Minggu, 08 Maret 2015

SAAT KEDUA PASANG MATA KITA BERTEMU



Kau memalingkan wajah menjarah setiap lambaian tangan
Entah sengaja atau tidak, pandanganmu jatuh di mataku
Kita bertatapan cukup lama, mencoba menerka tentang apa, siapa, dan bagaimana
Seperti kau telah mengenalku cukup lama, lalu mencoba memeriksa ingatan dengan seksama
Pun seperti aku telah mengenalmu cukup lama, lalu mencoba menerka perasaan yang begitu perkasa

Ada banyak hal yang terjadi di saat yang sama
Di belahan bumi lain, misalnya
Laut menggulung tinggi, air pasang menjadi kejam
Daratan adalah lahan siap saji nan pasrah

Saat yang sama, di sebuah pesta, sekumpulan manusia tengah larut dalam hingar bingar cahaya
Gelap disamarkan oleh kedipan lampu-lampu
Gelap–gelas berkilau diangkat seperti persembahan untuk dewa
Lalu suara musik berbunyi keras, terdengar hingga ke alam mimpi seseorang

Di saat yang sama pula, ketika dua pasang mata kita bertemu
Di seberang jalan sana, daun dari pepohonan tua mulai berguguran
Sekarang, tak ada yang bisa menerka musim
Ramalan cuaca sama sekali tidak berguna
Hujan tak lagi milik puisi
Terik tak lagi milik keluh
Abu-abu bukan lagi sebuah ketidakjelasan
Melainkan sebuah warna yang dibubuhkan seorang anak di atas gambar payung untuk ibunya
Mendung tak lagi murung, atau mengurung, atau burung-burung yang murung karena terkurung

Saat kedua pasang mata kita bertemu, tersisa satu ihwal
Ialah hasil dari pemeriksaanmu terhadap ingatan, juga hasil penerkaanku terhadap perasaan
Benarlah adanya, kita memikirkan dua hal yang berbeda
Kau menemukanku di masa lalu kala memeriksa ingatan
Aku meletakkanmu di masa depan kala menerka perasaan
Dan benarlah adanya, mungkin kita mencintai orang yang berbeda
Kau mencintaiku, aku malah mencintaimu

Makassar, 2014

Senin, 20 Oktober 2014

Mendengarkan Fix You



Saat semua orang bergegas mengejar waktu, aku memilih berjalan saja
Sebab waktu tidak secepat yang kita kira
Sebab waktu tidak pernah tergesa-gesa
Kita yang panik, takut, gelisah, seolah waktu akan meninggalkan kita
Kita yang udik, ciut, resah, seolah waktu segera mendatangkan kematian di halaman jantung kita

Kakiku telah menapaki berbagai jalan
Tubuhku sudah sampai di berbagai tujuan
Aku sudah cukup banyak kehilangan
Aku pun sudah sangat sering hilang

Kata-kata bergerak
Tak peduli terhadap tinta
Tak acuh kepada penulisnya
Ia melampaui pikiran-pikiran dan waktu yang tak pernah menambah kecepatannya

Langit tak sebijaksana udara
Sebut saja ia tinggi, menjulang, perkasa
Namun udara, tak perlu kaulihat, tak perlu kausentuh, cukup hirup maka kau akan hidup

Di pembaringan udara
Aku rebah menatap angkasa
Lalu tengkurap menutup bumi
Kulihat rumpun daun keladi menampung sisa-sisa hujan
Saat itu aku belajar dari daun keladi
Ia selalu tabah
Tak akan dibiarkannya air mata jatuh sia-sia

2014

Selasa, 24 Juni 2014

MARKISA DAN BAMBU PENYANGGA

Kau markisa, aku bambu penyangga di kebun kecil milik tuan rumah
Batangmu merambat di sekujur tubuh tegarku
Daunmu rebah di dada cembungku
Kulitku akrab denganmu
Di setiap bentangan dan pendirianku, menggantung buah-buah mungilmu
Kita hidup bertetangga dengan kawanan pohon pisang, keladi, mangga, dan jambu

Beruntunglah aku menua
Saat seusia rebung, tuanku melancong meninggalkan rumah
Saat dewasa, tuan pulang dan menebangku
Saat itu,kukira aku sudah mati
Nyatanya aku batang bambu yang tak lagi bisa tumbuh
Dibelah, dibilah, lalu ditancapkan oleh tuan
untuk menyanggamu, rela dijalari olehmu

Di suatu pagi aku menjumpaimu mati
Batangmu menguning
Daunmu mengering
Buahmu tinggal sebiji

Kau gersang di musim penghujan
Aku tetap berdiri dan membentang
Menunggu batangmu kembali tumbuh dan merambati tubuhku
Menunggu daunmu kembali tumbuh merebahi dadaku
Menunggumu kembali berbuah dan bergantung kepadaku
Namun kau benar-benar tiada
Jadilah aku sebatang bambu tua
Menunggu waktu dihabiskan serangga
Sementara itu, aku hanya mampu menyangga udara

Camba, 31 Maret 2014

Fadhli Amir (@Botsun)

Kamis, 03 April 2014

DOA PEPOHONAN NIPAH



*Foto oleh Sofyan Syamsul*

Selamat beribadah duhai pohon-pohon nipah
Kau menyembah begitu tekun sepagi, sesiang, sesore, sesenja, semalam suntuk
Aku memberanikan diri naik perahu menyeberangi sungai malu-malu
Salam jumpa

Sungai Pute yang menghidupimu serupa sirkuit
Namun perahu-perahu tak pernah balapan
Tak ada kebut, bahkan saat air pasang
Mungkin ia sengaja agar kita bisa berpapasan, bertatapan
Atau bisa saja kita ditarkdirkan menjalin jala di jalan
Menjerat masing-masing mata kita

Atau mungkin mata kita sebenarnya mati
Tak mampu lagi saling menatap
Diasuh udara, tempat semua pertemuan menetap
Sedang udara di sini aman
Sungguh pertemuan kita nyaman

