muis, seniman, sastrawan, budayawan, penulis esai, dan masih banyak lagi kemampuan yang dia punya, teramsuk low profilenya.....
makasih bang
Mari saling mengagumi membentuk ikatan simbiosis rahasia yang alamiah. Kitalah penggemar itu.
F : Saya
A :Mungkin kita harus bersua
F :Wah...saya merasa terhormat mendapat undangan dari abang
Semoga saya sempat dan tidak malu ketemu abang
A :Harusnya saya yang malu
F :Bagaimana bisa, bang? saya ini penggemar abang
A :Saya juga menggemari Anda
F :Hahahaha...saya tidak punya sesuatu untuk dikagumi.
A :Mari kita saling mengagumi. Batu saja menarik,apalagi manusia
Oh ya.....? Kita menarik? sama-sama menarik seperti dua kutub magnet saja. Manusia itu unik, semua kalangan, semua jenis, dan semua manusia. Mereka saling mencukupkan, kelengkapan itulah bekal rahasia Tuhan yang kita abaikan. Semusim berdiri di bawah pohon besar belum tentu melelahkan andai saja di pohon itu banyak buah, andai saja pohon itu ditanamnya sendiri, andai saja pohon itulah obsesi keduniaannya.
Semua berhak menginginkan, semua berhak membutuhkan. Tidak ada yang awam, semuanya sama,tidak ada raja dan rakyat, semua mencari kehidupan. Bila aku mengagumimu, aku bahkan tidak tahu bahwa Tuhan merencanakan suatu saat nanti kau akan mengagumiku pula.
Simbiosis yang belum aku ketahui. Kitalah penggemar satu sama lain, andai saja kita memandang manusia tidak dari wajahnya, mungkin pertama dari punggungnya kemudian berlanjut ke kakinya, terakhir di kepalanya. Siapa tahu akan ada kejutan melebihi ekspektasi subyektifitas kita.
"Semua manusia menarik. Jangankan manusia, batu saja menarik", begitu katanya.
Terinspirasi dari chatting bersama bang Asdar Muis, seniman, sastrawan, budayawan, penulis esai, dan masih banyak lagi kemampuan yang dia punya, teramsuk low profilenya.....
makasih bang
Mari saling mengagumi membentuk ikatan simbiosis rahasia yang alamiah. Kitalah penggemar itu.
Selasa, 22 Februari 2011
TIDAK PENTING
TAKE
A
REST
Istirahat bukan karena lelah, tapi karena sudah tidak ada yang peduli lagi padanya....
Jika dia pergi, barulah orang-orang yang merasa dirinya penting berbondong-bondong menceritakan kebaikannya, padahal selama ini semua itu kaku di lidah.
Kemudian isak tangis palsu mendesir di pelupuk mata mereka.
"Dia sangat baik, saya menyesal tak sempat berterima kasih padanya." Tutur si munafik di depan kamera.
Padahal, dia tak menginginkan itu, penghargaan bukanlah tujuan, apalagi mata pencaharian, baginya istirahat bukan karena lelah, tapi karena sudah tak ada lagi yang peduli padanya, bukannya mengharapkan penghargaan, tapi sudah saatnya dia pergi untuk melengkapkan kenyataan bahwa di sini dia sudah tidak dibutuhkan lagi.
Begitulah kehidupannya, hidup nomaden berdasarkan kadar kebutuhan lingkungan padanya, ketika kebutuhan itu tercukupi, maka lingkungan baru menantinya menyebar manfaat.
"Saya tak punya apa-apa selain sedikit manfaat yang bisa saya bagikan. Ketika manfaat itu habis, saya akan berdoa pada Tuhan agar memanggil saya, karena saya tidak sanggup hidup tanpa manfaat." Begitu katanya.
KETIKA KAU MELAKUKAN SESUATU UNTUK ORANG LAIN, LANTAS ORANG ITU TIDAK BEREAKSI APA-APA SEOLAH KAU BARU SAJA TIDAK MELAKUKAN APA-APA, MAKA KETAHUILAH, MANFAAT ITU AKAN TERASA KETIKA KEBUTUHAN DATANG MENDADAK SEMENTARA KETERSEDIAAN SUDAH HABIS.
A
REST
Istirahat bukan karena lelah, tapi karena sudah tidak ada yang peduli lagi padanya....
