Sayat-sayat runyam terbunuh oleh pertahanan mimpi
Setelah sekian lama terbuai dalam khayalan, ternyata membuatnya tidak begitu rumit
Sebutir pasir sanggup dia genggam menuju tekstur terlembut dan bentuk terkecil
Atom-atom pun menyerah
Inilah siluet hidup. Hal yang dikesampingkan justru lebih melesat ke depan daripada raut wajahnya. Kemudian sayat-sayat runyam itu kembali menafsirkan visual-visual buta, kali ini matanya menjadi lebih peka, tidak manja akan cahaya. Karena baginya kini, gelap justru menerangkan langkahnya.
Kau yang selama ini memandang hidup dai sisi depan hanya mendapatkan sebagian, bahkan tidak ada. Sisi samping siluet sayat-sayat runyam ini membuatmu lebih nyaman mendera kepingan kenanganmu. Tak juga istimewa, namun lebih membuatmu gesit.
Sayat-sayat runyam kini menyiluetkan dirinya, tidak menggantungkan pada wajah, pada hati, pada teori, pada kenangan, pada hal-hal yang membuatnya berbeda. Berbeda tidak perlu berlebihan, berbeda adalah peka, menelusuri semua kebijakan titik.
Maka sampailah ia di ujung jalan di mana sayat-sayat runyam akan mengkahiri siluet hidupnya. Dia tidak mengajak siapa-siapa, hanya meminta izin untuk pergi duluan, kelak kami akan menyusul.
Dedicated to my beloved brother,Almarhum Kadri Amsyar, S.S
Kamis, 23 September 2010
Selasa, 31 Agustus 2010
KUCING VEGETARIAN
Ketika kucing menjadi vegetarian...
Harga ikan semakin mahal, apa mungkin kucing-kucing itu menjadi vegetarian?
Hal-hal naluriah, alamiah, dan kodratri, bisakah semua itu berubah seiring modernisasi, tuntutan zaman, atau kebutuhan pasar?
Jika kucing-kucing makan sayuran, rumput, dan tumbuhan lainnya, para petani memiliki musuh baru selain babi, kambing, kuda, sapi, dan hewan-hewan lain yang sering menggerecoki kebunnya.
Imajinasi liar ketika kucing berubah menjadi vegetarian..
BiSa saja, mungkin, entah? Hanya Tuhan yang punya kuasa. Manusia yang seringkali menyalahi kodratnya, mengapa hewan tidak melakukan itu? jika tidak, berarti sekali lagi, hewan jauh lebih baik daripada manusia dalam hal mensyukuri takdir dan anugerahNya
Harga ikan semakin mahal, apa mungkin kucing-kucing itu menjadi vegetarian?
Hal-hal naluriah, alamiah, dan kodratri, bisakah semua itu berubah seiring modernisasi, tuntutan zaman, atau kebutuhan pasar?
Jika kucing-kucing makan sayuran, rumput, dan tumbuhan lainnya, para petani memiliki musuh baru selain babi, kambing, kuda, sapi, dan hewan-hewan lain yang sering menggerecoki kebunnya.
Imajinasi liar ketika kucing berubah menjadi vegetarian..
BiSa saja, mungkin, entah? Hanya Tuhan yang punya kuasa. Manusia yang seringkali menyalahi kodratnya, mengapa hewan tidak melakukan itu? jika tidak, berarti sekali lagi, hewan jauh lebih baik daripada manusia dalam hal mensyukuri takdir dan anugerahNya
Rabu, 25 Agustus 2010
Laron vs Kunang-Kunang
Jika ada kata serupa, maka analogi yang aku gambarkan adalah laron dan kunang-kunang.
Keduanya tak bisa lepas dari cahaya. Bedanya, laron hanya memburu cahaya, pergi ketika gelap mematikannya, sementara kunang-kunang, membawa cahayanya ke mana-mana.
Jika ada kata serupa, biarlah aku menjadi kunang-kunang.
Keduanya tak bisa lepas dari cahaya. Bedanya, laron hanya memburu cahaya, pergi ketika gelap mematikannya, sementara kunang-kunang, membawa cahayanya ke mana-mana.
Jika ada kata serupa, biarlah aku menjadi kunang-kunang.