Saat air surut, perahu seperti siput yang belajar berenang
Dipikirnya sungai itu kubangan
Namun kau masih saja setia
Menjaga rumah-rumah penduduk
Dari santapan air yang seketika membawa petaka

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Jika manusia yang berkunjung tak mampu menemani
Tunaikanlah sesembahanmu
Dengungkan ke telinga Telaga Bidadari
Dan para bidadari telaga itu akan menari
Melentikkan jemarinya ke kanan ke kiri

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Kawanan kera juga tengah berdoa
Masing-masing berhenti di ranting tua
Mendoakan agar ranting itu tak patah
Dan langit yang merasa paling lapang itu
Cemburu pada pohon-pohon lain di pundak gua

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Katakanlah pada langit setinggi-tingginya
Ia akan menyambutmu dari puncak ubun-ubunnya
Lalu teruskan doamu hingga langit tak mampu lagi mendaki
Sebab Tuhan berada di kasta tertinggi

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Sebarkanlah pada air sedalam-dalamnya
Lumpur akan menghalangimu di sana
Tapi, teruskan saja doamu
Jadilah dasar terdalam
Sebab lumpur bukan plastik
Ia lembut dan akan kalah
Dan Tuhan penyelam handal
Sedalam apapun doamu karam

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Belibis muda tak goyah oleh angin dewasa
Angin purba masih lebih perkasa
Meski di kepala manusia
Semua telah binasa
Berdoalah untuknya

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Bebatuan kapur yang menancap
Kuanggap sebagai bunga-bunga di sekitaran jalan
Bukan polisi tidur yang bermaksud menghentikan sejenak
Lalu ditinggalkan begitu cepat
Disisakan deru nafas knalpot kendaraan

Tuhan menanam bebatuan kapur itu
Lalu dunia meletakkannya di peta
Sayangnya tuan rumah tak peduli
Sebagian berubah menjadi atom semen
Demi rumah si tuan serakah

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Di sekelilingmu ada keluarga gua
Saling terhubung, saling terpisah
Gua-gua purba itu memang ramah
Taat membuka mulutnya
Untuk didatangi-ditinggalkan kelelawar setiap harinya
Ia menganga semula hidupnya
Akan terus menganga selepas nyawanya
Berdoalah untuknya

Dan kelelawar juga paham
Ia menjatuhkan kehidupan di sana
Rakyat kerajaan menggantungkan nyawanya di tebing curam
dan menggantungkan hidupnya pada karung kotoran sang tikus terbang

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Serukan permohonanmu mengantarku ke tujuan
juga perahu-perahu yang setia kutunggangi
dan air Sungai Pute yang tabah kulandasi

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Aku juga tengah berdoa
Sesampaiku di dermaga terakhir
Akan kusampaikan pada penduduk di sana
Dusun Rammang-Rammang sebenarnya istana
Berlindung dari tangan-tangan penjamah
yang hendak mencabut stalagtit dan stalagmit
Membawanya pulang ke rumah

Juga kau adalah penjaga
Bagi istana Rammang-Rammang
Dari serangan tangan-tangan penjamah
Hendak menjabat telapak tangan yang menempel di dinding gua

Pasti kau adalah penjaga
Bagi istana Rammang-Rammang
Sisa dunia purba
Yang hanya dikenal lewat sejarah
Terus dikenang oleh teori ilmiah
Lalu dihilangkan dari peta
Tidak banyak yang tahu
Kau penjaga istana

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Jangan hiraukan penguasa
Mata mereka dibatasi gedung-gedung mewah
Jendela mereka hanya mengarah ke jalan raya
Mereka sudah lupa
Kota yang dibesarkan seperti buah tangan pesulap itu
adalah bulir air mata bebatuan kapur
yang setia kaujaga sepanjang doa

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Sungguh aku merasa aman kautemani hingga pintu istana
Semalam saja aku di rumah raja
Esok saat hujan reda
Tetaplah berjaga juga berdoa
dan antarkan aku menuju dermaga
Tempat kita memalingkan mata
Namun ingatlah
Bukankah mata kita telah menetap di udara?
Aku menghirupnya setiap kelana

Teruslah berdoa duhai pohon-pohon nipah
Jika ada pelancong yang bertanya
Katakanlah, ini Indonesia
Bukan Vietnam atau China
Jangan lupa
Berdoalah juga untuk mereka

(2013)



Elegi Lupa



Kadang aku membayangkan
kenangan mendadak lupa,
hingga tak ada yang perih saat membuka
atau terlampau girang kala mengulang.

Tetapi setiap orang punya ingatan
dan ingatan tak pernah lupa.

Lalu aku membayangkan
ingatan tiba-tiba lupa,
agar kemarin dan waktu sebelumnya
ikut dikubur masa.

Tetapi setiap orang punya perasaan
dan perasaan sanggup menjangkau apa saja

Lalu aku membayangkan
perasaan seketika lupa
dan hati bukan lagi timbangan sempurna.

Tetapi setiap orang punya engkau
yang selalu hadir di setiap langkah dan jeda.

Lalu aku membayangkan
kenangan, ingatan, dan perasaanku tak punya engkau.
Tetapi aku punya waktu

Terus kubayangkan tak punya waktu.
Lalu aku mati.

Untuk siapa saja yan telah berbuat baik bagi bangsa dan negara. Besar-keclinya upaya, mereka telah mengubah keluh menjadi peluh yang berharga.

Makassar, 2013



Sabtu, 22 Februari 2014

Ada Tabungan Di Belahan Dadamu

Entah berapa banyak,
tampaknya bra tak mampu lagi menampung
hingga mereka sedikit menampakkan wajahnya.
Katamu dengan begitu kau kelihatan kaya
dan lelaki yang menemukanmu akan segan membayar murah.
Untuk semalam yang menuntaskan birahi lama lalu melahirkan birahi baru.
Untuk sepanjang hidup yang memaksamu menabung malu
di kedalaman belahan dada.