Jika dia pergi, barulah orang-orang yang merasa dirinya penting berbondong-bondong menceritakan kebaikannya, padahal selama ini semua itu kaku di lidah.
Kemudian isak tangis palsu mendesir di pelupuk mata mereka.
"Dia sangat baik, saya menyesal tak sempat berterima kasih padanya." Tutur si munafik di depan kamera.
Padahal, dia tak menginginkan itu, penghargaan bukanlah tujuan, apalagi mata pencaharian, baginya istirahat bukan karena lelah, tapi karena sudah tak ada lagi yang peduli padanya, bukannya mengharapkan penghargaan, tapi sudah saatnya dia pergi untuk melengkapkan kenyataan bahwa di sini dia sudah tidak dibutuhkan lagi.
Begitulah kehidupannya, hidup nomaden berdasarkan kadar kebutuhan lingkungan padanya, ketika kebutuhan itu tercukupi, maka lingkungan baru menantinya menyebar manfaat.
"Saya tak punya apa-apa selain sedikit manfaat yang bisa saya bagikan. Ketika manfaat itu habis, saya akan berdoa pada Tuhan agar memanggil saya, karena saya tidak sanggup hidup tanpa manfaat." Begitu katanya.
KETIKA KAU MELAKUKAN SESUATU UNTUK ORANG LAIN, LANTAS ORANG ITU TIDAK BEREAKSI APA-APA SEOLAH KAU BARU SAJA TIDAK MELAKUKAN APA-APA, MAKA KETAHUILAH, MANFAAT ITU AKAN TERASA KETIKA KEBUTUHAN DATANG MENDADAK SEMENTARA KETERSEDIAAN SUDAH HABIS.
Senin, 21 Februari 2011
MASIH RINDU PART IV (The Real End of The Missing)
INI ADALAH HALAMAN TERAKHIR UNTUKMU.
Perlu melewatkan beberapa halaman untuk merefleksikan diriku sebagai seorang perindu. Sudah tiga kali aku menganalogikanmu dan kau tak pernah mengerti bahwa kerinduanku itu penuh. Perlahan, semuanya menyusut, mengurangkan massa jenisnya, kemudian tinggallah tetetsan yang hanya memicingkan mata.
Pada halaman inilah akan kusebutkan namamu, setidaknya aku bisa menahan rahasianya hingga tulisan ini betul-betul berakhir. Banyak yang menolakku untuk menuliskan ini, aku hanya ingin mengakhirinya. Banyak suara yang menyebutku terlalu cengeng, terlalu puitis, terlalu mengada-ada, aku tak peduli pada teori-teori itu, entah mereka menikmatinya, atau justru menertawaiku.
Akulah penikmat ludahmu, aku jugalah air selokan itu, dan usaha rindu terakhirku adalah menjadi oksigen setelah menampung semua karbondiokasidamu. Sesederhana itu aku menganalogikan rinduku. Terkadang analogi perlu untuk mengungkapkan hal yang sulit dilugaskan, itulah aku, dan pada posisi itulah dirimu.
Aku menyudahi ini untuk merumuskan satu kalimat lagi, entah ini terakhir, tapi aku berencana untuk menghapus semua kemungkinan keberadaanmu di halaman rumahku.
Sesungguhnya bila kau menanyakan apa yang membutaku jatuh cinta padamu adalah ketidaksiapanku pada takdir bahwa kaulah takdir yang kuinginkan. Kemudian jika kau kembali mempertanyakan kecintaanku padamu di sela-sela basa-basimu, aku hanya bisa menjawab bahwa apa yang menjadi takdir akan aku jalankan sampai Tuhan tak mengizinkannya lagi. Kemudian sekarang kau tengah berbahagia dan semoga terus berbahagia, hadir untuk mengusir penasaranmu bertanya pada diriku yang masih entah, apakah aku masih menyimpan kecintaan itu padamu, maka sejujurnya aku menjawab, aku akan selalu jujur pada takdir itu, takdir yang menggariskanmu menjadi takdirku, kalaupun suatu saat nanti aku berbohong, sebenarnya kebohongan itu adalah kebohongan bahwa aku memebenci takdirku, yakni dirimu.