Senin, 23 Agustus 2010
PULANG
Harus apa aku sekarang ini?
masih aku cari....
Sesaat setelah menyelesaikan hajatan, harus apa aku setelahnya?
Masih mencari............
Membuat perencanaan dan jadwal kegiatan
harus apa aku setelah menjalaninya...?
Pulang....
Pulang menjadi pekerjaan terakhir ketika tak ada lagi rencana kegiatan di kepala. Mungkin melepas lelah, rindu pada rumah, tuntutan tanggungjawab pada anak dan istri, sudah waktunya pulang, atau justru pulang itu ada dalam jadwal kegiatan kita...? Entah
Niat apapun yang melandasi sebuah kepulangan, hanya ada satu aksi yang ditimbulkannya, kembali ke posisi awal.
Dia: "Aku tak mau pulang."
Aku: "Kenapa?"
Dia: "Aku tak punya rumah."
Aku: "Pulang tidak mesti menuju rumah, dan pulang tak membutuhkan rumah."
Dia: "Lalu, bagaimana caranya aku pulang?"
Aku: "Hanya menuju ke tempat yang bisa membuatmu merasa di sinilah kau bermula."
Kemudian dia pulang setelah nafasnya terhenti.
Aku: "Semoga kepulanganmu menyenangkan."
Makassar, 23 Agustus 2010
Di sebuah warung kopi yang membuatku lupa bahwa aku akan pulang
masih aku cari....
Sesaat setelah menyelesaikan hajatan, harus apa aku setelahnya?
Masih mencari............
Membuat perencanaan dan jadwal kegiatan
harus apa aku setelah menjalaninya...?
Pulang....
Pulang menjadi pekerjaan terakhir ketika tak ada lagi rencana kegiatan di kepala. Mungkin melepas lelah, rindu pada rumah, tuntutan tanggungjawab pada anak dan istri, sudah waktunya pulang, atau justru pulang itu ada dalam jadwal kegiatan kita...? Entah
Niat apapun yang melandasi sebuah kepulangan, hanya ada satu aksi yang ditimbulkannya, kembali ke posisi awal.
Dia: "Aku tak mau pulang."
Aku: "Kenapa?"
Dia: "Aku tak punya rumah."
Aku: "Pulang tidak mesti menuju rumah, dan pulang tak membutuhkan rumah."
Dia: "Lalu, bagaimana caranya aku pulang?"
Aku: "Hanya menuju ke tempat yang bisa membuatmu merasa di sinilah kau bermula."
Kemudian dia pulang setelah nafasnya terhenti.
Aku: "Semoga kepulanganmu menyenangkan."
Makassar, 23 Agustus 2010
Di sebuah warung kopi yang membuatku lupa bahwa aku akan pulang
Senin, 09 Agustus 2010
Dear My Memory
Dear ,
My memory
Terkadang aku merasa hidup ketika memejamkan mata. Merespon setiap ikatan yang masuk berebutan dalam ruang memoriku. Seperti saat ini, di dalam kamar yang kusinggahi kala penat. Terhimpun beribu peluh dalam bentuk cerita-cerita. Dia bertutur seperti dongeng penyambut lelap. Merangkum semua ingatan memang mengasyikkan, walau itu menyalahi idealisme berbagi. Hal-hal absurd menjadi sebuah kelaziman nalar dan terpukau olehnya. Saat ini, jemari hanya mampu menyolok kedua bola mata agar terjaga dalam situasi terpejam. Mungkin hangat, sehangat tungku raksasa di tengah kutub. Kemudian, hari-hari baru menempatkanku juga dalam dunia baru, orang-orang baru, aktivitas baru, yang membuatku merasa jadi orang baru, bahkan lebih parahnya lagi terkesan asing, dan aku menikmati keasinganku. Suatu saat jika aku kembali membuka halaman-halaman lampau, maka aku merasa jadi orang tersisih, tanpa identitas, dan tanpa pribadi. Hanya raga yang berdiri di tengah lingkaran, jiwa entah berwisata ke mana.