Rabu, 19 Februari 2014

KATA CINTA

Di bibir sebuah meja perdebatan, tiga orang membahas cinta:

Orang pertama mengatakan cinta adalah kata benda.
Sebab ia diberi dan dibagi.
Orang kedua membantah. Katanya cinta itu kata kerja.
Sebab ia memberi dan membagi.
Orang ketiga berbeda. Baginya, cinta ialah kata sifat.
Sebab memberi dan diberi, juga membagi dan dibagi adalah tabiat cinta.

Perdebatan terus berlanjut dengan bukti.
Dari semua bukti yang ada di kepala tiga orang itu, hanya satu yang nyata:
Cinta berhenti hanya sebagai kata.

Rabu, 12 Februari 2014

Surat Singkat Menjelang Sore

Hai Eva. Benar adanya surat ini kutujukan kepadamu. Benar pula adanya surat ini kutulis untukmu. Jarak menyatukan beberapa jarak, waktu menyatukan beberapa waktu, tempat menyatukan beberapa tempat. Mungkin kita tidak sedang bersama, tetapi kita punya kesenangan yang sama kan? Meneguk cappuccino.

Hai Eva. Benar adanya surat ini kutujukan kepadamu. Benar pula adanya surat ini kutulis untukmu. Tidak banyak hal yang aku ketahui tentangmu, kecuali cerita-cerita atau apa saja yang kau benamkan di blog pribadimu. Aku meyakini satu hal, menulis surat tidak melulu untuk orang yang istimewa. Sebagai orang yang tidak spesial, kau adalah orang yang kuat bagi kata-kata yang aku tuliskan di surat ini. Mengapa kuat? Sederhana saja, Eva. Kebanyakan orang menulis tentang sesuatu yang menarik, seseorang yang penting, seseorang yang dicintainya. Tetapi kau, seorang yang bagi saya biasa-biasa saja tetapi mampu menjadi topik dan obyek utama surat ini. Lalu semakin sederhananya pula, kau mampu menarik perhatianku, mengulik dan mengulas banyak hal, meraih beberapa sudut pandang hingga aku berani menulis surat ini.

Hai Eva, benar adanya surat ini kutujukan kepadamu.Benar pula adanya surat ini kutulis untukmu. Juga benar adanya surat ini tak semanis wajahmu. Pun begitu, benar adanya surat ini cukup singkat. Dan, yang paling benar adanya bahwa surat ini adalah bentuk ketidaktahuanku terhadapmu, tidak seperti surat cinta kebanyakan. Yang tidak benar adanya adalah surat ini kutulis dengan tidak bersungguh-sungguh.

Tetaplah cemerlang hingga teguk terakhir.
Mari ngopi.

Salam,

Fadhli Amir
@Botsun

Senin, 10 Februari 2014

Sajak Pagi

Aku ingin bangun lebih awal
Sebab aku lelah meninggalkan pagi
Sesekali aku ingin dijemput atau menjemput matahari

Maka, di suatu pagi aku memaksa diri mengabaikan kantuk
Menuju balkon lalu duduk
Menyeruput kopi lalu membiarkan gelas sendirian

Sungguh menyenangkan menyaksikan matahari masih duduk
Lalu seorang ayah bersama anaknya menghampiri sampah dan membakarnya

Saat itu, nyala api tak secerah matahari pagi
Tetapi nyali hujan tak securah air mata

Makassar, Desember 2013
Fadhli Amir

Sabtu, 08 Februari 2014

Seorang Ika Mekar Di Salihara

Duhai Ika Fitriana, pertama kali membaca tulisanmu, seperti kau titisan Joko Pinurbo. Entahlah, itu penilaianku. Sebenarnya semua pribadi menarik, saya percaya itu. Tetapi di dalam pribadimu ada yang lebih dari sekadar menarik, mungkin bisa dikatakan menjerat. Saya sering menulis sesuatu, entah itu surat atau puisi untuk seseorang yang saya anggap berpengaruh untuk kehidupan saya, atau orang-orang yang punya keunikan dan daya tarik tersendiri. Beberapa di antaranya adalah orang-orang yang istimewa. Sulit menempatkanmu di posisi mana. Untuk pertama kalinya pun, saya kehilangan kata-kata manis menggambarkan seseorang, mungkin sudah dijarah semua olehmu.

Suatu saat, saya bertemu dengan sebuah puisi yang begitu lembut, singkat, padat, namun lengang. Puisi itu terasa sangat bergizi dan lapang dalam waktu yang bersamaan. Izinkan saya mengutip puisimu di sini:

Ada bunga mekar di Salihara

Sebuah bunga mekar di Salihara
Berlari-lari gembira
Binaran matanya
Mana bisa bahagia bersembunyi selamanya?

Ia, bunga yang kita kenal kemarin
Yang melayu di antara pekak telinga
Yang menyusut
Mengeriut
Tanpa nyali

Sebuah bunga mekar di Salihara
Dan kita tahu dari binaran matanya
Mana bisa bahagia tersembunyi selamanya?


Puisi ini membangunkan kesenangan menulis lagu yang sudah tidur bertahun-tahun. Terima kasih untuk itu, untuk puisi yang indah, lirik untuk laguku yang setiap kali menyanyikannya, aku merasa bangga.

Ada satu hal yang menarik di balik lahirnya puisi ini. Di Salihara, diskusi "Perempuan Pencipta Narasi" itu justru tidak menarik bagimu. Matamu yang menjelajah ke mana-mana justru melahirkan beberapa puisi pendek, salah satunya puisi yang begitu aku sayangi itu. Mohon izin menyanyangi puisimu. Tuhan, mohon izin menyayangi hambaMu Ika Fitriana ini.

Saya membicarakan banyak hal denganmu. Setelah membaca ini, kumohon padamu, bacalah puisi kesayanganku itu, dengarlah lagunya. Bila doaku dikabulkan, kata bunga di lagu dan puisi itu akan berubah lalu berbuah menjadi namamu.

Selamat datang di kehidupanku.
Bersemangatlah.

