Selasa, 21 Desember 2010

DOA ORANG GILA

Tuhan....aku orang gila ingin berdoa. Doa ini sudah lama aku persiapkan.
Tuhan....hidup begitu mudah, mengapa manusia membuatnya sulit?

Tuhan...Engkau menyulitkan kemudahan agar manusia berusaha, mengapa manusia memudahkan seGala daya?

Tuhan.....hidup itu nyaman, mengapa manusia membuatnya penat?
Tuhan.....Engkau menyerawutkan kehidupan agar manusia mengenal syukur, mengapa manusia mengabaikan penderitaan?

Tuhan....hidup itu rasa, mengapa manusia mengejar kepuasan? Kepuasan bukan rasa, Tuhan, kepuasan itu penjajah, kepuasan tidak pernah memberhentikan kerja nafsu.

Tuhan.....aku orang gila ingin berdoa, doa yang sudah lama aku persiapkan.

"SEIMBANGKANLAH HIDUP KAMI"

MATAR II

Aku kembali dengan pertanyaan yang masih sama, kapan aku akan menjadi manusia? Oh, iya, maaf aku belum bisa menepati janji, aku berjanji tak akan berjanji lagi. Aku tidak ingin kau mengharapkan lebih padakau untuk sesuatu yang masih berada dalam ketidakpastian. Perjalanan waktu terasa sangat cepat, dan yang berhasil aku lakukan adalah menumpuk semua obsesi-obsesi kecil di kepalaku. Sekarang aku kewalahan menampungnya. Sempat terlintas untuk menguburnya dalam-dalam, tetapi aku mengingat pesan terakhirmu, "Jangan buang apapun yang sudah berada dalam bagianmu!"

Aku masih mengingat itu, Matar. terlebih lagi semua lafazmu yang bisa aku rekam baik-baik. Seandainya aku bisa merekam suara aliran darahmu, maka pastilah aku akan menyimpannya.

Oh, iya....ada satu hal yang selalu kuingat dari gerak bibirmu. Ketika aku menjadikan waktu sebagai pembelaan, kau dengan gesit menegurku. "Jangan jadikan waktu sebagai jawaban atas semua usahamu, tapi jadikan dia sebuah pertanyaan, masihkah kau berada di sana keesokan harinya?" Begitu katamu.

Matar.....kau masih di sana kan? Masih di depan pintu menantiku pulang membawa apa yang kau benamkan padaku? Jika iya, aku ingin bertanya padamu, jika aku berhasil meraih obsesiku, masihkah aku berada di sana pada waktu yang menjadi ketetapan? Atau masihkah kau berada di sana di saat aku pulang?

Aku mempertanyakan peristiwa karena waktu, Matar. Ketakutan terbesarku, waktu bukan hanya jadi pertanyaan seperti yang kau ajarkan, tetapi juga menjadi jawaban perpisaha kita sebelum keinginan.

Senin, 20 Desember 2010

MATAR

Setiap hari kita bertemu, tapi kenapa aku masih rindu?
Haruskan rindu itu berjarak waktu yang lama...?
Maka aku rindu merindukanmu, seperti saat ini, kala sebuah penetapan diriku yang semakin terobsesi untuk menjadi manusia

Lucu ya...aku menerawakan semua hal yang membuatmu menangis.

MATAR....kalau hari ini aku masih terobsesi untuk menjadi manusia, itu karenamu, karena aku masih belum bisa mengobsesikan dirimu, maafkan diriku, sepertinya rasa cinta itu tak lebih dari takdir buatku. Pertemuan kita selama ini aku jauhkan dari pemikiranku, karena aku sudah lama memahaminya.

MATAR.......kalau kau membaca pesan ini, biarkanlah lagu itu menemanimu, kemudian secangkir teh yang aku seduh dengan obsesi kemanusiaanku, hanya itu yang bisa aku sisipkan di setiap waktu luangmu.