Untuk ikatan-ikatan itu, aku harus meminta maaf karena merenggangkannya, karena aku merasa sesak, hingga ke lambung dan persendianku. Aku tak bisa bergerak, bahkan melangkah setapak di depanku. Ikatan-ikatan lama sudah usang, bukan dilahap masa, namun termamah oleh dinamisme pribadi. Sebuah perkembangan bukan bermaksud melupakan, hanya memberikan wadah lebih untuk visual baru.
Aku tidak perlu menanyakan apakah aku salah atau menyalahimu? Karena yang kujalani bukan sebuah kebenaran yang bertentangan dengan kesalahan, namun niat yang sudah kubangun jauh sebelum aku mengenalmu. Sekali lagi, aku tak di sampingmu, namun aku begitu fasih menyebut namamu, bukan menghafalmu, namun cukup memahamimu. Catatan-catatan ini untuk ikatan lama yang sementara kurenggangkan. Suatu saat aku akan kembali padamu meminta kau mengikatku seperti dulu.
Makassar, 9 Agustus 2010
My memory
Terkadang aku merasa hidup ketika memejamkan mata. Merespon setiap ikatan yang masuk berebutan dalam ruang memoriku. Seperti saat ini, di dalam kamar yang kusinggahi kala penat. Terhimpun beribu peluh dalam bentuk cerita-cerita. Dia bertutur seperti dongeng penyambut lelap. Merangkum semua ingatan memang mengasyikkan, walau itu menyalahi idealisme berbagi. Hal-hal absurd menjadi sebuah kelaziman nalar dan terpukau olehnya. Saat ini, jemari hanya mampu menyolok kedua bola mata agar terjaga dalam situasi terpejam. Mungkin hangat, sehangat tungku raksasa di tengah kutub. Kemudian, hari-hari baru menempatkanku juga dalam dunia baru, orang-orang baru, aktivitas baru, yang membuatku merasa jadi orang baru, bahkan lebih parahnya lagi terkesan asing, dan aku menikmati keasinganku. Suatu saat jika aku kembali membuka halaman-halaman lampau, maka aku merasa jadi orang tersisih, tanpa identitas, dan tanpa pribadi. Hanya raga yang berdiri di tengah lingkaran, jiwa entah berwisata ke mana.
Untuk ikatan-ikatan itu, aku harus meminta maaf karena merenggangkannya, karena aku merasa sesak, hingga ke lambung dan persendianku. Aku tak bisa bergerak, bahkan melangkah setapak di depanku. Ikatan-ikatan lama sudah usang, bukan dilahap masa, namun termamah oleh dinamisme pribadi. Sebuah perkembangan bukan bermaksud melupakan, hanya memberikan wadah lebih untuk visual baru.
Aku tidak perlu menanyakan apakah aku salah atau menyalahimu? Karena yang kujalani bukan sebuah kebenaran yang bertentangan dengan kesalahan, namun niat yang sudah kubangun jauh sebelum aku mengenalmu. Sekali lagi, aku tak di sampingmu, namun aku begitu fasih menyebut namamu, bukan menghafalmu, namun cukup memahamimu. Catatan-catatan ini untuk ikatan lama yang sementara kurenggangkan. Suatu saat aku akan kembali padamu meminta kau mengikatku seperti dulu.
Makassar, 9 Agustus 2010
Minggu, 25 Juli 2010
SHAREISM
Hidup untuk berbagi. Banyak yang menyalahi itu namun ternyata menjalani. Status makhlk sosial bukan isapan jempol semata. Sungguh kuasa Sang Designer utama. Sebelum menjadi penghuni dunia dan masih menumpang dalam rahim, manusia sudah merasakan hasil dari berbagi, ketika sang ibu membagikan nutrisi yang dia serap bukan untuk dirinya sendiri. Berlanjut ketika sudah hijrah ke wadah yang lebih luas dan megah, maka kewajiban untuk berbagi mulai diperhitungkan.
Saya pernah melihat sebuah iklan salah satu produk di TV. Ada dua orang balita yang sedang makan es krim, salah seorang balita tidak sengaja menjatuhkan eskrimnya, dan teman di sampingnya dengan ikhlas membagikan secuil eskrim miliknya untuk temannya itu. Terlihat sangat indah.