Kamis, 06 Februari 2014

Untuk Raisa Andriana (@raisa6690)

Kepada Yang Cukup
Raisa Andriana
Di
Mata dan Hatiku

Dari begitu besarnya kerumunan penggemar, sangat sulit bagiku terlihat menonjol, atau bahkan terlihat sebagai satu-satunya orang yang melihatmu bernyanyi dengan binaran mata yang berlari melampaui waktu. Sebab itulah, aku menulis surat ini.

Setelah itu, Raisa, percayalah tak banyak yang menjadi penggemarmu ketika kau masih orang biasa, namamu belum menggema. Aku salah satunya, mungkin satu-satunya, kuharap satu-satunya. Aku telah menjadi penggemarmu sebelum jutaan orang mengenalmu melalui beberapa video yang kau unggah di Youtube. Itulah takdir yang kusyukuri.

Aku tak memasang potretmu di dinding kamar, di desktop background. Aku juga baru sekali menyaksikan kau bernyanyi secara langsung, hanya duduk manis, memeluk lutut, tanpa teriakan histeris. Namun ketahuliah, aku mendengarkan lagu-lagumu sembari mengingatmu sebanyak waktu tak mampu menghitungnya.

Ada 3 bagian yang aku suka darimu:

1.Suara
Semua penggemarmu menyukainya. Aku tak berani mengatakan bahwa aku yang paling menyukainya. Sebab semua orang akan mengaku seperti itu. Cukuplah suaramu itu angin dan telingaku sehelai daun yang akan gugur. Terima kasih telah membumikanku.

2.Mata
Entah berapa orang yang menyukai matamu. Berapa binar yang merekah kala menatap matamu. Aku tak tahu berada di angka berapa untuk urusan itu. Tak seperti nelayan yang butuh jala dan umpan, cukuplah sepasang matamu terbuka entah menatap siapa, aku pasti terjerat dengan sukarela dan pasrah.

3.Aku
Menjadi aku adalah peran yang menyenangkan. Menjadi aku adalah menjalani hidup sebagai seseorang yang menyukaimu. Bukankah itu menyenangkan, Raisa? Andai aku bagian penting dalam hidupmu, dan aku senang berandai-andai.

Sebenarnya kekagumanku tidak cukup dengan surat ini. Aku ingin memberimu lebih, 085796702457 nomor teleponku. Teleponlah aku, bernyanyilah untukku. Oh iya, ketika semua cermin dan kamera di dunia ini rusak, punah selama-lamanya, datanglah padaku, tataplah mataku, lalu bersyukurlah betapa indah dirimu di salam sana.

Apa? Kau juga kagum kepadaku? Ingin beradu? Sekadar informasi, aku lahir dua hari sebelum kau dilahirkan. Itu artinya aku punya waktu 2 hari lebih banyak mengagumimu.

Bersemangatlah,


Fadhli Amir
@Botsun

Sabtu, 18 Januari 2014

Tiga Lagu Coldplay Untukmu

1. What If
Bagaimana jika kau kutemukan di mataku yang tiba-tiba buta?
Bagaimana jika kau kutemukan di kakiku yang mendadak lumpuh?
Bagaimana jika kau kutemukan di dadaku yang seketika sesak?

Jika mataku buta, aku akan meminjam mata waktu, dengan begitu aku mampu melihatmu kapan saja.
Jika kakiku lumpuh, aku akan meminjam kaki langit, agar kau karam bersama cemerlang senja.
Jika dadaku sesak, aku akan meminjam dada jalan. Sesibuk apapun manusia berhamburan, untukmu aku selalu lengang.

2. Swallowed in the Sea

Aku ingin menjadi laut. Sebab laut adalah muara segala sungai, juga air matamu.
Aku ingin menjadi laut. Sebab aku tak mampu berenang, dan kau selalu layak dikenang.
Aku ingin menjadi laut. Sebab matamu selalu air, dan hatiku melulu sehelai kain.
Lalu tiba-tiba aku ingin jadi ikan. Sebab matamu menjelma nelayan, dan aku ingin kaujadikan harapan.

3. Fix You
Dengarlah lagu ini. Nadanya adalah rumpun semua keluh peluhmu ketika menjajaki nyata. Jangan bertanya pada nyata, cukup hakimi dirimu sendiri yang menjadikan aku sebatas kenangan. Aku pun akan menghakimi diriku sendiri yang menjadikan dirimu seluas masa depan. Dengarlah lagu ini, lalu bacalah pesan ini:

Sungguh menyenangkan menyaksikan matahari masih duduk
Sementara engkau berlutut mencium tangan Tuhan.
Semoga kau ingat kalimat ini: “Jodoh di tangan Tuhan”.
Setiap kali mendengar kalimat itu didengungkan angin, juga bibirmu, juga semua dirimu, aku selalu berdoa,sudikah kiranya Tuhan membuka tangannya? Mungkin kau akan menemukanku di sana, lalu kau mencium tangan Tuhan begitu khidmat.

Selasa, 14 Januari 2014

Kekuatan Lengan Ibu

kata ayah siang terlalu tangguh
ia sangat terang
dan matahari tepat di atas kepalaku
memayungiku dari teduh
yang bersembunyi di langit ke tujuh

tapi siang tak setangguh lengan ibu
yang mampu membawaku ke mana-mana
tanpa sempat mengusap peluh
tanpa sempat mangucap keluh

kata ayah malam terlalu tangguh
ia sangat gelap
dan dingin berkumpul di sekujur tubuhku
memayungkiku dari hangat
yang bersembunyi di kaki jagat

tapi malam tak setangguh lengan ibu
yang mampu merangkul jiwa ragaku
tanpa sempat memeluk dirinya
tanpa sempat mengerutkan dahinya

kata ayah dunia terlalu luas
tapi dunia tak seluas lengan ibu
yang mampu menampung cinta
lalu merambatkannya ke dalam aku
Makassar, Oktober 2013