Dan....ketika kau menanyakan padaku, apakah aku masih menyimpan kerinduan padamu, maaf aku harus menyudahinya sampai saat ini, karena kerinduan itu sudah berakhir, kerinduan itu sudah habis, tak bersisa, tanpa jarak, bukannya mengubur sosokmu, tapi menyimpanmu dalam sebuah sejarah terindahku.
Untuk "SILVIANA LARASATI"
By Gandi Firmnasyah
(prosa fiksi)
Perlu melewatkan beberapa halaman untuk merefleksikan diriku sebagai seorang perindu. Sudah tiga kali aku menganalogikanmu dan kau tak pernah mengerti bahwa kerinduanku itu penuh. Perlahan, semuanya menyusut, mengurangkan massa jenisnya, kemudian tinggallah tetetsan yang hanya memicingkan mata.
Pada halaman inilah akan kusebutkan namamu, setidaknya aku bisa menahan rahasianya hingga tulisan ini betul-betul berakhir. Banyak yang menolakku untuk menuliskan ini, aku hanya ingin mengakhirinya. Banyak suara yang menyebutku terlalu cengeng, terlalu puitis, terlalu mengada-ada, aku tak peduli pada teori-teori itu, entah mereka menikmatinya, atau justru menertawaiku.
Akulah penikmat ludahmu, aku jugalah air selokan itu, dan usaha rindu terakhirku adalah menjadi oksigen setelah menampung semua karbondiokasidamu. Sesederhana itu aku menganalogikan rinduku. Terkadang analogi perlu untuk mengungkapkan hal yang sulit dilugaskan, itulah aku, dan pada posisi itulah dirimu.
Aku menyudahi ini untuk merumuskan satu kalimat lagi, entah ini terakhir, tapi aku berencana untuk menghapus semua kemungkinan keberadaanmu di halaman rumahku.
Sesungguhnya bila kau menanyakan apa yang membutaku jatuh cinta padamu adalah ketidaksiapanku pada takdir bahwa kaulah takdir yang kuinginkan. Kemudian jika kau kembali mempertanyakan kecintaanku padamu di sela-sela basa-basimu, aku hanya bisa menjawab bahwa apa yang menjadi takdir akan aku jalankan sampai Tuhan tak mengizinkannya lagi. Kemudian sekarang kau tengah berbahagia dan semoga terus berbahagia, hadir untuk mengusir penasaranmu bertanya pada diriku yang masih entah, apakah aku masih menyimpan kecintaan itu padamu, maka sejujurnya aku menjawab, aku akan selalu jujur pada takdir itu, takdir yang menggariskanmu menjadi takdirku, kalaupun suatu saat nanti aku berbohong, sebenarnya kebohongan itu adalah kebohongan bahwa aku memebenci takdirku, yakni dirimu.
Dan....ketika kau menanyakan padaku, apakah aku masih menyimpan kerinduan padamu, maaf aku harus menyudahinya sampai saat ini, karena kerinduan itu sudah berakhir, kerinduan itu sudah habis, tak bersisa, tanpa jarak, bukannya mengubur sosokmu, tapi menyimpanmu dalam sebuah sejarah terindahku.
Untuk "SILVIANA LARASATI"
By Gandi Firmnasyah
(prosa fiksi)
Sabtu, 19 Februari 2011
"HALO JACK....!"
Halo Jack....! Apa kabar loe? Tenang, gue gak basa-basi negur loe terus nanyain kabar loe. Gue tulus kok pengen tau kabar loe. Soalnya gini, Jack, banyak orang di luar sana yang katanya anak gaul, modern, terus gak saling nyapa kalo ketemu, kalopun ketemu dan saling nyapa, palingan cuma basa-basi doang. hahahahahahaha......
Jack, semalem lo malam mingguan di mana? Gue sih di rumah aja, nonton TV sampe gue ngerasa gak perlu lagi nonton TV, terus minum kopi sampe gue ngerasa gak perlu lagi minum kopi. Loe ke mana jack? Ah...gue tau, loe pasti lagi mikirin gimana caranya loe bisa tenang di tengah-tengah keributan kan? Gue tau loe Jack, loe itu orangnya meneliti perbedaan, loe mencintai kontras. Salut Gue.