Berbagi dalam hal kebaikan, apapun itu menjadi pekerjaan yang menyenangkan, meskipun banyak yang menyalahi. Konsep individualitas tak akan pernah bisa diterapkan dalam ranah yang saling membutuhkan ini.
Sesendiri dan sesunyi apapun hidup kita, bahkan ketika dengan tegas, manusia menyatakan nikmat menjalaninya, berbagi menjadi pekerjaan yang tak bisa dielakkan. Mungkin Anda seorang yang lengkap, kaya fasilitas, memiliki segala yang dibutuhkan, tak akan pernah bisa menyalahi kodrati sosialisme. Ya, Sekecil apapun itu. Saat Anda mengupdate status di jejaring sosial saja, sebenarnya tanpa sadar Anda melakukan proses sharing. Meskipun tidak meminta orang lain membagi miliknya, atau menginginkan orang lain melakukan sesuatu, Anda telah membagikan keluh kesah Anda, apa yang Anda alami dan rasakan pada satu momen. Itulah esensi membagi. Informasi, dan hal-hal yang mungkin tidak perlu, namun Anda merasa perlu menyebarluaskannya.
Anda kembali menyangkal. Anda bilang kalau Anda tidak senang menyebarluaskan aktivitas dan perasaan Anda melalui jejaring sosial, blog, atau sekedar curhat, Anda lebih senang menulis diari. Itu tetap saja berbagi. Anda membagikan apa yang Anda miliki kepada kertas yang begitu setia menampung tinta demi tinta dari lisan hati Anda.
Ada banyak hal yang bisa dibagi, harus dibagi, semestinya dibagi, dan nikmat dibagi. Jika buku diari rela membagikan tempat kosong untuk cerita Anda, mengapa tidak berbagi itu menjadi indah untuk Anda kepada orang-orang yang memang layak untuk dibagi, agar mereka bisa merasakan juga nikmat Tuhan yang belum sempat mereka rasakan hanya karena kehendak nasib.
Seperti yang saya lakukan saat ini, saya sedang membagi. Membagi apa yang saya tulis kepada Anda yang telah, tengah, atau akan berbagi.
Makassar, 25 Juli 2010
Saya pernah melihat sebuah iklan salah satu produk di TV. Ada dua orang balita yang sedang makan es krim, salah seorang balita tidak sengaja menjatuhkan eskrimnya, dan teman di sampingnya dengan ikhlas membagikan secuil eskrim miliknya untuk temannya itu. Terlihat sangat indah.
Berbagi dalam hal kebaikan, apapun itu menjadi pekerjaan yang menyenangkan, meskipun banyak yang menyalahi. Konsep individualitas tak akan pernah bisa diterapkan dalam ranah yang saling membutuhkan ini.
Sesendiri dan sesunyi apapun hidup kita, bahkan ketika dengan tegas, manusia menyatakan nikmat menjalaninya, berbagi menjadi pekerjaan yang tak bisa dielakkan. Mungkin Anda seorang yang lengkap, kaya fasilitas, memiliki segala yang dibutuhkan, tak akan pernah bisa menyalahi kodrati sosialisme. Ya, Sekecil apapun itu. Saat Anda mengupdate status di jejaring sosial saja, sebenarnya tanpa sadar Anda melakukan proses sharing. Meskipun tidak meminta orang lain membagi miliknya, atau menginginkan orang lain melakukan sesuatu, Anda telah membagikan keluh kesah Anda, apa yang Anda alami dan rasakan pada satu momen. Itulah esensi membagi. Informasi, dan hal-hal yang mungkin tidak perlu, namun Anda merasa perlu menyebarluaskannya.
Anda kembali menyangkal. Anda bilang kalau Anda tidak senang menyebarluaskan aktivitas dan perasaan Anda melalui jejaring sosial, blog, atau sekedar curhat, Anda lebih senang menulis diari. Itu tetap saja berbagi. Anda membagikan apa yang Anda miliki kepada kertas yang begitu setia menampung tinta demi tinta dari lisan hati Anda.
Ada banyak hal yang bisa dibagi, harus dibagi, semestinya dibagi, dan nikmat dibagi. Jika buku diari rela membagikan tempat kosong untuk cerita Anda, mengapa tidak berbagi itu menjadi indah untuk Anda kepada orang-orang yang memang layak untuk dibagi, agar mereka bisa merasakan juga nikmat Tuhan yang belum sempat mereka rasakan hanya karena kehendak nasib.