Selasa, 17 Desember 2013

Katamu, Waktu Punya Bangku

katamu, waktu punya bangku
di tepi dermaga
yang tengah berdoa menghadap air
rupanya rapal doa telah basah
lalu menuju mekar teratai

katamu, waktu punya bangku
di atas mekar teratai
yang tengah berdoa
rupanya doa telah rampung
lalu menuju lapang langit

katamu, waktu punya bangku
di tengah lapang langit
rupanya rapal doa telah meluas
lalu menuju biji bulan

katamu, waktu punya bangku
di dalam biji bulan
rupanya rapal doa telah mati
lalu menuju atap mata kita

katamu, waktu punya bangku
di atap mata kita
rupanya, doa tak terlihat
lalu menuju tepi masa depan

katamu, waktu punya bangku
di tepi masa depan
rupanya bangku itu telah, tengah, dan terus menunggu
hingga doa kita tiba

Camba, 2013

Rabu, 11 Desember 2013

Penyair Pemalu

Ia seorang penyair.
Hidup dan matinya adalah kata-kata:
Kata-kata yang nyata. Saat lahir ia menagis, meneriakkan kata.
Masa kecilnya diliputi kesenangan bermain layang-layang.
Saat sebuah layangan putus, ia meneriakkan “Ayo!”
yang juga sebuah kata. Masa remajanya diserang kata-kata.
Ketika pertama kali jatuh cinta kepada gadis di samping bangkunya.
Lalu ia menulis surat cinta. Surat berisi kata-kata.
Dan ia semakin dewasa dengan kata-kata. Ia paham menggunakan kata yang tepat
untuk pernyataan yang akurat . Lalu uban tumbuh di kepalanya.
Hitam rambutnya dibersihkan masa tua,
dan ia semakin bijak menggunakan kata.
Bibirnya bergetar seperlunya. Ia juga paham mengatakan cinta.
Entah cinta sebagai kata benda, kata sifat, atau justru kata kerja.
Jelasnya, cinta hanya kata di bibir tuanya.

Ia seorang pemalu.
Hidup dan matinya adalah malu-malu:
Malu-malu mengungkap kata.
Kala ia lahir, ia berteriak, namun ia bayi yang pemalu,
hanya mampu menangis dan masih malu tertawa.
Masa kecilnya diliputi tawa. Ia menyeberangi jembatan tua menuju sekolah.
Setiap hari, ia balapan lari bersama temannya, lalu sampai ke sekolah
dengan seragam basah. Peluh bersandar di setiap serat kain bajunya.
Tetapi ia seorang pemalu. Ia malu kepada matahari yang mengeringkan kerongkongannya,
juga malu pada matahari yang membuatnya terus berkeringat.
Ia malu mengungkap keluh saat diserang milyaran peluh.
Maka ia menaruh rasa malunya di ujung tiang bendera. Memberi hormat saat upacara.
Ia terus menjadi seorang pemalu.
Ibunya miskin, ayahnya tiada. Adiknya kelaparan. Ia malu, terus malu-malu pada negaranya.

Ia seorang penyair pemalu.
Hidup dan matinya adalah kata-kata yang malu-malu:
Sejak lahir hingga menjelang matinya ia terus menulis puisi.
Membacakannya di hadapan Tuhan.
Ternyata Tuhan menyukai puisi-puisinya.
Di antara semua puisinya, Tuhan begitu mencintai salah satunya.
Bacalah itu di pusaranya, ada sebuah nama “Abdul” di sana.
Ia seorang hamba Tuhan, pemalu pula. Setiap hari hanya mampu beribadah,
dan mengirimkan permintaan juga keluh kesah, hingga seluruh yang ia punya,
melalui doa-doa yang juga adalah kata-kata.

Ia seorang penyair, tetapi malu-malu.
Ia malu menunjukkan kemaluannya di tempat umum
Kecuali di toilet umum.
Ia malu menampakkan wajahnya di hadapan Tuhan
Sebab wajahnya terlampau buruk, dan Tuhan tak menyukai hal-hal buruk.
Ia malu keluar rumah. Sebab rumahnya pelindung sempurna,
dan dunia luar senang mencerca.
Ia malu mengatakan “Aku mencintaimu” kepada gadis pujaannya.
Maka ia menulis sajak cinta untuk kekasihnya.
Sayangnya, gadis itu tak bisa membaca.

Makassar, 2013

Fadhli Amir

Sabtu, 23 November 2013

ONEIROI

kau meletakkan mimpi
meletakkannya di langit tertinggi
langit yang tak pernah mampu
dijangkau retinamu

aku meletakkan mimpi
meletakkannya di depan pintu
pintu yang hanya mampu
dibuka mimpimu

Tuhan meletakkan tangga
meletakkannya di luar rumah
maka kugunakan tangga itu
menuju langit teringgi
memetik mimpimu
agar aku mampu membuka pintu
dan mimpi kita bertemu

Minggu, 17 November 2013

Elegi Tepuk Tangan

Saya penasaran terhadap orang yang pertama kali bertepuk tangan kemudian menjadi kebudayaan turun temurun. Apa yang ia saksikan, pikirkan, dan rasakan hingga memutuskan untuk bertepuk tangan?

Secara etimologi, tepuk tangan berarti menamparkan kedua telapak tangan untuk menghasilkan bunyi. Bunyi tepuk tangan ini dalam sejarah beberapa bangsa ternyata berbeda. Bangsa Romawi kuno, misalnya. Mereka memiliki kebudayaan tepuk tangan untuk memberi penghargaan bagi sebuah pertunjukan. Lain halnya dengan orang Tibet yang mengartikannya dengan pendekatan mistik. Mereka melakukannya sebagai upaya mengusir roh jahat. Meski begitu, ada juga yang berpendapat bahwa tepuk tangan sebenarnya terinspirasi dari alat musik perkusi yang digunakan saat upacara umum orang Mesir kuno.

Peneliti di Universitas Hartford, Connecticut, Amerika Serikat, Yvette Blanchard mengatakan manusia bertepuk tangan karena “dibuat”, bukan sejak lahir.