Jack.....besok hari senin lagi, orang-orang bakal gak saling negur lagi, jangankan negur, Jack, tatap muka aja kalo berpapasan di jalan kagak. Jack, kenapa salam itu jadi basa-basi sekarang? Kenapa ucapan selamat pagi, permisi, halo, cuma jadi formalitas aksi sosialisai? Atau cuma melengkapi etika berkomunikasi, banyak di antara mereka yang sebenernya sama sekali gak peduli dengan kabar orang lain. Inilah akibatnya kalau bahasa itu cuma dikenali, gak diresapi. Komunikasi udah diformat sedetail mungkin, jadinya nanyain kabar orang itu buat mereka sebuah keharusan, bukan ketulusan, Jack.
Jack.....udah dulu, ya, gue mesti nyapa orang lain, kali aja di antara mereka ada yang ngejawab gini, "Sorry gue gak kenal loe, ngapain gue peduli sama loe"? Itu lebih jujur, Jack, daripada sok ngucapin "Halo, apa kabar?" tapi cuma mau nawarin asuransi, atau mau ngajakin bisnis. Ah...payah....!!!
(Jack si bisu yang mengganti salamnya dengan sebuah senyuman)
Itu jauh lebih baik daripada masang muka datar karena pengen dibilang COOL....
HALO...APA KABAR? APAKAH KALIAN MASIH PUNYA KABAR?
Jack, semalem lo malam mingguan di mana? Gue sih di rumah aja, nonton TV sampe gue ngerasa gak perlu lagi nonton TV, terus minum kopi sampe gue ngerasa gak perlu lagi minum kopi. Loe ke mana jack? Ah...gue tau, loe pasti lagi mikirin gimana caranya loe bisa tenang di tengah-tengah keributan kan? Gue tau loe Jack, loe itu orangnya meneliti perbedaan, loe mencintai kontras. Salut Gue.
Jack.....besok hari senin lagi, orang-orang bakal gak saling negur lagi, jangankan negur, Jack, tatap muka aja kalo berpapasan di jalan kagak. Jack, kenapa salam itu jadi basa-basi sekarang? Kenapa ucapan selamat pagi, permisi, halo, cuma jadi formalitas aksi sosialisai? Atau cuma melengkapi etika berkomunikasi, banyak di antara mereka yang sebenernya sama sekali gak peduli dengan kabar orang lain. Inilah akibatnya kalau bahasa itu cuma dikenali, gak diresapi. Komunikasi udah diformat sedetail mungkin, jadinya nanyain kabar orang itu buat mereka sebuah keharusan, bukan ketulusan, Jack.
Jack.....udah dulu, ya, gue mesti nyapa orang lain, kali aja di antara mereka ada yang ngejawab gini, "Sorry gue gak kenal loe, ngapain gue peduli sama loe"? Itu lebih jujur, Jack, daripada sok ngucapin "Halo, apa kabar?" tapi cuma mau nawarin asuransi, atau mau ngajakin bisnis. Ah...payah....!!!
(Jack si bisu yang mengganti salamnya dengan sebuah senyuman)
Itu jauh lebih baik daripada masang muka datar karena pengen dibilang COOL....
HALO...APA KABAR? APAKAH KALIAN MASIH PUNYA KABAR?
Jumat, 18 Februari 2011
99,99%
Maaf, waktuku hanya sebentar, hanya beberapa menit untuk mencukupkanmu. Bagaimana bisa? Aku tak punya semua bahan-bahannya. Alat yang ku punya pun tidak lengkap. Sementara itu, kewajiban bagiku utnk mencukupkanmu.
Haruskah ku buat pesan tak berbentuk lagi? Aku lelah. Apakah aku juga mesti mengajarkanmu tentang linguistik diam? Atau psikolinguistik tentang bahasa yang susah diucapkan? Ini hanya sedikit abstrak.
Sebentar lagi, aku akan pergi, karena waktuku tinggal beberapa menit di sini, aku terus memandangi jarum jam di tanganku bergerak, pergerakannya menakutiku. Menakuti aku tentang keterlambatan, katanya terlambat itu gagal, dan tidak cukup adalah nol.
Maaf, aku tak punya apa-apa lagi untuk mencukupkanmu. Maafkan aku harus membentukmu dalam bentuk yang tidak sempurna, mungkin bentukmu timpang, sedikit tidak seimbang. Juga, jangan mengharapkan estetika, karena itu jauh dari kemampuanku.