MATAR....aku semakin sering menuliskan pesan untukmu, pesan yang aku tak tahu kapan kau akan membacanya. Aku menuliskannya dengan keyakinan kau akan membacanya jika obsesiku menjadi manusia bukan hanya bahan tertawaanmu.

MATAR....aku sudah melupakan wajahmu, aku begitu mudah merusak bingkisan itu, aku merahasiakan hatiku untuk bisa aku buka ketika sudah merasa tepat.

Sekarang aku berada di tempat yang hanya ada satu cahaya, yakni jiwa-jiwa kesepian akan sebuah penerapan kemanusiaan. Aku masih belum bisa menuliskan namaku dengan baik, makanya aku menyamarkan alamat pesanku kepadamu.

MATAR, aku masih berusaha menjadi manusia, manusia yang mampu memanusiakan manusia, bukan sekedar fisik yang menjadi kebanggaan.

MATAR...haruskah setiap saat aku mengulangi kata cintaku padamu? Aku tak mau mencintaimu berlebihan, secukupnya saja, agar tidak hambar tidak pula membuatku terlalu puas, cukup itu sejahtera, MATAR.

MATAR....aku akhiri dulu, aku bahkan belum tahu tujuanku menuliskan ini untukmu
Tunggu aku dengan obsesi yang mati!

KOMPENI

Setujukah Anda kalau saat ini dan sampai waktu yang tidak ditentukan, manusia masih diselimuti penjajahan suasana?

Terkadang,bahkan sering kita mengalami disposisi batin, disfungsi logika, juga manuver gagal kata hati. Suasana sangat kejam mendalamai sampai merasuki kebiasaan. Hari ini kita sedang nyaman sendiri, besoknya bisa saja suasana mengabari kita tentang kebersamaan. Hari ini ideologi sangat menjanjikan menuntun konsistensi, besok, itu semua tidak ada artinya.

Hari ini jatuh cinta, mungkin suasana mendukung, besok, ketika suasana tidak mendukung, cinta itu bisa berubah menjadi rasa bosan.

Seorang ayah tengah menikmati lagu jazz classic di pagi hari. Putranya menghampiri, menggubris, "Lemes banget, Pa, pagi-pagi itu cocoknya dengerin lagu-lagu yang up beat, biar semangat." Sang ayah tersenyum setelah menyeruput kopi tubruknya kemudian berujar santai. "Orang kalau mau semangat gak mesti dengerin lagu up beat, lagu mellow aja bisa jadi penyemangat, tegantung bagaimana kita menyikapi lagu itu, mentransfer energi di dalamnya menjadi segumpal semangat, jangan mau dijajah suasana!"

Saat ini, apakah kita masih dijajah suasana? Jika iya, mari kita meproklamasikan kemerdekaan kita darinya

Minggu, 19 Desember 2010

INCOMPLETE LETTER

(...........................................................)
a....k....u....

i........n......g......i.....n......

b........e......r......h.....a......r.....g......a.......

d.......i......m......a........t......a.........m.......u.......

(...........................................................)
s.......e......b......e........l........u.......m.......

s.......e......t......e.........l........a.......h........

m.......e.......n........j........a.......d......i......k......a.....n......k....u...........

S........E.......J......A........R........A...............H...........

Jika penghargaan itu salah, jadikan ia tak berharga.....

DARIPADA

Selalu ada pilihan di antara pilihan, jika semua pilihan tereliminasi dan menyisakan satu yang mesti, maka pilihan itu akan menjadi lebih baik. Lebih baik begini, daripada begitu. Hidup ini cukup bahkan lebih jika kita mencintai daripada itu.

Hari ini saya hanya bisa makan dua kali sehari, tidak apa-apa, daripada hanya satu kali sehari. Besok mungkin cuma sekali sehari, tetap saja tidak apa-apa, daripada tidak makan sama sekali.