Jika dicermati, tepuk tangan memiliki tugas mulia. Taruhlah Anda seorang seniman, pembicara, atau hanya orang biasa yang sekadar menyampaikan opini di depan umum. Suara kita terasa didengarkan dan diakui bila disambut dan diantar dengan tepuk tangan. Sebuah bentuk penghargaan luar biasa melalui aktivitas yang biasa-biasa saja. Sungguh mulia kita yang bertepuk tangan untuk suara-suara yang layak didengarkan dan dihadiahi penghargaan. Namun apa jadiinya, jika tepuk tangan itu kian bergeser dari landasannya? Rasanya, kita telah mengajak tepuk tangan bepergian terlampau jauh lalu lupa mengantarnya pulang.

Anda mungkin pernah menyaksikan sebuah acara kuis berhadiah, atau dalam beberapa kompetisi dan perlombaan. Sang pembawa acara kerap harus menentukan pemenang dari beberapa peserta melalui tepuk tangan. Perihal ini menunjukkan tepuk tangan dianggap sebagai sebuah tolak ukur sempurna dan sahih. Demi mendapatkan hadiah, kita rela melakukan hal-hal gila sembari mengemis tepuk tangan. Penonton seperti dipaksa tepuk tangan untuk menentukan yang terbaik. Saya berani bertaruh, tidak semua penonton yang tepuk tangan itu tahu untuk apa tepuk tangan ditujukan. Yang mereka tahu adalah nasib seseorang ditentukan oleh tepuk tangan. Tepuk tangan telah kehilangan obyektivitasnya. Bayangkan jika semua kompetisi menerapkan peraturan serupa. Lambat laun anak cucu kita tidak lagi mengenal pemenang sebagai orang yang terbaik. Mereka akan hidup dalam pemahaman bahwa seorang pemenang adalah pengumpul tepuk tangan terbanyak.

Saya pernah menyaksikan seorang ulama didaulat memimpin doa dalam sebuah perhelatan kampanye pasangan calon gubernur beberapa bulan silam di televisi. Ia naik ke panggung melafalkan doa dengan nada meringis. Kata-katanya pun dipaksakan puitis. Sementara itu, hadirin berpaling dengan kesibukan lain. Memang ada yang menadahkan tangan, namun lebih banyak yang sibuk berbincang, bermain dengan ponsel dan mengipas-ngipas wajah. Selepas memimpin doa, para hadirin mengantarnya turun dari panggung dengan tepuk tangan. Rupanya kita ini manusia mekanis. Kita terbiasa dengan orang yang naik dan turun dari panggung. Kemudian, kita lupa, bahkan cenderung mengabaikan penyampaian seseorang di atas panggung tersebut. Kemunculan seseorang di atas panggung ditafsirkan hanya sebagai dua aktivitas lazim: naik dan turun. Kedua aktivitas itu membuat kita merasa harus tepuk tangan. Padahal, melalui doa, kita mengakui kekuasaan Tuhan dan betapa kecilnya kita yang hidup dari permohonan dan harapan untuk dikabulkan. Sedemikian larutnya kita dalam euforia, hingga doa pun dianggap mesti diberikan gemuruh tepuk tangan. Imbasnya, doa kehilangan esensinya sebagai permohonan khidmat. Akibat tepuk tangan, doa telah digiring menuju ruang kemeriahan, bukan keheningan. Tanpa sadar juga, tepuk tangan menjadikan doa tadi terlihat sebagai tontonan, bukan komunikasi intim dan penyerahan diri manusia kepada Tuhan. Atau mungkin di mata kita, sang pembaca doa itu seperti seorang peserta “ajang pencarian tepuk tangan” yang tengah berupaya menjadi pemenang.

Masalahnya sederhana, kita terlena. Hanya karena tepuk tangan adalah bentuk penghargaan paling sederhana, mudah, dan sangat mendunia, kita malah lupa bahwa tidak semua hal pantas dihargai dengan tepuk tangan. Sungguh tepuk tangan kita semakin artifisial.

Ada sebuah jawaban nakal di kepala saya tentang orang yang pertama kali bertepuk tangan. Mungkin ia adalah seorang yang ingin bersuara, namun bisu. Satu-satunya kebaikan yang mampu ia lakukan adalah dengan kerja kedua tangannya. Namun dari semua buah tangannya, tak satupun didengarkan dan memperoleh pengakuan. Agar karyanya didengar lalu dihargai, ia pun membuat bunyi-bunyian dengan menepuk kedua telapak tangannya. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk dirinya sendiri.

Ketika budaya tepuk tangan terus terbawa arus kesalahpahaman, maka kita perlu menanyakan ini pada diri sendiri. Jika esok kita mati, relakah roh itu meninggalkan jasadnya, menghadap Tuhan dengan iring-iringan tepuk tangan?

Fadhli Amir
Aktor Kala Teater

Tulisan ini dmuat di kolom literasi Koran Tempo Makassar edisi Sabtu, 9 November 2013


Pernyataan Pura-Pura

Pernah seorang teman menyatakan bahwa aktor teater adalah pembohong yang ulung. Mendengar dan meresapi ini ada sebuah elegi di kepala mengenai aksi berpura-pura. Pernyataan ini pula melahirkan korban kepura-puraan.

Ada tiga subyek yang disakiti oleh pernyataan itu, ialah aktor teater, teater itu sendiri, dan orang yang menyatakannya. Subyek pertama adalah aktor teater. Ada sebuah konsep bernama inflasi imajinasi. Imajinasi membuat subyek merasakan kenyataan obyek imajinasinya. Meski bentuknya citra mental, tetap saja ada kenyataan di dunia imajinasi. Stanislavsky pun membahas imajinasi sebagai sebuah metode pendalaman karakter di dalam bukunya yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul “Persiapan Seorang Aktor”. Di bukunya itu, Stanislavsky mengisahkan pengalamannya ketika ditugasi sebuah peran. Maka, ia membuat citra mental di kepalanya tentang karakter yang akan ia mainkan. Ia berhadapan dengan cermin, mendandani wajahnya, menggunakan barang-barang di dalam kamarnya sebagai properti, sesuai penafsirannya terhadap karakter yang akan ia mainkan. Maka ketika menjumpai aktor memainkan sebuah peran, dan Anda tahu aktor itu dalam kehidupan sehari-harinya tidak demikian, yakinlah bahwa yang tengah ia perankan di panggung bukan sebuah kepura-puraan, melainkan kenyataan lain. Meski begitu, ada juga aktor yang gagal, sehingga apa yang diperankannya terkesan berpura-pura. Aktor yang demikian tidak berhasil memasukkan peran ke dalam dirinya. Dia tidak menjadi atau minimal seperti peran itu, tapi cenderung berbohong. Ia membohongi dirinya sendiri, bermaksud keluar dari dirinya dan menjadi orang lain, tapi malah berpura-pura menjadi orang lain di hadapan penonton.