Sebenarnya, apapun bentukmu, kau itu sudah cukup melanjutkan hidup, apapun perangkat yang kau miliki, entah itu lengkap atau justru kurang, hanya ada satu hakikat, kau masih bisa terdaftar dalam buku tamu bumi. Itulah yang mesti kau syukuri. Dan satu yang aku titipkan padamu sebelum aku pergi, ini adalah pesan dari Tuhan,bahwa setiap manusia diberikan waktu. Maka menurutku, itulah satu-satunya yang bisa kau maksimalkan untuk menyempurnakan bentukmu, oh maaf, maksudku mencukupkan bentukmu, agar semuanya cukup, agar kau merasa cukup, agar hidupmu cukup, dan agar waktumu cukup untuk memaksimalkan waktu.
Selamat Tinggal,
Ku tunggu kau di pusaraku.
Dari sahabat yang telah pergi menitipkan pesan tentang waktu.
Dari dia yang jujur menitipkan pesan untuk membohongi keadaan, semua bisa dimaksimalkan. Dan dia mengakhiri keberadaannya di hadapan dengan sebuah kalimat yang akan terus dikenang.
"Enough is my way to serve you"
(fiksi)
Haruskah ku buat pesan tak berbentuk lagi? Aku lelah. Apakah aku juga mesti mengajarkanmu tentang linguistik diam? Atau psikolinguistik tentang bahasa yang susah diucapkan? Ini hanya sedikit abstrak.
Sebentar lagi, aku akan pergi, karena waktuku tinggal beberapa menit di sini, aku terus memandangi jarum jam di tanganku bergerak, pergerakannya menakutiku. Menakuti aku tentang keterlambatan, katanya terlambat itu gagal, dan tidak cukup adalah nol.
Maaf, aku tak punya apa-apa lagi untuk mencukupkanmu. Maafkan aku harus membentukmu dalam bentuk yang tidak sempurna, mungkin bentukmu timpang, sedikit tidak seimbang. Juga, jangan mengharapkan estetika, karena itu jauh dari kemampuanku.
Sebenarnya, apapun bentukmu, kau itu sudah cukup melanjutkan hidup, apapun perangkat yang kau miliki, entah itu lengkap atau justru kurang, hanya ada satu hakikat, kau masih bisa terdaftar dalam buku tamu bumi. Itulah yang mesti kau syukuri. Dan satu yang aku titipkan padamu sebelum aku pergi, ini adalah pesan dari Tuhan,bahwa setiap manusia diberikan waktu. Maka menurutku, itulah satu-satunya yang bisa kau maksimalkan untuk menyempurnakan bentukmu, oh maaf, maksudku mencukupkan bentukmu, agar semuanya cukup, agar kau merasa cukup, agar hidupmu cukup, dan agar waktumu cukup untuk memaksimalkan waktu.
Selamat Tinggal,
Ku tunggu kau di pusaraku.
Dari sahabat yang telah pergi menitipkan pesan tentang waktu.
Dari dia yang jujur menitipkan pesan untuk membohongi keadaan, semua bisa dimaksimalkan. Dan dia mengakhiri keberadaannya di hadapan dengan sebuah kalimat yang akan terus dikenang.
"Enough is my way to serve you"
(fiksi)
Rabu, 16 Februari 2011
PLANET BARU
Mohon maaf sebelumnya kepada Sang Maha Pencipta, juga kepada ahli antariksa. Saya akan memperkenalkan planet baru, entah tergabung dalam tata surya mana? Planet ini aneh, semi nyata juga semi abstrak. Sesuai kesepakatan, planet baru ini dinamakan internet.
Internet menawarkan pemenuhan kebutuhan yang sangat komplit. Banyak yang menyangka bahwa dunia maya bisa menjerumuskan manusia ke dalam lembah penuh imaji. Dunia yang katanya penuh dengan khayalan dan hal-ha absurd. Kecanggihannya menjadi bukti modernisasi kehidupan, bahkan telah berubah statusnya menjadi keharusan untuk mereka yang ingin berkembang. Internet juga adalah indikator status sosial seseorang. Banyak sekali kegunaan yang ditawarkan oleh internet, meskipun tingkat kriminalitas karena dunia maya sekarang ini semakin merajalela. Terlalu berlebihan bila internet itu dijadikan keharusan atau kebutuhan pokok.