Seperti yang saya lakukan saat ini, saya sedang membagi. Membagi apa yang saya tulis kepada Anda yang telah, tengah, atau akan berbagi.
Makassar, 25 Juli 2010
Selasa, 20 Juli 2010
OBSESI
Aku bermimpi, maka aku hidup. Itu yang selalu ku pegang dan ku bawa ke mana aku pergi, dan kapan pun waktu menunjukkan eksistensinya. Saat tertidur selalu ada pengharapan agar mempunyai mimpi baru, dan ketika terbangun selalu ada upaya agar mimpi itu tak sebatas khayalan.
Banyak penulis, orang bijak, dan motivator menyarankan agar tidak takut untuk bermimpi. I have dreams, I have obsessions. Banyak obsesi yang mengantri untuk diperhatikan dan diwujudkan. Kepala sudah semakin berat dan penuh menampung mereka. Bukan mereka yang menumpang, tapi aku yang mengasuhnya.
Memutuskan menghidupkan obsesi dalam kehidupan sudah menjadi keharusan manusia. Menghuni dunia tanpa sedikit pun asa seperti seorang gadis lugu, hidup dalam kamar, tanpa pintu dan jendela, dikuasai oleh konsep pemikiran yang kolot.
Lantas, apa salahnya kalau aku ingin jadi penulis, ingin jadi pengusaha, ingin jadi musisi, pemain film, dan profesi-profesi lainnya? Selama obsesi-obsesi itu tak merubah namaku dalam silsilah keluarga, dan mengganti kepribadianku dalam ruang jiwa, maka aku merasa halal mengasuh semua obsesi-obsesiku.
Saya berobsesi, maka saya mati. Aku akan mati karena obsesi, aku menjadi debu tak terhirup karena obsesi yang kupertahankan hanya sebatas imaji yang aku buat. Besok, ketika aku kembali terbangun, dan tak melakukan apa-apa, bisa saja obsesi itu berkhianat pada tuan rumah, membunuhku dengan tragis, dan betul-betul membuatku menjadi debu tak terhirup. Aku dan semua obsesiku, menantang arus, menyambung garis, dan membunuh lekukan.
Lewat laju obsesi yang semakin kencang, segelas teh manis menjadi kawan setia.
Makassar, 20 Juli 2010
Banyak penulis, orang bijak, dan motivator menyarankan agar tidak takut untuk bermimpi. I have dreams, I have obsessions. Banyak obsesi yang mengantri untuk diperhatikan dan diwujudkan. Kepala sudah semakin berat dan penuh menampung mereka. Bukan mereka yang menumpang, tapi aku yang mengasuhnya.
Memutuskan menghidupkan obsesi dalam kehidupan sudah menjadi keharusan manusia. Menghuni dunia tanpa sedikit pun asa seperti seorang gadis lugu, hidup dalam kamar, tanpa pintu dan jendela, dikuasai oleh konsep pemikiran yang kolot.
Lantas, apa salahnya kalau aku ingin jadi penulis, ingin jadi pengusaha, ingin jadi musisi, pemain film, dan profesi-profesi lainnya? Selama obsesi-obsesi itu tak merubah namaku dalam silsilah keluarga, dan mengganti kepribadianku dalam ruang jiwa, maka aku merasa halal mengasuh semua obsesi-obsesiku.
Saya berobsesi, maka saya mati. Aku akan mati karena obsesi, aku menjadi debu tak terhirup karena obsesi yang kupertahankan hanya sebatas imaji yang aku buat. Besok, ketika aku kembali terbangun, dan tak melakukan apa-apa, bisa saja obsesi itu berkhianat pada tuan rumah, membunuhku dengan tragis, dan betul-betul membuatku menjadi debu tak terhirup. Aku dan semua obsesiku, menantang arus, menyambung garis, dan membunuh lekukan.
Lewat laju obsesi yang semakin kencang, segelas teh manis menjadi kawan setia.
Makassar, 20 Juli 2010
Langganan:
Postingan (Atom)