Subyek kedua adalah teater itu sendiri. Constantin Stanislavsky pernah menyatakan bahwa kebenaran di atas panggung berbeda dengan kebenaran dalam kehidupan nyata. Seorang yang menonton pertunjukan teater sejatinya menyaksikan realisme panggung, bukan realisme kehidupan dunia. Misalnya ketika sesesorang yang dalam kehidupan sehari-harinya sangat pendiam. Tiba-tiba ia harus berperan sebagai seorang yang cerewet. Ia mesti cerewet ketika memainkan perannya, meski sebenarnya ia seorang yang pendiam dalam kehidupan sehari-hari. Ia memiliki dua kenyataan. Kenyataan di kehidupannya sebagai orang pendiam dan kenyataannya di panggung sebagai orang cerewet. Keduanya adalah kenyataan, bukan kepura-puraan. Sehingga pandangan tentang teater yang mengumbar kepura-puraan rupanya menyakiti teater dan para penggiatnya. Sebab teater tidak bersifat mimetik. Teater tidak sekedar memindahkan, namun menciptakan realita. Bahkan ketika lakon yang dimainkan adalah jenis teater absurd, tetap saja yang disajikan adalah kenyataan. Tentunya dengan menyerap kehidupan sehari-hari kemudian menafsirkannya dalam bentuk pertunjukan. Sekali lagi, ini bukan aksi pemindahan realita, tapi penafsiran yang di dalamnya sudah ada riset, opini, dan rentetan pesan. Hal ini bahkan tergambar pada sejarah teater itu sendiri. Teater menurut sejarahnya berawal dari kebiasaan bangsa Yunani kuno melakukan upacara ritual penyembahan kepada dewa. Upacara ritual itu berifat dramatik, memiliki unsur cerita di dalamnya. Dengan begitu, teater sejatinya berawal dari sebuah gejolak dan penghayatan nyata manusia yang kemudian berkembang menjadi pertunjukan. Penonton sama sekali tidak sekedar menyaksikan fotokopi kehidupan.

Subyek ketiga adalah manusia itu sendiri, dalam hal ini orang yang menyatakan bahwa secara umum aktor dan teater adalah bentuk kepura-puraan. Hidup itu sebuah kenyataan. Maka siapa saja yang memandang teater sebelah mata, atau malah menutup matanya, itu sama saja ia mengalihkan pandangan terhadap kehidupannya sendiri. Bahkan, ia justru hidup tanpa sempat melihat kehidupan di sekitarnya. Menonton teater adalah bentuk menghormati, menghargai, mencintai, bahkan merayakan kehidupan.

Perihal kepura-puraan tadi, semua tergantung aktornya. Memang bukan perkara mudah menjadi seorang aktor teater. Fisik, mental, dan intelektual yang memadai sangat dibutuhkan. Melakonkan karakter idealnya menjadi, minimal seperti karakter tersebut. Sementara berpura-pura merupakan bentuk kegagalan seorang aktor. Maka jangan salahkan penonton yang pulang sebelum pertunjukan usai. Atau penonton yang tiba-tiba menuju ruang belakang panggung selepas pertunjukan mencari kenyataan yang dijanjikannya.
Pun demikian, jangan salahkan aktor ketika merasa hanya menyaksikan pertunjukan kepura-puraan. Bisa jadi, aktor itu gagal, atau mungkin kita yang tidak peka.

Bukankah kehidupan sebenarnya lekat dengan kepura-puraan? Tak perlu melulu penguasa atau calon penipu di kertas suara. Cukup diri kita sendiri yang setiap harinya tak pernah luput dari kebohongan. Seolah kebohongan menjadi pertahanan terakhir, mungkin sebuah pembelaan terhadap nasib dan kesalahan. Setiap kali berpura-pura, bukankah itu nyata? Atau kita tengah berpura-pura untuk berpura-pura?

Lagipula, setiap individu adalah aktor bagi kehidupannya sendiri. Sementara waktu yang banyak diisi kepura-puraan ikut ambil bagian. Maka, berpura-pura kah kita hidup?

“In Act We Trust"
Fadhli Amir
Aktor Kala Teater

Tulisan ini dimuat di kolom literasi Koran Tempo Makassar edisi Sabtu, 26 Oktober 2013

Selasa, 12 November 2013

Waktu dan Manusia

Saya selalu memikirkan bagaimana waktu itu bekerja. Saya teringat dengan pernyataan Fahd Djibran dalam bukunya “A Cat in My Eyes”. Ia dengan sangat percaya diri menyatakan “waktu itu mengkhianati jarak”. Buku itu adalah kumpulan cerpen, esai, dan puisi. Dalam salah satu bagian bukunya ia menceritakan perjalanannya dengan mobil menempuh jarak yang cukup jauh. Ia hendak menuju tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Di perjalanan ia menemukan jalan – jalan yang asing. Pada saat itu ia merasa jarak yang ditempuh itu sangatlah jauh. Pada saat yang bersamaan ia merasa membutuhkan waktu yang lama untuk menempuh jarak itu. Ia memutuskan bahwa tempat yang ditujunya memang cukup jauh dan membutuhkan waktu yang juga cukup lama untuk sampai ke sana. Pada kesempatan yang lain ia kembali mengunjugi tempat itu untuk kedua kalinya. Karena sudah pernah mengunjugi tempat itu sebelumnya, ia punya memori perihal jalan yang harus ditempuh, kondisi jalanannya, dan pemandangan di sepanjang jalan menuju tempat itu. Hal yang berbeda pun ia rasakan. Ia merasa jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh. Berbeda dengan jarak yang ia rasakan ketika pertama kali mengunjugi tempat itu. Padahal, waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tadi relatif sama. Namun, ia merasa jarak yang ditempuh dan waktu yang dibutuhkan untuk bisa sampai ke tempat itu lebih dekat dan sedikit bila dibandingkan dengan ketika pertama kali ia mengunjungi tempat itu.