Ketika internet menjadi sebuah pelarian. Inilah saya. Ada hal penting yang perlu dimengerti dan dipahami mengenai sebuaha arti kata "pelarian". Pelarian adalah tempat yang membuat kita ke sana ketika tempat kita pada saat tertentu sudah tidak nyaman lagi. Tapi, bagi saya pelarian adalah tempat di mana saya menjadi diri saya yang lain. Inilah internet dengan segala keunggulan, realis, dan surialisnya
Bisa saya sederhanakan saat ini. Internet menjadi gaya hidup saya dimulai dalam 3 tahun terakhir ini. Saya mulai tertarik dengan dunia maya, dunia yang membuat manusia tidak saling bertatap muka secara langsung, tempat di mana hanya ada layar yang berisi semua hal. Banyak orang yang beranggapan bahwa internet yang sudah menjadi kebutuhan pokok umat manusia modern sangat fatal akibatnya. Katanya, sosialisasi berkurang, daya kepekaan melemah, produktivitas kepepet, kemunafikan bertambah, kemudian menjadi sangat malas untuk mengakui dunia luar. Itu hanya sisi subyektif pakar yang menyebut dirinya pakar. Sebenarnya, internet menjadi ajang sosialisasi yang sangat menarik. Tingkat peluang kebohongan dalam berselancar di internet memang sangat tinggi, misalnya pemalsuan identitas, memposting berita-berita hoax, atau menyampaikan isu-isu berbasis SARA. Akan tetapi, kita tidak menyadari bahwa kejadian-kejadian seperti itu mengajarkan kita akan satu hal, bahwa kejernihan berpikir harus diimbangi kepekaan perasaan. Orang yang kritis, berpikir out of the box, kemudian kualitas perasaannya tinggi akan terhindar dari kriminalitas dunia maya. Sebenarnya, ini sama saja ketika kita bersosialisasi secara langsung.
Sekarang, melanjutkan pengantar di atas, bagi saya internet menjadi tempat pelarian saya ketika dunia nyata sudah tidak adil lagi. Inilah yang dimaksud dengan kekecewaan pada realita. Bukannya menentang ketentuan Tuhan, namun lebih ke refleksi diri, agar ketika kembali ke dunia nyata, banyak referensi baru yang bisa dibawa.
Saya mengklasifikasikan kebutuhan internet saya sebagai berikut:
1. Sebagai penyaluran hobi.
Saya sorang mahasiswa yang sangat menyukai dunia tulis menulis. Setiap hari kebutuhan itu harus dipenuhi. Internet menjadi media yang sangat ramah untuk saya. Memposting tulisan di blog, mempublikasikannya, kemudian membaca beberapa komentar dari teman-teman, dengan sendirinya saya telah belajar untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih baik, mendengarkan saran orang lain, dan yang paling penting adalah kepuasan batin menulis dan berbagi.
2. Menunjukkan sisi lain
Saya senang menyembunyikan sebagian kepribadian saya. Jadi, kehidupan sehari-hari hanya membuka separuh diri saya, selebihnya saya tunjukkan di internet. Seperti dalam akun social network, tak banyak yang menyangka kalau saya pribadi yang cengeng, peka, kurang percaya diri, dan pemimpi yang hebat. Banyak teman-teman saya yang menilai saya berbeda ketika berada dalam lingkungan sosial dengan lingkungan maya. Begitu pula sebaliknya. Saya bisa mengenal sisi lain orang-orang di sekitar saya dengan membaca tulisan di blognya atau status-status di akun social network nya.
3. Menjadi tempat belajar.
Sebagai mahasiswa, kebutuhan akan informasi adalah sebuah keharusan, dengan tuntutan waktu yang singkat dan jadwal yang padat, internet ini sangat membantu saya mengerjakan tugas-tugas saya.
4. Sebagai bukti bahwa saya masih ada
Iya, sejujurnya, saya adalah orang yang kurang percaya diri dalam pergaulan, bahkan saya sering menyisihkan diri dari kehidupan sosial. Keseringan juga merasa tidak nyaman dengan diri sendiri, penyakit psikologis yang aneh, kemudian susah mencurahkan isi hati. Internet menjadi tempat saya menunjukkan kepada semua orang bahwa saya masih ada, masih hidup dengan tulisan-tulisan saya.