Lagi, suatu hari saya tidak bisa makan sama sekali, tidak apa-apa, daripada saya tidak bisa minum juga. Kemudian, saya tidak bisa melewatkan apa-apa ke tenggorokan juga lambung saya, tidak apa-apa, daripada tidak mampu bernafas.

Selalu ada perbandingan dengan hal yang lebih kecil, maka kita akan merasa cukup atau lebih.

Bagaimana dengan ini....?

"Saya tidak bisa hidup lagi sedetik setelahnya."

Lalu arwah saya berbisik pada jasad yang sudah kesepian,"Tidak apa-apa, daripada kamu hidup berlumur dosa."

AKU GILA

Aku gila, dan aku sadar. Kesadaranku bertumpu pada keadaan psikologisku yang orang sering menyebutnya gila. Gila sebagai sifat dengan aksi yang tidak wajar, jauh dari kelaziman. Aku berbeda, maka aku gila.

"Whuahahahahahahaha......aku berteriak di tengah orang-orang yang diam, diam karena entah, entah karena tidak tahu, atau menyembunyikan "tahu" nya. Aku melantangkan suara, suara yang cukup lama terkubur dalam angan-anganku.

Lalu, mereka meneriakiku, "Kamu gila....!!!"

Tidak apa-apa, setidaknya aku berhasil membuat mereka bersuara. Selanjutnya, nafasku berteman dengan nafas-nafas mereka yang kembali diam. Kali ini sudah samar alasannya, mereka takut salah. SALAH....? Bukannya itu bagus, supaya kau kenal dengan pencapaian yang namanya BENAR. Lagipula, dalam kebenaran manusia, pasti terselip kesalahan, kesalahan dalam bahan baku,pengolahan, dan proses pelepasan.

Aku meneruskan kegilaanku, kegilaan yang aku sadari. Aku menertawai perutku yang masih miskin. Aku terbahak-bahak dengan badan yang semakin kurus.

Lalu, mereka meneriakiku, "Kamu gila....!!!"

Tidak apa-apa, setidaknya aku kembali berhasil menyuarakan mereka. Hal yang aku lakukan memang terbalik, aku menginginkan pandanganku hanya dari mataku saja, kemudian aku mengabarkannya pada mata-mata lain yang masih belum bisa memandang pandanganku.

Waktu menunjukkan pada kegelapan, lampu-lampu jalan terbangun seketika bermaksud memberikan penerangan. Lantas, aku berteriak,"Kenapa gelap sekali?"

Lalu, mereka meneriakiku lagi, "Kamu gila....!!!"

Kali inI,aku sudah bosan, aku berhasil membuat mereka bersuara, tapi mereka hanya bisa mengatakan itu, "Kamu gila....!!!". Siapa yang sebenarnya gila?

Kegelapan bukan semata-mata persoalan cahaya, akan tetapi di mana kau menjadi buta akan pilihan, keputusan, kebijakan, tidak mampu membedah perasaan. Cahaya ada di mana-mana, tapi akan menggelapkanmu tentang sudut yang tidak tersentuh pembaharuan, tidak tersentuh kelengkapan, juga tidak tersentuh keharusan. Kau merasa terang, tapi dengan sendirinya menggelapkan pemikiranmu tentang apa itu terang. Terang soal kebersamaan, bukan perseorangan. Suaraku mungkin hanya seorang, tapi aku peruntukkan kepada orang banyak yang masih sebagian, juga sebagian yang terlampau banyak.

AKU GILA...................

kenapa tidak ada yang berteriak? Aku sadar aku gila, dan aku mengakui itu. Mengapa kalian tidak berkomentar? Kalian meragukan kejujuran juga kesadaranku bahwasanya saat ini aku memang gila...?

Kalau begitu, aku bangga menjadi orang gila, karena mata, telinga, hidung dan batinku mampu menjangkau banyak dunia.

Dunianya hanya bisa direngkuh oleh orang gila, dan pada saat itu, aku akan meneriakkan suara padamu, "KAMU GILA....!!!"

Chat Room Bloofers