Mungkin peristiwa yang dialami Fahd Djibran adalah hal yang lumrah dan sering kita alami. Dalam hal ini, waktu seperti memiliki kekuatan magis untuk mengubah segalanya. Peristiwa Isra’ Mi’raj dalam ajaran agama Islam menunjukkan salah satu aktivitas magis waktu. Dalam peristiwa itu, Nabi Muhammad mencapai tempat tertinggi dalam waktu semalam saja. Hal ini tentunya di luar logika. Namun Tuhan selalu menyuruh kita untuk belajar. Waktu bukanlah hal yang magis.

Secara ilmiah, waktu dapat dipelajari. Dalam ilmu fisika, waktu adalah besaran pokok yang melambangkan periode atau interval yang bisa diukur secara pasti dalam satuan detik. Albert Einstein dalam teori relativitasnya merumuskan itu. Menurut Einstein, semakin besar kecepatan gerak suatu benda atau partikel, waktu akan berjalan semakin lambat. Maka waktu yang sedikit bisa disiasati dengan pergerakan yang cepat. Tak heran, di negara – negara maju, penduduknya terbiasa dengan gerak cepat untuk mengefisienkan waktu agar bisa menyelesaikan serangkaian aktivitas. Arus ini berimbas pada kurangnya waktu untuk saling menyapa dan peduli sesama. Mungkinkah waktu sekejam itu?

Waktu juga berperan dalam menentukan kebutuhan dan kesenangan. Di masa kanak – kanak, kesenangan saya pada waktu itu begitu mudah didapatkan. Saya bisa merasa senang ketika bermain petak umpet, main kelereng, atau main perang – perangan dengan teman sebaya. Di masa remaja, kesenangan saya berubah. Kelereng, petak umpet, perang – perangan, perlahan menjadi hal yang sangat membosankan, bahkan memalukan. Saya akan merasa senang bila mendengarkan musik dari band – band luar negeri. Saya bisa merasa senang bila naik motor bersama teman – teman mengukur jalan. Beranjak dewasa, waktu kembali mengubah kesenangan saya. Naik motor, berkonvoi bersama teman – teman menjadi hal yang menjijikkan. Justru, berdiam diri di rumah, membaca buku, menonton film, menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Di masa itu pula, saya menjumpai seorang wanita selain ibu yang membuat saya jatuh cinta. Apakah waktu juga yang menumbuhkan sebuah perasaan cinta?

Waktu tidaklah kejam. Manusia yang membuatnya terasa menakutkan. Seperti di film “In Time”. Film fiksi ilmiah karya sutradara Andrew Niccol yang dirilis pada tahun 2011 itu bercerita tentang kehidupan manusia yang akan berhenti menua pada usia 25 tahun. Kemudian, di lengan mereka terpasang jam yang menunjukkan sisa waktu mereka. Di film itu, waktu menjadi mata uang dan alat untuk membeli keperluan hidup. Orang kaya memiliki banyak waktu, dan orang miskin sebaliknya. Film itu menceritakan bagaimana waktu adalah sesuatu yang menentukan hidup dan mati seseorang. Waktu yang dimiliki akan digunakan seefektif dan seefisien mungkin. Saya membayangkan bagaimana jika kehidupan kita sama persis dengan kejadian di film itu. Masih adakah di antara kita yang akan menambah jam tidur, meminta cuti kerja di saat yang tidak semestinya, berpesta pora, melalaikan tugas dan aktivitas lain demi bermain game, patah hati, merindu sambil menangis, atau duduk termenung melihat putaran jarum jam? Saya juga membayangkan, masih adakah orang yang rela menunggu dan membuat orang lain menunggu? Sementara menunggu adalah bunuh diri, dan membuat orang menunggu adalah pembunuhan secara perlahan.

Manusia itu hidup. Waktu tidak. Tapi waktu menghidupi manusia.

Tulisan ini dimuat di kolom literasi Koran Tempo Makassar edisi Jumat, 27 September 2013

Senin, 28 Oktober 2013

SAJAK UNTUK ADIK DAN ENGKAU KALA SIANG GULITA

suatu ketika adik bermain bola
bola ditendangnya menghantam air
air bergejolak memercik adik
adik basah dibalut baju
baju kuyup membungkus tubuh
tubuh manja menyergap bola

engkau cantik di mata
mata diserang warna-warna
warna-warna membentuk gradasi
gradasi memanen pujian
pujian menginap di lidah
lidah menyenggol bibir
bibir bergetar mengucap kata
kata habis menyisakan cinta
cinta berhenti di stasiun kata

aku suka mencintaimu
mencintaimu adalah memilihmu
memilihmu adalah memilahmu
memilahmu adalah memulihkanmu
memulihkanmu adalah menemukanmu
menemukanmu di antara jutaan sajak cinta
sajak cinta yang terus lahir sepanjang sejarah
sejarah yang ditinggalkan kekinian
kekinian yang mendambakan masa depan
masa depan yang kesepian hanya ditunggu kematian

aku suka bermain bola seperti adik
adik punya bola, aku juga
juga adik tak punya aku
aku tak punya adik

aku suka kecantikan seperti engkau
engaku cantik seperi "mencintai"
"mencintai" milikku, untuk dirimu
dirimu tak punya "mencintai"
pun diriku tak punya "dicintai"

Chat Room Bloofers