Inilah deretan kebutuhan hidup saya tentang internet. Saya tidak akan menggantungkan hidup saya pada internet, saya hanya ingin menyatakan bahwa internet adalah mediator handal dalam hal mengemukakan kata-kata yang kaku di mulut, juga wajah yang datar dalam keseharian sosial. Terkadang manusia membutuhkan tempat lain untuk mengekspresikan dirinya, meninggalkan sejenak kehidupan nyatanya, menuju dunia maya yang sebenarnya nyata. Terkadang manusia membutuhkan itu untuk menemukan kepercayaan dirinya, mengungkap kemampuan tersembunyinya, kemudian menggunakannya di kehidupan sosial yang kejam . Seperti itulah saya memandang internet sebagai salah satu gaya hidup juga salah satu tempat hidup di dunia yang berbeda, serta dunia yang penuh dengan kebebasan tanpa aturan-aturan yang memberatkan bahkan mengurung jati diri seperti yang terjadi dalam kehidupan nyata.
Sebagai dunia lain, bisa juga dijadikan planet lain selain bumi. Ketika Anda sudah jenuh dengan kehidupan nyata Anda, mengapa tidak internet menjadi dunia baru yang bisa menampung semua kekecewaan, pribadi baru, watak yang selama ini Anda sembunyikan? Bukannya bermaksud membuat topeng dalam kehidupan Anda, namun lebih menyegarkan pikiran dan perasaan Anda, bahwa selain dunia nyata ini, ada dunia yang bisa menentang semua kekakuan realita, itulah dunia maya. Selamat berselancar di dunia maya, selamat menemukan hal-hal baru, selamat menjadi orang-orang baru, agar ketika kembali ke dunia nyata, Anda seperti segar kembali dengan kekayaan apresiasi dan persepsi makna yang tinggi.
Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes blog di www.bhinneka.com
Internet menawarkan pemenuhan kebutuhan yang sangat komplit. Banyak yang menyangka bahwa dunia maya bisa menjerumuskan manusia ke dalam lembah penuh imaji. Dunia yang katanya penuh dengan khayalan dan hal-ha absurd. Kecanggihannya menjadi bukti modernisasi kehidupan, bahkan telah berubah statusnya menjadi keharusan untuk mereka yang ingin berkembang. Internet juga adalah indikator status sosial seseorang. Banyak sekali kegunaan yang ditawarkan oleh internet, meskipun tingkat kriminalitas karena dunia maya sekarang ini semakin merajalela. Terlalu berlebihan bila internet itu dijadikan keharusan atau kebutuhan pokok.
Ketika internet menjadi sebuah pelarian. Inilah saya. Ada hal penting yang perlu dimengerti dan dipahami mengenai sebuaha arti kata "pelarian". Pelarian adalah tempat yang membuat kita ke sana ketika tempat kita pada saat tertentu sudah tidak nyaman lagi. Tapi, bagi saya pelarian adalah tempat di mana saya menjadi diri saya yang lain. Inilah internet dengan segala keunggulan, realis, dan surialisnya
Bisa saya sederhanakan saat ini. Internet menjadi gaya hidup saya dimulai dalam 3 tahun terakhir ini. Saya mulai tertarik dengan dunia maya, dunia yang membuat manusia tidak saling bertatap muka secara langsung, tempat di mana hanya ada layar yang berisi semua hal. Banyak orang yang beranggapan bahwa internet yang sudah menjadi kebutuhan pokok umat manusia modern sangat fatal akibatnya. Katanya, sosialisasi berkurang, daya kepekaan melemah, produktivitas kepepet, kemunafikan bertambah, kemudian menjadi sangat malas untuk mengakui dunia luar. Itu hanya sisi subyektif pakar yang menyebut dirinya pakar. Sebenarnya, internet menjadi ajang sosialisasi yang sangat menarik. Tingkat peluang kebohongan dalam berselancar di internet memang sangat tinggi, misalnya pemalsuan identitas, memposting berita-berita hoax, atau menyampaikan isu-isu berbasis SARA. Akan tetapi, kita tidak menyadari bahwa kejadian-kejadian seperti itu mengajarkan kita akan satu hal, bahwa kejernihan berpikir harus diimbangi kepekaan perasaan. Orang yang kritis, berpikir out of the box, kemudian kualitas perasaannya tinggi akan terhindar dari kriminalitas dunia maya. Sebenarnya, ini sama saja ketika kita bersosialisasi secara langsung.
Sekarang, melanjutkan pengantar di atas, bagi saya internet menjadi tempat pelarian saya ketika dunia nyata sudah tidak adil lagi. Inilah yang dimaksud dengan kekecewaan pada realita. Bukannya menentang ketentuan Tuhan, namun lebih ke refleksi diri, agar ketika kembali ke dunia nyata, banyak referensi baru yang bisa dibawa.
Saya mengklasifikasikan kebutuhan internet saya sebagai berikut:
1. Sebagai penyaluran hobi.
Saya sorang mahasiswa yang sangat menyukai dunia tulis menulis. Setiap hari kebutuhan itu harus dipenuhi. Internet menjadi media yang sangat ramah untuk saya. Memposting tulisan di blog, mempublikasikannya, kemudian membaca beberapa komentar dari teman-teman, dengan sendirinya saya telah belajar untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih baik, mendengarkan saran orang lain, dan yang paling penting adalah kepuasan batin menulis dan berbagi.
2. Menunjukkan sisi lain
Saya senang menyembunyikan sebagian kepribadian saya. Jadi, kehidupan sehari-hari hanya membuka separuh diri saya, selebihnya saya tunjukkan di internet. Seperti dalam akun social network, tak banyak yang menyangka kalau saya pribadi yang cengeng, peka, kurang percaya diri, dan pemimpi yang hebat. Banyak teman-teman saya yang menilai saya berbeda ketika berada dalam lingkungan sosial dengan lingkungan maya. Begitu pula sebaliknya. Saya bisa mengenal sisi lain orang-orang di sekitar saya dengan membaca tulisan di blognya atau status-status di akun social network nya.
3. Menjadi tempat belajar.
Sebagai mahasiswa, kebutuhan akan informasi adalah sebuah keharusan, dengan tuntutan waktu yang singkat dan jadwal yang padat, internet ini sangat membantu saya mengerjakan tugas-tugas saya.
4. Sebagai bukti bahwa saya masih ada
Iya, sejujurnya, saya adalah orang yang kurang percaya diri dalam pergaulan, bahkan saya sering menyisihkan diri dari kehidupan sosial. Keseringan juga merasa tidak nyaman dengan diri sendiri, penyakit psikologis yang aneh, kemudian susah mencurahkan isi hati. Internet menjadi tempat saya menunjukkan kepada semua orang bahwa saya masih ada, masih hidup dengan tulisan-tulisan saya.
Inilah deretan kebutuhan hidup saya tentang internet. Saya tidak akan menggantungkan hidup saya pada internet, saya hanya ingin menyatakan bahwa internet adalah mediator handal dalam hal mengemukakan kata-kata yang kaku di mulut, juga wajah yang datar dalam keseharian sosial. Terkadang manusia membutuhkan tempat lain untuk mengekspresikan dirinya, meninggalkan sejenak kehidupan nyatanya, menuju dunia maya yang sebenarnya nyata. Terkadang manusia membutuhkan itu untuk menemukan kepercayaan dirinya, mengungkap kemampuan tersembunyinya, kemudian menggunakannya di kehidupan sosial yang kejam . Seperti itulah saya memandang internet sebagai salah satu gaya hidup juga salah satu tempat hidup di dunia yang berbeda, serta dunia yang penuh dengan kebebasan tanpa aturan-aturan yang memberatkan bahkan mengurung jati diri seperti yang terjadi dalam kehidupan nyata.
Sebagai dunia lain, bisa juga dijadikan planet lain selain bumi. Ketika Anda sudah jenuh dengan kehidupan nyata Anda, mengapa tidak internet menjadi dunia baru yang bisa menampung semua kekecewaan, pribadi baru, watak yang selama ini Anda sembunyikan? Bukannya bermaksud membuat topeng dalam kehidupan Anda, namun lebih menyegarkan pikiran dan perasaan Anda, bahwa selain dunia nyata ini, ada dunia yang bisa menentang semua kekakuan realita, itulah dunia maya. Selamat berselancar di dunia maya, selamat menemukan hal-hal baru, selamat menjadi orang-orang baru, agar ketika kembali ke dunia nyata, Anda seperti segar kembali dengan kekayaan apresiasi dan persepsi makna yang tinggi.
Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes blog di www.bhinneka.com
Langganan:
Postingan (Atom)